
" Sayang apakah kau masih menyimpan sisa undangan pernikahan kita? Tolong berikan satu untuk Zidanw supaya dia nanti bisa datang ke pernikahan kita bersama dengan tunangannya!" ucap Mario tersenyum kepada Alexa.
Alexa kemudian masuk ke dalam kamarnya dan membawa secarik undangan pernikahan dirinya bersama dengan mario. Kemudian dia memberikannya kepada Zidane.
" Kau bisa menulis namamu dan tunanganmu di undangan itu!" ucap Alexa sambil memberikan undangan itu kepada Zidane.
Dengan tangan gemetar Zidane menerima undangan itu. "Aku pasti akan datang dengan tunanganku!" ucap Zidane seperti orang lingling. Mario bisa menangkap ekspresi Zidane yang seperti bingung saat ini.
" Baiklah aku pergi dulu. Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua untuk pernikahan kalian. Semoga kalian bahagia hingga kakek nenek!" ucap Zidane kemudian melangkahkan kakinya yang terasa begitu lemas namun dia paksakan untuk bisa keluar dari apartemen milik Alexa.
" Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan disini? Betapa bodohnya aku karena meninggalkan tunanganku sendiri untuk wanita yang ternyata adalah calon istri orang lain. Bahkan hubungan mereka sudah lebih dari itu!" ucap Zidane dengan suara gemetar.
Zidane kemudian menelpon adiknya untuk menanyakan alamat sekolahannya. Karena dia berniat untuk menjemput Marcella dan akan mengajaknya berjalan-jalan agar bisa mengenal tunangannya secara lebih dekat.
Hati Zidan saat ini sedang kalut dan dia butuh penghiburan. Saat ini hanya ada nama Marcella yang ada di kepalanya yang dia pikir bisa membuatnya lebih rileks dan bisa melupakan rasa sakit hatinya setelah melihat Alexa bersama dengan tunangannya.
" Dek di mana alamat sekolahanmu?" tanya Zidane lesu kepada Aurel.
" Loh bukannya Kak Zidane tadi mengatakan akan mengantarkan Marcella ke sekolahanya ya? Kenapa sekarang bertanya di mana alamatnya?" tanya Aurel dengan penuh curiga kepada kakaknya.
" Kakak bohong ya kepada mama dan papa tentang mengantarkan dan menunggu Marcella di sekolahannya?" tanya Aurel Merasa tidak senang dengan kebohongan kakaknya kepada kedua orang tuanya.
" Tidak usah banyak cerewet cepat katakan di mana alamatnya Kakak akan segera menjemput Marcella dan mengajaknya berjalan-jalan!" Aurel kemudian menyebutkan nama alamat sekolahan Marcella yang sekaligus sekolahannya sendiri.
__ADS_1
Aurel memiliki otak yang cemerlang dan dia adalah calon dokter yang hebat. Oleh karena itu dia tidak membutuhkan untuk sekolahnya lagi. Berbeda dengan Marcella yang memiliki otak pas-pasan sehingga dia harus bekerja keras untuk bisa naik kelas.
Setelah mendapatkan alamat sekolahan Marcella. Zidan langsung meluncur ke sana tidak dirasakan lagi badannya yang lelah setelah melakukan perjalanan panjang Amerika menuju Indonesia. Saat ini hatinya hanya ingin mendapatkan penghiburan. Setelah mengalami patah hati gara-gara melihat wanita yang dia cintai ternyata akan menikah dengan laki-laki lain.
Begitu sampai di sekolahan Marcella. Zidane hanya terdiam saja di dalam mobilnya sambil menunggu tunangannya keluar dari gerbang sekolah.
Zidane mengerutkan keningnya ketika melihat Marcella yang sedang mengobrol dekat dengan seorang laki-laki tampan.
" Nanti malam aku ke rumahmu ya kita kerjakan tugas tadi bersama-sama!" ucap Fikar ketika mereka berpisah di depan gerbang sekolah.
Zidane yang terbakar api cemburu melihat kebersamaan Marcella dengan Fikar. Zidane langsung keluar dari mobilnya dan menarik tangan Marcella serta memeluknya dengan posesif. Seolah Zidane sedang menunjukkan hak kepemilikannya terhadap wanita itu di hadapan Fikar yang mengerutkan keningnya karena bingung dengan apa yang terjadi saat ini di hadapannya.
