
Masa kelahiran anak pertama Nur dan Ali semakin dekat, calon ayah dan ibu muda itu begitu excited menyambut kedatangan anak mereka ke dunia.
Ali sudah stand By sejak dua hari lalu di Cirebon, dia menyerahkan pengelolaan tokonya untuk sementara ke pada teman terpercayanya di pondok, supaya dirinya bisa fokus menjaga istri dan calon anaknya. Bagaimanapun toko tidak bisa dibiarkan tutup, pelanggan nanti bisa kabur. Akan repot lagi nantinya, kalau pelanggan pergi.
Ali bisa tenang, karena temannya tersebut seorang yang amanah. Ali nantinya akan menggaji temannya tersebut kalau dirinya nanti kembali ke toko. Alhamdulillah, hutang 30 juta ke pondok juga sudah lunas, kini Ali dan Nur bisa bernafas dengan lega, karena tidak dibebani dengan hutang lagi.
Nadya sudah masuk penjara, dan akan mendekam disana selama hidupnya. Jadi mereka bisa tenang dalam menjalani kehidupan mereka.
"Mas, toko kamu titip sama siapa?" tanya Nur.
"Sama kang Miftah, sudah, jangan mikirin toko, kamu fokus dengan persiapan anak kita saja. Ok?" ucap Ali sambil mengelus-elus punggung dan perut istrinya. Memeng kalau sudah hamil tua begini, keluhan yang terasa adalah punggung dan pinggang yang terasa panas.
Alhamdulillah bayi lelaki yang akan menjadi anak pertama mereka berdua. Papah Nur sangat bahagia dengan kabar itu. Memang impian papahnya ingin memiliki anak lelaki, tetapi tidak kesampaian. Begitu kabar kalau cucu pertamanya laki-laki, Papahnya Nur sangat bahagia.
Mamahnya Nur sudah meninggal dua bulan yang lalu, saat seminggu sebelum wisuda nya Nur. Sungguh situasi yang teramat canggung. Entah harus bahagia atau berduka di kala itu. Sungguh dilema. Mereka bahkan tidak sempat mengambil foto wisuda Nur, pikiran yang kalut dan kacau, sehingga tidak ada seorangpun yang memikirkan masalah foto dan sebagainya.
Hanya foto dari kampus yang menjadi bukti dan kenangan momentum bahagia tersebut. Nur sekarang tengah menunggu kelahiran putra pertama mereka. Sejak siang kontraksi sudah datang silih berganti. Semua keluarga sudah menantikan kehadiran anggota baru.
__ADS_1
"Cepat panggilkan Bu Bidan!" perintah Papah Nur.
"Iya, saya pergi dulu. Sayang, kamu yang kuat ya! Tunggu Mas panggil Bu bidan dulu!" Ali langsung mengambil motornya dan bergegas pergi ke bidan desa Istrinya.
"Bu bidan, tolong istri saya, sejak pagi sudah kontraksi terus, tadi saya lihat air ketuban juga sudah pecah!" ucap Ali menerangkan keadaan istrinya saat ini.
"Ayo cepat, jangan sampai terlambat!" Bu bidan langsung mengambil motornya dan mengikuti Ali di belakangnya. Saat sampai langsung pergi ke kamar dimana Nur sedang merintih menahan sakit karena bayi yang sedang mencari jalan lahir.
"Mari, saya periksa sudah pembukaan berapa!" ucap Bu Bidan dan mendekati Nur yang masih meringis kesakitan.
"Kalau sampai jam 24.00 bayi belum lahir juga, kita harus ke rumah sakit! Harus di operasi! Takutnya bayi keracunan atau kehabisan air ketuban, itu bisa bahaya bagi ibu dan bayinya!" terang Bu Bidan. Nur yang sudah ketakutan saat mendengar kata operasi, berusaha agar bayinya bisa keluar dengan normal, berjalan-jalan bolak balik depan belakang rumahnya.
