
Pov Alimudin
Hari ini aku mengantarkan calon istriku kembali ke rumahnya. Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia aman sampai rumahnya. Setelah sampai di sana, aku langsung berpamitan. Karena aku harus mengejar penerbangan ku ke Sulawesi.
Aku berangkat dari Purwokerto sore dan sampai Surabaya pada keesokan harinya. Pesawat ku terbang habis dhuhur. Selama perjalanan aku sungguh bahagia, seminggu lagi aku akan menjadi seorang pengantin. Aku akan mencoba memenuhi harapan calon istriku untuk memberikan Mahar pernikahan dengan hasil kerjaku sendiri. Aku hanyalah seorang santri yang fokus dengan mengaji di pondok pesantren.
Dahulu aku pernah kerja sebagai seorang sales, namun aku berhenti karena tidak sanggup lagi. Mereka bilang, kami hanyalah kuda pencari uang bagi mereka. Aku tidak terima dengan pemikiran mereka. Aku juga pernah mengikuti Lilik aku, bekerja di pabrik Las. Selama dua tahun.
Semasa SMA banyak perempuan yang mendekati tapi aku gak berminat dengan mereka. Aku hanya fokus mengaji dan mengaji. Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku yang sudah mengirimkan diriku ke pulau Jawa.
Orang tuaku mengikuti program transmigrasi. Alhamdulillah di sana sukses dan telah menikmati hasil dari kerja keras mereka. Bapakku menjadi Imam di musholla yang di bangun bersama dengan warga satu lorong di kediaman kami.
Aku sangat bahagia, kini aku pulang ke Sulawesi sebagai calon suami. Perjalanan panjang ini tidak terasa melelahkan bagiku. Aku dengan semangat masuk ke rumahku, sudah hampir 10 tahun aku tidak pulang ke Sulawesi dan bertemu dengan keluarga ku yang aku cintai.
"Assalamualaikum, aku pulang!" rasa haru seketika menerpa hatiku. Bisa bayangkan gak? Sepuluh tahun tidak pulang ke rumah bagaimana perasaan nya? Adikku dulu pernah mengunjungi aku di Purwokerto. Yang membuat dia bertemu dengan jodohnya. Katanya mereka juga berniat menikah. Aku doakan yang terbaik saja buat mereka berdua. Adiknya Retno ini dulu yang pernah membuat aku dan Nur berantem hebat dan nyaris membatalkan pernikahan kami.
"Waalaikum salam! Ya Allah kenapa mau pulang ko tidak ngabarin. Pasti nanti kami jemput di Palu." ucap Mamaku. Aku memeluk beliau, rasa rindu hatiku sudah bertumpuk-tumpuk rasanya.
"Ingin memberikan kejutan memang, Ma!" ujarku.
"Kamu ini, ya sudah istirahatlah. Bapak sama Mas Inu masih di kapling, ada jadwal panen hari ini.
" Ya, Ma!" aku bergegas pergi ke kamarku dahulu. Rumahku sekarang sudah berubah. Dahulu hanya rumah transmigrasi sederhana, sekarang sudah di renovasi menjadi rumah besar semi permanen. Alhamdulillah berarti taraf hidup keluarga ku sudah meningkat sekarang.
Aku membaringkan tubuhku di kasurku. Nyaman sekali rasanya. Sepuluh tahun hidup merantau dalam mencari ilmu agama. Rasanya sangat bahagia bisa kembali ke rumah.
Setelah tidur selama dua jam, aku bersiap-siap untuk sholat ashar, Bapak dan Mas Inu juga sudah kembali dari kapling. Aku bahagia sekali bertemu dengan mereka. Kakaku sejak dahulu selalu paling menyayangiku. Aku memeluknya dengan erat.
"Apa kabar, Mas?" tanyaku bahagia.
"Baik, Alhamdulillah. Mas senang karena kamu sudah mau jadi seorang pengantin. Selamat, ya!" aku hanya tertawa saja, menanggapi ucapannya.
"Terima kasih, Mas!"
"Berapa lama kira-kira kamu tinggal di rumah?" tanya Masku sambil duduk di kursi depanku.
"Pernikahan saya tinggal menunggu hari, Mas! Saya gak bisa lama-lama di rumah. Aku mau coba buat kerja. Cari uang buat Mahar pernikahanku. Calon istriku ingin maharnya dari hasil kerjaku sendiri." ucapku antusias.
__ADS_1
"Ya sudah, besok ikut Mas saja ke kapling. Nanti di bayar sama Mas!" ucap kakaku bersemangat.
"Terima kasih ya, Mas!" ujarku.
"Sama-sama! Oh ya, kamu ketemu di mana sama calon kamu?" tanya Mas ku kepo.
"Di pondok, Mas!" jawabku.
"Kamu, di suruh mondok di Jawa malah pacaran dan mau nikahin anak orang!" ucap Mas ku ketus.
"Saya ga pacaran Mas. Saya hanya ta'aruf dengan dia Sebentar, lalu langsung lamaran. Sekarang tinggal menghitung hari mo nikah!" ucapku.
"Mas saja belum nikah, kamu udah mau melangkahi saja. Gak sopan kamu jadi adik!" aku tahu Mas ku hanya sedang bercanda. Jadi tidak sakit hati dengan omongannya.
