
Pov Sunia
Aku sangat senang sekali, ketika melihat Bu de yang tinggal dan bekerja di kota, telah kembali untuk berlibur di kampung ku. Yang aku dengar, Mas Bagas juga ikut kembali, tanpa menunggu lama, aku langsung lari menuju rumah beliau. Rasa hatiku sudah tidak sabar, ingin bertemu dengan Mas Bagas. Kakak sepupuku.
Hatiku rasanya senang sekali, rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu, membuat aku hilang kesadaran. Aku langsung memeluk dan mencium pipi Mas Bagas, yang tampak kebingungan dengan apa yang aku lakukan kepada dirinya.
Tampaknya, Mas Bagas tidak ingat kepadaku. Aku sebenarnya merasa kecewa. Tapi tidak apa-apa. Wajar juga, sih! Kan kami sudah sangat lama tidak bertemu dan tidak berhubungan baik secara langsung maupun via telepon. Maklum saja, kesibukan Mas Bagas di kota, selalu menjadi penghambat komunikasi kami berdua.
"Mas, aku rindu sekali kepadamu!" belum selesai aku melepaskan rasa rinduku, kepada pria yang selalu membuat malam-malam ku begitu indah, tiba-tiba saja,seorang wanita menarik Mas Bagas dari pelukanku.
Aku melihat Mas Bagas tampak segan kepada wanita itu.
'Siapa sih, perempuan gak tahu diri ini? Berani sekali dia mengganggu kesenangan aku dapat bertemu dengan Mas Bagas!' bathinku kesal.
Semakin aku perhatian, perempuan itu semakin menyebalkan sana Rasanya. Setelah perempuan itu membawa Mas Bagas pergi, lama sekali mereka tidak keluar dari kamar mereka. Tidak sopan sekali! Aku di tinggalkan di depan rumah tanpa diberikan izin untuk masuk ke dalam. Hatiku rasanya sangat panas dan kesal dengan perempuan yang tadi menarik Mas Bagas untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sedang apa sih mereka berdua lama sekali tidak keluar-keluar. Aku sampai lelah menunggu mereka. Ini Bude sama Pakde juga, lama sekali pergi keluar. Kenapa nggak pulang-pulang? Aduh! Aku sudah haus dan lapar lagi. Gimana ini? Apakah aku akan pulang atau menunggu mereka ya? Aku jadi bingung!" aku terus bermonolog dengan diriku sendiri
Setelah menunggu hampir 2 jam, akhirnya Bude dan Pakde pulang juga dari rumah kedua orang tuaku. Aku senang sekali. Aku menyambut mereka berdua. Kemudian aku ikut bersama Bude untuk masuk ke dalam rumah dan melihat Mas Bagas bersama perempuan tadi yang pergi entah ke mana. Aku kesal sekali ketika mendengarkan suara Mas Bagas yang sedang tertawa dan bercanda di sebuah kamar yang tampaknya itu adalah kamarnya Mas Bagas.
Hatiku panas sekali. Merasa cemburu karena pria yang selama ini aku idam-idamkan kini sedang asyik bercumbu mesra dengan perempuan tadi yang aku tidak tahu siapa dia. " Bude! Siapa perempuan yang bersama dengan Mas Bagas? Kenapa mereka berada di kamar berduaan saja. Dan Bu De tampaknya anteng-anteng saja!" protesku kepada Bude karena merasa tidak suka dengan situasi saat ini.
"Ya tidak apa-apa! Mereka kan suami istri! Ya pantas kalau mereka berduaan di kamar. Memangnya ada apa toh, Sunia? Kamu keberatan?" tanya Bu De ku!
Bagai kan menerima sambaran petir di siang bolong. Ketika aku mendapatkan kabar bahwa Mas Bagas, pria idamanku sejak kecil. Ternyata telah beristri! Oh Tuhanku! Rasanya tubuhku begitu lemas. Kepalaku tiba-tiba pusing. Aku sampai limbung dan hampir saja jatuh, kalau budeku tidak menahan tubuhku saat itu.
