Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
183. Usaha Tak Pernah Mengkhianati Hasil


__ADS_3

" Masukkan semua barang-barang yang ada di dalam ruangan ini ke dalam karung dan kita akan membakar semuanya di luar ruangan ini agar rumah tidak ikut terbakar!" ucap Kyai Ali memberikan perintah kepada Bagas, Dipta dan juga ayahnya Nadia yang sudah benar-benar pasrah dan berniat total untuk meninggalkan dunia mistis.


" Ya Allah! Aku tidak pernah menyangka kalau di atas bangunan megah ini ada ruangan terkutuk semacam ini!" ucap Dipta benar-benar sangat terperanjat. Ketika dia melihat banyak sekali benda-benda mistis yang ada di dalam ruangan itu. Foto-foto yang mengeluarkan darah dan juga banyak hal-hal yang sangat membuat bulu Kuduk merinding.


Kyai Ali seketika mengingat kembali ketika dia dulu masuk ke dalam ruangan ritual milik Nadia di kontrakannya yang ada di Purwokerto. Ruangan itu sama persis dengan ruangan ini.


" Foto-foto Siapa itu Pah? Kenapa ada darah di dalam bingkainya?" tanya Bagas bingung.


" Itu adalah para tumbal yang sudah kami korbankan demi kekayaan keluarga kami!" ucap ayahnya Nadia dengan suara gemetar.


" Astaghfirullahaladzim! Apa itu berarti Nadia dulu mempelajari ilmu pesugihan ini dari anda?" tanya Kyai Ali sambil menggelengkan kepalanya.


" Cepatlah kalian masukkan semua barang-barang itu. Jangan lupa, sebelum dibakar foto semua foto-foto yang ada di dalam ruangan ini. Untuk nanti dikonfirmasi oleh pihak kepolisian kepada pihak keluarga dari korban-korban itu. Saya akan shalat di ruangan ini untuk mengusir makhluk-makhluk gaib yang ada di dalam ruangan ini!" ucap Kyai Ali memberikan perintah kepada ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu yang saat ini sedang membantunya untuk menghancurkan ruang ritual milik keluarga ayahnya Nadia.


Ayahnya Nadia yang hatinya memang sudah condong untuk bertobat dia pun membantu deftah dan Bagas untuk memasukkan sebuah barang-barang yang ada di dalam ruangan itu Bahkan dia pun sudah menyalahkan lampu hingga ruangan itu menjadi terang benderang.


Dipta terkesiap ketika matanya melihat sebuah foto yang begitu familiar.


" Istriku?" tanya Dipta seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Kenapa ada foto almarhum istriku di dalam ruangan ini apakah itu artinya dia pun menjadi korban anda?" tanya Dipta seperti orang linglung.


Dita sangat ingat sekali ketika melihat jenazah istrinya yang hancur berantakan karena tertabrak oleh mobil tronton yang menariknya sampai puluhan meter jauhnya.


" Kenapa Anda begitu tega mengambil nyawa orang lain hanya untuk kekayaan anda?" tanya Dipta dengan berlinang air mata.

__ADS_1


" Dipta segera keluar dari ruangan ini dan jangan sampai makhluk itu nanti bisa mempengaruhimu itu sangat berbahaya!" ucap Kyai Ali yang sedang fokus mengusir mahluk mahluk yang ada di dalam ruangan ritual ayahnya Nadya.


Namun peringatan itu terlambat. Karena arwah mantan istri Dipta sudah merasuk ke dalam tubuh Dipta dan mulai mengamuk dan menghajar ayahnya Nadia dengan penuh amarah. Membalaskan kematian dirinya.


" Kau manusia keji! Hanya demi kekayaan kau telah mengorbankan kami semua yang ada di ruangan ini. Sehingga harus mengabdi kepada setan yang kau junjung untuk selamanya. Kau harus mendapatkan pelajaranmu dan merasakan pula menjadi kami saat ini. Hidup yang terhina dan selalu kelelahan sepanjang waktu!" ucap almarhum istrinya Dipta dengan penuh emosi dan dia terus menghajar ayahnya Nadia hingga babak belur dan tidak berdaya.


" Bagas cepat hentikan Dipta. Pegang tangan dia. Bisa-bisa ayah mertuamu mati karena dipukuli oleh dia!" ucap Kyai Ali memberikan perintah kepada Bagas yang tampak masih linglung dengan kejadian yang ada di dalam ruangan itu.


Semuanya serba cepat tidak sempat untuk Bagas berpikir lama-lama.