"Sudah ketemu jodoh, mau bagaimana lagi, Mas? Nanti kalau dia di ambil orang. Aku lagi yang nyesel. Sainganku anak Kiai dan seorang PNS. Harus kejar start! Jangan sampai kecolongan lalu menyesal nantinya." ucapku.
"Ya sudah, kalau kamu memang sudah mantap. Mas dukung niat kamu!" Mas ku memang terbaik.
"Oh ya, Mas! Kali ini kan, saya melangkahi Mas Inu sebagai seorang kakak. Mas mau minta apa dari saya?" tanyaku dengan serius.
"Mas gak minta apa-apa sama kamu. Mas cuma berharap semoga kamu sama keluarga kamu nanti tinggal di sini. Mas gak mau berpisah sama kamu lagi!" ucap Mas Inu berkaca-kaca.
"Nanti Mas bantu kamu bikin rumah dan jagain anak kamu. Jangan khawatir, ya!" ucap Mas Inu semangat. Sejak dahulu Mas Inu memang selalu berpikir positif. Dia tidak pernah berpikir jelek dengan orang lain.
"Ya sudah, Mas. Mau ketemu Bapak dulu." ucapku.
Bapak aku lihat baru pulang dari Mushola, habis sholat ashar sepertinya. Karena keasyikan ngobrol dengan Mas Inu jadi lupa buat sholat jama'ah tadi.
"Assalamualaikum, Pak!" aku menyalami Bapakku yang lama aku rindukan.
"Waalaikum salam, Alhamdulillah kamu sampai di rumah dengan selamat. Bagaimana kabar kamu?" tanya bapak pelan, bapakku memang kalau bicara selalu pelan, beliau selalu sabar dengan kami, anak-anak beliau. Bapakku jarang marah.
"Alhamdulillah baik, Pak!" jawabku sambil duduk di depan beliau. Mas Inu ikut bergabung dengan kami di ruang tamu. Begitu juga Mamahku.
"Kamu sudah yakin, mau menikah kali ini? Sudah dipertimbangkan dengan matang?" tanya bapak.
"Alhamdulillah, sudah di istikharah juga, Pak!"
__ADS_1
"Kamu mantap, dengan pernikahan kalian? Bapak tidak mau nanti ada perceraian, jangan bikin malu keluarga! Cukup bapak saja dulu yang mengalami hal tersebut. Jangan di tiru!" pesan Bapak.
"Insya Allah, Pak. Bantu doa agar pernikahan kami bahagia dan langgeng!" setelah berbincang lama, kami bersiap untuk sholat ashar. Tadi lupa tidak ikut jama'ah, karena memang terlambat bangun juga lalu ngobrol dengan Mas Inu.
Setelah mandi sore dan sholat ashar, rencananya aku mau keliling kampungku. Lama tidak pulang, banyak hal sudah berubah. Aku ingat kalau aku belum menghubungi calon istriku di Jawa kalau aku sudah sampai dengan selamat.
"Ah, nanti saja kalau sudah selesai Maghrib, dia pasti masih sibuk sekarang." bathinku.
Setelah Maghrib, aku mengambil ponselku. Berniat ingin menelpon calon istriku yang ada di Jawa barat. Rasanya sudah kangen sama dia.
"Assalamualaikum, sayang. Apa kabar?" ucapku.
"Waalaikum salam, Mas. Alhamdulillah kabar baik!" jawabnya di sebrang sana.
"Mas sudah sampai ke Sulawesi. Alhamdulillah semua sehat di sini." ucapku bahagia.
"Alhamdulillah, Mas. Ya sudah istirahat lah, Mas pasti cape setelah perjalanan jauh." ucapnya di sebrang telpon.
"Tapi Mas masih kangen sama kamu, sayang!"
ucapku manja. Aku gak tahu kenapa, sejak bersama dengan nya aku seperti tidak menjadi diriku sendiri. Jadi bucin sama dia. hehehe.
"Istirahatlah, Mas! Disini sudah mau Maghrib. Aku mau siap-siap buat buka puasa." ucapnya.
"Kamu puasa, sayang?" tanyaku.
"Ya, puasa mutih. Supaya nanti saat di rias jadi panggling dan cantik!" ucapnya.
"Terima kasih, ya. Kamu mau bersusah payah puasa dan terima kasih juga, sudah mau menikah sama Mas!" ucapku haru.
"Iya, Mas! Sama-sama. Terima kasih juga sudah mau menerima aku yang hanya wanita biasa, bukan perempuan agamis. Padahal kamu seorang santri tulen, harusnya lebih cocok untuk menikah dengan model-model ustazah. Bukan dengan wanita seperti saya." ucapnya sendu.
"Udah, sayang! Kamu bicara apa, sih? Mas itu cinta sama kamu, Mas gak butuh perempuan model-model ustazah yang kamu katakan tadi. Mas cuma butuh kamu buat jadi istri Mas. Jadi ibu dari anak-anak kita nanti." ucapku mantap.
"Ya udah, Mas! Ini sudah mau Maghrib, harus siap-siap sholat dan buka puasa. Mas baik-baik di sana. Jangan macam-macam, ya?" ucapnya.
"Iya, sayang! Kamu bisa percaya sama Mas!"
__ADS_1
"Assalamualaikum!" pamitnya lalu menutup telepon. Setelah puas bertelepon aku memutuskan pulang ke rumah. Sudah mau isya. Tidak baik lama-lama di luar rumah. Apalagi sudah mau menikah sebentar lagi.