Nur lalu mendekati Papahnya, bersimpuh menangis, memohon ampun barangkali selama ini memiliki salah kepada Papahnya, mereka berdua menangis tersedu-sedu. Saling memaafkan satu sama lain, "Cucu Abah, cepat keluar, sayang! Kasihan mamah sudah kesakitan sejak siang tadi!" lalu Papah Nur membacakan ayat yang dibacakan oleh nabi Yunus saat beliau terjebak dalam perut ikan hiu. Ajaibnya, tidak lama kemudian kontraksi datang dan ketika di periksa kembali, bayi sudah siap untuk dilahirkan.
Pada hari itu, tanggal 29 April 2009 menjadi saksi sejarah lahirnya seorang anak laki-laki yang begitu tampan dan gembul. Mirip boboho pokoknya, yang di beri nama Muhammad Arrafiqul A'laa.
Ali sangat bahagia dengan kelahiran putra pertamanya, dia sampai menangis dan memeluk istrinya. Kemudian bersujud syukur kepada Allah, Papahnya Nur tidak kalah excited dengan kelahiran cucu pertamanya. Cucu laki-laki yang sangat dia dambakan, air matanya terus mengalir tanda syukur dan kebahagiaan tiada tara. Atas nikmat dan berkah yang maha kuasa.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah memberikan Papah cucu yang sangat tampan!" ucap Papahnya Nur sambil mencium pucuk kepala Nur.
Alhamdulillah, berkat doa sang Papah, akhirnya Nur tidak perlu di operasi. Anak pertama mereka lahir secara normal dan sehat . Memang benar apa kata orang jaman dahulu, kalau doa seorang ayah untuk anak perempuannya itu pasti dijabah oleh Allah, doa seorang ibu untuk anak laki-laki mereka pasti di jabah oleh Allah.
Untuk para pria, jangan lupa untuk meminta doa kepada ibumu, karena sesungguhnya doa seorang ibu itu menyentuh langit ke tujuh. Jangan pernah kau durhaka terhadap ibumu. Seorang pria, walaupun dia sudah menikah dan punya anak, tetap bertanggung jawab terhadap ibu dan ayahnya apabila mereka membutuhkan dukungan ekonomi. Jadi, bagi para istri yang memiliki mertua kekurangan, jangan marah kalau suamimu menafkahi orang tuanya. Karena itu memang kewajiban seorang anak laki-laki.
Kepada para suami, sebelum memberi nafkah kepada orang tuanya yang dinilai lemah dalam hal ekonomi. Harus berunding dengan istrinya, meminta keridhoan sang istri, agar nantinya kedepannya tidak terjadi masalah dalam rumah tangga kalian. Paham?
Apabila kita mengajarkan bakti kepada anak-anak kita, maka kelak, saat kita tua nanti, kita juga akan mendapatkan bakti dari anak-anak kita.
Apabila kita mengajarkan anak kita ke durhaka terhadap orang tua, percaya lah, bahwa karma di dunia itu ada. Hukuman bagi anak durhaka itu biasanya kontan di dunia. Tidak perlu menunggu hari kiamat. Karena sesungguhnya doa seorang ibu yang teraniaya anaknya itu sungguh benar-benar menyentuh langit. Mengguncang Arsy dan Allah paling tidak suka kepada anak yang durhaka terhadap kedua orang tua mereka.
Kalian yang masih memiliki orang tua dan berkesempatan merawat masa tua mereka yang kepayahan, ketahuilah sesungguhnya kalian termasuk orang-orang yang beruntung di dunia ini. Pahala Allah siap mengalir deras untuk kalian. Yang iklas dalam menjaga masa tua kedua orang tua kalian yang kepayahan.
Sungguh miris apabila melihat orang tua yang masih harus pontang panting kerja di masa tua mereka, sementara anaknya yang sejak kecil di asuh dan dididik dengan segala kepayahan malah hidup mewah tanpa perduli dengan nasib orang tua yang sudah berjasa dalam hidup mereka.
Jasa orang tua terhadap anaknya tidak akan pernah lunas kau bayar walaupun kau bawakan seluruh dunia beserta isinya. Percayalah, ada keberkahan ketika kita ikhlas mengurus kedua orangtua kita di masa tua mereka.
__ADS_1