Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
23. Rindu itu menyerang


__ADS_3

Sudah seminggu Nur tidak ada di pondok, setiap hari aku berusaha menelpon dia, tapi dia tidak pernah mengangkat telponku, atau pun membalas pesanku. Ada perasaan kehilangan dan kerinduan yang aku rasakan saat ini.


Selama beberapa bulan ini, dia telah mewarnai hidupku dengan warna yang berbeda, tiba-tiba dia menghilang, membuat aku tidak tenang melakukan apapun. Setiap hari kerjaanku hanya mengawasi kamar dia. Siapa tahu dia pulang dan kembali ke pondok. Tapi harapanku tinggal harapan. Seminggu lamanya, aku tidak melihat dia sama sekali, hatiku mulai resah memikirkan dia.


Apa dia semarah itu ke padaku? Aku jadi menyesal karena sudah bertindak sembrono waktu itu. Tapi sungguh, dekat dengannya membuat aku kesulitan untuk mengendalikan diriku. Aku selalu berusaha keras agar tidak melampaui batasan ku. Untuk tidak menyentuh dia atau berdekatan dengannya. Dia seperti candu bagiku, seperti magnet bagiku. Selalu sukses membuat hatiku selalu bertalu-talu.


"Aini, apa Nur ada menghubungi kamu? Kenapa lama sekali dia tidak pulang?" sore itu aku memberanikan diriku untuk bertanya pada Aini, teman sekamar dia. Dengan perasaan gak karuan, antara takut dan malu. Tapi demi mendapatkan kabar tentang dia, aku tepis semua rasa itu.


"Aku gak punya nomornya Mba Nur, jadi ga pernah berhubungan di telpon sama dia," Aini lalu pergi meninggalkan aku yang sedang frustasi karena lama tidak bertemu kekasih hatiku.


Dengan gontai aku masuk kamarku, mencoba lagi menelpon dia, masih gak di angkat juga. Berkali-kali aku mencoba, tapi kini bahkan ponselnya mati. Aku sudah kehilangan cara untuk mencari dia.


"Kamu Kenapa? Aku perhatikan beberapa hari ini sangat gelisah, apa ada masalah?" Surya bertanya padaku sambil meletakkan kitabnya di lemarinya.


"Sudah seminggu Nur gak pulang, aku kwatir sama dia," aku membaringkan badanku di kasur dan mencoba untuk tidur, berharap hatiku kembali tenang, dan bisa tidur nyenyak lagi.


"Kenapa gak coba datangin kampus dia? Kamu bisa ketemu dia di sana," ucap Surya.


"Oh... Tuhanku!!! Kenapa aku tidak kepikiran ke sana? Terima kasih Sur, besok aku akan cari dia di kampusnya," dengan senyum sumringah akhirnya aku bisa juga tidur. Berpikir besok aku bisa bertemu dengannya itu sungguh membuat hatiku sangat bahagia.

__ADS_1


Keesokan harinya, setelah selesai dengan jadwal mengaji dengan Abah Kiai, aku bergegas mengganti pakaian harianku, dan langsung membawa motorku untuk mencari Nur di kampusnya.


Setelah sampai di depan kampus aku parkirkan motorku di depan kampus dia, turun dan masuk ke kampusnya. Mencoba mencari Nur di sana. Berharap bisa bertemu dengan dia.


Selama satu jam aku berkeliling tapi tidak aku temukan keberadaan dirinya. Benar-benar bikin frustasi. Semangat 45 yang tadi malam aku miliki seketika hilang dan berganti dengan lemas seluruh tubuhku. Aku takut kehilangan dia, wanita pertama yang telah mengalihkan duniaku, dari dunia hitam putih menuju dunia yang penuh dengan warna dan cinta.


Aku belum siap kehilangan dia rasanya. Dengan lemas, aku akhirnya menyerah dan duduk di kantin kampusnya, berharap bertemu dia yang sudah berhasil memporak porandakan hatiku selama seminggu ini.


Di kejauhan, aku melihat dia datang dengan motornya. Akhirnya, aku melihat dia lagi. Pantas aku cari tadi di dalam tidak ada, dia baru datang ternyata. Bodohnya aku, kenapa dulu tidak pernah minta jadwal kuliah dia?


