Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
219. Kesal


__ADS_3

Rafi tampak kesal melihat kelakuan Elena yang benar-benar sangat menjengkelkan.


" Saya sudah punya istri dan tidak berniat untuk berpoligami. Saya mohon dengan sangat kepada kalian sebagai orang tua dari Elena untuk jangan membiarkannya datang lagi kemari!" ucap Raffi kesal.


Raffi langsung menghempaskan tangan Elena dan dia langsung pergi dari Pondok berniat untuk mengejar Dinda, sang istri ke kediaman mertuanya yang jaraknya lumayan jauh.


Elena terlihat hendak mengejar Raffi tetapi ayahnya langsung mencegah tangannya dan membawa masuk ke dalam mobil mereka.


" Tolong maafkan kelakuan anak kami. Kami permisi dulu Pak Kyai!" ucap ibunya Elena yang langsung menyusul suaminya untuk meninggalkan pondok.


Mereka tidak memperdulikan Elena yang terus berteriak meminta dilepaskan.


" Sebenarnya mau sampai kapan kau melakukan ini Elena? Mau sampai kapan kau mepermalukan kedua orang tuamu?" tanya ibunya Elena dengan kesal.


Sejujurnya mereka sudah sangat malu melihat Elena yang selalu datang menemui Raffi di pondok.


" Bukankah Papa sudah mengatakan kepadamu, kalau Papa saat ini sedang mengusahakan untuk Raffi bisa bekerja di kantor papa. Kenapa kau tidak ada hentinya membuat kekacauan Elena?" tanya ayahnya Elena merasa benar-benar frustasi melihat kelakuan putrinya yang sangat susah dikendalikan.


" Apa masalah kalau ada anak ingin berjuang mendapatkan cinta Elena?" tanya Elena dengan Isak tangis yang menyayat hati.


" Masalahnya orang yang kau cintai tidak mencintaimu. Terlebih lagi dia sudah mempunyai seorang istri. Kenapa kau tidak bisa mengerti bahwa cinta tidak bisa dipaksakan nak?" ucap Ibunya sudah hilang akal dengan kelakuan putrinya yang selalu absurd dan suka senang sendiri.

__ADS_1


" Elena tidak peduli! Pokoknya aku harus mendapatkan Raffi dan menjadikan dia sebagai suamiku!" ucap Elena menatap nyalang kedua orang tuanya.


" Kalau Papa dan Mama tidak mau membantuku. Lebih baik aku mati saja daripada aku harus hidup menderita tanpa laki-laki yang kucintai!" ucap Elena mengancam kedua orang tuanya dengan kematiannya.


" Lakukan saja kalau kau memang mau melakukannya. Papa sudah tidak peduli!" ucap ayahnya Elena sambil memukul setir mobilnya dengan keras.


Elena merasa tersentak dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Biasanya ayahnya selalu luluh apabila dia sudah mengatakan hal seperti itu.


" Papa sudah tidak menyayangi Elena lagi!" ucap Elena dengan terisak.


" Memangnya ada pengaruhnya kalau Papa menyayangimu atau tidak? Toh kamu juga tidak pernah menganggap kasih sayang orang tuamu bukan?" ucap ibunya Elena mulai merasa kesal dan juga hilang akal untuk menghadapi putrinya yang sangat keras kepala.


" Baiklah Elena akan pergi dari rumah kalian dan menjalani kehidupanku sendiri!" ucapkan Elena pada akhirnya menyerah.


' Maafkan papa! Mungkin hanya dengan cara seperti ini akan bisa sedikit mengendalikan kamu. Papa hanya ingin kehidupanmu bahagia dan melepaskan obsesimu terhadap laki-laki yang tidak mencintaimu!' ucap ayahnya Elena di dalam hati.


Elena tampak menangis tersedu mendengarkan perkataan kedua orang tuanya yang sudah tidak mau peduli lagi kepadanya.


" Turunkan Elena di sini Pah. Mulai hari ini Elena dan papa serta Mama tidak memiliki hubungan lagi. Apapun yang terjadi kepada Elena tolong Papa dan Mama untuk menutup mata!" ucap Elena dengan terisak.


