
Setelah kedua pengantin tersebut masuk ke dalam kamar mereka. Mereka pun bersih-bersih dan mengganti pakaian pengantin mereka dengan pakaian tidur yang sudah disiapkan oleh ayahnya Riyanti. Yah, ayahnya Rianti benar-benar mempersiapkan segalanya dengan sempurna bagi kedua pengantin tersebut agar bisa melewati malam ini dengan bahagia.
"Papa tampaknya sangat menyayangimu ya? Lihatlah apa yang dia persiapkan untuk kita berdua!" ucap Bagas berbinar-binar. Rianti hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya, Bagas.
"Papaku sejak dulu memang selalu menyayangiku. Seburuk apapun yang aku lakukan, dialah orang pertama yang selalu ada di sampingku!" ucap Rianti dengan lembut.
"Kau harus selalu bersyukur, memiliki keluarga yang begini. Memiliki seorang Papa yang begitu mencintaimu. Kau harus berbakti dan menjadi anaknya yang membanggakan. Jangan membuat dia banyak pikiran dan sedih karenamu lagi. Sekarang, kamu sudah menjadi istriku, telah tanggung jawab Mas sebagai suami kamu. Mas harap, kita sebagai keluarga tidak usah merepotkan kedua orang tuamu lagi. Mas akan berusaha untuk mencukupi kebutuhanmu. Bisa kau pegang janji ini?" tanya Bagas sambil memegang tangan sang istri.
"Ya, Mas! Rianti janji nggak akan mengganggu Papa ataupun Mama. Rianti akan berusaha semampunya untuk menjadi istrimu yang baik dan tidak membuatmu malu!" ucap Rianti tersenyum simpul.
"Ya udah, sekarang kita berdua salat sunah dulu ya? Setelah itu kita bisa melakukan sunnah yang lainnya!" ucap Bagas sambil tersenyum manis. Rianti sudah bersemu merah wajahnya. Karena malu.
"Sunah lainnya, apa itu, Mas?" tanya Rianti sok polos.
"Nanti Mas ajarin! Udah! Ayo kita salat sunah dulu!" Bagas lalu menarik tangan istrinya ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu bersama. Setelah itu pasangan pengantin baru itu melakukan salat Sunnah bersama. Berdoa bersama-sama, agar menjadikan rumah tangga mereka Sakinah Mawardah warohmah dan di karuniai anak-anak sholeh dan sholehah.
Selepas salat Sunnah berjamaah, Rianti mencium telapak tangan suaminya. Dan Bagas mencium kening sang istri sambil mendoakan ubun-ubun Riyanti dengan doa terbaik sebagai seorang suami untuk istrinya.
__ADS_1
"Ya Allah! Jadikanlah istriku ini, menjadi sebaik-baik istri yang bisa menyenangkan hati suaminya. Menjadi sebaik-baik istri yang bisa mengasuh, merawat dan mencintai anak-anak kami. Menjadi sebaik-baik istri yang bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita baik di saat ada suaminya ataupun tidak ada suaminya. jadikanlah rumah tangga kami berdua rumah tangga yang sakinah mawaddah dan warohmah. Berikan aku kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga kecil kami, Amien!" setelah berdoa di ubun-ubun sang istri kemudian Bagas mencium kening sang istri dengan penuh cinta kasih. Rianti benar-benar merasa terharu dengan kelembutan yang diberikan oleh suaminya.
"Ayo kita melakukan sunnah lainnya. Semoga apabila malam ini menjadi sebuah benih akan menjadi benih yang terbaik. Yang pintar dan cerdas dan memuliakan serta mengagungkan agama Allah di muka bumi ini!" doa Bagas yang di ameinkan oleh Rianti.
Sepasang pengantin itu pun, akhirnya menjalankan ibadah Sunnah yang paling indah di muka bumi ini. Mensyiarkan sunnah agar membahagiakan pasangan satu sama lainnya. Rianti dan Bagas merasakan kebahagiaan yang luar biasa malam itu. Malam itu menjadi malam pertama yang tidak akan mereka lupakan selamanya.
