Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
224. Kesadaran Elena


__ADS_3

Elena yang telah memutuskan untuk keluar dari kediaman kedua orang tuanya dan memilih hidup mandiri. Saat ini dia sedang sibuk untuk mencari pekerjaan.


" Ya ampun. Ternyata selama ini aku hidup terlalu dimanjakan oleh kedua orang tuaku. Mencari pekerjaan ternyata sangat sulit sekali. Kalau aku tahu hal seperti ini sejak dulu, mungkin aku akan menjadi anak yang baik bagi kedua orang tuaku!" ucap Elena merasa sedih.


Sejak kemarin Elena berusaha untuk mencari bantuan teman-temannya tetapi mereka semua menghindarinya.


" Saat aku menjadi anak dari kedua orang tuaku, mereka semua selalu memujiku setinggi langit. Sekarang aku baru meninggalkan rumah dua hari saja, mereka menganggapku seperti gelandangan dan tidak mau mengenalku lagi! Betapa ironisnya kehidupan seperti ini!" Elena terus berjalan menyusuri jalanan Ibukota yang terasa begitu panas dan terik.


Elena meninggalkan mobil kedua orang tuanya tanpa membawa apapun. Dia hanya bermodalkan pakaian yang melekat di tubuhnya dan ponsel pintar yang ada di genggaman tangannya.


Elena menatap ponselnya merasa sedih kalau sampai harus kehilangan ponsel itu karena saat ini benda itulah yang menjadi harta paling berharganya.


" Biarlah aku akan menjualnya dan menggantinya dengan ponsel yang lebih murah. Aku akan menggunakan uang penjualan ponsel ini untuk mencari kontrakan dan juga uang untuk biaya hidup sampai aku bisa menemukan pekerjaan!" akhirnya dengan langkah berat, Elena pun akhirnya mencari sebuah konter terdekat.


" Maafkan aku tapi aku harus menjualmu sekarang. Karena saat ini hidupku jauh lebih penting. Suatu saat aku pasti akan membeli lagi ponsel yang lebih mahal daripada kamu!" ucap Elena dengan kemantapan hati dia pun kemudian menjual ponsel kesayangannya yang dulu dia beli seharga 30 juta.


Setelah mendapatkan uang dari hasil penjualan ponsel tersebut dan mengganti dengan ponsel yang lebih murah. Elena kemudian mencari tempat tinggal untuknya bisa beristirahat.


" Lumayan. Masih ada sisa 5 juta lagi. Uang ini bisa untuk menjadi modal kerja atau pun biaya hidupku sampai aku menemukan pekerjaan baru!" Elena sangat senang sekali. Dia saat ini sedang berbaring di kontrakan barunya yang sudah dia bayar selama 3 bulan ke depan.


" Aku bisa tenang untuk 6 bulan kedepan untuk masalah tempat tinggal. Sekarang aku tinggal harus memikirkan, bgaimana caranya mendapatkan pekerjaan dan bertahan dengan uang 5 juta ini. Hah; Ternyata hidup sangat sulit tanpa kedua orang tuaku yang kaya raya. Aku harus bertekad untuk terus melanjutkan hidupku. Aku tidak boleh menjilat ludahku kembali dan aku harus membuktikan kepada mereka bahwa aku pasti bisa Survive tanpa mereka!" dengan tekad baja Elena kemudian memutuskan untuk benar-benar memulai hidup barunya dan memulai mimpinya untuk bisa mendapatkan Raffi sebagai suaminya.


" Tenanglah Raffi aku pasti akan datang lagi setelah aku berhasil memantaskan diriku untuk bersanding denganmu." ucap Elena sambil menatap foto Rafi yang dia transfer dari ponsel yang sebelumnya yang sudah dijual untuk memenuhi biaya hidupnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Raffi yang mulai mengajak berkeliling Dinda untuk memilih tempat tinggal mereka yang baru dalam rangka menghindari Elena agar tidak selalu mengganggu rumah tangga mereka.


" Mas ternyata cabang restoranmu banyak sekali. Aku sampai pusing ingin memilih kita akan tinggal di mana. Sebaiknya kau putuskan saja kita akan tinggal di mana. Aku akan mengikuti semua keputusanmu!" ucap Dinda pada akhirnya menyerah karena sejak pagi dia sudah diajak berkeliling oleh Raffi untuk meninjau restoran yang dia kelola.


Sekarang mereka berdua sudah berada di Bandung dan sedang meninjau restoran Raffi yang nomor 5 yang ada di kota itu.


" Kau hebat sekali Mas. Karena bisa mengelola mereka semua. Padahal aku lihat kau tidak pernah pergi kemanapun, selain berada di pondok dan membantu Abi serta Umi untuk mengelola pondok pesantren!" ucap Dinda menyatakan keheranannya terhadap sang suami yang tiba-tiba saja menjadi seorang pengusaha restoran.