" Cepat Bagas! Kau sedang apa? Tidak ada waktu untuk melamun! Cepat kau pegangi Dipta atau kau ingin melihat ayah mertuamu juga meninggal?" ucap Kyai Ali keras sehingga membangunkan Bagas dari lamunannya.


" Terus baca dzikir dan juga ayat-ayat Allah di dalam hatimu. Memintalah kepada Allah untuk perlindungannya jangan sampai kau lalai!" ucap Kyai Ali kepada Bagas.


" Cepat kau ikat dulu tubuh Dipta. Setidaknya sambil menunggu saya menyelesaikan untuk membersihkan ruangan ini!" ucap Kyai Ali memberikan perintah kepada Bagas.


Bagas melaksanakan perintah tersebut dia pun mencari tali yang ternyata ada di pojok ruangan dan langsung mengikat tubuh difta yang terus berontak untuk dilepaskan.


" Saya akan salat dulu untuk membersihkan ruangan ini. Bagas tolong jagalah saya. Jangan sampai Dipta menyerang saya nanti!" ucap Kyai Ali kepada Bagas yang terus mengikuti apapun yang dia perintahkan.


" Apalagi yang harus saya lakukan Pak Kyai?" tanya Bagas keheranan.


" Rupanya pak Kyai sudah mulai salat. Aku harus memindahkan dulu ayah Mertuaku dari sini. Jangan sampai nanti ketika Dipta bisa melepaskan ikatannya akan menyerangnya lagi!" dengan bersusah payah akhirnya Bagas bisa membawa Ayah mertuanya ke lantai atas yang berada di dalam kamar ayah mertuanya.


" Aku harus meminta kepada beberapa orang untuk mengangkut Ayah Mertuaku dan membawanya ke rumah sakit?" Bagas kemudian keluar dari ruangan itu. Dia mencari pertolongan untuk membawa Ayah mertuanya yang saat ini sedang pingsan karena terlalu menahan begitu banyak rasa sakit di tubuhnya. Setelah dihajar bertubi-tubi oleh Dipta yang sedang kesurupan almarhum istrinya yang sudah meninggal beberapa tahun lamanya.

__ADS_1


" Tolong bantu saya untuk mengangkat mertua saya ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit!" Bagas lalu memanggil dua orang warga yang masih tampak sibuk takziah dan sedang bersiap untuk menguburkan ibu mertuanya.


" Ada apa Pak Dokter? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya warga itu sambil menatap Bagas yang penampilannya saat ini sangat kacau setelah melakukan begitu banyak hal di dalam ruangan ritual Ayah mertuanya.


" Tolong saya Pak untuk mengangkat ayah mertua saya dan membawanya ke rumah sakit saat ini dia sedang pingsan!" ucap Bagas kepada warga yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.


Setelah memastikan bahwa ayah mertuanya sudah berangkat ke rumah sakit. Dia pun segera memanggil beberapa orang santri senior dari Pondok Pesantren yang diasuh oleh Kyai Ali.


" Ada apa mas? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya santri itu.


" Tolong bantu Kyai kalian di dalam ruangan bawah tanah itu dan bawalah beberapa karung ke dalam sana untuk mengangkat barang-barang yang ada di sana!" perintah Bagas kepada santri senior yang berjumlah 5 orang itu dan bersiap untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah.


Ketika santri-santri itu masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Seketika tubuh mereka merasa merinding dan Aura dingin begitu kentara di dalamnya.


" Ya Allah ruangan apa ini? Kenapa perasaan saya begitu tidak enak ketika masuk ke dalam ruangan ini?" ucap salah seorang santri ketika dia masuk ke dalam ruangan bawah tanah.


" Kalau dari bentuk-bentuknya sih. Kalau gak salah sepertinya ruangan ini berfungsi untuk semacam ruangan untuk ritual menyembah makhluk gaib!" ucap kawannya menjelaskan kepada temannya yang tampak mulai merinding.


" Ayo kita keluar saja saya sangat takut berada di sini!"


" Tidak bisa kita harus membantu Pak Kyai!" ucap salah satu pria paling tampan di sana.


" Kalian jangan ngerumpi terus. Cepatlah kalian membacakan ayat-ayat suci Alquran yang kalian hafal di dalam kepala kalian!" tegur Kyai Ali kepada mereka semua yang ada di dalam ruangan itu.


" Kalian harus berhati-hati jangan sampai kosong pikirannya. Aku akan mencoba untuk menyadarkan saudara Dipta dulu!" ucap Kyai Ali kepada para santrinya yang sekarang mulai berkeliling dan membacakan ayat-ayat suci Alquran yang ada di dalam kepala mereka.

__ADS_1


__ADS_2