Keesokan harinya, Bagas dan Rianti bangun dengan saling berpelukan. Rasa cinta semakin besar mereka rasakan. Rianti, walaupun sebagai anak orang kaya yang hidup dan belajar di luar negeri, tetapi dia berhasil menjaga kehormatan dirinya sebagai seorang wanita, dan menjaga marwahnya sebagai muslimah sejati. Mempersembahkan kesucian dirinya hanya untuk suaminya.
"Non Rianti dan Den Bagas, di tunggu sama Tuan besar di ruang makan!" ucap pembantu yang bertugas di rumah keluarga besar Rianti.
" Assalamualaikum, Pah, Mah!" sapa Bagas kepada kedua orangtuanya Rianti, Ayahnya Rianti mengangguk, lalu mempersilahkan mereka berdua untuk duduk dan makan sarapan bersama.
"Bagas dan Rianti! Papa memberikan sebuah rumah untuk kado pernikahan kalian berdua. Papa berdoa, semoga kalian bisa menjalani pernikahan ini dengan bahagia, ya?" ucap ayahnya Rianti, tampak wajah ibunya Rianti sangat masam dan tidak sedap di pandang sama sekali.
"Maafkan Bagas Pah! Tapi Bagas sudah memiliki rumah sendiri yang Bagas tabung dari gaji Bagas selama ini bekerja sebagai seorang Dokter! Insya Allah rumah tersebut akan menjadi istana dan jaga surga bagi keluarga kami!" ucap Bagas dengan rendah hati.
"Memangnya rumah seperti apa yang bisa kau berikan untuk anakku? Anakku yang sudah biasa hidup mewah sejak kecil. Anakku yang sudah biasa memiliki segala fasilitas sejak menjadi anak kami. Apa yang bisa kau berikan kepada anak kami, huh? Jadi orang miskin saja kau terlalu sombong!" ucap ibunya Rianti dengan angkuh dan sinis, Bagas hanya diam, mendengarkan penghinaan terhadap dirinya.
__ADS_1
"Mama Jaga mulutmu! Udah sana pergi dari sini! Mama tidak usah kau ada di sini!" usir ayahnya Rianti.
"Gara-gara kamu! Suamiku sekarang selalu kasar kepadaku dan selalu mengusirku! Memang kau pembawa sial di rumah ini!" lalu dengan kemarahan ibunya Riyanti pun meninggalkan meja makan tersebut.
"Maafkan kami, Pah! Kami berdua akan segera pindah ke rumah kami. Karena kami tidak mau memberikan hal buruk di rumah ini. Melihat Mama yang tidak bisa menerima kehadiran saya di rumah ini!" ucap Bagas sambil memegang tangan Rianti.
"Maafkan Mama ya, Mas! Kita berdoa aja! Semoga hati Mama nanti luluh dan mau menerima pernikahan kita! ucap Rianti merasa bersalah dengan perlakuan ibunya terhadap suaminya benar-benar sangat membuat marah.
"Tidak apa-apa! Mas bisa menerima semua itu! Selama kamu berusaha menjadi istri Mas yang baik! Selama Kamu berjanji kepada Mas, bahwa kamu tidak akan menyusahkan Papa maupun Mamamu lagi. Berjanjilah, bahwa kamu, akan menjaga kehormatan suamimu ini. Bisakah?" tanya Bagas sambil menatap istrinya.
"Pasti, Mas!" ucap Rianti mantap.
"Papa berharap, rumah tangga kalian akan bahagia dan segera dikaruniai seorang anak. Pasti kalau sudah mempunyai seorang cucu Mamamu akan berubah pikirannya!" ucap ayahnya Rianti dengan senyum terus mengembangkan di wajah tuanya.
"Pah, bagaimana dengan Kak Nadya?" tanya Rianti.
"Kakakmu nanti akan mendapatkan keringanan masa hukuman. Karena dia berprilaku baik selama berada di penjara!" ucap ayahnya Rianti. Mereka berdua membicarakan masalah itu, ketika Bagas pergi ke kamar mereka. mempersiapkan segala sesuatu untuk kepindahan mereka ke rumah mereka.
__ADS_1