
"Baiklah kalau begitu, sayangku. Mas akan tidur bersamamu!" ucap Bagas sambil mencubit hidung istrinya, dengan gemas.
"Terima kasih ya, Mas! Karena kamu selalu berusaha untuk menyenangkan aku!" ucap Rianti di dalam pelukan suaminya.
Bagas hanya mengangguk saja. Dia sudah sangat mengantuk, kemudian dia pun terlelap. Rianti baru menyadari bahwa suaminya tertidur dan kemudian dia pun menghentikan pembicaraannya.
Kemudian Riyanti pun bergegas untuk memejamkan matanya. Karena dia pun merasakan kantuk yang luar biasa Hari ini adalah hari yang paling berat selama hidupnya.
Suasana di luar pun sudah mulai sunyi tampaknya mereka masing-masing sudah mulai beristirahat setelah melewati hari yang begitu panjang dan melelahkan.
Mereka semua tidur dalam keadaan ketakutan, kalau tiba-tiba saja gempa susulan akan datang lagi. Sehingga mereka semuanya masing-masing harus selalu waspada satu sama lain. Saling menjaga satu sama lain.
Keesokan paginya mereka semua kembali menyambut suasana pagi dengan perasaan bahagia. Karena masih diberikan umur panjang dan kesehatan. Walaupun ada di tengah suasana yang serba darurat dan serba mencekam.
Sementara itu, sekarang ayah dan ibunya Rianti sedang cemas sekali. Ketika tadi mendapatkan berita di televisi, bahwa telah terjadi gempa susulan di tempat anak dan menantunya kini sedang bertugas di sana.
"Bagaimana keadaan anak dan menantu kita, Pah? Kenapa tidak ada berita sama sekali dari mereka?" ucap ibunya Rianti yang kini mulai menangis tersedu-sedu memikirkan putrinya yang nasibnya entah bagaimana.
"Sabar, Mah! Kita perbanyak doa dan kirimkan al-fatihah untuk mereka berdua, agar mereka diberikan keselamatan dan perlindungan dari allah subhanahu wa ta'ala!" jawab suaminya berusaha untuk menenangkan sang istri.
"Semua salah Papa, yang telah menjodohkan Riyanti dengan Bagas. Lihatlah sekarang, Pah!Keadaan Rianti jadi tidak jelas seperti ini!" ucap istrinya sambil menuding ke atas hidung suaminya.
"Sudah lah, Mah! Ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan satu sama lain!" ucap ayahnya Rianti sambil berusaha untuk menenangkan sang istri.
__ADS_1
Dia sangat mengerti, kalau istri yang saat ini benar-benar sedang mengkhawatirkan putri mereka dan menantunya.
Tiba-tiba saja suara telepon berdering, dan ternyata itu adalah ayahnya Bagas. Mang Diman. " Assalamualaikum, Tuan. Apakah anda sekarang sudah menerima berita terbaru dari Riyanti dan Bagas?" Emang Diman dengan suara penuh kekhawatiran.
" Waalaikumsalam Mang kami belum menerima kabar apapun mereka masih sangat sulit untuk di hubungin!" ucap ayahnya Rianti. Terdengar Mang Diman dan istrinya seperti menangis di sana.
"Sabarlah! Kita semua harus mendoakan anak-anak. Doakan yang terbaik untuk mereka. kKta harus menguatkan diri kita agar bisa bertemu dengan mereka lagi." ayahnya Rianti berusaha menenangkan kedua orang tuanya Bagas.
"Maafkan anak saya ya, tuan! Karena anak saya sudah membawa serta Non Rianti bersama dengan dia ke sana. Sekarang keadaan mereka semua tidak jelas seperti ini! Tolong maafkan saya tuan!" ucap Mang Diman dengan suara serak yang tersekat di tenggorokannya.
"Jangan mengatakan hal seperti itu, mang! Kita lebih baik banyak berdoa saja. Mereka itu kan suami istri, jadi pantas kalau ke mana pun Bagas pergi, Ruanti harus ikut bersama. Kewajiban Rianti adalah mengikuti suaminya!Sekarang kita hanya bisa berdoa untuk mereka, agar diberikan keselamatan!" ucap ayahnya Rianti berusaha untuk menghibur dan menenangkan kedua orang tuanya Bagas.
