Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
172. Tenanglah


__ADS_3

Bagas yang mendengarkan penuturan dari Dipta, mengenai Ibu mertuanya yang akan melaporkan orang yang telah menyelamatkan istri dan anaknya. Dia langsung mengepalkan kedua tangannya. Menahan amarah yang ada di dalam hatinya.


" Tenanglah Pak Kyai dan Dipta. Saya pasti akan menolong kalian berdua dan saya akan menjadi saksi bagi kalian. Bahwa hal itu adalah kesalahan Nadya yang sudah bermain klenik. Dan hampir saja mencabut nyawa istri dan anakku!" ucap Bagas sambil menatap keduanya dengan tajam.


" Jangan khawatir dokter Bagas. Kami pasti bisa menghadapi tuntutan itu. Kalaupun memang benar, ibunya Nadia akan melaporkan kami berdua ke polisi! Apalagi sebelumnya Nadia memang sudah tercatat sebagai mantan narapidana karena sudah berurusan dengan hal semacam ini di masa lalu. Kita tidak akan sulit untuk melepaskan diri dari laporan tersebut!" ucap Ali dengan penuh keyakinan.


" Saya juga optimis bahwa kita akan menang kalaupun memang benar ibunya Nadia akan nekat membuka aib keluarga sendiri di hadapan publik!" ucap Dipta.


Tiba-tiba saja ponsel Dipta berdering dengan nyaring. Sehingga mengagetkan mereka yang ada di sana, yang saat ini sedang berpikir serius tentang ibunya Nadia.


" Permisi saya mengangkat telepon dulu Ini dari Ibu saya!" ucap Dipta mengundurkan diri kepada mereka dan mengangkat panggilan telepon dari ibunya.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa Mah?" tanya Dipta dengan suara lesu kepada ibunya.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Dipta. Apakah benar apa yang dikatakan oleh Bima? Bahwa Nadia sekarang sudah meninggal? Lalu di mana sekarang kau berada sayang?" tanya ibunya Dipta dengan rasa penuh khawatir terhadap putranya.


" Saya saat ini ada di Rumah Sakit bersama dengan Pak Kyai Ali dan juga kawan-kawan yang lain. Rianti sedang dirawat di rumah sakit mah!" ucap Dipta menjelaskan posisinya saat ini kepada ibunya agar beliau tidak lagi khawatir kepadanya.


" Rianti sakit apa, apakah parah?" tanya ibunya Dipta merasa khawatir.

__ADS_1


Dipta terdiam sejenak. Dia merasa bingung untuk mengatakan hal kebenaran apakah yang akan dia katakan kepada ibunya.


Dipta sangat ingat ketika dia mengatakan ingin melamar Nadya dan ibunya sangat menentang keinginannya. Hingga akhirnya beliau mengalah atas bujukan dari kedua orang tua Bima demi kebahagiaan putranya.


Dipta sekarang paham. Bahwa apapun yang dilakukan oleh ibunya adalah yang terbaik untuknya dan dia merasa bersalah terhadap ibunya. Karena selama ini selalu saja membangkang dengan keinginan ibunya.


" Sayang, kenapa kamu diam saja? Apakah kau baik-baik saja di sana?" tanya ibunya Dipta merasa khawatir dengan keadaan putranya.


" Dipta baik-baik saja mah. Mama kalau ingin mengetahui tentang Rianti datang saja ke rumah sakit. Nanti akan kami jelaskan di sini! Oh ya Mah! Kalau Bima nanti bertanya kepada Mama tentang saya. Katakan kalau saya sekarang ada di rumah sakit bersama dengan yang lainnya!" ucap Dipta sambil menatap ke arah Bagas yang saat ini sedang bersedih hatinya karena mengingat apa yang telah terjadi kepada anak dan istrinya yang telah selamat dari meregang nyawa.


" Terima kasih kepada kalian yang sudah membantu anak dan istriku. Hingga selamat dari cengkraman iblis yang menginginkan nyawa mereka!" ucap Bagas begitu tertekan perasaannya saat ini karena bagaimanapun Nadia adalah kakak iparnya dan dia bingung akan menjelaskan apa kepada Rianti apabila Nanti istrinya bertanya tentang kakaknya yang kini sudah meninggal.


