
Ibu Nadia yang marah karena melihat putrinya meninggal tidak terima dan dia berniat untuk melaporkan Ali ke ranah hukum.
" Tenanglah Pak Kyai saya yang akan menjadi saksi. Kalau benar ibunya Nadia akan melaporkan Pak Kyai ke kantor polisi!" ucap Dipta sambil menatap kepada arah jalanan.
Jenazah Nadia sudah diangkut menggunakan mobil ayah dan ibunya dan mereka sudah menuju ke kediaman mereka.
Ali dan Dipta mengikuti mobil mereka dari belakang karena mereka berniat untuk membantu keluarga itu mengurus pemakaman Nadia.
" Kalaupun benar Ibunya Nadya akan melaporkan saya ke kantor polisi. Saya tidak takut karena saya tidak merasa bahwa saya telah membunuh Nadia. Dan saya yakin ayahnya Nadia pun tahu mana yang benar dan mana yang salah!" ucap Ali sambil mengulas senyum kepada Dipta yang tampak khawatir dengan keadaannya.
" Tolong kau telepon. Bagaimana keadaan Rianti sekarang di rumah sakit!" perintah Ali kepada Dipta yang saat ini sedang melamun karena memikirkan tunangannya yang kini sudah meninggal.
" Baik Pak Kyai akan segera saya telepon!" ucap Dipta kemudian dia pun mencari ponselnya yang ada di saku celana dan segera mencari nomor telepon Nur.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Dipta mengucapkan salam ketika Nur sudah mengangkat teleponnya di seberang sana.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Ada apa Dipta? Bagaimana di sana? Apakah baik-baik saja?" tanya Nur dengan suara cemas dengan keadaan suaminya yang berada bersama Dipta.
" Alhamdulillah kami semua baik-baik saja. Oh ya, bagaimana keadaan Riyanti dan bayinya? Apakah sudah aman?" tanya Dipta kepada Nur yang tampak terdiam.
__ADS_1
" Alhamdulillah Bayinya bisa diselamatkan dan sekarang Rianti sudah masuk ke ruangan perawatan saat ini Dokter Bagas sedang menemaninya di sana!" ucap Nur.
" Syukurlah kalau begitu kami pun di sini____" ucapan Dipta menggantung karena tiba-tiba saja perasaannya begitu sedih dan suaranya tersekat di tenggorokan.
"Ada apa Dipta? Apakah terjadi sesuatu yang buruk di sana bagaimana keadaan suamiku bersamamu?" tanya Nur penasaran dengan keadaan suaminya saat ini yang pasti sedang berjuang untuk melawan Nadia yang kembali berurusan dengan hal klenik seperti beberapa tahun yang lalu.
" Pak Kyai baik-baik saja. Sekarang kami sedang menuju kediaman Nadia karena Nadia sudah meninggal." ucap Dipta dengan berlinang air mata. Karena bagaimanapun dia merasa sedih karena Nadia telah pergi dan meninggalkannya sendirian.
" Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga kau tabah ya Dipta. Kau harus merasa beruntung sudah mengetahui ini sebelum pernikahan kalian berdua. Kalau tidak, hidupmu pasti akan penuh dengan penderitaan dan rasa sesal! Karena ketika orang sudah mengabdi kepada setan. Pasti dia akan selalu berusaha untuk menumbalkan nyawa manusia lain dalam rangka mengekalkan perjanjian mereka!" ucap Nur menjelaskan kepada Dipta.
" Biasanya nyawa yang ditumbalkan kalau bukan dari pihak keluarga. Maka itu akan diambil dari orang yang bersinggungan dengan hutang piutang dengan orang yang bersangkutan. Oleh karena itu kita harus selalu berhati-hati. Jangan sembarangan kalau berurusan dengan orang-orang semacam itu!" ucap Nur menjelaskan kepada Dipta panjang lebar.
" Tabahlah dan Yakinlah. Bahwa Allah pasti akan menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu karena kau adalah laki-laki yang baik dan juga laki-laki yang sholeh!" ucap Ali sambil melirik kepada Dipta yang masih melamun karena memikirkan Nadya yang sudah meninggal.
