Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
149. Penolakan


__ADS_3

Farel membelalakkan matanya ketika mendengarkan Sheila mengatakan hal itu.


"Ibunya Dipta tidak merestui pernikahan itu pasti karena ada alasannya. Kita orang luar sebaiknya tidak usah ikut campur urusan mereka!" Ucap Farel dengan tegas menolak permintaan salah untuk menolong Dipta melamarkan kekasihnya.


"Tapi Sheilla sudah berjanji akan membantu Dipta, Pah! Tolonglah satu kali ini saja!" ucap salam mencoba untuk membujuk ayahnya agar mau membantu Dipta.


"Papa sudah bilang tidak! Itu artinya tidak, Sheilla. Kau harus mengerti bahwa ada batas-batas yang tidak bisa dilanggar oleh orang lain! Ibunya Dipta tidak merestui pernikahan itu, pasti kalau memiliki alasan. Tidak mungkin seorang ibu tidak menginginkan kebahagiaan putranya. Kenapa kau tidak bisa berpikir ke sana Sheilla!" ucap Farel naik 1 oktaf suaranya sehingga membuat Sheila menjadi ciut nyalinya.


"Dan satu lagi, kalau sampai papa ikut campur urusan itu. Pasti ibunya Dipta nanti akan marah dan itu akan berimbas kepada kerjasama antara dua perusahaan. Apakah kau sanggup menanggung kerugian perusahaan Sheila?" tanya Farel sambil menatap tajam kepada Sheila yang sekarang mulai menundukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan janji Sheilla untuk membantu di Dipta, Pah?" suara Sheila mulai melemah karena dia tahu sudah salah melakukan hal seperti itu.


"Mulailah kau belajar untuk tidak mengumbar janji kepada siapapun. Sebelum kau mampu untuk melakukannya!" siapa rel sambil menata putrinya yang sekarang tidak berani menatap wajahnya.


"Apa sebaiknya Papa tidak menghubungi dulu ibunya Dipta? Siapa tahu masih bisa dinegosiasi. Bukankah selama ini sangat sulit Dipta untuk bertemu dengan gadis yang dia sukai. Kalau sampai dia menginginkan untuk melamar seorang. Pasti karena Dipta menyukainya Pah!" ucap cansu mencoba untuk membujuk suaminya agar mau membantu Dipta sahabatnya Bima.


"Tapi ini sudah larut malam Mah! Tidak sopan mengganggu orang lagi istirahat! Sudahlah besok saja kita bahas lagi. Kamu kenapa sih Sheilla? Malam-malam kau membawa masalah kepada orang tuamu?" tanya Farel sambil menatap tajam kepada Sheila.


"Maaf pah soalnya kan mendesak waktunya. Dipta menjanjikan untuk melamar Nadya besok. Sementara tante tidak merestuinya. Tadi Shella kasihan melihat Dipta tampak frustasi makanya Sheilla menjanjikan untuk membantunya!" ucap Sheila.

__ADS_1


"Gadis konyol! Kau merasa kasihan kepada Dipta lalu kau tidak kasihan pada papamu, huh? Tengah malam begini kau suruh mikir untuk melamar anak orang, tidak direstui lagi oleh ibu kandungnya sendiri. Kau mau menimpakan bom atom ke rumah ini?" ucap Farel sudah tidak sabar lagi kepada putrinya yang selalu bertingkah sesuka hatinya.


"Kalau kau ingat pernikahanmu sendiri itu 5 hari lagi. Kami sudah kelapakan ke sana kemarin untuk menyiapkan pernikahanmu dengan Bima dan sekarang kau melimpahkan lagi tanggung jawab kepada kami untuk melamar calon istrinya Dipta. Apa kau kira papamu ini superman hah?" ucap Farel sambil bertolak pinggang di hadapan Sheila.


"Eh, ada lagi! Kau itu calon pengantin. Kenapa kok malam-malam masih berkeliaran di luar?Apa kau tidak sedang mengundang fitnah datang-datang ke rumah calon suamimu di tengah malam semacam ini?" Sheila membelalakkan matanya mendapat teguran dari ayahnya mengenai kedatangannya ke apartemen Bima.


"Sheila tidak melakukan apa-apa kok di sana. Cuma mengantarkan makanan saja kan Papa tahu kalau Bima itu punya masalah dengan lambungnya dan dia selalu lupa untuk makan. Makanya tadi Sheilla mengantarkan makanan untuk dia dan di sana bertemu dengan Dipta yang sedang cerita kepada Bima kalau dia akan melamar Nadia besok!" Sheila berusaha menjelaskan semua duduk permasalahan di antara dia, Dipta dan Bima. Supaya ayahnya tidak salah paham lagi terhadap mereka bertiga.


"Sudahlah Sheila kau sana masuk kamarmu jangan berdebat dengan ayahmu. Kasihan ayahmu dari pagi sudah capek di kantor, lalu menyiapkan pernikahanmu juga. Sudah sana udah urusan ini nanti biar mama bicara sama ibunya Dipta besok pagi!" ucap Cansu berusaha mendamaikan perdebatan putrinya dan suaminya.


