Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
138. Protes


__ADS_3

Sheila merasa marah ketika mendengarkan bahwa Bima sudah merencanakan akan menjodohkan anak mereka kelak kalau sudah dewasa bersama dengan anaknya Dipta.


"Tidak usah terlalu dipikirkan Sheilla, mungkin Bima hanya sedang bergurau saja atau hanya sedang mengungkapkan keinginannya saja tidak usah terlalu dipikirkan!" ucap ibunya Bima berusaha untuk menghibur Sheila yang saat ini tampaknya sedang kesal gara-gara mengetahui keinginan Bima tentang anak-anak mereka nanti.


"Tidak tante! Bima pasti memang serius dengan keinginannya itu. Lihatlah! Dia bahkan sampai lupa makan seharian, pasti sangking jengkelnya dia karena Dipta tidak menjawab keinginannya!" jawab Sheila sambil melihat Bima yang masih terpuruk pulas di ranjangnya akibat dari obat tidur yang diberikan oleh dokter yang menanganinya.


Bima memang kelelahan sehingga dia diberikan obat tidur oleh dokter agar Bima bisa beristirahat secara maksimal.


Seharian ini Bima memang sangat sibuk sekali. Ada banyak operasi darurat yang dia lakukan. Sementara dia dari semalam makanannya tidak karuan. Apalagi selama seharian ini Dia tidak makan sama sekali. Itulah yang membuat akhirnya tubuh Bima drop dan pingsan pada akhirnya.


"Bima ini memang mempunyai kebiasaan buruk. Kalau sudah sibuk bekerja, dia selalu lupa dengan makan. Oleh karena itu selama ini saya selalu mengirimkan dia makan siang ke sini. Tetapi tadi seharian saya telepon dia, dia sama sekali tidak mau mengangkatnya. Oleh karena itu saya khawatir dan saya langsung lari ke sini ternyata Bima sudah pingsan di ruangannya!" ucap Dipta mencoba menerangkan kepada keluarga Bima tentang kejadian hari ini.


" Jadi selama ini kamu yang selalu mengurus makanan Bima?" punya Sheila mengerutkan keningnya tampaknya dia tidak senang dengan kenyataan itu.


Ketika melihat Dipta menganggukan kepalanya. Sheila langsung memajukan posisinya dan dia berkata dengan lantang.


"Mulai besok dan seterusnya tugas untuk mengurus makanan Bima adalah saya sebagai calon istri Bima. Kau bisa beristirahat dari tugas itu!" ucap Sheilla sambil menepuk bahu Dipta. Dipta hanya tersenyum saja mendengarkan keinginan Sheila.


"Kau bisa melakukannya! Aku malah senang kalau kau bisa mengambil alih tugas itu dariku. Karena jujur saja, aku sudah lelah dan juga bosan melakukan tugas itu hampir selama 15 tahun lamanya!" ujar Dipta.

__ADS_1


"Udahlah Sheila! Kau tidak usah ribut tentang hal seperti itu. Dipta dan Bima itu sudah bersahabat lebih dari 20 tahun kau tidak usah meributkan hal sepele semacam itu!" tegur ayahnya Bima merasa tidak nyaman dengan tatapan Shela terhadap Dipta.


"Tidak apa-apa om! Saya malah senang kalau Sheila mulai memperhatikan Bima, sahabat saya! Bagaimanapun kan mereka adalah calon pasangan, jadi harus mulai beradaptasi untuk memperhatikan satu sama lain! Saya bisa mundur perlahan dari tugas itu!" ucap Dipta tersenyum kepada ayahnya Bima.


"Tapi tetap saja! Bima pasti akan merasa kehilanganmu. Kalau tiba-tiba saja kau tidak melakukan hal seperti itu lagi. Bahkan mungkin, Bima sudah terbiasa dengan kehadiran kamu dalam hidup dia!" ucap ibunya Bima sambil melirik kepada Sheila.


Tiba-tiba saja seorang suster menghampiri mereka semua dan memberikan kabar berita yang lumayan membuat mereka bahagia.


"Keluarga Dokter Bima! Dokter Bima sudah sadar kalau ingin mengunjungi dia, silahkan. Tapi ingat jangan terlalu ramai karena saat ini dokter Bima memang membutuhkan istirahat yang banyak agar dia bisa segera pulih kondisinya!" ucap suster tersebut sambil tersenyum kepada keluarganya Bima. Kemudian dia langsung meninggalkan mereka untuk bisa bercengkrama dengan Bima yang baru saja sadar.


