Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
177. Taaruf


__ADS_3

Keesokan harinya Ibu Dipta datang ke pondok untuk mengajak Kinan berbelanja pakaian pengantin dan segala kebutuhan untuk persiapan pernikahan Dipta dan Kinan.


"Ayo sayang kamu ikut dengan Tante untuk ke butik dan memesan gaun pernikahan untuk kalian berdua!" ucap ibunya Dipta dengan wajah berseri-seri sambil menggandeng tangan Kinan.


Dipta yang saat ini memang sengaja di minta oleh ibunya untuk mengantarkannya ke butik bersama Kinan. Dia terus berusaha untuk curi-curi pandang terhadap calon istrinya yang menggunakan cadar.


Mata bening Kinan sudah menyihir Dipta. Sejak pertama kali dia bisa melihat mata itu.


" Tante tidak baik kalau Mas Dipta ikut dengan kita. Saya takut nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di antara kami!" ucap Kinan berusaha untuk menundukkan kepalanya.


" Tidak apa-apa Dipta hanya mengantarkan kita saja. Dia tidak akan ikut bersama kita masuk ke dalam butik!" ucap ibunya Dipta berusaha menenangkan Kinan agar mau bersedia mengikutinya ke butik.


"Mah, jadi Dipta cuma di jadikan sopir doang sama Mamah?" tanya Dipta protes kepada ibunya yang berani-beraninya membuat dia menjadi seorang supir.


" Tidak apa-apa. Sekali-kali CEO dari Dipta Pratama grup menjadi Sopir dari ibunya dan juga calon istrinya. Udah cepat jangan banyak protes bukakan pintunya!" perintah ibunya Dita kepada Sang putra yang masih misuh-misuh dan tidak terima dijadikan sopir oleh ibunya.


" Mulai deh Mama kalau sudah suka dengan orang anaknya sendiri dinistakan!" ucap Dipta kesal. Tetapi dia pun mau membukakan pintu untuk ibunya dan juga untuk calon istrinya.


" Silahkan ajengan yang terhormat!" ucap Dipta mempersilahkan ibunya dan calon istrinya untuk masuk ke dalam mobil.


" Terima kasih sopirku yang tampan!" ucap ibunya Dipta sambil mengulas senyum kemenangan kepada putranya yang masih tidak rela dijadikan sopir oleh ibunya.


Kinan yang melihat interaksi antaraa Dipta dan juga ibunya. Dia hanya bisa tersipu dan terus menundukkan kepalanya. Karena sejak tadi Dipta selalu mencuri-curi untuk dapat melihatnya dari spion yang tepat ada di hadapannya.

__ADS_1


" Fokus menyetir jangan sampai membuat kami kecelakaan!" tegur ibunya Dipta sambil menepuk bahu putranya sehingga membuat Dipta menjadi terkejut dibuatnya.


" Mama selalu bikin kaget!" protes Dipta kepada ibunya yang selalu membuat dia terkejut sejak tadi.


" Makanya fokus menyetir jangan plarak plirik matanya. Kalau sampai kita kecelakaan kamu tidak akan bisa menikah!" ujar ibunya kesal.


Akhirnya Dipta pun mulai fokus untuk menyetir dan membawa mereka berdua ke butik langganan ibunya.


" Lalu pakaian pengantin yang kemarin kita pesan untuk Nadia. Di kemanakan mah?" tanya Dipta ketika mereka sudah sampai di butik yang sama saat dia memesan baju pengantin untuk Nadia.


" Pakaian itu sudah mama sumbangkan kepada Panti Asuhan agar bisa digunakan untuk anak-anak yang hendak menikah tetapi tidak mampu membeli gaun pengantin!" ucap ibunya Dipta sambil tersenyum kepada Kinan.


" Padahal tidak apa-apa Tante, kalau saya menggunakan apapun yang sudah dipersiapkan untuk pernikahan Mas Dipta bersama Kak Nadya!" ucap Kinan sambil menundukkan kepalanya.


" Sudahlah Mah! Tolong jangan dibahas lagi. Kasihan Nadia sudah ada di alam sana. Biarkan dia tenang!" ucap Dipta berusaha Untuk menghentikan ibunya membahas tentang Nadia lagi.


" Benar tante lebih baik, kalau kita tidak usah membicarakan orang yang sudah meninggal! Biarkan itu menjadi rahasia sehingga kelak di akhirat Allah pun akan melindungi aib kita di hadapan manusia yang lainnya!" ucap Kinan dengan suara merdunya.