Aku mendekatinya, saat dia selesai memarkirkan motornya di parkiran belakang. Dia tampak terkejut melihatku dan berusaha lari untuk menghindari diriku. Dengan sigap aku langsung mengejar dia.


"Kenapa lari melihatku? Apa kamu tahu, aku sangat merindukanmu?" aku memegang tangannya dengan erat supaya dia tidak bisa lari lagi dariku.


"Kalau aku lepas, kamu pasti lari lagi, aku perlu bicara sama kamu, tolonglah, jangan kayak gini. Kamu nyiksa aku lahir bathin tahu gak sih?" aku gak perduli lagi dengan diriku sendiri, walaupun semua mata menatap ke arah kami, aku gak perduli lagi. Pikiranku saat ini hanya ingin dia tidak lari lagi dariku.


"Aku ada kelas, tolong lepaskan," suaranya mulai melunak, aku jadi agak tenang sekarang.


"Baiklah aku akan melepaskannya, tapi kamu janji sama aku, kita bicara setelah kelasmu selesai," aku menatap matanya, tapi dia selalu menghindari tatapanku. Hatiku sungguh sedih karenanya. Apa dia Semarang itu padaku?

__ADS_1


"Aku seharian ini ada jadwal, sibuk, aku pergi," dia langsung lari meninggalkan aku, aku mengejarnya sampai ke kelasnya.


"Aku akan menunggu kamu disini," ucapku saat dia mulai masuk ke kelasnya, semua mahasiswa masuk ke kelas Dosen juga sudah masuk. Pintu kelas tertutup. Aku hanya duduk di kursi depan kelasnya. Sambil melihat ke sekeliling. Tampaknya semua mahasiswa sibuk di kelas, aku memutuskan untuk mencoba masuk ke perpustakaan, mencoba membawa sesuatu di sana untuk menghilangkan kebosanan karena berjam-jam menunggu.


Setelah sekitar dua jam, aku lihat kelas dia mulai ramai, mahasiswa pada keluar dari kelas, aku menunggu Nur di depan kelas dia. Tapi tidak aku temukan keberadaan dia sampai kelas sepi. Aku masuk ke kelasnya tapi dia tidak ada.


"Ya Allah, kemana lagi dia? Aku terlambat ternyata dia pasti sudah pulang sekarang. Apa dia ke pondok atau kemana ya?" aku bermonolog sendiri.


"Nyari Nur ya?" dalam kebingungan tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seorang perempuan, aku ingat, dia adalah perempuan yang aku lihat di kedai mie ayam waktu itu.


"Iya, kemana dia? Aku menunggu dia dari tadi. Tapi tidak menemukan dia di kelasnya," jawabku singkat karena berusaha mengurangi interaksi dengan wanita lain. Kalau Nur tahu aku berbincang dengan wanita, dia bisa tambah ngamuk nanti, bisa bahaya.


"Nur sudah pulang, tadi aku lihat dia keluar kampus pakai motornya," ucapnya santai.


"Terima kasih infonya," dengan cepat aku langsung lari ke belakang. Mengecek motornya. Benar saja, motor dia sudah tidak ada di sana. Dengan berlari aku langsung ke motorku yang aku parkir di depan kampus.


Sekarang aku bingung, mau mengejar dia kemana, aku tidak tahu dia pergi ke arah mana. Bodohnya aku, kenapa tadi aku tidak tanya di mana kost lama Nur pada temannya tadi?


Dengan lunglai akhirnya aku putuskan untuk kembali ke pondok saja, sebentar lagi adzan dhuhur, ada kelas ngaji selepas sholat. Biarlah, besok aku bisa ke sini lagi mencari dia.

__ADS_1


Dengan harapan semoga saja dia pulang ke pondok. Tapi saat sampai di sana. Aku menelan pil kekecewaan lagi, tidak ada motornya di parkiran. Aku mencoba menelpon dan kirim SMS, semua tidak di respon sama sekali.


Seharian aku tidak bisa konsentrasi sama sekali, teringat tatapan kebencian yang aku lihat di mata dia. Aku sangat sedih karenanya. Dia sangat marah padaku.


__ADS_2