"Tapi mah acaranya besok jam 10.00 nggak akan ada sempat waktu untuk kita mempersiapkan kalau tidak bicara sekarang!" ucap Sheila keukeuh ingin tetap berdiskusi dengan kedua orang tuanya.


"Gadis bengal! Belum kau menikah sudah kau berani menantang kedua orang tuamu. Jangan sampai kau berlaku seperti itu di hadapan kedua mertuamu. Jangan kau bikin malu kedua orang tua kau!" ucap Farel sambil menatap tajam kepada Sheila yang langsung bangkit dari duduknya dan segera masuk ke dalam kamarnya.


"Tapi yang dia pikirkan tuh bukan tentang acara pernikahannya! Dia memikirkan orang lain! Apa Mama tahu, kalau sampai ibunya Dipta mengetahui kita membantu anaknya melamar wanita yang tidak direstuinya. Itu pasti berakibat panjang dan nggak akan sederhana. Apalagi perusahaan kita memiliki banyak kerjasama dengan perusahaannya. Ah Papa tidak bisa membayangkan konsekuensi apa yang akan kita terima dari kita ikut campur dengan masalah!" ucap Farel menerangkan alasan dia menolak untuk membantu diftah dalam melamar Nadya.


"Ya sudah biar besok mama tanyakan dulu sama ibunya Dipta alasan dia menolak pernikahannya Dipta dengan perempuan itu. Ya udah Papa tidur aja ya! Pasti karena sudah ngantuk jadi bawaannya emosi nggak bisa berpikir jernih!" ucap Cansu menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke dalam kamar.


"Justru saat ini papa berpikir sangat jernih. Akan banyak konsekuensi yang akan kita tanggung apabila kita membantu acara itu. Mama tidak usah ikut campur urusan mereka lah nanti ribet urusannya!" ucap Arel kembali menegaskan kepada cansu untuk tidak usah ikut campur urusan Dipta dan juga ibunya.

__ADS_1


"Tapi bagaimanapun juga Dipta itu kan sahabatnya Bima, calon menantu kita. Apa kita bisa menutup mata dengan masalahnya dia? Kemarin kalau Bima tidak ditolong oleh Dipta saat dia pergi ke Kalimantan. Apakah mungkin akan ada pernikahan ini Pah? Selama ini Dipta dan Bima kan memang selalu bersama. Mama hanya memikirkan perasaan Bima, pasti dia juga saat ini sedang pusing memikirkan tentang permasalahan sahabatnya!" ucap cansu mencoba untuk bernegosiasi dengan suaminya agar berpikir ulang tentang masalah Dipta.


Tampak Farel terdiam sejenak memikirkan kembali apa yang diucapkan oleh Cansu.


Farel menarik nafasnya dalam-dalam kemudian dia menatap istrinya dengan lekat sebelum dia mengatakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


"Apa yang mama katakan memang benar. Kalau waktu itu Dipta tidak nekat menolong Bima di saat bencana gempa di Kalimantan. Mungkin sekarang Bima sudah tidak ada di dunia ini. Dan tidak akan mungkin bisa menikah dengan Putri kita. Hanya saja, permasalahan di sini adalah ibunya Dipta tidak merestui Pernikahan itu. Kita mau jadi apa? Kita bukan siapa-siapa mereka. Apa hak kita untuk ikut campur dalam urusan itu?" tanya Farel kepada istrinya.


"Bener apa yang dikatakan papa. Ya sudah besok Mama akan mencoba untuk datang ke rumah Ibunya Dipta dan mencoba untuk berdiskusi kembali masalah ini. Ya sudahlah! Ayo kita tidur. Mama juga pusing kalau harus memikirkan masalah seperti ini!" ucap Cansu mengakhiri diskusi mereka malam ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di kediamannya Nadya. Tampak Nadia sedang termenung di dalam kamarnya. Nadya tengah memikirkan tentang janji Dipta yang akan melamar dirinya besok pagi.


"Kak Nadya kok belum tidur? Besok kan ada acara penting untuk Kak Nadia. Kakak perlu badan yang fresh biar terlihat cantik!" ucap Riyanti ketika melihat kakaknya masih termenung di depan cermin.


"Kakak ragu apakah acara besok betul-betul akan ada. Kalau mengingat status Kakak seorang mantan narapidana. Apakah mungkin? Kalau ibunya Dipta bisa menerima Kakak sebagai menantunya? Kakak sanksi dengan nasib baik seperti itu!" ucap Nadia lesu sambil menatap kepada adiknya.


"Percayalah Kak kalau kalian memang berjodoh. Pasti semuanya dimudahkan. Yang penting sekarang kakak Positif thinking aja. Berdoa sama Allah biar semuanya dipermudah. Dah sekarang kakak tidur dulu ya? Itu tadi Mas Bagas sudah datang mau jemput Riyanti!" ucap Riyanti mencoba untuk menghibur kakaknya yang terlihat sedang sedih karena memikirkan nasib lamarannya Besok bersama dengan Dipta.

__ADS_1


"Kamu nggak jadi menginap? tanya Nadya.


"Iya nanti Riyanti bilang sama Mas Bagas agar kami menginap saja di sini. Biar besok bisa bantu-bantu acara lamaran Kak Nadya!" ucap Riyanti kemudian dia keluar dari kamar Nadia untuk menemui Bagas.


__ADS_2