Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
167. Ya Tuhan


__ADS_3

Nadia terkejut bahwa ternyata Nur sudah mengetahui kalau dirinya mempunyai sebuah susuk dan belum dia cabut.


" Ayo kita bicara di luar jangan bicara di sini jangan sampai merusak pesta orang lain!" ucap Dipta kepada mereka.


Nur, Ali, Nadya dan Dipta. akhirnya pergi meninggalkan forum tempat dilangsungkan pernikahan antara Bima dan Sheila.


" Katakan dengan jujur Nadya. Apakah benar yang dikatakan oleh mereka? Bahwa kau memasang sebuah susuk di wajahmu?" tanya Dipta kepada Nadia.


Untuk beberapa saat lamanya Nadia diam kemudian dia pun menatap Dipta dengan lekat dan dalam.


" Apakah kalau aku menggunakan susuk maka kau tidak akan mencintai lagi?" tanya Nadia kepada Dipta.


" Susuk itulah yang membuat dia mudah untuk dicintai oleh seorang laki-laki!" ucap Ali.


" Apakah mungkin saya yang tiba-tiba mencintainya pun ada karena pengaruh susuk itu?" tanya Dita kepada Ali dan Nur.


" Ada kemungkinan seperti itu. Kita harus memeriksanya!" ucap Ali sambil menatap Dipta dengan lekat.


" Kenapa kalian tidak membiarkanku hidup dengan tenang? Bukankah bagus kalau aku menikah dengan Dipta? Sehingga aku tidak akan mengganggu lagi pernikahan kalian!" ucap Nadia histeris.


" Tenanglah Nadia kami disini adalah untuk membantumu!" ucap Ali.


" Membantu apanya? Kalian di sini adalah untuk membuat daftar jadi membenciku!" ucap Nadia dengan mata berapi-api.


" Berhenti kalian menggangguku karena aku tidak senang dengan apa yang kalian lakukan!" ucap Nadia kemudian dia pun pergi meninggalkan mereka.


Dipta menarik tangan Nadya melarangnya untuk meninggalkan mereka.


" Tolong Nadya, kamu jangan pergi! Kita harus menyelesaikan masalah ini!" ucap Dipta sambil menatap tajam kepada Nadia.


" Aku tidak ingin melepaskan susuk ini!" ucap Nadia bersikeras dengan pendiriannya.


" Kau akan hidup kesulitan nantinya Nadia. Karena susuk itu akan selalu meminta tumbal kembali kepada kamu!" ucap Ali dengan serius menatap kepada Nadia.


Nadia tampak terdiam ketika mendengarkan perkataan itu.


"Itu artinya kau akan kembali menjadi pembunuh untuk memberikan tumbal dan tidak menutup kemungkinan kau akan kembali masuk ke penjara!" ucap Nur serius.


Nadia mengalami kesulitan untuk menelan salivanya sendiri ketika mendengar kata-kata penjara diucapkan oleh Nur.

__ADS_1


" Bukan urusan kalian!" ucap Nadia kemudian dia pun meninggalkan mereka tidak memperdulikan Dipta yang memanggilnya.


" Maafkan aku Dipta, tapi aku terpaksa untuk mengatakan ini kepadamu! Lebih Baik Kau batalkan pernikahanmu dengan Nadya karena tidak akan ada kebaikan. Sebelum dia mau melepaskan susuk yang ada di wajahnya!" ucap Nur sambil menatap wajah sahabatnya.


" Setiap 2 tahun sekali susuk itu akan meminta tumbal berupa nyawa manusia. Kalau bukan orang terdekat maka itu pasti adalah orang lain yang berhubungan dengan dia atau memiliki piutang dengan dia!" ucap Ali sambil menatap Dipta.


Dipta merasa sangat terkejut ketika dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ali kepadanya tentang Nadia.


"Sebaiknya kamu di ruqyah Dipta. Ada kemungkinan kamu tiba-tiba ingin menikahi Nadya adalah karena pengaruh susuk itu!" ucap Ali kepada Dipta.


Dipta tampak terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.


" Kalau aku membatalkan pernikahanku, Lalu bagaimana dengan kedua orang tua Nadya? Pasti mereka akan kecewa!" ucap Dipta seperti menghadapi sebuah kesulitan.


" Kami bisa membantumu untuk menjelaskan kepada mereka!" ucap Nur.


Dipta kemudian menatap sahabatnya dan menganggukkan kepalanya.


