Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
156. Wah....


__ADS_3

Bima bahkan tidak bisa menutup mulutnya yang begitu terpesona. Ketika melihat Sheila yang begitu mempesona dan menawan hatinya sehingga mabuk kepayang dibuatnya.


"Ditutup itu mulutnya Bim? Jangan sampai nanti ada lalat masuk!" tiba-tiba saja Dipta dan Nadia sudah hadir di antara mereka berempat di butik.


"Loh kok kalian di sini mau ngapain?" tanya Bima penasaran dengan kehadiran sahabat sejatinya.


"Ya fitting gaun pernikahan kami lah bro! Emangnya cuma lo aja yang mau menikah?" ucap Dipta sambil memukul dada Bima yang langsung tertawa dibuatnya.


"Bukannya pernikahan kalian masih satu bulan lagi Bro? Kenapa sudah fitting baju pengantin sekarang?" tanya Bima tampak bingung.


"Kalau kami kan waktu pernikahan sudah direncanakan jauh-jauh hari. Jadi supaya tidak kelapakan nantinya. Ini aja satu bulan sudah sangat mendesak waktu yang dimiliki oleh perancangnya!" ucap Dipta, menjawab pertanyaan Bima yang kini hanya bisa manggut-manggut, hanya bisa manggut-manggut saja! 😂 😂


"Kalau hal yang baik itu kan lebih bagus untuk disegerakan. Biar cepat dapat pahala nggak nambah dosa!" ucap Dimas sambil menaik turunkan alisnya dan melirik kepada syala yang masih fokus dengan gaun pengantinnya yang kebetulan sedang melirik Bima.


"Apa??" tanya Sheila tidak mengerti dengan apa maksud dari Bima melakukan hal itu.


"Alah gue tahu otak mesum lu! Lu udah mulai bayangin yang aneh-aneh kan? Ah emang dasar labil!" ucap difta Sambil tertawa sehingga membuat Bima merasa malu dibuatnya.


Dipta dan Bima memang sahabat yang bisa mengerti satu sama lain. Apapun lontaran maupun candaan Dipta tidak akan membuat Bima merasa sakit hati begitu juga sebaliknya.


"Ayo difoto dulu buat kenang-kenangan kalian fitting pakaian pengantin!" ucap Cansu yang sudah siap memegang ponselnya untuk mengabadikan momen langka tersebut.

__ADS_1


"Kami berdua boleh ikut tidak Tante?" tanya Dipta kepada ibunya Bima yang sudah siap memotret mereka berdua.


"Bentar dulu ya, Dipta sayang! Karena tante ingin mengambil foto mereka berdua dulu untuk dikirimkan ke foto Om kalian yang sudah penasaran dari tadi ingin melihat gaun pengantin itu!" ucap ibunya Bima dengan senyumnya yang sangat menawan hati.


"Iya Tante tenang aja! Kami juga kan harus mengurus Gaun pengantin dan Tuxedo untuk acara pernikahan kami. Ya udah, kami ke sana dulu ya? Mau berbicara sama Alberto untuk mempersiapkan gaun kami juga!" Dipta kemudian menarik tangan Nadya yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja.


Nadia yang merasa minder dengan statusnya sebagai mantan narapidana. Membuat dia tidak percaya diri untuk ikut bergabung dengan mereka dalam pembicaraan tadi.


"Sayang kenapa kok kamu dari tadi diam aja sih? Apa kamu terganggu dengan mereka semua?" tanya Dipta ketika mereka sudah berada di ruangan lain dan sedang berhadapan dengan para pelayan Alberto yang sedang melayani pesanan mereka.


Nadia menundukkan kepalanya kemudian menautkan kedua tangannya. Tampak berat untuk mengatakan sesuatu. Nadia sesekali melirik kepada para pelayan yang sedang sibuk untuk mempersiapkan dan mencatat segala pesanan mereka berdua.


"Kalian Tolong keluar dulu ya? Karena kami butuh ruang privasi untuk bicara. Nanti saya akan memanggil kalian. Kalau kami sudah siap!" ucap Dipta seakan mengerti dengan perasaan Nadia saat ini. Dipta meminta kepada para pelayan itu untuk meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan VVIP.


