
Hari ini adalah hari yang spesial, kenapa? Karena hari ini keluarga Mas Ali akan datang secara resmi ke rumahku dan melamarku secara resmi pula, selain itu, akan menentukan tanggal pernikahan kami juga.
Pagi-pagi Aku dan Mas Ali sudah bersiap untuk pergi ke rumah Lilik nya dia, sebelum berangkat kami berpamitan dan mohon doa restu pada Pak Kiai dan juga Bu Nyai. Lalu kami berdua naik motor kesana. Rumah Lilik tidak terlalu jauh dari pondok, hanya berjarak sekitar 10 menit apabila menggunakan motor.
Saat kami tiba disana, semua sudah siap dan hanya menunggu kedatangan kami berdua saja. Aku sangat gugur sebenarnya. Tapi aku mencoba untuk santai di depan semua keluarga dia.
Orang tuanya tidak ikut untuk lamaran hari ini, mereka tinggal dan menetap di Sulawesi, Sudah lebih dari 20 tahun transmigrasi ke sana bersama Lilik nya yang lain. Banyak keluarga dia di Purwokerto,karena memang mereka asli dan lahir di Purwokerto.
Juru bicara saat lamaran nanti adalah Lilik Wage, adik dari mamahnya Mas Ali. Sementara Lik Wasam bertugas untuk menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan acara lamaran ini. Aku duduk di kursi paling depan, karena aku biasanya suka mabuk kendaraan kalau duduk di belakang.
Dalam perjalanan tidak banyak percakapan karena yang semua fokus memikirkan acara nanti di rumahku. Mas Ali sendiri tampak anteng, padahal biasanya dia selalu ribut kalau dekat denganku.
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya kami sampai di rumahku. Rombongan dapat sambutan dari keluarga besarku. Aku langsung masuk ke rumah setelah mengalami dan mencium tangan orang tuaku.
Rombongan dari Purwokerto terlibat obrolan yang seru dan akrab bersama keluarga besarku. Aku yang sangat lelah lebih memilih masuk kamar ku dan berbaring sebentar, meluruskan punggungku yang cape sekali rasanya.
Sayup-sayup aku mendengar bahwa acara lamaran sudah dimulai. Adikku masuk ke kamarku dan meminta aku bergabung dengan mereka di sana. Aki mengikuti adikku dan duduk di sebelahnya. Sementara Mas Ali duduk di sebrang ku, berjarak tiga meter dariku. Sesekali dia melirik ke arahku.
__ADS_1
Acara lamaran pun di mulai Dengan khusuk, di mulai dari sambutan pihak pria lalu sambutan dari pihak wanita. Entahlah, agak malas membahasnya sebenarnya, karena apa yang dibahas di sana tidak di tepati oleh pihak pria, yaitu point tentang biaya pernikahan yang akan menjadi tanggung jawab kedua belah pihak yaitu 50%: 50%. Pada kenyataannya saat Pernikahan tiba, tidak seperti itu keadaannya.
Setelah berdiskusi akhirnya dipilihlah tanggal pernikahan yaitu 14 Juli. Artinya sekitar empat bulan dari hari ini. Acara hari ini bisa di sebut dengan pertunangan. Dia menyematkan cincin di jari manis ku, aku ingat, cincin itu aku yang memilihnya, sewaktu kami jalan-jalan bersama. Waktu itu dia tidak bilang kalau cincin itu akan di gunakan untuk acara ini. Kalau aki tahu, aku pasti pilih yang paling bagus dan yang paling mahal.
Setelah semua sepakat rombongan akhirnya pamit pulang,aku juga ikut lagi dengan rombongan mereka. Karena aku memang sedang sibuk dengan persiapan KKN dan penelitian.
Aku memeluk mamah dan papahku dan menangis sesaat, karena jujur saja, ada rasa haru dan tidak percaya bahwa kini aku adalah calon istri dari seseorang. Masih kayak mimpi saja bagiku.
