Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
222. Diskusi


__ADS_3

Rianti dan Bagas tampak senang melihat Raffi dan Dinda mulai bisa menerima pernikahan mereka berdua dan tampak akur dan juga mesra di mata mereka.


" Mari kita makan bersama. Aelagi kalian berdua berada di sini. Karena kami benar-benar merindukan Dinda. Setelah menikah Dia hampir tidak pernah datang kemari!" ucap Bagas sambil menatap putrinya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


" Papa kan tahu, kalau di pondok sangat sibuk. Dinda hanya mencoba untuk bisa membantu Umi semampunya!" ucap Dinda berusaha untuk menjawab pertanyaan ayahnya.


" Tidak apa-apa sayang, bagi kami, selama kamu bahagia di sana kami tidak akan keberatan!" ucap Riyanti sambil tersenyum kepada putrinya yang sudah dewasa bahkan sekarang sudah menjadi seorang istri dari laki-laki yang dia cintai.


Raffi memperhatikan interaksi antara Dinda dan kedua orang tuanya yang nampak intim.


" Bagaimana raffi apakah kau menyukai masakan yang ada di rumah ini?" tanya Bagas kepada menantunya yang baru pertama kali makan bersama di rumahnya sudah pernikahan mereka.


" Saya bukan orang yang suka pilih-pilih makanan. Bagi saya, selama masih halal untuk dikonsumsi. Saya tidak masalah!" ucap Raffi sambil tersenyum kepada Bagas.


" Kamu beruntung memiliki seorang suami yang begitu pengertian dan juga pasti tidak akan merepotkanmu untuk masalah makanan serta urusan lainnya!" WhatsApp Rianti kepada Dinda.


" Iya Mah!" jawab Dinda.


Setelah mereka selesai makan malam, Mereka semua pun kemudian pindah ke ruang keluarga dan menonton televisi bersama-sama. Tampak begitu bahagia dan juga rukun Raffi merasa sangat senang berantakan berada di antara mereka.


Raffi tampak terlibat percakapan dengan Rehan sahabatnya yang sejak dulu selalu bersamanya.


" Bagaimana masalahmu dengan Dinda? Apakah sudah beres? Perlu bantuanku atau tidak?" tanya Rehan kepada Raffi yang langsung menjalankan kepalanya.


" Artinya masalah kalian sudah beres dan tidak ada masalah lagi tentang Elena kan?" tanya Rehan ingin memastikan bahwa hubungan sahabatnya dan adiknya saat ini baik-baik saja.


" Entahlah sulit untuk mengatakan bahwa itu baik-baik saja. Tapi yang jelas saat ini Dinda tidak marah padaku dan dia bersedia untuk mengikuti ku ke manapun aku pergi!" ucap Raffi kepada sahabatnya.


" Baguslah setidaknya itu bisa menjadi acuanmu untuk bagaimana membawa rumah tanggamu kedepannya. Sabarlah aku yakin kalau adikku pasti juga ingin rumah tangga kalian baik-baik saja!" ucap Rehan menasehati sahabatnya.


" Yah aku harap semuanya baik-baik saja. Karena aku yakin kalau tidak akan ada orang yang menginginkan pernikahannya gagal!" Rehan kemudian berpamitan kepada sahabatnya dan pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Dinda yang tampak sedang bercengkrama dengan ibunya dia pun mulai menguap karena menahan rasa kantuknya.


" Pergilah ke kamarmu Dinda. Kasihan suamimu pasti mengantuk!" perintah Bagas kepada putrinya ketika melihat Rehan yang sudah meninggalkan Raffi di taman.


Saat ini Raffi sedang merenungkan kembali tentang perjalanan cintanya bersama sang istri yang selalu menemui onak duri.


" Mas ayo kita ke kamar! Aku sudah mengantuk sekali dari tadi!" ucap Dinda sambil mendekati suaminya yang tampak sedang melamun.


Melihat istrinya yang mendekati Rafi pun kemudian bangkit dan mendekati Dinda.


Tanpa banyak cakap Raffi langsung mengikuti sang istri untuk pergi ke kamar mereka.


" Tadi membicarakan apa saja bersama Kak Rehan?" tanya Dinda ketika mereka sudah berada di kamar.


" Pembicaraan biasa saja. Tidak ada yang menarik. Ayo kita tidur! Besok kita akan berjalan-jalan untuk mencari tempat tinggal baru. Pasti membutuhkan energi yang banyak." ucap Raffi sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Raffi yang pada hakekatnya merasa asing dengan tempat tinggal orang tua Dinda dia tanpa kesulitan untuk terlelap dalam tidurnya.


