
Demi usahaku mendapatkan Mas Ali, aku berniat untuk mondok juga di sini. Semoga dia jadi milikmu nantinya dan meninggalkan Nur.
Cinta harus diperjuangkan bukan? Aku siap berjuang demi cintaku. Malam ini aku menginap di pondok, aku akan mulai mendekati Mas Ali.
"Nad, ayo mandi dulu. Sudah sore, ayo aku kasih tahu kamar mandinya. Kamu boleh pakai alat mandiku dulu. Tapi kalau pakaian, aku minta maaf ya. Aku ga bisa pinjemin, katanya orang tua, pamali pinjemin pakaian pada wanita lain." ucap Nur sore itu.
"Kenapa memangnya? Ko ga dibolehkan pinjem pakaian kamu?" tanyaku heran.
"Pakaian itu ibaratnya seperti pasangan kita. Kalau aku pinjamkan pakaian ku ke padamu, berarti aku memberi izin kamu mengambil pasangan aku juga." aku kaget dengan jawaban Nur. Gawat! Apa Nur sudah tahu tentang niatku?
"Ya udah, aku mandi saja. Gak apa-apa aku pakai bajuku lagi. Kan cuma semalam saja." Aku mengikuti Nur ke kamar mandi dalam perjalanan aku berpapasan dengan Mas Ali, senang sekali.
"Assalamualaikum, Nur." uh.. kesel! kenapa dia menyapa Nur? Bukannya menyapa aku?
"Waalaikum salam, Mas!" jawab Nur santai sekali. Aku sudah kesal sekali melihat mereka berdua yang cuek kepadaku. Menyebalkan.
"Cepatlah mandinya, sudah sore. Nanti terlambat sholat Maghrib."
"Iya, Mas. Aku mau antar temanku mandi dulu. Nanti baru aku yang mandi." semakin kesal aku rasanya melihat mereka berdua.
"Mas Ali, apa kabar? Saya Nadya, masih ingat tidak? Kita bertemu di acara perpisahan KKN!" ucapku mencoba bercakap-cakap dengan dia.
"Ya, Nur, suruh teman kamu cepat mandinya. Mas gak mau kamu nanti terlambat sholat Maghrib gara-gara dia." uh.. kesal sekali! Dia cuekin aku!
"Ayo Nad, kamu mandi dulu. Itu kamar mandinya. Aku ke warung dulu mo beli makanan buat makan malam kita. Oh ya, kamu mau makan apa?" tanya Nur kepadaku. Hatimu jengkel sekali rasanya.
"Nur, kamu gegas mandi saja. Nanti Mas yang belikan makanan untuk kalian. Ini sudah mau Maghrib, kalau tidak bergegas, kamu nanti terlambat sholat Maghrib nya." Aku pergi mandi saja, daripada melihat mereka berdua. Kesal!
"Nur itu sok kecantikan banget! Dari tadi nyosor aja! Awas aja, nanti kalau Mas Ali sudah aku rebut, aku suruh dia ga boleh nyapa Nur lagi!" aku mandi dengan marah-marah sama Nur. Setelah selesai aku ke luar dari kamar mandi. Aku terkejut, ternyata Nur menungguku di luar pintu.
"Sudah selesai Nad? Sini alat mandiku. Aku juga mau mandi." aku kasihkan alat mandinya lalu aku edarkan ke sekeliling. Mencari pujaan hatiku.
__ADS_1
Saat aku akan ke kamar, aku lihat Mas Ali datang dari arah luar. Membawa bungkusan. Aku tebak, itu pasti makanan buat kami.
"Sudah selesai mandiny? Mana Nur?" Hatiku kesal. ngapain sih nanyain Nur? 'Aku di sini Mas! Cukup lihatin aku aja!' Bathinku kesal sekali.
"Nur sedang mandi. Itu bungkusan apa, Mas?" tanyaku malu-malu.
"Makanan, buat makan malam kalian. Ya sudah, aku pergi dulu." dia berpamitan padaku.
"Ko makanan di bawa lagi? Katanya makan malam buat kami.." tanya ku.
"Nanti aku tunggu Nur selesai mandi. Aku permisi ya." dia berlalu dari hadapanku.
"Mas, titipin aku saja. Pasti nanti aku kasih ke Nur. Jangan khawatir." ucapku masih berusaha mendekati dia.
"Maaf, aku gak bisa. Yang calon istri aku itu, Nur! Bukan kamu!" Dia pergi gitu aja ninggalin aku. Kesal sekali rasanya. Kalau begini, akan susah usahaku dapatin dia dari Nur.
