Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
142. Memulai Hidup Baru


__ADS_3

"Alhamdulillah! Akhirnya Kakak bebas juga dari penjara. Semoga kejadian kemarin dijadikan sebagai pelajaran untuk menjadi pribadi yang semakin dewasa dan bijaksana!" ucap Riyanti sambil memegang tangan kakaknya yang sudah dia rindukan.


"Iya Dek! Kakak juga sudah banyak belajar selama berada di penjara. Alhamdulillah Dek, kakak mendapatkan pengampunan karena kakak berperilaku baik selama di sana!" ucap Nadya sambil tersenyum kepada Riyanti yang lama tidak dia temui.


Jarak Jakarta-Purwokerto memungkinkan mereka untuk sulit bertemu. Setelah Riyanti menikah hidupnya hanya fokus kepada keluarga kecilnya. Jadi sangat wajar kalau mereka jarang bertemu dan Riyanti hanya tiga kali mengunjungi Nadia di penjara, yaitu ketika Riyanti masih tinggal di Purwokerto.


"Iya Kak! Rianti senang karena kakak akhirnya bisa menghirup udara bebas dan Rianti harap Kakak bisa memulai kehidupan dengan lebih baik lagi! Riyanti berharap kaka dapat hidup bahagia?" ucap Riyanti berdoa agar kakaknya bisa hidup dengan bahagia.


"Terima kasih Dek! Atas doanya. Semoga Allah mendengarkannya dan kakak akan menemukan kehidupan baru dan memulainya dengan bismillah!" ucap Riyanti sambil tersenyum kepada adiknya.


"Jadi, apa rencana Kakak setelah bebas dari penjara?" tanya Rianti begitu penasaran dengan kakaknya.


"Kakakmu rencananya akan membantu papa di perusahaan dan papa berharap dengan melakukan itu, Kakakmu akan menemukan jodohnya yang baik dan juga dia bisa mengembangkan kemampuannya yang belum terasah!" ucap ayahnya Riyanti menjawab pertanyaan putrinya.


"Semoga dengan bekerja di perusahaan, Kak Nadya bisa berteman dengan orang-orang yang positif sehingga bisa hidup dengan positif juga!" ucap Bagas memberikan doa terbaiknya untuk kakak iparnya.


"Halo saya kakaknya Riyanti. Maaf ya, karena kita baru bertemu. Kamu Bagas kan? Anaknya Mang Diman. Sewaktu kecil kamu sering sekali bermain dengan Riyanti. Saya senang karena kamulah yang menjadi jodoh dari adikku yang Cantik ini!" Nadia sambil melirik kepada Riyanti yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.


"Kapan rencananya Kak Nadia mulai bekerja di kantornya papa?" tanya Riyanti sangat penasaran.


"Besok kakakmu sudah mulai bekerja. Dia baru bebas dua hari yang lalu, jadi masih butuh penyesuaian untuk bisa kembali beradaptasi dengan lingkungan baru!" jawab ibunya Riyanti dengan pelan.


"Dek kamu nginep ya di sini? Kakak rindu sekali untuk bertemu denganmu!" ucap Nadia meminta kepada adiknya untuk menginap di rumah kedua orang tua mereka.


"Rencananya kami memang berniat untuk menginap di sini. Karena besok pagi kami juga harus terbang ke kediaman mertuaku. Karena kami ingin memberikan kabar langsung kepada mereka berdua tentang kehamilanku!" Jawab Riyanti dengan wajah sumringahnya.

__ADS_1


"Kamu sedang hamil muda Dek, apa tidak berbahaya kalau kamu melakukan perjalanan jauh? Kalau hal seperti itu, bukankah bisa disampaikan melalui telepon?" tanya Nadia tampak keberatan. Kalau Adiknya harus melakukan perjalanan jauh hanya untuk mengabarkan tentang berita kehamilannya Kepada mertuanya yang ada di Jawa.


"Kami ingin memberikan kejutan kepada kedua orang tuaku. Kebetulan kami juga sudah lama tidak bertemu, jadi sekalian melepas rindu juga dengan mereka!" ucap Bagas memberikan jawaban dari pertanyaan Nadia mengenai perjalanan mereka berdua.


"Sudahlah! Bagas itu kan seorang dokter! Dia pasti bisa menjaga istri dan anaknya. Kita tidak usah khawatir dengan hal seperti itu. Ayo kita makan malam saja. Jangan sampai nanti cucu papa kelaparan karena kita keasikan mengobrol di sini!" ucap ayahnya mengingatkan untuk makan malam bersama. Karena kebetulan perutnya pun juga lapar.


"Baiklah, ayo kita makan!" ujar istrinya.


Mereka semua kemudian langsung pergi ke meja makan dan memulai makan malam dengan damai tanpa keributan apapun.


Setelah selesai makan malam, kemudian mereka melanjutkan pembicaraan mereka tadi yang sempat tertunda.


