
Sesuai janji Dipta, selepas sholat, kami bertiga makan malam, di sebuah restoran yang cukup mewah. Ya, bagiku ini mewah. Mungkin bagi Dipta biasa saja. Dia mah orang kaya, pasti sudah biasa dengan makan malam seperti ini.
"Dip, buat makan malam doang, habisin duit banyak, mendingan kita makan si rumah saja, ya? Jangan anak-anak gue kayak gini lagi ya!" ucapku saat melihat tagihan yang wow bagiku. Buatku, uang segitu bisa buat biaya hidup selama sebulan. Sayang banget rasanya. Makan ga kenyang, tapi uang ludes.
"Gak apa-apa, sekali-kali doang!" ucap Dipta mengulas senyumnya, ah, dia sudah kembali ceria lagi, syukurlah!
Saat kami berdua akan pulang, tiba-tiba Dipta menabrak seseorang, aku sedang sibuk mengurus Rafi, jadi tidak melihat siapa yang dia tabrak, tapi seketika orang tersebut, menarik tanganku, "Sayang, akhirnya, Mas menemukan kamu!" saat aku mengangkat wajahku, aku lihat suami kini menatapku. Aku mengerutkan kedua alisku.
"Jaga sikap Anda!" hardik Dipta, ketika melihat Mas Ali yang hendak membawaku pergi dari restoran tersebut.
"Mas, apa yang terjadi?" tiba-tiba seorang gadis, yang aku tahu dia adalah Rianti datang menghampiri kami bertiga. Kelihatannya tadi dia ke toilet, jadi mereka berpisah.
"Lepas! Pergi sana sama perempuan yang kamu cintai!" Aku yang marah karena menahan emosi, langsung menghempaskan tanganku yang dia cekal. Dipta tampak panik melihat air mata sudah berderai di kelopak mataku.
"Dip, ayo kita pergi dari sini!" ajakku pada Dipta, tapi suamiku tidak mengizinkan aku untuk pergi. Dia malah menarik tanganku untuk mengikuti dia.
"Ikut, Mas!" dia berteriak ke arahku. Ah, rasanya malu sekali. Kami berempat menjadi perhatian tamu restoran ini. "Mas, kita belum makan malam, loh!" teriak Rianti tapi tidak di gubris oleh suamiku. Dia menghentikan sebuah taxi lalu menarikku dan Rafi untuk masuk ke dalam taxi.
"Apa yang kau lakukan, huh? Apa kau gila? Pak hentikanlah mobilnya. Saya mau turun!" perintahku kepada supir taxi.
"Lanjut, Pak! Ke xxxxx !" suamiku menyebutkan sebuah alamat entah tempat apa itu.
"Kamu mau apa, sih? Itu wanita yang kamu cintai sedang menunggu kamu, sebaiknya kamu lepaskan aku!" Hardikku dengan mata melotot, emosi yang membuncah di dada sudah tidak tahan untuk aku tahan lagi.
__ADS_1
"Aku tidak pernah mencintai dia! Aku hanya menganggap dia sebagai adikku! Kenapa kamu harus seperti ini? Pakai acara kabur segala! Aku datang ke Jakarta demi mencari kamu dan Rafi!" ucap suamiku tidak kalah keras.
"Dasar pendusta! Pak, turunkan saya di sini! Atau saya akan meloncat dari sini!" aku sudah hilang akal, Rafi sudah menangis dalam gendonganku. Mungkin kaget, melihat Mamahnya yang menangis dan berteriak gak jelas.
"Tenanglah, ini anak kita jadi ketakutan. Kita bicara di kontrakan Mas! Kita lanjut, Pak! Ke alamat yang tadi saya katakan!" suamiku memberi perintah lagi. Tidak memperdulikan ancamanku.
"Dengarkan, penjelasan Mas! Ok?" bujuknya, tapi aku sudah malas bicara dengan dia. Rianti tadi bicara dengan dia sangat mesra sekali, kalau mereka tidak ada hubungan, itu bulshit sekali! Otak dan hatiku sudah mendidih dan sudah tidak sudi untuk bicara dengan dia. Orang yang masih berstatus sebagai suamiku.
"Terima kasih, Pak!" setelah kami sampai di alamat yang dituju. Dia menarik tanganku untuk masuk ke sebuah rumah kontrakan yang sederhana.
"Duduklah, biar Mas jelaskan sama kamu. Kenapa tadi Mas bisa bersama dengan Rianti. Kamu jangan salah paham dulu!" ucapnya dengan pelan.
