Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
165. Janji Bima


__ADS_3

ibunya Bima kemudian mendekati putranya.


" Tolong jangan kau lakukan lagi seperti ini. Apa yang kau lakukan ini sudah menjadi bahan perbincangan para pembantu jangan sampai mereka berpikir bahwa Rasya adalah putramu!" ucap ibunya Bima sambil menatap tajam pada putranya.


Bima terkesiap dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Bagaimana mungkin Ibunya bisa berpikir tentang hal seperti itu hanya karena melihat dia tidur bersama dengan Rasya.


" Ya Allah apakah aku segitu buruknya di mata kalian setiap aku dekat dengan siapapun selalu menjadi bahan perdebatan kalian! aku dekat dengan Dipta kalian berpikir aku gay aku dekat dengan Rasya kalian berpikir bahwa aku memanfaatkan dia. Apakah aku memang seburuk itu di mata kalian?" ucap Bima merasa jengkel dengan pikiran ibunya.


" Mama percaya padamu dan Rasya. Hanya para pembantu membicarakanmu dan Rasya! Mama tidak suka mereka menjelek-jelekkan mu Nak!" ucap ibunya Bima sambil memegang tangan putranya.


" Sudah lama di Mah! Bima ga ada waktu untuk ini. Cepatlah bukankah kita harus segera berangkat ke gedung pernikahan Bima? Apakah mama lupa kalau hari ini adalah pernikahan Bima?" ucap Bima sambil mengulas senyum kepada ibunya.


" Baiklah Mama akan segera menyiapkan diri dan kamu juga segera siap-siap kita akan bertemu di hotel untuk pernikahanmu bersama Sheilla!" ibunya Bima kemudian langsung meninggalkan putranya untuk bisa bersiap-siap untuk pernikahannya ke tempat pernikahan akan dilaksanakan bersama Sheila.


Tampak Bima memperhatikan dirinya di cermin besar yang ada di hadapannya saat ini


"Tidak menyangka Akhirnya hari ini datang juga. Sebuah pernikahan dalam hidupku. Apakah aku akan bisa bahagia menjalaninya?" ucap Bima sambil menatap dirinya di depan cermin.


"Nak Kamu sudah siap belum cepat kami sudah mau berangkat ke hotel nih!" ucap ibunya Bima berteriak di depan pintu kamarnya.


" Aku mau menikah Tapi tampaknya Mama yang lebih bersemangat dariku!" ucap Bima sambil tersenyum di hadapan cermin yang saat ini sedang memperlihatkan wajah dan fisiknya yang begitu paripurna.


" Hari ini aku akan menjadi raja sehari dan aku akan pastikan bahwa hari ini akan menjadi hari terbaik dalam hidupku!" ucap Bima sambil mengulas senyum untuk dirinya sendiri kemudian dia pun segera mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh pembantunya.

__ADS_1


Tadi malam memang Bima menginap di kediaman utama keluarganya agar mereka bisa bersama-sama ke hotel tempat dilaksanakannya pernikahan.


" Wah Putra Mama luar biasa Sheila semua beruntung menjadi istrimu nak!" ucap ibunya Bima memuji penampilan putranya yang luar biasa dengan tuxedo yang melekat di tubuhnya yang begitu sempurna.


" Siapa dulu dong mamanya!" ucap Bima sambil memeluk tubuh ibunya dan juga mencium pipinya dengan penuh kasih sayang.


" Om Rasya boleh ikut ke pernikahan kalian?" tiba-tiba rasa keluar dari arah pintu.


" Kamu di rumah saja Rasya tidak usah ikut!" ucap ibunya Bima seperti tidak setuju dengan keinginan Rasya untuk ikut menghadiri pernikahan Bima bersama dengan Sheila.


Rasya tampak menundukkan kepalanya karena merasa sedih keinginannya untuk menghadiri pernikahan Bima dilarang oleh ibunya Bima.


" Rasya boleh ikut kok ke pernikahannya Om Bima Ayo Om Bima akan menggendong Rasya!" ucap Bima kemudian langsung mengambil bocah kecil itu ke dalam pelukannya.