Raffi hanya tersenyum mendengarkan omongan denda.


" Aku mengelola mereka semua melalui jaringan yang aku miliki. Aku hanya mentransfer uang dan mereka semua yang menjalankannya. Aku hanya bermodalkan kepercayaan saja selebihnya aku serahkan kepada Allah!" ucap Raffi sambil menyantap makan siang mereka di restoran miliknya.


" Saat ini, rasanya kita berdua seperti sedang berbulan madu ya?" tanya Dinda sambil tersenyum kepada Raffi.


Mereka berdua benar-benar menikmati hari mereka sebagai suami istri tanpa diganggu lagi oleh Elena yang sudah menghilang entah ke mana. Mereka dengar bahwa Elena sudah meninggalkan keluarganya dan sekarang keluarganya sudah kembali ke Mesir.


' Kasihan juga Elena kalau sekarang hidup harus terlunta-lunta tanpa perlindungan dari kedua orang tuanya. Apakah segitu dalamnya cinta dia terhadap suamiku? Dia sampai rela melepaskan segalanya dan memilih hidup mandiri daripada harus melepaskan suamiku. Apakah aku mampu melakukan itu? Kalau harus berhadapan dengan masalah yang sama seperti Elena!?" tidak ada hentinya denda memikirkan tentang Elena yang telah berbuat nekat meninggalkan kedua orang tuanya.


Sejak tadi Rafli terus memperhatikan gerakan sang istri yang menurutnya aneh.


" Kamu kenapa sih dari tadi aku perhatikan terus melamun. Apakah kau memiliki masalah yang menghimpit hatimu? Ceritalah Siapa tahu aku bisa membantumu!" ucap Raffi sambil mengelus telapak tangan istrinya.

__ADS_1


Dinda tersenyum dan menatap sang suami membuat Raffi menjadi salah tingkah dibuatnya.


" Katakanlah sama aku. Masalah apakah yang mengganggumu sampai kau tidak fokus dengan kebersamaan kita berdua? Hmmm?" tanya Raffi perlahan.


Raffi berusaha untuk menjadi seorang suami yang baik dan berusaha untuk terus memperhatikan kesehatan emosional sang istri Yang pastinya belum terlalu matang mengingat denda yang selama ini selalu hidup bersama dengan kedua orang tuanya dan selalu dimanjakan tanpa pernah merasakan susahnya kehidupan di luar sana.


Mobil-mobil yang lewat di depan restoran menjadi perhatian Dinda. Matanya terus menatap dengan sayu. Sehingga membuat Raffi benar-benar penasaran dengan gelagat aneh Dinda yang sejak tadi hanya diam dan terus menatapnya tanpa mengatakan apapun.


Saat Raffi tidak memperhatikannya tiba-tiba saja Dinda batuk dan mengeluarkan darah.


" Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Raffi khawatir dengan keadaan istrinya.


" Entahlah tiba-tiba dadaku rasanya sangat sesak!" ucap Dinda sambil menatap suaminya yang mulai khawatir dengan kondisinya.


sebenarnya sejak kemarin Dinda sudah merasakan bahwa tubuhnya tidak fit hanya saja dia memaksakan diri untuk mengikuti sang suami meninjau restoran milik Suaminya.


Karena sejujurnya, Dinda pun merasa sangat penasaran tentang kehidupan suaminya yang tidak terlalu banyak dia ketahui selama ini.


Kehidupan Raffi yang selalu misterius bagi orang-orang terdekatnya, benar-benar menggelitik hati Dinda untuk terus menyelami sang suami yang sekarang sudah mulai dia pahami satu demi satu. Raffi adalah sosok yang lebih memilih untuk hidup sederhana dan tidak pernah menonjolkan miliknya kepada siapapun. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak mengetahui tentang bisnis yang dia geluti selama ini. Semua dilakukan secara diam dan terencana dengan baik dilakukan olehnya sendiri dengan bantuan teman-temannya yang dia percayai untuk mengelola restoran yang dia miliki.


Sistem kerjasama yang ditawarkan oleh Raffi adalah sistem bagi hasil yang nantinya akan menguntungkan kedua belah pihak yang bekerja sama di dalamnya.


Manajemen pengendalian kontrol dan mutu produksi semuanya di bawah kendali kantor pusat yang di pimpin langsung oleh Raffi. Mitra yang bekerja sama hanya cukup menjalankan restoran tersebut dan semuanya akan berjalan sesuai perjanjian yang telah mereka sepakati bersama.

__ADS_1


__ADS_2