"Aku hanya merasa malu dan minder untuk berbaur dengan orang-orang terhormat seperti mereka. Karena status yang pernah kusandang sebagai mantan narapidana kasus yang sangat berat. Hal itu benar-benar tidak sedap untuk diketahui oleh orang lain!" ucap Nadia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ayolah sayang! Kau belajarlah untuk melupakan kenangan lalu yang menyakitkan hati kamu. Bagiku yang penting sekarang, kamu sudah bertobat dan tidak kembali jatuh ke dalam lubang yang sama. Tenanglah! Aku pasti akan selalu mendampingimu!" ucap Dipta sambil mencium jemari Nadia.


Dipta berusaha mengirimkan sinyal cintanya untuk wanita yang sudah dia pilih sebagai calon istrinya untuk mendampinginya dalam menghadapi sisa umurnya hidup di dunia.


"Apakah kamu tidak malu Mas? Saat kamu berjalan denganku dan bahkan akan menikah denganku? Aku sendiri malu dengan diriku di masa lalu!" ucap Nadia bergetar suaranya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Tampak buliran air matanya mulai mengalir dari kelopak matanya yang bening. Sebening kristal.


"Kenapa Mas harus malu sayang? Kamu telah Mas pilih dengan begitu banyak sekali pemikiran dan juga pertimbangan dan Mas yakin bahwa kita berdua akan bisa mengharungi kehidupan rumah tangga kita dengan bahagia dan juga damai!" Ucap Dipta dengan penuh keyakinan.


Nadia mengangkat wajahnya untuk bisa melihat kesungguhan di mata Dipta saat ini


"Terima kasih karena mas Dipta sudah mau menerima perempuan hina seperti saya untuk menjadi istrimu!" ucap Nadia dengan terisak.


Bima merasa terenyuh dengan ucapan Nadia. Dia bisa merasakan beban mental yang saat ini sedang dihadapi oleh Nadia dengan statusnya sebagai mantan narapidana kasus pembunuhan.


Bima kemudian duduk di samping Nadia dan memeluk kekasihnya dengan erat. Dipta berusaha untuk memberikan ketenangan dan juga perlindungan agar Nadia merasa bahwa dirinya diterima dengan baik oleh Dipta sebagai calon istrinya.


"Bagaimana nona dan Tuan Dipta. Apakah kita akan melanjutkan untuk mengukur pakaiannya? Karena waktu sudah siang!" ucap salah seorang pelayan yang tadi melayani Dipta dan Nadia di depan pintu ruangan mereka.


Mereka terkejut dengan panggilan tersebut, hingga akhirnya mereka berdua mengurai pelukan tersebut dan memanggil para pelayan untuk segera menyelesaikan pesanan mereka berdua.


Setelah menyelesaikan semua proses pemesanan. Akhirnya Dipta pun membawa Nadia untuk makan siang bersama.


"Lu udah selesai Dip? Yuk kita makan siang bersama. Gue laper banget nih, dari tadi nungguin lu!" ucap Bima sambil menepuk bahu Dipta yang langsung tersenyum kepadanya.


"Sheila bukannya dulu tujuanmu membantuku untuk melamar Nadia agar kau bisa memonopoly Bima untukmu? Terus kenapa kok masih biarkan Bima untuk menempel terus padaku? Bukankah aku juga harus bersama dengan calon istriku?" ucap Dipta sambil tersenyum kepada Sheilla yang saat ini sedang merasa telah tingkah.

__ADS_1


"Apa maksudnya Dipta sayang? Kok mas nggak ngerti sih?" tanya Bima kepada Sheilla yang saat ini sedang menundukkan kepalanya dan merasa malu dengan Bima.


"Bukan apa-apa aku kok! Waktu itu Cuma bercanda doang sama Dipta. Dipta saja yang menanggapinya serius!" ucap Sheila berusaha untuk menutupi kebenarannya yang sesungguhnya dari Bima. Karena dia takut kalau Bima akan meninggalkannya setelah mengetahui apa yang dikatakan olehnya pada Dipta di malam dia mengetahui tentang rencana lamaran yang akan dilakukan oleh Dipta terhadap Nadya.


__ADS_2