Ayahnya Elena kemudian menghentikan mobilnya dan membukakan pintu untuk Elena bisa keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Dengan perasaan berat Elena kemudian turun dari mobil ayahnya. Walaupun saat ini dia tidak tahu akan pergi kemana. Akan tetapi harga diri Elena seakan sedang ditantang oleh kedua orang tuanya. Sehingga membuat Elena nekat untuk keluar dari keluarganya sendiri.


Mobil ayahnya Elena langsung melaju dan meninggalkan Elena tanpa menengok lagi. Tampak ibunya menangis tersedu karena sedih dengan akhir yang sangat menyedihkan bagi kehidupan keluarganya.


" Kita hanya memiliki satu orang putri. Apakah benar Papa tega untuk meninggalkan Elena begitu saja?" tanya ibunya Elena dengan suara terisak.


" Sudahlah Mah. Biarkan saja Elena hidup dengan caranya sudah waktunya kita membiarkan dia hidup mandiri! Bagaimana pun Elena sudah dewasa dan dia punya tanggung jawab untuk masa depannya sendiri. Kita orang tuanya tidak harus selalu menyuapi dia!" ucap ayahnya Elena dengan tegas dan dia sudah tidak mau memberikan toleransi lagi kepada putrinya yang sangat bengal dan keras kepala.


" Aku ingin tahu punya kemampuan apa Elena sehingga dia begitu nekat!" ucap ayahnya Elena.


" Kan Papa juga tahu seperti apa Elena. Elena itu anak yang sangat nekat dan dia selalu bertindak tanpa memikirkan apapun. Dia selalu melakukan apapun secara spontan tanpa berpikir dulu baik buruknya di masa depan!" ucap ibunya Elena.


" Sekarang juga kita kembali ke Mesir Mah. Pekerjaan Papah banyak yang terbengkalai gara-gara mengurus masalah Elena yang tidak ada habisnya." punya Elena merasa terkejut dengan keputusan suaminya.


" Biarkan Mama tinggal di Indonesia dulu. Setidaknya Mama ingin sekali untuk melihat perkembangan Elena. Setelah dia pergi meninggalkan rumah kita!" ucap ibunya Elena.


" Sebaiknya Mama tidak usah menjadi Elena nomor 2 yang selalu membanggakan dengan perintah papa. Kembali hari ini bersama Papa atau tidak usah sama sekali!" ucap ayahnya Elena dengan tegas dan tidak mau dibantah oleh istrinya.


" Jangan dikira Papa tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Mama. Elena tidak pernah tahu kerasnya hidup makanya dia tidak pernah menghargai apapun yang dia miliki biarkan dia hidup di luar sana agar bisa mengetahui kerasnya dunia sehingga dia bisa menghargai apa yang dia miliki!" ucap ayahnya Elena.


" Baiklah mau makan ikut dengan Papa untuk kembali ke Mesir!" akhirnya ibunya Ella menyerah dengan keinginan suaminya.

__ADS_1


" Kita tidak harus selalu mengikuti keinginan anak. Kalau keinginan itu malah tidak sesuai dengan norma budaya maupun agama. Jangan sampai kita ikut-ikutan keblinger hanya karena mengatasnamakan kasih sayang orang tua terhadap anaknya. kita harus menunjukkan kepada anak kita bahwa sesuatu yang salah tetaplah salah tidak akan tiba-tiba menjadi benar hanya karena dia sangat menginginkannya! menginginkan suami orang lain itu secara agama saja sudah salah apakah Mama ingin anak kita terus melakukan kesalahan selama hidupnya? tugas kita kepada orang tuanya harus mengingatkan Putri kita agar kembali ke jalan yang benar!" ucap ayahnya Elena sambil memegang telapak tangan istrinya yang tampak bergetar karena sedih memikirkan nasib putrinya.


" Tenanglah Elena pasti memiliki rencana ketika dia memutuskan untuk meninggalkan kita!" ucapnya sekali lagi sambil menghapus air mata di pipi sang istri tercinta.


__ADS_2