"Bagaimana perasaanmu sekarang Sayang? Apakah Kau sudah lebih baik?" tanya ibunya Bima sambil memegang tangan putranya yang masih terlihat lemas.


"Bima baik-baik Saja mah! Mama tidak harus seperti ini. Hal ini tidak mungkin membunuh Bima. Mama tidak usah berlebihan!" ucap Bima berusaha untuk menenangkan ibunya yang malah memukul tangannya yang tidak diinfus. Sehingga membuat Bima meringis.


"Sudahlah mah! Jangan memarahiku seperti itu. Di sini ada Sheila, aku jadinya malu mah!" ucap Bima berusaha menghentikan mamanya yang sejak tadi terus memarahinya.


"Aku juga ingin memarahimu Bima! Bagaimana mungkin kita bahkan belum menikah, tetapi kau sudah merencanakan untuk menjodohkan anak-anak kita dengan anaknya Dipta! Kau benar-benar sungguh konyol! Apa sebenarnya yang ada di dalam kepalamu?" tanya Sheilla dengan mata berapi-api penuh amarah.


"Cukup kita berdua saja yang dijodohkan oleh orang tua kita. Kenapa kau juga sekarang menginginkan anak-anak kita mengalami nasib seperti kita berdua?" kembali Sheila protes kepada Bima.

__ADS_1


"Aku serius dengan keinginanku! Kalau nanti aku mempunyai anak perempuan atau laki-laki. Aku pasti akan menjodohkan dengan anaknya Dipta dan kau tidak boleh protes tentang hal itu. Karena sudah aku putuskan dengan final!" ucap Bima menatap serius kepada Sheila yang saat ini menatapnya dengan tajam dan penuh protes.


"Kita bisa membatalkan rencana pernikahan kita. Kalau kau tidak suka dengan ideku ini. Aku akan mencari perempuan yang mau menjodohkan anakku dengan anaknya Dipta!" ucap Bima tidak mau kalah dengan Sheilla yang kini malah cemberut sambil menatap Bima tidak suka.


"Lihatlah tante! Betapa seriusnya dia dengan keinginannya. Bahkan dia rela Untuk membatalkan rencana pernikahan yang sudah tinggal 30% lagi persiapannya. Apakah saya tidak boleh untuk marah kepada Putra tante?" ucap Sheila sambil menatap kepada kedua orang tuanya Bima yang saat ini sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sudahlah Sheila! Halseperti itu tidak perlu terlalu ditanggapi dengan serius. Yang penting sekarang adalah Bima kembali Fit dan bisa keluar dari rumah sakit. Sehingga dia bisa membantumu untuk mempersiapkan pernikahan kalian!" ibunya Bima berusaha untuk menenangkan Sheila Yang sepertinya sedang tersulut emosi dengan apa yang dikatakan oleh Bima.


"Baiklah kalau begitu Bima! Sekarang saya akan kembali ke kantorku lagi. Gara-gara kamu pekerjaanku di kantor pasti sekarang menumpuk!" ucap Dipta sambil menepuk bahu Bima. Kemudian dia berpamitan kepada semua orang yang ada di ruangan itu untuk kembali ke kantornya.


"Terima kasih ya Bro! Karena kamu sudah menolong saya tadi. Kalau tanpa kamu, hidup saya pasti akan berantakan!" Bima sambil memeluk erat tubuh Dipta yang sedang berpamitan kepadanya.


Sheila mengerutkan keningnya tidak suka dengan keakraban Bima dan Dipta yang baginya terlalu berlebihan.


'Hubungan mereka berdua sungguh sangat mencurigakan. Aku harus segera menyelidiki. Jangan sampai aku dibodohi oleh mereka berdua, hanya dijadikan tameng untuk menutupi aib mereka berdua!' batin Sheila sambil menatap tajam kepada interaksi antara Bima dan Dipta yang dimatanya terlalu akrab dan terlalu dekat.


'Kedekatan mereka terlalu mencurigakan! Apakah benar yang ada dalam pikiranku saat ini? Bahwa mereka adalah pasangan gay?' bathin Sheilla sambil bergidik ngeri.


Ketika dia memikirkan apa yang ada di dalam kepalanya mengenai calon suaminya dengan sahabatnya itu. 'Pasangan gay?' tanyanya kembali sambil terus menatap Bima

__ADS_1


"Sheila! Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada sesuatu yang salah di wajahku?" tanya Bima sambil menyentuh tangan Sheila yang saat ini ada di sampingnya.


Sheilla mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dipta. Tetapi ternyata Dipta sudah meninggalkan ruangan Bima.


__ADS_2