" Tidak apa-apa. Mungkin karena baru pertama kali menginap di sini jadi masih terasa asing! Kau tidur saja tidak usah memikirkan saya." ucap Raffi sambil tersenyum kepada istrinya.


Tetapi Dinda bangkit dari tempat tidur ketika dia tahu bahwa suaminya kesulitan untuk terlelap dalam tidur nya.


" Apa kita kembali saja ke pondok?" tanya Dinda sambil tersenyum kepada suaminya.


" Ini sudah larut malam. Sudahlah jangan mengganggu orang yang sedang beristirahat. Aku hanya belum terbiasa saja!" ucap Raffi sambil menarik istrinya ke dalam pelukannya.


" Aku rasa ini jauh lebih baik!" ucap Raffi sambil mengejutkan Ning istrinya dengan lembut sehingga membuat Dinda merasa nyaman bersama sang suami.


" Mas bagaimana tentang penawaran pekerjaan dari KBRI Mesir? Apakah mas akan menerimanya atau menolaknya?" tanya Dinda merasa penasaran tentang keputusan suaminya.


" Aku tahu kalau itu hanyalah akal-akalan Elena untuk bisa dekat denganku. Jadi aku tidak akan masuk ke kandang harimau yang pada akhirnya hanya akan kusesali. Aku akan mulai fokus dengan bisnis-bisnisku yang selama ini hanya aku jadikan sebagai sampingan saja. Karena sekarang aku sudah memiliki istri dan aku sudah memiliki tanggung jawab untuk memberikan nafkah untuk kamu dan anak-anak kita nantinya!" Dinda seketika memerah pipinya ketika mendengar Raffi membicarakan tentang anak mereka nantinya.

__ADS_1


" Apakah kau berharap untuk memiliki anak bersamaku?" tanya Dinda tampak tersipu malu.


" Tentu saja sayang. Abi dan umi pasti akan senang kalau memiliki seorang cucu yang menggemaskan!" ucap Raffi sambil tersenyum menatap istrinya yang tampak malu.


Dinda tahu bahwa perjalanan rumah tangganya bisa dibilang masih jauh dari kata sempurna. Akan tetapi dia berusaha untuk bisa bertanggung jawab dan menjadikan rumah tangganya sebagai ladang ibadah menuju surganya Allah bersama sang suami.


" Mari kita bikin anak saja, dari pada gak bisa tidur!" ucap Raffi sambil tersenyum kepada Dinda.


" Ih, apaan sih!" ucapin dah sambil menarik selimut dan berusaha untuk terpejam.


Tetapi Raffi tidak mengizinkan istrinya untuk tidur karena dirinya mempunyai agenda lain untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang ayah.


Setelah kelelahan mereka berdua pun kemudian tampak tertidur lelap dalam pelukan masing-masing.


Keesokan paginya Rianti membangunkan Dinda untuk membantunya membuat sarapan bagi keluarga mereka.


" Suamimu belum bangun?" tanya Rianti sambil menengok ke dalam kamar putrinya.


" Mas Raffi di kamar mandi sedang wudhu! Ada apa mama?" tanya Dinda kepada ibunya.


" Tidak apa-apa. Mama hanya takut kalau suamimu tidak bisa tidur. Secara kan dia tidak pernah tidur di sini!" ucap Riyanti sambil tersenyum kepada putrinya yang sudah bersiap untuk ikut dirinya ke dapur.


" Mah! Apakah Mamah keberatan kalau misalkan Dinda dan Mas Rafi tinggal di sini?" tanya Dinda merasa khawatir.


Rianti berhenti dan menatap denda dengan lekat. Dia berusaha untuk menyelami perasaan putrinya saat ini.


" Kalau kamu dan suami kamu nyaman tinggal di sini, kami tidak masalah!" ucap Riyanti sambil tersenyum kepada putrinya.


" Nanti Dinda akan bertanya ke Mas Raffi. Apakah dia mau untuk tinggal di sini!" ucap Dinda sambil tersenyum kepada ibunya yang sepertinya mulai curiga bahwa ada masalah di dalam keluarga putrinya.


" Apakah kalian sedang menemui sebuah masalah? Berceritalah kepada Mama. Siapa tahu mama bisa memberikan solusi untuk kalian!" ucap Riyanti sambil mengelus pucuk kepala putri kesayangan nya. Dinda tampak menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2