Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
78. Kisah Rianti dan Dokter Bagas Dimulai?


__ADS_3

Rianti mulai merasa baikan keadaannya. Perawatan yang terbaik di berikan oleh ayahnya. Demi sang putri agar segera sehat kembali. Dokter Bagas juga mulai intens mengunjungi Rianti sebagai pribadi, bukan hanya sebagai Dokter jaganya. Rianti merasa terhibur, dengan kehadiran Dokter Bagas. Yang selama ini selalu berusaha membuatnya bisa berpikiran positif dan bisa melupakan masalahnya selama ini. Masalah yang sudah membuat dia nekat untuk bunuh diri.


"Terima kasih ya, Dokter! Karena Dokter, sudah mau meluangkan waktu untuk menemani saya, sehingga untuk sejenak saya bisa melupakan sakit hati itu!" ucap Rianti.


"Iya nggak papa, kok! Kamu santai aja! Lagi pula, tugasku juga sudah selesai, kan? Jadi aku bisa menemani kamu untuk menghabiskan waktu bersama, supaya kamu jadi nggak stress dan nggak selalu memikirkan hal yang membuat kamu merasa sakit hati." Rianti mengangguk-angguk mengerti. Dokter Bagas tersenyum sambil mengelus rambut Rianti.


"Kamu tuh cantik kalau tersenyum! Jadi, perbanyaklah senyum. Supaya hati kamu jadi bahagia dan secara perlahan, itu akan menjadi semacam obat untuk dirimu sendiri, sehingga kamu bisa melupakan kesedihan kamu"


"Iya Dok, tapi kalau tersenyum tanpa alasan juga, nanti dikira kita orang gila lagi dong! Ya nggak?" dokter Bagas tertawa terbahak-bahak demi mendengarkan perkataan Rianti yang memang ada benarnya.


"Kamu bisa aja! Maksud aku tuh, bukan senyum kayak gitu! Maksudku, kamu tuh harus selalu berpikir positif gitu! Bahagiakan hati kamu sendiri, jangan selalu kau pikirkan hal-hal yang negatif, sehingga membuat kamu akhirnya menjadi passive, menjadi tidak bahagia. Itu loh, maksudnya aku! kKmu ngerti kan?" tanya Dokter Bagas.


"Iya Dokter! Saya paham maksudnya dokter!" ucap Rianti bahagia, tak lama kemudian, ibunya Rianti datang.


"Wah! Putri Mama sekarang sudah mulai senang ya? Ditemani sama Dokter tampan! Sekarang udah nggak butuh Mama nih kayaknya?" goda sang Mama.


"Ih Mama apaan sih? Bicara kayak gitu! Bikin malu aja! Kita kan cuma temen aja, ya nggak Dok? Lagian Dokter Bagas pasti udah punya istri kan? Gak mungkin orang ganteng kayak dia nggak punya istri! Betul, Dokter?" tanya Rianti.


"Saya belum menikah, Rianti! Saya ini baru lulus sekolah kedokteran! Jadi, saya tidak berani mengajak anak orang untuk menikah dengan saya. Saya ingin membangun karir dulu. Membanggakan kedua orang tua saya yang sudah bersusah payah untuk bekerja dan menyekolahkan saya hingga menjadi seorang dokter!" ucap Dokter Bagas.

__ADS_1


"Ih, Dokter betul-betul hebat! Sudah menjadi seorang Dokter, masih juga bersikap rendah hati,tidak sombong dan mempunyai hati yang baik!" Rianti memuji dokter Bagas setinggi langit.


"Hahaha! Kamu ini ada-ada aja! Udah, ya! Sebaiknya kamu istirahat dan Ingat! Nggak boleh lupa kau minum obatnya biar kau cepat pulang! Apa kau tidak bosan? Berlama-lama tinggal di rumah sakit? Saya aja yang ngeliatin kamu bosen, loh!" ucap Dokter Bagas.



Visualisasi Dokter Bagas


"Hati-hati, Dokter!" ucap Mamahnya Rianti.


" Tampaknya, hubungan kamu sama dokter Bagas semakin hari semakin dekat, ya? Mama setuju loh, kalau kalian menjadi pasangan!" ucap Mamanya.


"Kalaupun Riyanti mau, apa Dokter Bagas juga mau, Mah? Dia kan seorang dokter! Sementara Rianti, kuliah aja nggak jelas! Sudah lama kan Rianti cuti tapi males untuk kembali lagi ke kampus!" ucap Riyanti dengan tersenyum kecut. Merasa insecure dengan dirinya sendiri untuk bersanding bersama seorang Dokter bernama Bagaskara.