Hatiku begitu sakit, ketika perempuan tadi yang membawa pria idamanku masuk ke dalam kamar, kini keluar dari sana, dengan leher yang penuh dengan kiss Mark. Hatiku sakit sekali. Aku terus mengadu kepada Bu de ku! Tetapi tampaknya Bu De tidak perduli dengan aduanku.
Karena merasa sangat kesal, akhirnya aku pun memilih untuk pulang dari rumah Bu deku! Aku memutuskan untuk masuk ke kamarku, tanpa memperdulikan panggilan kedua orang tuaku yang cemas melihat aku pulang dari luar dengan air mata yang berderai.
"Sunia! Ada apa denganmu, Nak? Kenapa kau pulang-pulang langsung mengunci dirimu di kamar. Apakah ada masalah, Nak! Cepat buka pintunya! Biar Ibu bicara denganmu!" ibuku terus berteriak, meminta aku untuk membukakan pintu kamarku. Tetapi hatiku yang saat ini sedang sakit, tidak peduli sama sekali dengan teriakan itu. Aku menutup kupingku dengan bantal, sehingga tidak bisa mendengarkan teriakan lagi.
__ADS_1
"Aku benci semuanya! Aku benci mereka! Kenapa mereka tidak juga membiarkan aku bersama Mas Bagas! Lihatlah! Sekarang Mas Bagas sudah punya istri dan aku tidak punya kesempatan sama sekali untuk menjadi istrinya. Dunia sungguh tidak adil!" Aku terasa mencaci dan memaki hingga akhirnya aku pun merasa lelah sendiri dan jatuh tertidur.
Tanpa kusadari hari ternyata telah gelap. Saat aku mulai membuka mataku kembali, tidak terasa perutku terasa mulai merasakan lapar. Aku kemudian keluar dan mencari makanan di meja makan.
Untungnya nasih ada sisa makanan di sana. Sehingga aku pun makan dengan lahap. Tampaknya ayah dan ibuku sedang pergi ke mushola, untuk melaksanakan salat Maghrib. Aku tinggal seorang diri di rumah. Ya! Beginilah nasib anak tunggal selalu kesepian Dan sendirian.
Keluargaku bisa dikatakan termasuk kaya di kampung ini. Karena hanya ayah dan ibuku yang memiliki usaha laundry dan juga sebuah minimarket yang memiliki omset sampai ratusan juta.
Tetapi kalau melihat penampilan istrinya Mas Bagas, kekayaan kan kedua orang tuaku tampaknya tidak ada artinya apa-apa. Yang aku dengar, istrinya Mas Bagas itu adalah anak seorang konglomerat yang memiliki bank swasta di Jakarta. Oh Tuhan! Hilang sudah semua harapanku untuk menjadi istrinya Mas Bagas.
"Tampaknya aku harus mengubur jauh-jauh harapan dan impianku untuk bisa memiliki pria idamanku yang sejak kecil telah menjadi bunga tidurku. Mas Bagas tampaknya aku harus mulai mengucapkan selamat tinggal padamu." ucapku putus asa.
Setelah kenyang, Aku pun memutuskan untuk tidur saja. Daripada pikiranku ruwet dan tidak ada ujung pangkalnya. Tidur adalah obat terbaik bagiku saat ini. Agar bisa melupakan patah hatiku gara-gara pria idamanku kini telah menikah dengan wanita yang jauh lebih kaya daripada keluargaku.
Aku berdoa semoga besok, ketika aku bangun, aku sudah melupakan Mas Bagas dan tidak lagi mengingat Dia sebagai pria idamanku. Aku berdoa semoga Tuhan mempertemukan aku dengan jodohku yang terbaik yang lebih baik daripada seorang ibadah secara yang kini telah menjadi suami orang lain.
__ADS_1
Tetapi tetap saja, hatiku merasa sedih dan sakit menerima kenyataan pahit ini. Entah berapa lama aku akan bisa move on dari perasaan tersakiti ini.