" Saya sangat bingung Pak Kyai. Apa yang akan saya jelaskan kepada Rianti ketika dia bertanya tentang kakaknya!" ucap Bagas sambil merawat wajahnya dengan kedua tangannya berusaha untuk menyembunyikan kesedihan di hatinya saat ini.


" Maaf dokter Bagas. Ada pasien yang membutuhkan anda saat ini. Apakah anda bisa membantu pihak rumah sakit?" tiba-tiba seorang suster mendekati Bagas.


Bagas menatap ke sekeliling dan memperhatikan wajah orang-orang yang saat ini ada di sampingnya.


" Tidak apa-apa. Kami akan menjaga Rianti di sini. Kau bisa menjalankan tugasmu untuk menyelamatkan manusia yang lain yang membutuhkan tenaga dan keahlianmu!" ucap Nur memberikan semangat kepada Bagas untuk kembali bertugas sebagai seorang dokter. Karena saat ini ada seorang yang sedang membutuhkan keahliannya.

__ADS_1


" Tapi perasaan saya saat ini sedang kalut dan saya tidak percaya diri dengan apa yang akan saya lakukan. Saya takut kalau nantinya Saya akan melakukan kesalahan di meja operasi dan akhirnya merugikan pasien yang membutuhkan saya!" ucap Bagas seperti tertekan dan ragu-ragu untuk menerima permintaan suster.


" Kami percaya dengan kemampuan Anda dokter. Saat ini pasien benar-benar sedang membutuhkan anda. Semua dokter yang bertugas saat ini sedang sibuk. Dokter Bima pun sedang sibuk dengan pernikahannya. Saat ini option kami hanya Anda. Tolonglah kami dokter. Pasien itu benar-benar sangat membutuhkan pertolongan anda!" ucap Suster itu memohon kepada Bagas untuk mau mengoperasi pasien yang saat ini sudah siap berada di ruang operasi.


" Bagaimana kondisi pasien saat ini? Apakah berbahaya?" tanya Bagas pada akhirnya.


" Pasien mengalami pendarahan di otaknya karena mengalami kecelakaan motor yang fatal. Orang yang dia tabrak meninggal seketika di tempat. Tetapi untungnya dia berhasil ditolong oleh seseorang yang melihat kejadian itu dan dibawa ke rumah sakit kita!" ucap suster melaporkan tentang keadaan pasien tersebut kepada Bagas.


" Baiklah saya akan segera ke ruang operasi. Saya akan pamit dulu kepada teman-teman saya untuk menitipkan istri saya yang saat ini sedang dirawat juga!" ucap Bagas.


Bagas kemudian menghadapi semua yang ada di rumah sakit tersebut dan meminta izin kepada mereka untuk Dia segera pergi ke ruang operasi dan menyelamatkan pasien tersebut yang saat ini dalam bahaya.


" Saya pergi dulu! Tolong untuk saya titip istri saya Sementara saya berada di ruang operasi. Kedua orang tua saya sekarang sedang dalam perjalanan untuk menuju kemari. Mungkin dalam beberapa jam lagi akan sampai ke rumah sakit!" ucap Bagas.


" Tenanglah Dokter Bagas. Kami akan menjaga istrimu. Kau bisa bekerja dengan baik dan tenang. Tolong kau selamatkanlah pasien yang membutuhkanmu!" ucap Dipta sambil mengulas senyum kepada Bagas. Laki-laki yang telah menjadi suami dari wanita yang dulu pernah dia cintai di masa putih abu-abunya.


Dipta sangat kagum kepada Bagas. Ketika dahulu mereka sama-sama menghadapi bencana gempa di Kalimantan. Dia melihat sikap heroik seorang Bagas yang sangat luar biasa dan mementingkan kepentingan orang lain daripada keselamatan dirinya sendiri.


" Terima kasih banyak. Saya pergi dulu. Saya akan segera kembali begitu tugas saya selesai!" ucap Bagas berpamitan dan dia pun langsung pergi ke ruang operasi untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien yang membutuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2