
Dipta mendekati Anjani yang saat ini sedang pingsan kemudian Dipta memanggil petugas rumah sakit untuk membawa Anjani agar mendapatkan perawatan.
Ibunya Anjani sudah menangis histeris, ketika melihat putrinya yang jatuh di tengah jalan. Untung saja saat itu tidak ada mobil yang melintas sehingga nyawa Anjani masih bisa diselamatkan di sana. Dan kebetulan Dipta melihat saat Anjani pingsan di sana sehingga bisa langsung menolongnya
Ibunya Anjani membayangkan. Bagaimana kalau ada mobil yang tiba-tiba saja lewat di sana, pasti tubuh Anjani sudah hancur karena ketabrak mobil.
"Sabar Jeng! Banyak doain supaya Anjani baik-baik saja!" siap ibunya Dipta sambil memeluk tubuh ibunya Anjani yang kini tampak lunglai dan lemas karena memikirkan putrinya yang kini sedang ditangani oleh dokter di ruang UGD.
"Ya Allah! Semoga anak saya baik-baik saja! Dia masih muda! Saya tidak rela kalau dia mati cepat seperti itu!" ibunya Anjani terus saja berancau dan mengatakan hal-hal yang sangat menyedihkan hati siapapun yang mendengarnya.
"Kita serahkan semuanya kepada Allah, Jeng! Jangan lupa berdoa kepada Allah! Adapun masalah nyawa, itu semua di tangan Allah jangan lupa selalu bertawakal, Jeng!" ucap ibunya Dipta sambil memeluk tubuh ibunya Anjani yang masih menangis.
"Mah ajak Tante ke dalam, di sini tidak kondusif untuk beristirahat!" Dipta meminta ibunya untuk membawa masuk ibunya Anjani ke dalam rumah sakit. Karena saat ini ibunya Anjani sedang menangis di pinggir jalan.
Kemudian dengan telaten, ibunya Dipta membimbing ibunya Anjani. Untuk masuk ke dalam rumah sakit dan mengikuti pihak paramedis yang tak di membawa Anjani untuk segera ditangani.
"Mah, saya urus administrasi dulu ya untuk Anjani, Mama tolong jaga Tante!" setelah mendapatkan persetujuan dari ibunya, Dipta kemudian langsung menuju ke ruang administrasi dan mengurus semuanya serta memesankan ruangan VVIP untuk Anjani bisa melakukan perawatannya di sana.
Ketika Dipta mau kembali kepada ibunya tiba-tiba saja Bima datang dan memanggilnya terlihat Bima mendekati Dipta sekarang.
"Dipta, kamu lagi ngurusin ruangan untuk siapa? Apa Ada yang sakit?" tanya Bima tampak cemas dengan keadaan sahabatnya.
"Bukan keluarga gue yang sakit tapi teman dia saat ini sedang berada di UGD! Gue cuma bantuin doang, untuk ngurusin administrasi dan pemesanan ruangannya!" ucap Dipta kepada Bima sahabatnya.
Bima terlihat menarik nafas dengan lega dan kemudian tersenyum kepada Bima.
__ADS_1
"Alhamdulillah! Gue kira tadi kamu atau nyokapmu yang sakit. Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Saya tadi sudah sangat khawatir sekali takut ada apa-apa dengan kalian!" ucap Bima sambil menepuk bahu Dipta yang kini tampak sedang bersedih.
"Kenapa, emangnya siapa yang sakit sih? Kok kamu kayaknya sedih banget. Apakah keadaan dia parah?" Bima jadi khawatir melihat kondisi Dita yang tampaknya sedang menahan kesedihannya saat ini.
"Anjani! Dia teman baru yang beberapa bulan ini, ya, lumayan dekat dengan gue. Sebagai teman ya, bukan sebagai apa-apa. Dia sakit kanker otak sudah stadium 3!" ucap Bima menerangkan keadaan Anjani saat ini.
"Astaghfirullahaladzim! Semoga dia diberikan kesehatan lagi ya, sama Allah! Dan juga, semoga keluarganya diberikan kesabaran dalam menghadapi penyakit ganas ini!" ucap Bima menyatakan keprihatinannya terhadap Anjani saat ini.
"Apa lu udah boleh pulang, Bim? Keadaan lu udah baikan kan?" tanya Dipta sambil menatap sahabatnya.
"Alhamdulillah gue juga sudah dinyatakan Fit sama dokter dan sudah bisa kembali bekerja hari ini!" ucap Bima kepada Dipta.
Dipta kemudian mengajak Bima untuk menemui ibunya, beserta ibunya Anjani yang saat ini masih berada di depan pintu ruangan UGD, untuk menunggu Anjani yang sedang ditangani oleh dokter.
"Tapi gue nggak bisa lama-lama di situ ya, Dip! Soalnya gue masih harus ngurusin masalah kerjaan gue, supaya besok gue bisa mulai bekerja lagi!" ucap Bima.