"Ya sudah tuan! Kami akhiri dulu ya, panggilannya. Nanti kalau ada kabar. Tolong sampaikan kepada kami juga, karena kami benar-benar sangat khawatir dengan keadaan anak-anak!" ucap Manf Diman kemudian menutup panggilan telepon tersebut.
"Bagus kalau Mang Diman itu sadar, kalau anaknya sudah membuat anak kita hidup menderita!" ucap ibunya Rianti dengan Ketus kemudian dia meninggalkan suaminya dan memilih untuk tidur saja karena kepalanya benar-benar sangat pusing sekali saat ini memikirkan putrinya yang tidak jelas keadaannya saat ini.
"Cintanya terhadap putri kami, telah membuat dia menjadi begitu apatis dan juga selalu berburuk sangka kepada orang lain!" ucap ayahnya Rianti ketika melihat istrinya pergi meninggalkannya.
Ayahnya Rianti memilih untuk mengambil air wudhu, kemudian dia mengaji dan juga salat Sunnah. Dia berusaha untuk memberikan doa terbaik. Untuk anak dan menantunya. Agar diberikan keselamatan dan kesehatan di tempat di manapun mereka berada saat ini.
" Ya Allah lindungilah anak dan menantuku bersama tim yang lainnya agar mereka bisa kembali ke pangkuan kami dalam keadaan sehat dan selamat!" terbaik dikirimkan oleh ayahnya Rianti pada saat ini untuk Rianti dan Bagas.
Sementara itu kedua orang tua Bagas saat ini pun sedang merasa khawatir karena belum juga menerima kabar tentang keadaan Bagas dan menantunya.
__ADS_1
"Abah bagaimana apakah sudah ada kabar dari anak-anak?" ibunya Bagas ketika melihat sang suami telah menutup panggilan teleponnya kepada besan mereka.
"Belum Umi, mereka juga belum bisa menghubungi Bagas maupun Riyanti. Tampaknya mereka terisolir karena bencana itu. Kita sekarang hanya bisa berdoa saja kepada Allah, agar anak-anak kita diberikan keselamatan dan kesehatan!" Abahnya Bagas berusaha menenangkan istrinya.
"Umi betul-betul sangat khawatir dengan keadaan anak-anak!" ucap ibunya Rianti sambil memeluk sang suami.
Ayahnya Bagas mengelus pucuk rambut sang istri berusaha untuk menenangkan. Saat ini memang mereka hanya bisa melakukan itu. Memberikan dukungan satu sama lain agar bisa saling menguatkan.
"Apakah mertuanya Bagas menyalahkan Putra kita, karena pembawa Rianti besertanya?" tanya ibunya Bagas seakan ketakutan kalau mertuanya Bagas menyalahkan putranya karena telah membawa Putri mereka ke area yang berbahaya saat ini.
"Tidak, Umi! Ayahnya Rianti itu mempunyai hati yang sangat baik. Dia mengerti sekali semua kondisinya. Dia malah meminta kepada kita untuk berdoa dan selalu saling mendukung satu sama lain, agar ketenangan di hati kita bisa sampai juga kepada mereka!" ucap ayahnya Bagas sambil tersenyum ke arah istrinya.
Dirinya sangat tahu, du saat ini hanya dengan menghibur istrinya lah sehingga membuat dia menjadi kuat dan tegar dalam memikirkan keadaan Putra mereka.
"Sudah, Umi! Ayo kita tidur beristirahat saja. Semoga saja besok sudah ada berita tentang mereka!" suaminya berusaha memberikan harapan kepada istrinya.
"Baiklah, Abah! Ayo kita tidur. Karena Umi juga sudah sangat lelah sekali, kepala Umi dari tadi Pusing sekali rasanya!" kecap ibunya Bagas sambil memegang kepalanya, dengan kedua tangannya.
Ayahnya Bagas tampak memijit kepala istrinya. Sehingga memberikan Efek menenangkan bagi sang istri, yang saat ini sedang dilanda kecemasanmu tentang Putra mereka berdua.
"Abah akan memijat Umi jangan khawatir ya?" ucap suaminya kemudian mulai memijat lagi tubuh sang istri, yang tampak kelelahan. Tidak lama kemudian, istrinya sudah mulai tertidur dengan lelap.
Setelah melihat istrinya terlelap, ayahnya Bagas pun kemudian berusaha untuk tidur. Karena dirinya pun sama merasakan lelah dan juga mengantuk. Karena seharian ini selalu saja mondar-mandir mencari informasi tentang Bagas dan istrinya.
__ADS_1