
Tidak lama kemudian Riyanti membuka pintu kamarnya dan nampak memicingkan matanya. Karena tadi dia sempat tertidur sebentar. Namun karena kaget dengan ketukan pintu sang ayah. Sehingga terbangun lagi dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa-apa Pah? Apakah ada masalah?" tanya Rianti merasa terkejut dengan kedatangan ayahnya.
"Mana Bagas? Ibumu dan kakak ingin bicara dengan kalian berdua!" ucap ayahnya Rianti dengan wajah khawatir sehingga membuat Rianti ikut khawatir.
"Sebentar Pah! Mas Bagas barusan tidur. Riyanti coba bangunin ya?" Rianti kemudian masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk membangunkan sang suami.
"Mas, ayo bangun sebentar! Papa sama Mama ingin bicara dengan kita!" ucap Riyanti berusaha membangunkan Bagas yang tampak sudah terlelap.
"Mas ngantuk sayang lelah sekali tanyakanlah ada apa Siapa tahu cukup denganmu saja!" ucap Bagas sambil memejamkan kedua matanya.
"Baiklah coba Rianti tanya siapa tahu cukup dengan Rianti saja dan tidak perlu Mas Bagas untuk ke sana. Maaf ya Mas.Sudah mengganggmu tidur. Kau lanjut tidurmu Mas!" Rianti kemudian menemui ayahnya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Pah ayo kita ke depan Mas Bagas tampaknya sangat lelah!" nanti kemudian keluar dari kamarnya dan membiarkan suaminya untuk tidur dengan lelap.
"Baiklah Ayo kita ke depan. Maaf ya Rianti papa jadi mengganggu kalian tidur!" ucap ayahnya Rianti merasa tidak enak kepada putrinya yang sedang hamil muda tetapi diganggu ketika dia sedang istirahat.
" Iya Pah tidak apa-apa Ayo kita segera ke depan!" Riyanti kemudian mengikuti ayahnya.
Di dalam hati Rianti penasaran kira-kira ada apa sehingga membuat ayahnya begitu khawatir.
Begitu sampai di ruang tamu. Rianti melihat Nadia yang saat ini sedang dipeluk oleh ibunya dengan wajah yang pucat.
"Kak Nadya kenapa? Rianti kira Kak Nadya sudah tidur!" ucap Riyanti dengan baju khawatir segera Dia mendekati Nadia dan ibunya.
"Rianti Apakah kau tahu alamatnya Dipta? Ayo kita harus ke rumahnya Dipta. Karena tadi mahluk-mahluk yang dulu pernah di sembah oleh kakakmu untuk pesugihan. Mereka datang mengganggu kakakmu lagi dan mengancam katanya akan mengganggu Dipta!" ucap ibunya Riyanti berbicara kepada putrinya.
__ADS_1
"Sebentar ya Mah! Rianti hubungi Dipta dulu. Kalau kita yang ke sana malam-malam begini rasanya lebih berbahaya!" ucap Rianti kemudian dia kembali ke dalam kamarnya dan mengambil ponselnya untuk segera menghubungi Dipta.
Begitu mendapatkan ponselnya. Rianti langsung keluar dari kamarnya dan menemui kedua orang tuanya.
Rianti langsung mencari nomor telepon Dipta. Mamun sangat lama sekali tidak juga diangkat-angkat oleh Dipta. Kemudian Riyanti memanggil Bima pun, hal yang sama terjadi. Bima juga tidak mengangkat panggilan teleponnya.
"Mereka berdua tidak mengangkat panggilan Riyanti Mah!" ucap Riyanti kebingungan.
"Apa sebaiknya kita ke sana atau bagaimana?" tanya ayahnya Rianti.
"Coba telpon Kiai Ali saja. Dia kan rumahnya dekat dengan apartemen Dipta. Minta beliau untuk datang ke apartemennya Dipta dan mengecek keadaannya!" usul Rianti kepada kedua orang tuanya.
"Oh ya benar! Kau benar Riyanti. Baiklah papa Yang kamu menghubunginya!" kemudian ayahnya Rianti langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan segera menghubungi Kiai Ali.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap ayahnya Rianti menyampaikan salam kepada Kiai Ali.
"Maaf Pak Kyai malam-malam mengganggu. Apakah kami boleh minta tolong kepada Pak Kyai untuk datang ke apartemennya Dipta untuk mengecek situasi dan kondisi dia di sana!" ucap ayahnya Rianti to the point karena saat ini waktu begitu berharga bagi mereka.
"Memangnya ada apa Pak? Apakah Dipta dalam bahaya?" tanya Kyai Ali tanpa khawatir dengan sahabatnya dan juga donatur pondok pesantrennya.