"Iya nggak apa-apa! Lu cukup menyapa Mereka aja! Kasih mereka semangat itu udah lebih dari cukup kok!" ucap Dipta sambil menepuk bahu sahabatnya. Kemudian mereka pun menuju ruangan UGD di mana ibunya sudah menunggu di sana.
Begitu Bima sampai di sana dia langsung menyalami ibunya Anjani dan ibunya Dipta dan menyatakan keprihatinannya serta doanya untuk Anjani agar segera diberikan kesembuhan!
"Yang sabar ya, Bu! Nanti saya akan minta kepada pihak manajemen rumah sakit, untuk memberikan fasilitas yang terbaik untuk anak ibu. Ibu tidak usah khawatir masalah biaya!" ibunya Anjani menatap kepada Bima seakan bingung dengan apa yang dia katakan oleh Bima saat ini.
"Bima ini anak pemilik Rumah Sakit ini, Bu! Jadi ibu bisa tenang menyerahkan perawatan Anjani di sini. Karena Bima pasti akan membantu untuk fasilitas perawatan Anjani!!" Dipta menerangkan status Bima di rumah sakit itu.
"Terima kasih Dokter atas bantuannya! Saya mohon! Tolong selamatkan anak saya Dokter! Saya tidak mau kehilangan dia. Dia anak saya satu-satunya!" ucap ibunya Anjani dengan berderai air mata.
__ADS_1
"Ibu tenang saja! Saya pasti akan membantu ibu. Akan saya carikan dokter terbaik untuk menangani anak ibu. Bahkan kalaupun tidak ada di sini, pasti akan saya datangkan dari luar negeri. Ibu bisa tenang menyerahkan perawatan anak Ibu di rumah sakit ini!" Janji Bima kepada ibunya Anjani.
"Makasih banyak dokter! Semoga Allah yang membalas kebaikan dokter terhadap saya dan juga anak saya!" ucap ibunya Anjani sambil memegang tangan Bima.
"Iya Ibu tidak apa-apa! Kita sesama manusia harus saling menolong!" kemudian Bima menatap Dipta dan berpamitan kepadanya.
"Maafin gue ya, Dip! Karena gue gak bisa lama-lama. Gue harus ngurusin kerjaan gue agar besok bisa mulai kerja lagi!" setelah berpamitan kepada Dipta dan juga ibunya, Bima pun kemudian langsung meninggalkan mereka bertiga.
"Yah Nggak apa-apa. Terima kasih banyak ya, atas bantuanmu. Semoga kamu juga cepat sembuh dan bisa segera kembali beraktivitas!" ucap Dipta sambil memeluk sahabatnya sebelum mereka berpisah.
Kini hanya tersisa ketiganya, yang sedang menunggu kabar terbaru dari dokter yang menangani Anjani, yang masih belum juga keluar dari ruang UGD.
"Tante tolong hubungi Om, untuk ke sini! Jangan sampai di rumah, Om sedang khawatir dengan kalian!" Dipta mengingatkan ibunya Anjani untuk menghubungi suaminya.
"Astaghfirullahaladzim! Sangking paniknya, Tante jadi tidak mengingat untuk melakukan itu Terima kasih ya, Nak Dipta! Sudah mengingatkan Tante!" kemudian dengan suara bergetar ibunya Anjani menghubungi suaminya yang sedang menunggu mereka berdua di rumah.
"Ya Allah, Mah! Kenapa tidak menghubungi papa sejak tadi? Papa sudah cemas sekali, menunggu kalian yang tidak pulang-pulang dari rumah sakit!" ucap suaminya.
"Maafkan Mama, Pah! Mama sangat panik, jadi tidak ingat untuk menghubungi Papa. Ini juga, kalau Nak Dipta tidak mengingatkan Mama, pasti Mama tidak ingat!" icap istrinya menjelaskan situasi saat ini.
"Ya, udah! Papa sekarang ke situ. Mama tunggu ya? Oh ya, kalian butuh apa saja untuk tinggal di rumah sakit? Biar papa sekalian membawanya!" Tanya suaminya kepada sang istri. kemudian ibunya Anjani menyebutkan beberapa nama barang untuk dibawa oleh suaminya ke rumah sakit.
"Baiklah! Sekarang papa tutup teleponnya ya? Karena Papa akan menyiapkan semuanya dan langsung ke rumah sakit!" setelah berpamitan kepada istrinya, ayahnya Anjani langsung menyiapkan semua kebutuhan yang tadi disebutkan oleh istrinya.
Ayahnya Anjani kemudian langsung berangkat ke rumah sakit hari itu juga. Hatinya saat ini sedang tidak tenang, karena memikirkan putrinya yang masih belum jelas keadaannya.
__ADS_1