Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
114. Bersyukur


__ADS_3

"Iya Papa dan Mama tenang saja. Kami pasti akan menjaga kesehatan kami Di sini banyak tenaga kesehatan terbaik yang akan merawat kami berdua!" ucap Riyanti sambil tersenyum ke arah kedua orang tuanya.


"Mang Diman saya titip anak dan menantu saya dalam pengawasan kalian. Pastikan mereka berdua beristirahat dan mendapatkan perawatan yang terbaik!" ayahnya Rianti berpesan kepada besannya.


"Jangan khawatir, Tuan. Saya pasti akan menjaga mereka dengan sepenuh hati. Karena mereka bukan hanya milik Tuan saja, mereka pun adalah milik kami juga!" ucap Mang Diman dengan penuh penghormatan kepada ayahnya Riyanti.


"Mang Diman! Kenapa kau masih memanggil suamiku dengan sebutan "Tuan"? Kita ini sekarang besan, biasa saja manggilnya. Nanti dikira orang, kalau kami tidak menghargaimu sebagai besan kami!" tegur ibunya Rianti kepada besannya itu.


"Iya maafkan saya! Mungkin karena terlalu lama memanggil Tuan kepada ayahnya Rianti, sehingga membuat lidah saya jadi sulit sekali untuk dikendalikan, untuk memanggil yang lain. Tapi saya pasti akan tetap berusaha untuk bisa membiasakan menggunakan panggilan lain!" ucap ayahnya Bagas sambil tersenyum ke arah kedua orang tua Rianti, yang kini sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.


Orang tuanya Bagas sejak tadi selalu memperhatikan interaksi antara Bagas dan Riyanti, yang tampak terlihat begitu saling mencintai satu sama lain.


"Istrahatlah kalian berdua, waktu sudah larut malam. Jangan terlalu lelah!" Bagas mengingatkan kepada Bagas dan Riyanti yang tampak masih membicarakan tentang pengalaman mereka di lokasi bencana itu.


Akhirnya mereka berempat pun beristirahat di ruangan VVIP yang dipesankan oleh keluarga Rianti. Orang tuanya Bagas beristirahat di sebuah ranjang yang sudah tersedia di sana, untuk keluarga pasien yang menunggu keluarga mereka.


Sementara itu di kediaman Dipta, ibunya Dipta kini sedang mempersiapkan kebutuhan Dipta di rumah sakit. Walaupun Dipta hanya tinggal di sana sebentar, tetapi tetap membutuhkan isolasi untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.


Setelah kondisinya dinyatakan Fit oleh tim kesehatan, maka Dipta pasti akan kembali diperbolehkan untuk kembali ke keluarganya.


Setelah semua kebutuhan Dipta siap, ibunya Dipta langsung kembali ke rumah sakit, untuk menemui putranya.


"Kenapa Mama malam-malam masih ke rumah sakit, bukannya istirahat?" tanya Dita ketika melihat ibunya berada di rumah sakit saat ini.


Ibunya Dipta langsung meletakkan semua barang-barang yang tadi dia bawa dari rumah. Kemudian mendekati putranya yang saat ini sedang mengkhawatirkan keadaan dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana mama bisa beristirahat dengan tenang di rumah, kalau kamu ada di sini?" ibunya Dipta sambil mendekati putranya, dan mengelus kepala Dita seperti anak kecil.


"Oh ayo lah, Mah! Hentikan semua ini, kalau ada orang yang melihat, dikira Dipta ini masih anak TK!" protes Dipta terhadap ibunya.


"Bagi Mama, selamanya kau itu seperti anak TK. Mama tidak akan pernah bisa dan tidak akan mampu untuk melepaskan kamu begitu saja, tanpa kasih sayang mama!" ucap ibunya kemudian mencium kening Dipta.


Dipta merasa terharu sekali dengan cinta ibunya yang semakin besar setiap hari. Dipta tahu bahwa Ibunya sudah banyak berubah. Menjadi lebih baik dan menjadi seorang ibu yang selalu mencintainya.


Dipta sudah memaafkan kesalahan ibunya, yang dulu pernah mengusir istrinya, saat dirinya berada di luar kota untuk menangani proyek baru di perusahaannya. Sehingga membuat istrinya kabur dari kediamannya. Dan akhirnya mengalami kecelakaan dan meninggal beserta putranya.