' Ya Allah suaranya begitu lembut. Aku yakin pasti wajahnya sangat menenangkan dan juga secantik akhlaknya!' bathin Dipta terus terpesona menatap Kinan yang dari tadi terus digenggam tangannya oleh ibunya Dipta.


" Kamu tunggu di mobil dan tidak usah ikut masuk dengan kami. Nanti kalau kami sudah selesai. Kami akan langsung keluar. Bukankah pakaianmu sudah siap dan ready?? Jadi kita sekarang Mama hanya akan memesan pakaian untuk Kinan saja!" ucap ibunya Dipta sambil menarik tangan Kinan untuk masuk ke dalam butik.


" Mah kalian berbelanja pasti lama kan? Akan lebih baik Dipta meninggalkan mobil di sini dan Dipta pergi ke kantor naik taksi. Banyak pekerjaan Dipta yang harus diurus sebelum pernikahan dilaksanakan minggu depan!" ucap Dipta berusaha untuk bernegosiasi dengan ibunya agar diizinkan pergi dari butik.

__ADS_1


" Kau kerjakan saja pekerjaanmu pakai ponsel bukankah kau bisa membalas email mereka sambil menunggu kami?" tanya ibunya Dipta.


" Pekerjaan Dipta bukan hanya sekedar membalas email Mah. Banyak proyek-proyek harus ditinjau dan juga membutuhkan ACC dari Dipta." ucap Dipta masih belum menyerah untuk mendapatkan izin dari ibunya agar pergi ke kantor.


" Ayolah mah akan sangat membosankan kalau Dipta sendiri menunggu di sini. Akan lebih baik kalau Dipta memanfaatkan waktu untuk bekerja agar nanti bisa fokus dalam acara pernikahan Dipta dan Kinan! Tidak harus memikirkan pekerjaan dan juga tidak harus dikejar-kejar proyek!" ucap Dipta tidak mau menyerah juga.


" Tante! Biarkan saja Mas Dipta pergi ke kantor. Lagi pula kalau dia hanya menunggu di sini, waktunya akan mubah dan tidak manfaat sama sekali. Kalau dia pergi bekerja artinya waktunya berguna untuk sesuatu yang penting!" ucap Kinan berusaha membantu Dipta untuk membujuk ibunya.


" Tetapi kau dan Mama juga penting sayang. Dipta harus belajar untuk memprioritaskan kita berdua daripada pekerjaannya!" ucap ibunya Dipta bersikeras menginginkan Dipta untuk menunggu mereka di mobil sampai selesai berbelanja.


" Sudah jangan banyak protes. Cepat masuk sana ke dalam mobil dan tunggu kami di sana. Pokoknya mama selesai belanja dan tidak melihat kamu ada di situ. Mama tidak akan memaafkanmu!" ucap ibunya Dipta memberikan putusan final kepada putranya.


Akhirnya Kinan pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Karena ibunya Diptapun mengatakan hal yang benar. Bahwa terkadang keluarga harus diutamakan diatas pekerjaan yang tidak akan pernah ada hentinya. Kalau bukan kita sendiri yang menghentikannya.


Akhirnya dengan tubuh lemas Dipta pun kemudian masuk ke dalam mobil dan mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya.


Dipta membalas semua email yang masuk ke dalam ponselnya dan juga membuat beberapa laporan proyek yang dia terima dari asistennya. Tanpa terasa kegiatan itu telah dia lakukan sampai kemudian Ibunya dan Kinan keluar dari butik, akan tetapi kerjaannya masih belum juga selesai.


Dipta terkejut ketika mendapatkan Ibunya sudah mengetuk pintu mobilnya dan tersenyum dengan sumringah.


Dipta segera membuka pintu mobilnya dan menyuruh Kinan dan ibunya untuk masuk ke dalam mobil.


" Kok Mama cepat sekali belanjanya sih? Ini pekerjaan Diptas aja belum selesai!" ucap Dipta sambil tersenyum kepada ibunya yang langsung menghadiahkan ketokan bertuah di kepala putranya.

__ADS_1


" Mama itu di dalam butik 3 jam lebih kau bilang cepat?" tanya ibunya Dipta sambil melotot ke arah putranya yang masih bengong tak percaya.


__ADS_2