
Keesokan harinya, Dipta sudah bersiap di lobby dan meminta kepada para pekerjaannya untuk menemuinya di kamarnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya mereka penasaran.
"Kita kembali ke rumah lama saja. Rasanya melelahkan sekali kalau pergi ke Surabaya. Nanti juga pasti akan repot sekali untuk mengurus bisnis di sini!" ucap Dipta.
"Wah senang sekali kalau kita tidak jadi ke sana. Saya juga pasti nanti akan kesulitan kalau merindukan kedua orang tua saya!" ucap supirnya Dipta sumringah.
"Lalu bagaimana dengan rumah yang di Surabaya, Tuan? Sudah terlanjur dibeli!" tanya Merry agak cemas.
"Tidak apa-apa! Kalau saya nanti ada bisnis di Surabaya rumah tersebut kan masih bisa dipakai!" ucap Dipta.
"Ya sudah sekarang kalian segera beberes dan kita kembali ke rumah lama. Karena saya sangat lelah sekali dalam perjalanan ini!" ucap Dipta pada akhirnya.
"Kalau bukan karena kami, Tuan pasti sudah menggunakan pesawat terbang, dan pasti tidak merasakan kelelahan seperti ini maafkan kami ya Tuan!" ucap Merry sedih.
"Sudah tidak apa-apa. Ada bagusnya juga kita kembali ke Jakarta. Rekan bisnis saya juga pasti akan kehilangan. Kalau saya pindah ke Surabaya!" ucap Dipta sambil menarik nafas dalam. Dipta tampak berpikir, mengingat tentang pertemuannya bersama Anjani kemarin. Masih membekas dalam ingatan.
"Ya sudah Tuan kami semua permisi akan bersiap-siap untuk kita kembali ke rumah lama kita!" ucap Merry.
Mereka bertiga pun kemudian berpamitan. Dan bersiap-siap untuk kembali ke rumah lama. Perasaan Dipta saat ini merasa lega karena akhirnya memutuskan sesuatu yang besar dalam hidupnya.
"Kalau aku memang ada jodoh bersama dengan Anjani. Semoga ini adalah jalan untuk mendekatkannya!" doa Dipta pada saat dirinya akan keluar dari hotel.
Mereka berempat pun akhirnya kembali ke Jakarta. Merry dan Laila sangat bahagia sekali karena mereka tidak jadi meninggalkan Jakarta kota kelahiran mereka.
Walaupun kedua orang tua mereka sudah tidak ada di dunia lagi. Tetapi tetap saja, bagi mereka Jakarta adalah kampung halaman mereka. Mereka merasa terikat dengan Jakarta sebagai kota kelahiran mereka.
__ADS_1
"Tuan telepon ibu anda. Untuk mengabarkan kalau kita tidak jadi pindah ke Surabaya. Kemarin beliau sangat sedih sekali waktu mendengar Kalau Anda akan pindah ke Surabaya!" ucap Merry.
"Kau saja Mer yang menghubungi ibuku. Aku masih lelah ingin tidur lagi!" jawab Dipta. Kemudian memejamkan matanya.
Kemudian terdengar Merry menelepon ibunya Dipta. Mengabarkan bahwa mereka berempat tidak jadi pindah ke Surabaya. Karena Dipta yang kelelahan di jalan.
"Syukur alhamdulillah kalau Putraku tidak jadi pindah ke Surabaya. Kemarin saya benar-benar sedih sekali memikirkan Putraku yang akan pergi jauh dari Jakarta!" ucap ibunya Dipta terdengar bahagia.
Setelah berpamitan Merry pun menutup telepon tersebut. Dan kembali fokus dengan perjalanan mereka kembali ke Jakarta.
"Untung saja ya, kita belum terlalu jauh dari Jakarta dan Tuan Dipta berubah pikiran. Kalau tidak kita pasti akan kelelahan di jalan karena bolak-balik seperti ini!" ucap Laila.
"Kalian tidur saja nanti aku bangunkan kalau sudah sampai di rumah!" ucap supirnya Dipta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Abah sama Umi. Betul tidak mau ikut kembali ke Jakarta dan mau menghabiskan masa tua di kampung?" tanya Bagas ketika mereka berpamitan kepada kedua orangtuanya.