"Nur, ini makan malam kalian, Kamu gegas makan, ya. Jangan sampai kelaparan." aku lihat Mas Ali bicara dengan Nur, sangat lembut dan sopan. Tapi kalau bicara denganku, dia sangat dingin dan terkesan cuek padaku. Aku jadi tambah kesal saja.
"Assalamualaikum teman-teman! Ini ada rejeki buat makan malam. Ayo kita makan bersama!" Nur masuk ke kamar dengan bungkusan yang tadi di bawa oleh Mas Ali. Ada enam bungkus ayam bakar disana. Oh.. baik sekali pujaan hatiku. Dia membelikan makanan untuk semua penghuni kamar ini. Aku senang sekali.
"Perkenalan ini teman Mba, namanya Nadya. Malam ini dia mau menginap sehari di pondok kita. Mohon ijin kalian ya. Tadi siang sudah minta ijin sama Pak Lurah!" Nur lalu memperkenalkan aku dengan semua penghuni kamar ini.
"Aini, asal Purbalingga!"
"Endah, asal Cirebon. Satu desa sama Mba Nur!"
"Risma, asal Klaten."
"Rini, asal Purbalingga juga!"
"Namaku Nadya, aku asal Jakarta. Aku satu universitas sama Nur, tapi beda jurusan." ucapku memperkenalkan diriku.
__ADS_1
"Semoga betah, Mba. Semoga nanti Mba daoat hidayah buat mondok juga. Kan asyik kalau kita nambah saudara." ucap Rini ramah kepadaku.
"Udah, yuk! Kita makan, bentar lagi sudah mau masuk waktu Maghrib." Nur ini memang sangat keterlaluan, dia paling pintar merusak kesenangan teman dia. Menyebalkan!
Akhirnya kami berenam makan malam dalam diam. Aku sangat senang, karena makan malam ini di belikan oleh pujaan hatiku. Aku jadi tambah semangat buat merebut dia dari Nur.
Setelah kami selesai makan, kami bergegas ke masjid, sholat berjamaah di sana. Aku dipinjamkan mukena pondok. Tadi ibu Nyai yang datang kesini memberikan untukku.
"Ini mukenanya, semoga betah ya, Mba!" Ibu Nyai sangat ramah sekali, aku jadi semakin senang.
"Semoga ya, Bu! Terima kasih mukena nya." ucapku sambil tersenyum kepadanya.
"Iya, ayo sana ke masjid sama yang lain. Jangan sampai terlambat sholat berjamaah." Bu Nyai lalu pergi ke Masjid juga.
Aku mengikuti Nur dan yang lainnya ke masjid. Saat aku sampai, aku lihat Mas Ali yang mengimani sholat kali ini. Aku dengar Pak Kiai sedang ada keperluan ke luar, belum kembali sejak siang. Itulah kenapa tadi siang Mas Ali yang menggantikan mengajar teman-teman dia.
Pujaan hatiku memang luar biasa. Dia idaman aku banget! Laki-laki Sholeh. Aku semakin bertekad untuk merebut dia dan menjadikan dia sebagai suami aku. 'Kamu lihat aja Nur. Kamu pasti nangis darah nanti!' bathinku.
Setelah selesai sholat, aku melihat dia mau keluar dari masjid. Aku juga bergegas keluar. Berharap bisa berpapasan dengan Mas Ali.
"Sudah selesai sholat, Mas?" tanyaku, mencoba membuka percakapan dengannya.
"Ya. Aku permisi ya." Dia langsung pergi gitu aja, tak menghiraukan aku. 'Menyebalkan!' bathinku.
"Nur, jangan lupa nanti ikut ngaji habis isya di aula!" Dia menyapa Nur yang keluar dari masjid.
"Iya, Mas!"
"Jangan lupa, besok kita ke toko perhiasan buat beli perhiasan untuk persiapan pernikahan kita." Aku terkejut dengan apa yang aku dengar. Mereka mau pergi ke toko perhiasan dan mau membeli perhiasan untuk pernikahan mereka. Hancur luluh hatiku. Gak ada harapan lagi bagiku. Apa lagi dia tampak cuek sekali kepadaku. Aku menangis darah dalam hatiku.
Setelah isya, aku ikut mengaji Jurmiah di aula. Bersama teman-teman yang lain. Ah, senangnya hatiku. Semesta sepertinya mendukung diriku. Aku terus melihat pujaan hatiku di sini. Aku jadi bersemangat untuk mondok di sini. Dia mengajar Jurmiah dengan sangat baik. Pesonanya semakin memabukkan diriku. Aku semakin jatuh cinta kepadanya. Dia memang keren sekali.
__ADS_1