Mereka semua melepaskan kepergian rombongan kami dengan bahagia , lucu gak sih? aku di lamar seorang pria, datang ke rumahku bersama mereka, lalu setelah acara selesai. aku kembali lagi bersama rombongan mempelalai pria.
Aku lebih banyak diam dalam mobil. Banyak merenung, apakah keputusan yang aku buat sudah benar atau tidak. Aku juga tidak tahu dengan pasti.
Sungguh, dalam pikiranku, begitu penting restu orang tua. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka sangat jauh, terpisahkan oleh laut dan samudera. Tidak bisa di tempuh dengan cepat.
Syaratku pada lamaran itu adalah aku ingin mahar pernikahanku adalah dari hasil kerja dia sendiri, bukan dari orang tuanya. Dia menyanggupi syaratku itu.
Berdasarkan rencana, dia akan pulang ke Sulawesi sebelum pernikahan kami. Jadi nanti dia kembali ke Jawa bersama dengan orang tuanya juga dan bersama Keluarga dia yang tinggal di sana.
__ADS_1
Kebetulan tanggal pernikahan yang dipilih adalah bertepatan dengan hari libur nasional, liburan panjang. Jadi sepupu dan juga adiknya yang masih usia sekolah juga ikut ke Jawa pada saat Pernikahan kami nantinya.
Selama proses lamaran dan akhirnya kami kembali ke pondok, dia sama sekali tidak bicara padaku. Aku tidak tahu ada apa dengan dia. Apa dia marah padaku? Tapi kenapa? Aneh sekali.
Setelah sampe rumah Lilik nya, aku memilih untuk kembali ke pondok sendirian. Aku masih kesal padanya, yang seharian ini mengacuhkannya, gak tahu apa sebabnya. Aku cape dan malas menebak apa yang terjadi padanya.
Setelah sampai aku langsung tidur dengan pulas. Lelah sekali rasanya. Perjalanan yang panjang. Pak Kiai sebenarnya mengusulkan agar pernikahan kami dilaksanakan apabila aku sudah wisuda, tapi Mas Ali tidak mau, terlalu lama katanya. Jadi dia minta waktunya di percepat karena menghindari fitnah dan godaan setan.
Apalagi kami tinggal satu pondok, tidak enak kalau berlama-lama seperti sekarang, tidak dalam status pernikahan. Aku sendiri kadang merasa malu kalau kami terlalu dekat dan bertemu di luar pondok. Ah.. pokoknya berasa berbuat dosa aja hatiku. Paham kan yah maksudnya?
Aini baru pulang dari kursusnya, langsung mendekati ku dan bertanya tentang acara lamaran itu. Aku malas sih bercerita, hanya nunjukin foto-foto acara itu saja yang tersimpan di ponselku.
Aku melanjutkan tidurku dengan pulas. Tak ku hiraukan dari tadi ada notifikasi pesan SMS. Aku lelah sekali tidak ada tenaga untuk berdebat dengan dia.
Setelah tidur agak lama, tubuhku terasa sangat segar. rasa pusing juga hilang. Aku bersiap keluar untuk mandi. Tapi belum juga sampe ke kamar mandi ,tanganku sudah di tarik sama Mas Ali ke pojokan dia tampak marah padaku. Aku bingung, kenapa dia marah kaya gitu.
" Kenapa dari kemarin SMS aku gak pernah kamu balas? Apa kamu tahu, aku gelisah terus loh, nungguin balasan dari Kamu " dia menjegal tanganku dan menatapku dengan tajam.
__ADS_1
" Aku cape sekali, seharian aku gak pegang ponsel, Maafkan aku" jawabku menghiba. Aku gak bohong kok, aku memang sangat cape hari kemarin dan juga hari ini, ini aja aku baru bangun, setelah tidur seharian. Jadi aku heran. kenapa dia mendiamkan diriku tadi seharian cuma gara-gara SMS dia yang tidak aku balas. Kekanak-kanakan sekali.