"Untuk bekerja di kantor, dibutuhkan keuletan dan juga keberanian dalam mengambil keputusan!" ucap ayahnya Riyanti.


"Benar! Karena tidak mudah untuk menjadi seorang pengusaha. Pasti akan selalu banyak halangan dan rintangan yang selalu akan datang menghadang kita!" ucap ibunya.


"Maaf saya akan mengangkat panggilan ini sebentar!" Bagas kemudian meninggalkan mereka semua dan pergi ke teras rumah mertuanya.


"Yah ada apa suster?" tanya Bagas.


"Dokter Bagas tolong cepat kembali ke rumah sakit! Di rumah sakit ada keadaan darurat yang membutuhkan anda!" ucap seorang suster di seberang sana meminta Bagas untuk segera kembali ke rumah sakit.


"Tetapi saya sedang ada pertemuan keluarga penting. Kenapa tidak menghubungi dokter Bima?" tanya Bagas seperti keberatan untuk dirinya meninggalkan keluarga mertuanya.


"Dokter Bagas masih dirawat di rumah sakit Dokter. Karena kemarin dia drop total sehingga harus bedrest!" ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah saya akan segera ke rumah sakit. Hanya saja jaraknya agak terlalu jauh dari rumah sakit. Mungkin sekitar satu jam baru sampai!" ucap Bagas memberitahukan situasinya saat ini.


"Tapi kalau satu jam, tampaknya terlalu lama dokter. Bagaimana ini ya? Pasien itu butuh segera ditangani dokter. Karena terjadi pendarahan di otaknya dan saat ini tidak ada dokter yang stand by di rumah sakit!" ucap Suster itu seperti ketakutan.


"Baiklah akan saya usahakan lebih cepat lagi. Kau tenang saja. Segera kalian persiapkan ruang operasinya dan juga rekan-rekan yang akan membantu saya di sana. Jadi begitu saya sampai kita langsung operasi!" ucap Bagas memberikan perintahnya kepada suster tersebut.


"Baiklah dokter akan saya atur segera kami tunggu anda!" ucap suster tersebut kemudian dia menutup panggilan teleponnya.


"Terpaksa aku harus meninggalkan Riyanti di rumah ini. Tapi tidak apa-apa juga sebetulnya. Dia bisa melepas kangen bersama dengan kakaknya!" ucap Bagas pelan, kemudian dia masuk ke dalam rumah.


"Pah, Mah! Maafkan harus segera kembali ke rumah sakit karena ada keadaan darurat di sana!" ucap Bagas berpamitan kepada kedua mertuanya kemudian dia memanggil Rianti untuk mengikutinya ke teras.


"Ya Bagas tidak apa-apa, Nak! Kau bisa meninggalkan Riyanti bersama kami. Karena kami pun merindukan dia!" ucap ibunya Rianti dengan suara lembut dan tersenyum kepada Bagas. Sungguh keadaan yang sangat langka bagi Bagas, karena selama ini, ibu mertuanya itu selalu ketus kepadanya.


"Maaf sayang! Apa kau bisa mengikuti Mas sebentar?" tanya Bagas untuk meminta Riyanti menemuinya di teras.


"Ada apa mas Apakah ada hal yang mendesak dan mengharuskan Mas pergi ke rumah sakit sekarang juga?" tanya Riyanti seperti khawatir dengan keadaan suaminya.


"Ya Sayang! Ada seorang pasien dengan pendarahan di otak membutuhkan operasi secepatnya. Mas cuma mau bilang, kamu nginep dulu di sini ya? Besok ketika kita sudah siap mau berangkat ke bandara. Mas akan jemput kamu. Nanti pakaian-pakaianmu Mas yang akan persiapkan. Mas malam ini akan menginap di rumah sakit. Karena besok pagi-pagi Mas juga ada jadwal operasi. Supaya Mas tidak lelah di perjalanan!" ucap Bagas kepada Rianti.


"Ya Mas tidak apa-apa. Mas berangkatlah! Kebetulan saya juga rindu dengan kak Nadya. Ingin temu kangen sama dia!" ucap Riyanti mengizinkan suaminya untuk pergi.


"Baiklah Mas harus berangkat sekarang! Tidak bisa berlama-lama lagi. Karena pasien ini sudah menunggu Mas sejak tadi. Kamu hati-hati Sayang ya!" bagian Bagas mencium bibir Riyanti sejenak, sebelum mereka berpisah untuk malam ini.


"Hati-hati di jalan Mas! Kamu jangan ngebut. Ingatlah untuk perhatikan keselamatanmu. Kau hanya bisa mengoperasi kalau kau masih hidup!" pesan Rianti kepada suaminya sebelum dia meninggalkannya.

__ADS_1


"Ya Sayang! Terima kasih Mas pasti hati-hati! I love you!" ucap Bagas sambil mengirimkan ciuman jauh untuk istrinya sehingga membuat Rianti jadi tersipu malu.


"Love you too Sayang hati-hati di jalan!" ucap Riyanti tersenyum kepada Bagas.


__ADS_2