"Itu Pak Kyai! Para makhluk-makhluk yang dulu pernah disembah oleh Nadia. Tadi mereka datang kepada Nadia dan meminta sesajen dan juga tumbal. Akan tetapi putri saya menolak karena dia sudah bertobat kepada Allah dan mereka mengancam akan mengganggu Dipta dan akan membunuhnya!" ucap ayahnya Nadia mencoba untuk menjelaskan situasi yang saat ini sedang terjadi.
"Astaghfirullahaladzim sesungguhnya setan dan jin adalah musuh yang nyata bagi umat manusia yang akan selalu menggoda keimanan kita dari segala Sisi! Baiklah Pak Tenanglah saya akan segera datang ke apartemen Dipta dan mengecek situasi dia di sana!" ucap Kyai Ali menjanjikan akan pergi ke apartemen Dipta kepada ayahnya Nadia.
"Terima kasih Pak Kyai dan mohon maaf karena sudah mengganggu Pak Kiai di tengah malam seperti ini!" kemudian setelah berpamitan Ayahnya Nadia segera menutup teleponnya agar Kyai Ali bisa segera berangkat ke apartemen Dipta.
"Alhamdulillah Pak Kyai bersedia untuk membantu kita. Ya sudah kita istirahat dulu yang penting permasalahan Dipta sudah selesai!" ucap ayahnya Nadia agar mereka tenang dan tidak lagi berpikir yang tidak tidak tentang Dipta.
__ADS_1
"Mah ayo kita tidur bersama di kamar Nadia. Nanti papa juga akan di kamarnya. Papa akan tidur di sofa dan mama temanilah Nadia tidur di atas ranjang. Papa khawatir kalau Nadia akan ketakutan kalau tidur sendirian!" ucap ayahnya Rianti sambil menggiring anak dan istrinya untuk ke kamar Nadia agar bisa beristirahat.
"Kita tidur di kamar papa dan mama aja ya? Nadya takut kalau di kamar Nadia, mereka akan datang lagi!" ucap Nadia sambil menatap kepada ayahnya dan juga ibunya.
"Ya sudah tidak apa-apa Ayo Pah kita tidur di kamar kita saja Nanti papa tidur di sofa ya?" kemudian mereka bertiga masuk ke dalam kamar dan Riyanti pun kembali ke kamarnya bersama dengan Bagas.
Rianti terus mungelus perutnya dan terus membaca al-fatihah dan juga ayat-ayat pendek. Meminta perlindungan kepada Allah untuk jabang bayi yang ada di dalam perutnya saat ini.
"Ya Allah kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?" tiba-tiba saja bulu Kuduk Rianti seakan meremang.
"Ya Allah jagalah diriku dan juga anak yang ada dalam kandunganku. Ya Allah jagalah Kami semuanya dari gangguan setan yang terkutuk!" tidak ada henti-hentinya Rianti terus berdoa kepada Allah untuk diberikan perlindungan dan keselamatan untuk dirinya dan juga jabang bayi yang ada di dalam kandungannya.
Tidak ada henti-hentinya Rianti membaca surat-surat pendek dan juga terus dzikir kepada Allah.
"Mas, bangunlah Mas! Mas please bangun!" Rianti terus menggoyang-goyangkan tubuh Bagas sehingga membuat Bagas pun akhirnya membukakan sedikit matanya yang terlalu berat karena sangking mengantuknya.
"Ada apa Sayang? Kenapa kau masih belum tidur? Oni sudah sangat malam sekali untuk kau terjaga?" mengucek matanya yang terasa pedas karena masih mengantuk dan masih ingin tidur.
"Bangunlah Mas! Rianti merasa aneh sekali dari tadi merinding terus. Tolonglah Mas Rianti takut!" Rianti terus berusaha agar suaminya terbangun dari tidurnya.
"Memang kenapa? Mungkin ku merinding karena kedinginan sayang. Mas kecilkan ac-nya ya? Supaya kau tidak kedinginan!" Bagas kemudian meraih remote AC yang ada di nakas dan mencoba untuk mengatur suhunya agar tidak terlalu dingin bagi sang istri yang saat ini sedeng hamil muda.
"Bangunlah Mas! Ini bukan masalah AC! Kenapa sih dari tadi dibangunin susah sekali!" Rianti mulai menaikkan suaranya sehingga membuat Bagas mau tidak mau berusaha membukakan matanya dan berusaha keras untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Ada apa memangnya Sayang tengah malam kayak gini?" tanya Bagas sambil memeluk tubuh Riyanti yang mulai gemetar.
"Dari tadi tuh saya merinding terus Mas. Saya sudah baca-baca ayat-ayat Alquran dan juga terus berdzikir kepada Allah. Tapi ndak tahu kenapa, perasaan Rianti nggak enak. Ayo dong males banget kamu kok kayaknya nggak percaya banget sih aku ngomong apa!" ucap Rianti sambil mengguncangkan tubuh Bagas agar dia mau bangun.
__ADS_1