Begitu mereka sampai di kediaman Nadia kedua orang tuanya langsung mengurus persiapan pemakaman Nadia.
Ali dan Dipta turun dan mengikuti ayahnya Nadia yang sedang mengatur beberapa orang untuk persiapan pemakaman.
Ibunya Nadia yang melihat kedatangan Ali dan Dipta. Dia langsung mengamuk dan histeris mengusir keduanya dari kediamannya sehingga membuat ayahnya Nadia merasa malu kepada keduanya.
__ADS_1
" Pergi Kalian dari rumahku. Aku tidak menerima Kalian ada di sini. kalian yang sudah membunuh putriku. Tunggu saja laporanku ke kantor polisi akan kubuat kalian masuk ke dalam penjara!" ucap ibunya Nadia sambil menatap nyalang kepada keduanya. Sehingga membuat Dipta merasa tidak enak karena dilihat oleh para petakziah yang lain.
" Maafkan saya Pak Kyai dan Dipta. Tapi mungkin untuk saat ini, lebih baik kalau Pak Kyai dan Dipta pulang saja dulu. Karena saya yakin istri saya saat ini masih shock mentalnya karena meninggalnya putri kami! k Kalian tenang saja saya akan menghalangi istri saya untuk melaporkan kejadian ini ke kantor polisi!" ucap ayahnya Nadia sambil menatap kepada Dipta yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
" Kami turut berduka cita atas kehilangan Anda dan tolong maafkan kami apabila istri anda mungkin berpikir bahwa kami yang sudah membunuhnya kalau memang beliau ingin melaporkan kami ke kantor polisi kami siap untuk menunggu panggilan dari kantor polisi dan membuktikan bahwa kami tidak bersalah!" ucap Ali kepada ayahnya Nadia yang saat ini sedang menatapnya.
" Tidak Pak Kyai. Justru saya sangat berterima kasih atas pertolongan Pak Kyai dan juga istri. Sehingga calon cucu saya dan juga Rianti bisa selamat dari gangguan setan yang mengganggu tubuh Nadia!" ucap Ayahnya Riyanti merasa sangat bersalah dengan apa yang dikatakan oleh istrinya yang saat ini sedang ditenangkan oleh para tetangga sekitar di dalam rumah mereka.
" Tidak apa-apa Pak. Saya paham dengan penderitaan istri Anda saat ini. Baiklah kami berdua permisi. Saya akan menengok Rianti dan melihat keadaannya di sana!" ucap Ali dan dia pun kemudian pergi bersama dengan Dipta menuju rumah sakit di mana saat ini Rianti sedang dirawat secara intensif di sana.
" Maafkan saya Pak Kyai karena keadaannya sangat kacau balau seperti ini. Kita berdoa semoga pintu hati ibunya Nadia dibukakan dan berubah keputusannya untuk melaporkan kita berdua ke kantor polisi!" ucap Dipta meminta maaf kepada Ali.
" Tidak apa-apa. Aaya mengerti bahwa memang jalan dakwah itu tidak mudah dan banyak sekali rintangan yang harus kita jalani dan saya menyadari itu!" ucap Ali kemudian dia pun langsung pergi ke rumah sakit di mana Riyanti berada di sana bersama istrinya.
Begitu mereka sampai di rumah sakit mereka Langsung mendatangi Nur dan juga Bagas yang saat ini sedang menjaga Rianti.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Ali memberikan salam begitu bertemu dengan istrinya dan juga Bagas di rumah sakit.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Kenapa kalian berdua dari sini tidak membantu pemakaman Nadya?" tanya Nur merasa heran kepada suaminya dan juga Dipta yang ada di rumah sakit saat ini.
__ADS_1
" Ibunya Nadia mengusir kami karena dia berpikir bahwa kami yang sudah membunuh Nadia dan akan memaparkan kami berdua ke kantor polisi!" ucap Dipta sedih sambil menundukkan kepalanya dengan dalam. Karena saat ini dia benar-benar sedang kalut dan pusing memikirkan tentang Nadya dan juga ibunya yang masih mengamuk kepada mereka berdua.