Dipta telah melewati waktu tersulitnya untuk bisa memaafkan ibu kandungnya sendiri, yang telah menghancurkan kebahagiaannya, karena keegoisan dan juga egonya.


Tapi sekarang Dipta dapat merasakan, besarnya ketulusan cinta dari ibunya dan bahwa ibunya memang benar-benar sudah menyesali perbuatannya.


Sementara ibunya Dipta juga telah terlelap di sofa yang ada di ruangan Dipta.


Keesokan harinya, Nur dan Ali datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Dipta.


Tanpa sengaja, mereka berdua bertemu dengan Rianti di rumah sakit itu. Tampak kecanggungan di antara mereka ketika mereka bertemu.


"Assalamualaikum Kak Apa kabarnya?" tanya Rianti sambil menyelami Nur menganggukan kepala kepada Ali.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah kami baik-baik saja. Bagaimana dengan kabarmu dan suamimu?" tanya Nur dengan senyumnya yang sudah mulai bersahabat.


Nur sudah mendengar tentang perjuangan Rianti dan Bagas di daerah bencana. Mereka tidak memperhatikan dan memperdulikan keselamatan mereka sendiri dan dia sangat kagum sekali dengan sifat heroik Rianti dan suaminya.

__ADS_1


"Suamiku sedang sakit karena dia terlalu lelah untuk mengurus para korban di sana!" ucap Riyanti dengan suara sedih.


"Perbanyak berdoa, untuk kesembuhan suami kamu. Insya Allah pasti semuanya akan baik-baik saja!" ucap Nur tersemyum, sambil memegang tangan Rianti.


Ali sangat senang, melihat istrinya sekarang sudah mulai bisa berdamai dengan Rianti dan tidak lagi marah-marah ketika bertemu dengan Rianti.


"Baiklah kami ke ruangannya Dipta dulu, katanya dia lagi diisolasi di sini!" Nur dan Ali kemudian meninggalkan Riyanti dan pergi menuju ke kamar Dipta.


Ali menggenggam tangan istrinya dan melangkah bersama. Nur tersenyum dengan bahagia melihat suaminya yang tampak biasa saja ketika berhadapan dengan Rianti.


"Sekarang kamu bisa tenang kan? Tidak ada apa-apa diantara Mas dengan Rianti. Dan dia juga terlihat sangat mencintai suaminya!" ucap Ali sambil tersenyum ke arah istrinya.


Nur hanya mengangguk saja, dan kemudian mereka pun langsung mengetuk ruangan Dipta dan di sana ada ibunya Dipta yang sudah datang sejak pagi tadi.


"Assalamualaikum!" ucap Nur ketika mereka masuk ke dalam ruangan itu.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ibunya Dipta angsung menyalami Nur dan suaminya. Dia merasa senang sekali, ketika mendapat kunjungan dari orang yang mereka hormati.


"Bagaimana keadaanmu, Dipta apakah lebih baik?" tanya Nur sambil melihat ke arah Dipta.


"Aku baik-baik saja kok. Aku di sini kan bukan karena sakit, tetapi karena harus menjalani isolasi untuk memastikan kalau kondisiku Fit! sakit adalah Bima dan suaminya Riyanti. Mereka berdua kelelahan, karena harus berjuang di sana. Untuk mengobati para korban yang terus tidak ada hentinya berdatangan!" Dipta kemudian bercerita tentang keadaan di sana, yang sangat memprihatinkan dan menggiriskan hati.


"Alhamdulillah kalian bisa pulang dengan selamat. Padahal gempa susulan itu sangat berbahaya. Saya melihat di televisi sungguh sangat mengerikan!" ucap Ali dengan sendu, ada sedihan di hatinya melihat korban yang terus bergelimpangan di sana.


"Benar, suasana di sana betul-betul sangat mencekam. Setiap hari dipenuhi dengan ketakutan akan terjadinya gempa susulan. Bahkan di sana, hampir semua bangunan sudah rata, hanya ada air mata setiap hari!" ucap Dipta bercerita sambil berdelah air mata seakan dia meraih hati Kesedihan yang dirasakan oleh mereka yang ada di sana

__ADS_1


__ADS_2