" Baiklah aku mau untuk di ruqyah kapan kita bisa melakukannya?" tanya Dipta kemudian.


" Nanti malam datanglah ke pondok kita akan melakukannya di sana!" ucap Ali sambil menggengam tangan Nur.


" Kalau bisa kau mengajak kedua orang tua Nadia ataupun ibumu agar mereka menjadi saksi!" ucap Nur serius.


" Tapi kau harus segera ruqyah atau kau akan semakin dalam terpesona kepadanya!" ucap Ali. Dipta terus menatap kepada Nadya yang saat ini sudah pergi meninggalkannya.


" Memangnya Apa fungsi susuk itu?" tanya Dipta tidak paham.


" Untuk membuat orang mudah jatuh cinta kepadanya dan juga percaya kepadanya!" ucap Nur.


Dipta terdiam sejenak. Menatap Ali dan Nur secara bergantian mencari kebenaran dari apa yang dikatakan oleh mereka.


" Sangat sulit untuk menyadarkan Nadya kalau dia tidak mau melepaskan susuk itu di wajahmu!" ucap Nur.


Para tamu yang berdatangan ke ballroom pernikahan Bima dan Sheila tampak semakin ramai. Dipta merasa tidak enak karena meninggalkan pesta terlalu lama.


" Bagaimana kalau kita kembali ke pesta bagaimanapun juga Bima adalah sahabat saya tidak bisa saya meninggalkannya begitu saja!" ucap Bima.


" Kita harus mengingatkan Rianti untuk selalu waspada kemarin Nadya!" ucap Nur.

__ADS_1


" Kenapa begitu?" tanya Dipta heran.


" Karena saat ini Rianti sedang hamil!" ucap Nur. Dipta menutup mulutnya karena saking terkejutnya.


" Memangnya kenapa? Apa hubungannya dengan Nadya?" tanya Dipta.


" Ada kemungkinan sosok itu kini sedang mengincar bayi yang ada di dalam kandungan Riyanti!" ucap Ali sambil menarik nafas dalam-dalam dan melepaskan dengan kasar.


" Ya Tuhan ini sungguh sangat gila!" ucap Dipta mendesah Frustasi.


" Kalau begitu kita akan mengingatkan kepada Rianti, untuk selalu berhati-hati kepada Nadya!" ucap Nur.


Mereka bertiga kemudian kembali ke ballroom pernikahan dan mencari Rianti bersama Bagas.


Ketika mereka sampai di ballroom tampak Mereka melihat saat ini Nadia yang sedang mengelus perut Riyanti.


Nur merasa terkejut sekali melihat itu, lalu dia pun segera mendekati Rianti dan menariknya.


" Berhati-hatilah!" bisik Nur di telinga Riyanti.


Nadia yang melihat melalui hadiran mereka bertiga tampak tersenyum kecut.


" Kalian belum puas menggangguku?" tanya Nadya dengan kesal.


" Nadia Lepaskanlah susuk itu. Dan aku berjanji aku akan tetap menikahimu!" ucap Dipta sambil memegang tangan Nadia agar tidak mendekat kepada Rianti.


Bagaimanapun Dipta ingat bahwa Riyanti dahulu pernah menjadi orang yang spesial di hatinya. Jadi dia tidak akan tega kalau sampai Riyanti harus menanggung derita kehilangan seorang anak yang sudah lama mereka tunggu-tunggu kehadiran nya.


" Apa yang kalian bicarakan sih? Kenapa juga kalian melarang Kak Nadya untuk mengelus perutku?" tanya Rianti seperti keheranan.


Akan tetapi tiba-tiba Riyanti terlihat meringis menahan kesakitan di perutnya.


"Ah kita terlambat!" ucap Ali menyesal.


" Cepat bawa Nadia menjauhi Riyanti!" ucap Nur kepada Dipta.


" Bagas Cepat bawa Rianti ke rumah sakit kita harus segera menyelamatkan bayi yang ada di dalam perutnya!" ucap Ali kepada Bagas.


Bagas yang merasa terkejut melihat Riyanti sekarang kesakitan dan bahkan ambruk di lantai. Dia sangat panik dia langsung membawa Riyanti ke rumah sakit.

__ADS_1


" Sayang kamu kenapa? Kenapa kok tiba-tiba sakit?" tanya Bagas merasa khawatir dengan keadaan istrinya yang saat ini semakin pucat wajahnya.


" Bertahanlah sayang kita akan segera sampai ke rumah sakit!" ucap Bagas sambil fokus menyertai mobil.


__ADS_2