" Ayo sayang kita pulang!" ucap Zidane sambil mengecup kening Marcella yang tampak kebingungan dengan kelakuan yang dilakukan olehnya.
" Baiklah Fikar Aku pulang dulu ya!" ucap Marcella berpamitan kepada Fikar.
" Aku adalah calon suaminya yang sudah ditunangkan dengan dia sejak Dia berumur 5 tahun! Bahkan sebelum dia lahir ke dunia ini!" ucap Zidane menunjukkan kekuasaannya di hadapan Fikar.
" Udah ayo cepat pulang! Fikar aku tunggu ya nanti malam kalau kau ingin mengerjakan tugas tadi bersamaku!" ucap Marcella sebelum dia meninggalkan Fikar yang dalam kebingungan.
Marcella menarik tangan Zidane untuk segera naik ke dalam mobilnya.
Begitu mereka berada di dalam mobil Marcella langsung menatap tajam kepada Zidane.
__ADS_1
" Bisa kau Jelaskan apa yang kau lakukan tadi huh? Ya Tuhanku! Itu sungguh sangat kekanak-kanakan. Apa kau tahu itu?" tanya Marcella sambil menatap kepada Zidan yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
" Bukankah tadi kau mengatakan kalau kau akan menemui wanita yang kau cintai huh? Lalu kenapa kau sekarang berakhir di sini dan berbuat aneh-aneh di hadapanku?" begitu banyak pertanyaan di hati Marcella tetapi tidak ada satupun yang dijawab oleh Zidane sehingga membuat Marcella merasa sangat jengkel dibuatnya.
" Katakan padaku! Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan kodok burik? Kau benar-benar membuatku jengkel!" ucap Marcella kesal.
Tiba-tiba saja Zidan langsung mendekati Marcella dan mencium bibir gadis itu yang sejak tadi terus bicara dan tidak mau diam.
Seketika Marcella merasa seakan pada sengatan listrik yang menyentuhnya.
Dalam satu hari mereka telah berciuman tanpa ada rencana sama sekali.
Sementara itu Fikar yang melihat mereka dari kejauhan tampak bersedih hatinya ketika melihat Zidan dan Marcella yang sedang berciuman dengan sangat bersemangat.
Ya! Marcella merasa terpacu jantungnya. Ketika dia mendapatkan serangan tiba-tiba dari tunangannya. Marcella yang tidak memiliki pengalaman apapun dalam hal semacam itu. Dia hanya mengikuti nalurinya saja untuk mengimbangi ciuman yang diberikan oleh Zidane kepadanya.
" Mari kita menikah!" ucap Zidane tiba-tiba. Setelah dia melepaskan ciumannya terhadap Marcella. Dengan nafasnya yang masih memburu akibat ciuman panas mereka berdua. Zidane terus menatap Marcella dan meraup wajah gadis itu seakan tidak ingin melepaskannya lagi dari genggamannya.
" Aku baru kelas 2. Sebentar lagi akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Bagaimana mungkin aku bisa menikah?" tanya Marcella dengan suara gemetar sambil menatap Zidane yang saat ini matanya sedang berkaca-kaca.
" Katakan padaku! Sebenarnya ada apa denganmu! Kau benar-benar sangat aneh hari ini!" tanya Marcella kepada Zidane yang kini menyembunyikan wajahmu dalam pelukan Marcella dan menangis sesegukan.
" Baiklah! Menangislah kalau kau sedang sedih saat ini. Kalau kau ingin menangis, aku akan menyediakan bahuku untukmu bisa bersandar saat ini!" ucap Marcella sambil mengelus kepala Zidane yang terus sesegukkan dalam tangisnya.
__ADS_1
Fikar yang memperhatikan interaksi antara Marcella dan Zidane. Dia hanya bisa menatapnya dengan tak berdaya.
" Tampaknya apa yang dikatakan oleh laki-laki itu benar. Bahwa mereka adalah tunangan. Mungkin setelah SMA mereka akan langsung menikah!" ucap Fikar dengan suara gemetar menahan gemuruh yang ada di dalam hatinya. Ketika dia melihat segala kemesraan yang ada di hadapannya antara Marcella dan juga Zidane.