"Gak butuh, cepat buka pintu! Aku mau pergi dari sini!"
"Nur, apa kamu baik-baik saja di dalam sana?" aku hendak beranjak, tapi laki-laki yang merasa sebagai suamiku malah menarikku ke dalam kamar, lalu mengunci dari luar. Dia sendiri kemudian ke luar dan bicara dengan Dipta, aku lihat Rianti juga ada di sana. Mereka berdua tampaknya pergi bersama ke sini tapi menggunakan mobil masing-masing. Aku sudah panik, karena dia mengurungku.
"Buka! Dasar kurang ajar! Buka pintunya!" aku terus berteriak dan tanpa terasa air mataku sudah deras mengalir. Aku mendengar mereka bertiga berbincang.
"Tolong lepaskan, Nur! Saya akan membawa dia pergi bersama saya!" ucap Dipta. Ya, demi mendengar apa yang mereka bicarakan, aku berusaha diam dan tenang, tapi aku masih menangis tersedu-sedu. Hatiku hancur ketika melihat suamiku berduaan bersama Rianti. Aku sudah tidak sudi melihat dia lagi. Di otakku saat ini, aku ingin cepat pergi bersama Dipta.
"Nur dan Rafi adalah istriku! Mereka adalah tanggung jawab saya! Siapa Anda, sehingga merasa berhak membawa mereka dari saya?" tanya Mas Ali dengan keras.
"Saya akan menikah dengan Nur, setelah perceraian kalian di setujui oleh pengadilan!" ucap Dipta penuh keyakinan.
__ADS_1
"Jangan pernah bermimpi! Saya tidak akan pernah menceraikan istri saya!" ucap Mas Ali.
"Lalu bagaimana nasib perempuan ini? Bukankah Anda mencintai dia? Apakah Anda berniat untuk berpoligami? Wah, Anda sungguh pria yang serakah!" ejek Dipta dengan senyumannya yang membuat Mas Ali naik pitam.
"Aku dan Rianti tidak punya hubungan apapun! Kami hanya sebatas teman, tidak lebih! Jangan sembarangan Anda menarik kesimpulan!" Mas Ali masih mengelak hubungannya dengan Rianti.
"Mas, lelaki sejati itu adalah dia yang berani mengakui perbuatannya dia. Bukan pria pengecut yang tidak mau bertanggung jawab!" ucap Dipta.
"Kamu tanyakan saja pada Rianti, kami jelas tidak punya hubungan apapun dengan dia!" Mas Ali masih keukeuh juga tidak mau mengakui hubungan dia dan Rianti.
"Mba, kamu dan dia, tadi makan malam dalam rangka apa?" tanya Dipta sambil menatap Rianti yang saat ini berpakaian agak seksi, dengan gaun tipisnya.
"Kami makan malam untuk merayakan pertemuan kami, setelah lama berpisah. Hanya makan malam biasa!" jawab Rianti dengan santai.
"Wow! Merayakan? Apa yang layak untuk dirayakan?" sarkas Dipta dengan menatap sinis kepada Mas Ali.
"Dip, buka pintunya! Gue mo balik sama loe!" Nur bicara lagi dari dalam. Dipta sudah mau membuka pintu yang kebetulan kuncinya masih ada di pintu. Dengan gesit Mas Ali mengambil kunci tersebut dan menyembunyikan di kantong celananya. Dipta lalu berusaha untuk mendobrak pintu kamar itu. Berusaha melepaskan aku dari kurungan pria yang mengaku sebagai suamiku.
"Apa yang Anda lakukan di rumah orang lain? Jaga sopan santun Anda!" Mas Ali Audah marah bukan kepalang. Tapi Dipta tidak perduli, dia terus berusaha membuka pintu dan berjuang untuk membawa Nur dan Rafi untuk kembali ke ruang bersama dirinya.
"Hentikan! Atau saya akan menelpon polisi!" ancam Mas Ali. Dipta lalu berhenti mendobrak pintu, dan mengambil ponselnya, "Assalamualaikum, kantor polisi? Saya Dipta Pak, saya mau melaporkan bahwa di jalan xxxxx ada penyekapan seorang wanita dan bayi! Segera tolong kami disini Pak!" ucap Dipta lalu menutup panggilan dia.
Mas Ali menatap tajam ke arah Dipta, tidak percaya dengan apa yang Dipta lakukan. "Mas biarkan saja dia membawa Mba Nur, dari pada urusan ini jadi runyam kalau sudah sampai ke polisi!" ucap Rianti menyampaikan pendapat. Mas Ali tampak diam dan berpikir.
__ADS_1