" Ya ampun Mama ini benar-benar aneh jelas-jelas rasa ini adalah anaknya Bi Rini kenapa bisa menjadi anakku hanya karena aku menggendongnya mama ini benar-benar luar biasa sekali pikirannya!" ucap Bima sambil menggelengkan kepalanya dengan pemikiran ibunya yang luar biasa tidak masuk akal baginya.


" Kamu memang selalu saja melawan mama bisa tidak sih mendengarkan mama Sekali Ini Saja!" ucap ibunya Bima merasa kecewa dengan putranya yang selalu membangkang.


" Rasya ini kan kesayangannya Om Bima ya kan? Masa Om Bima menikah, Rasya tidak datang nanti? Om akan sedih nantinya!" ucap Bima sambil mencium Rasya kemudian dia pun menggandeng tangan Rasya agar ikut bersamanya.


Bima tampak tidak memperdulikan ibunya yang misuh-misuh karena dia membawa rasa bersamanya.


" Sudah lama biarkan saja yang penting Bima merasa senang apa mama mau kalau sampai Bima nanti di acara pernikahan tidak bahagia?" ucap suaminya tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

__ADS_1


" Mama juga sayang dengan Rasya Hanya saja Mama menjaga agar tidak ada bisik-bisik yang tidak mengenakkan di antara para tamu!" ucap ibunya Bima seperti tidak setuju dengan pemikiran suami dan putranya.


" Kalian selalu saja memanjakan Rasya sehingga membuat bocah kecil itu jadi tidak takut dengan apapun dan melupakan posisinya sebagai anak pembantu di rumah ini!" ucap ibunya Bima sambil menatap tajam kepada suaminya.


" Mama ini kenapa semuanya menjadi salah? Sudah! Ayo cepat kita berangkat! Nanti kita terlambat kan tidak lucu!" ucap ayahnya Bima kemudian dia pun langsung meninggalkan istrinya yang masih misuh-misuh gara-gara Rasya yang ikut ke pernikahan Bima.


" Rini semuanya gara-gara kamu yang tidak bisa mengasuh putramu. Sekarang Rasya menjadi seseorang yang akan merusak pernikahan anakku!" ucap ibunya Bima menatap tajam kepada ibunya Rasya yang sini sedang menundukkan kepalanya.


" Maafkan saya Nyonya tapi tadi Rasya menangis ingin hadir di pernikahan Tuan Bima!" ucap Rini sambil menundukkan kepalanya ketakutan melihat ibunya Bima yang kini melotot kepadanya.


" Lain kali kau harus mengasuh anakmu itu dengan benar. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi!" ucap ibunya Bima kemudian dia pun meninggalkan kediamannya bersama dengan sang suami yang sudah tengah menunggunya sejak tadi.


Bima sudah pergi bersama dengan Rasya ke hotel tempat pernikahan yang akan diadakan.


sebelum pergi ke hotel Bima mampir ke sebuah butik untuk mengganti pakaian Rasya yang lebih baik dan pantas untuk hadir di acara pernikahannya.


" Apakah pakaian rasa jelek Om sehingga kita harus mengganti pakaian ini?" tanya Rasya merasa bingung kepada Bima.


" Pakaian Rasya tidak jelek sayang. kan pakaian itu dulu Om Bima yang beli. Hanya saja kurang pantas untuk menghadiri sebuah pernikahan yang resmi. Pakaian Rasya bisa digunakan untuk main bukan untuk datang ke sebuah pesta pernikahan!" ucap Bima sambil menggendong Rasya dalam pelukannya.


" Semoga setelah Om Bima menikah, Rasya bisa ikut dengan Om ya? Nanti Rasya pasti akan rindu. Kalau Om sudah tidak ada lagi di kediaman utama!" ucap Rasya sambil mencium pipi Bima dengan penuh kasih sayang.


" Maafkan Om Bima yah Rasya? Bukannya Om tidak sayang sama Rasya. Hanya saja Om takut kalau istri Om tidak menerima kehadiran Rasya di kediaman kami. Akan tetapi Om janji Om pasti akan sering datang untuk menemui Rasya di kediaman utama!" janji Bima kepada bocah kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2