"Betul Bagas, kami sudah lelah jauh dari kampung. Kami ini sudah tua. Kami ingin kalau nanti kami meninggal dimakamkan di sini. Dekat dengan kedua nenek dan kakekmu!" ucap ibunya Bagas.
"Kalian itu masih muda dan sehat jangan pernah berpikir untuk cepat meninggal. Kalian harus membantu untuk mengurus anak kami nanti" ucap Bagas.
"Abah dan Umi, tolong kalian tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Kalian harus berumur panjang dan menimang cucu kalian!" ucap Rianti sedih.
"Sudah Cepat kalian segera lanjutkan perjalanan. Nanti kesorean sampai di Jakarta. Bukankah kamu besok pagi-pagi harus kembali bekerja Bagas?" tanya ayahnya.
Setelah mereka berpamitan. Mereka pun langsung pergi dari kampung halamannya Bagas. Rianti tampak sedih karena harus berpisah dengan kedua mertuanya yang selama beberapa hari terakhir sangat baik kepadanya.
__ADS_1
"Nanti tolong sampaikan kepada ayah ibu. Tentang pengunduran diri kedua orang tuaku. Jangan sampai nanti mereka terkejut!" ucap Bagas sambil fokus menyetir.
"Iya Mas nanti Rianti pasti bilang sama Papa dan Mama!" ucap Rianti sambil melihat ke luar jendela dan menyenderkan punggung di kursi mobil.
"Apakah kau sudah memikirkan sesuatu yang berat? Kenapa tak pakai kau bersedih?" tanya Bagas sambil menggenggam tangan istrinya yang masih tampak melamun.
"Aku hanya sedang berpikir. Apakah Abah sama Umi mundurkan diri bekerja di rumah ayah dan ibu adalah karena sikap Mamaku terhadap kedua orang tuamu?" tanya Rianti dengan suara yang sendu.
"Jangan berpikir seperti itu. Tidak ada hubungannya sama sekali. Mereka sejak dulu memang sudah niat untuk mengundurkan diri dari rumahmu. Hanya saja melihat belum ada waktu yang tepat. Kebetulan saja, sekalian sekarang pulang ke kampung halaman. Jadi ya sekalian saja mereka menetap di sana!" ucap Bagas sambil tersenyum.
"Maafkan ibuku ya? Kalau beliau sudah sangat menyinggung perasaanmu maupun kedua orang tuamu. Ibuku memang seperti itu kalau bicara selalu ceplas-ceplos!" Ucap Rianti dengan sedih.
"Sudahlah tidak apa-apa. Kamu jangan sedih memikirkan hal seperti itu. Kami baik-baik saja!" ucap Bagas tersenyum.
Mereka mampir di sebuah restoran untuk makan siang. Karena perut yang sudah lapar dan juga haus. Karena tadi mereka buru-buru sehingga tidak sarapan dulu.
"Apakah kau sudah menelpon ayah ibumu? Bagaimana perjalanan mereka kemarin?" tanya Bagas setelah mereka selesai makan.
"Aku belum menghubungi mereka. Biarlah nanti saja di rumah. Aku rasanya malas bicara dengan Mama saat ini!" ucap Rianti tampak kesal. Bagas tersenyum.
"Jangan begitu! Dia itu ibumu. Mas ngerti kok perasaan ibumu. Dia pasti merasa khawatir dengan kamu. Perasaan setiap Ibu itu sama. Ingin kebahagiaan putrinya!" Bagas meremas tangan Riyanti. Memberikan kekuatan kepada istrinya tersebut yang tampaknya, sekarang sedang sedih. Karena memikirkan ibunya yang selalu menghina keluarganya.
Setelah mereka sampai di apartemen mereka berdua. Mereka pun langsung mandi dan makan malam.
"Rasanya rindu sekali dengan rumah kita. Setelah meninggalkannya selama satu minggu lamanya!" ucap Rianti dengan senyum bahagianya.
"Mas juga rindu dengan kamar kita. Semoga rumah tangga kita baik-baik saja ya? Dan akan memiliki anak-anak yang sholeh dan sholehah. Yang akan membahagiakan rumah tangga kita!" ucap Bagas sambil mencium kening istrinya. Kemudian mereka pun tidur, karena sangat lelah setelah perjalanan yang masih sangat panjang.
__ADS_1