"Rianti kalau kamu suka dengan Dokter Bagas, Papa bisa kok bantuin supaya kamu bisa bersama dia!" tiba-tiba Papanya masuk ke dalam ruangan tersebut dengan senyum yang penuh dengan arti.


"Maksud Papa, gimana? Masa Iya Papa bisa ngusahain Riyanti sama Dokter Bagas? Dokter Bagas itu kan manusia merdeka, Pah! Nggak mungkin bisa dipaksa-paksa sama kita!" ucap Rianti.


"Dokter Bagas itu bukan orang lain, sayang! Dia itu anaknya sopir kita. Kamu ingat nggak? Mang Diman!" ucap Sang Ayah dengan senyumannya.

__ADS_1


"Kamu ingat nggak? Waktu kamu kecil dulu, kan kamu sering banget tuh, main sama Bagas! Dulu, kalian suka sekali bermain di ladang, kalau kebetulan Mang Diman pulang ke kampung halamannya. Emang kamu udah lupa?" Papanya Rianti lalu duduk di dekat ranjang Rianti menatapnya dengan bahagia karena melihat sang putri yang kini wajahnya mulai cerah lagi.


"Ya ampun Papa! Papa nggak bercanda kan? Maksudnya Papa, Dokter Bagas itu, Bagasnya Mang Diman? Ya ampun! Kok pangling banget ya? Waktu kecil kan, dia dekil dan jelek! Sekarang kok tampan sekali?" ucap Rianti tak percaya dengan ucapan ayahnya.


"Siapa yang kau bilang dekil dan jelek, hah? Berani ya! Kau ngata-ngatain aku di belakangku!" tiba-tiba dokter Bagas dan Mang Diman, sudah ada di ruangan itu. Sontak Rianti menutup mulutnya, karena merasa terkejut, bahwa dirinya ketangkap basah sedang menjelek-jelekkan Dokter Bagas di masa kecil. Rianti nyengir kuda, malu sekali.


"Maaf Dokter, tadi Dokter bilang katanya mau pulang? Kok tiba-tiba balik lagi?" tanya Rianti merasa canggung, karena dirinya mengingat kembali masa lalunya, ketika dia masih kecil dulu, bersama Dokter Bagas. Yang selalu senang bermain di ladang bersama. Bahkan mereka sering berenang di sungai bersama-sama.


Mengingat kenangan mereka saat kecil, tiba-tiba Rianti merasa malu sekali, karena selama ini, dia sudah berpikir bahwa Dokter Bagas adalah belahan jiwanya. Sejak kecil, Rianti tidak bisa lepas dari pengaruh seorang Bagaskara.


"Papa yang nyuruh Dokter Bagas untuk kembali, karena Papa ada sesuatu yang dibicarakan dengan kalian!" Papanya Rianti kemudian menyuruh dokter Bagas dan Mang Diman untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan perawatan Riyanti.


"Begini Rianti, Mama dan juga Dokter Bagas! Saya dan Mang Diman ini, selama satu minggu yang lalu, sudah merundingkan hal ini, yaitu kami berdua berniat untuk menjodohkan Rianti dengan Dokter Bagas___!" belum selesai Papanya bicara Rianti sudah memotong pembicaraan ayahnya.


"Papa nih ada-ada aja! Kayak zaman Siti Nurbaya aja, deh! Main jodoh-jodohin Rianti! Kan kami udah dewasa! Dokter Bagas juga udah dewasa, nggak butuh deh kita dijodoh-join kayak gini!" Rianti sudah marah.


" Ya udah kalau Rianti nggak mau dijodohin sama dokter Bagas!" ucap Papahnya.


"Mang Diman, karena Rianti tidak menerima perjodohan ini, jadi Mang Diman bisa melanjutkan rencana pernikahan Bagas dengan Silvia. Karena Riyanti kan tidak mau Bagas menikah dengan dia!" ucap Papanya Rianti.

__ADS_1


"Ih Papa ada-ada aja! Masa sih kayak gitu caranya?" ucap Rianti protes dengan ayahnya yang selalu bersikap sesuka hatinya. Melihat Riyanti yang wajahnya bersemu merah. Mereka pun akhirnya tertawa dan mengerti apa yang dimaksud oleh Rianti. Rianti menerima perjodohan itu.


__ADS_2