
Mulai saat ini, aku akan memulai kehidupan baruku, tinggal di rumah Dipta. Dipta yang sudah jatuh cinta kepada bayiku, memberikan segala fasilitas untuk Rafi. Di rumah ini, Rafi seperti seorang Tuan Muda. Aku tidak paham, kenapa pria tampan dan mapan seperti Dipta belum menikah juga. Rasanya tidak percaya ketika Dipta mengatakan bahwa dia tidak memiliki seorang kekasih. Mana mungkin? Seperti novel-novel masa kini, seorang tampan, CEO, biasanya adalah seorang Casanova. Tapi Dipta? Bagiku dia jauh dari sebutan sebagai Casanova.
Dipta lebih pantas di sebuah pria rumahan. Bagaimana tidak? Sepulang di kantor, dia selalu bermain dengan Rafi.
"Anak Papah, Papah pulang sayang!" itu suara Dipta, pria itu, sejak awal kedatanganku di rumahnya, selalu mengatakan itu setiap pulang kerja. Lalu mencium Rafi bertubi-tubi, seperti tidak bertemu setahun saja.
"Dipta, kamu kenapa, sih?" setiap pulang pasti kayak gitu. Bikin kesel aja!" protesku gak suka.
"Ya, memang kenapa? Ada masalah?" tanya Dipta, tanpa dosa dan tanpa beban sama sekali.
"Kamu tahu gak sih, aku itu malu! Setiap kamu kerja, itu Mba-Mba yang kerja di rumah, semuanya pada ngomongin aku! Mereka bilang aku selingkuhan kamu, lah!" ucapku sebal.
"Gak usah di dengerin aja, lah! Buat apa juga? Yang penting kita gak pernah berbuat maksiat! Kamu tahu, tidak? Terkadang ada juga terbersit di hatiku, ingin jadi selingkuhan kamu! Kayanya seru, itu! Kayaknya itu ide yang bagus! Kapan-kapan akan aku coba!" Jawab Dipta asal saja.
Aku auto melotot demi mendengar ide gila Dipta, yang sukses bikin aku syock, "Gak usah macam-macam, deh! Aku pergi dari sini, liga!" ancamku, Dipta tampak tersenyum bahagia.
"Aku cuma bercanda, Nur! Aku tahu kamu masih setia sama suami kamu! Walaupun tidak tahu, bagaimana kabar suami kamu! Mungkin juga dia sudah menikah dengan perempuan yang Kata kamu, selalu dipikirkan oleh suamimu!" ucap Dipta mulai sendu. Ya, Dipta merasa kasihan dengan nasibku yang malang, karena suamiku lebih mencintai wanita lain dari pada istrinya.
"Aku hanya belum ada waktu untuk mengurus perceraian saja! Aku bukannya setia sama dia!" elakku, aku memilih pergi dari ruang tengah, membiarkan Dipta untuk bermain dengan Rafi.
Disinilah, aku akhirnya berada! Aku termenung seorang diri, di pinggir kolam, sayup-sayup aku mendengar suara orang berbisik-bisik, "Lihat itu, si Nur, posisinya sama kayak kita, sebagai babu di rumah ini, tapi lihat itu! Gayanya sudah seperti Nyonya pemilik rumah ini!" aku tahu itu suara Merry yang naksir dengan Dipta, tetapi tidak mendapatkan respon dari Dipta.
"Ya, kasihan Pak Dipta! Punya wajah tampan. Mau-maunya bersama janda gak jelas seperti dia! Apa jangan-jangan Pak Dipt di pelet sama si Nur itu, ya? Ih.. serem kalau beneran!" ucap Laila lebih kejam lagi. Ya, sejak aku memutuskan tinggal di rumah Dipta, inilah makanan harianku, aku juga tidak tahu kenapa, mereka selalu julid dengan hidupku. Padahal aku tidak pernah mengganggu mereka. Heran sekali!
__ADS_1
"Dipta bilang, aku tidak perlu menanggapi mereka, biarkan saja! Toh selama ini, kami tahu apa yang kami lakukan. Kami hanya dua sahabat yang saling membantu. Tidak lebih!" monologku berusaha mensugesti diriku sendiri dengan hal-hal yang tidak membuat stress diriku sendiri.
"Mamah, aku laper! Kasih aku *****!" tiba-tiba Dipta muncul dengan Rafi dari dalam rumah, mendengar apa yang dikatakan oleh Dipta, tiba-tiba darahku berdesir, otakku mulai traveling. 'Dasar bodoh!' Rutukku, sambil memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Mamah kenapa? Aku lapar, ingin *****!" ulang Dipta, sontak aku menutup mulut Dipta, aku takut aja, kalau Merry dan Laila mendengar kata-kata itu, mereka pasti jadi salah paham.
"Ini, Rafi dari tadi rewel, kayanya dia laper, susuin dulu, gih!" perintah Dipta. Aku mengambil Rafi lalu membalikkan badanku, menyusui bayiku dengan khusyuk. Tiba-tiba Dipta sudah ada di hadapanku.
"Kayaknya Rafi keenakan nyusu, kapan-kapan aku juga mau nyobain, ah!" ucap Dipta dengan suara keras, Aku langsung menggeplak kepalanya. Kesal dengan keusilan pria satu itu.
"Awas, kalau kau berani!" ancamku. Tanpa aku duga, Dipta malah mencium bibirku, hanya sekilas saja! Tapi sukses membuat hatiku blingsatan. Ya Tuhan! Ini bocah kerasukan setan apa, sih? Tingkahnya absurd banget! Apa coba yang akan di pikiran oleh dua wanita yang dari tadi misuh misuh melihat interaksi ku dengan Dipta.
Aku melirik ke arah mereka, tampak keduanya mengepalkan tangannya, cemburu sepertinya karena tadi Dipta mengecupku. Ah, Dipta! Kamu bikin hidupku tambah runyam saja!
Ah, otakku geser kayanya, apa jangan-jangan karena sudah lama tidak pernah dapat sentuhan tangan lelaki ya? Sehingga sentuhan kecil seperti itu saja, selalu sukses membuat jantungku jungkir balik! Dipta tampak menikmati mengelus pipiku.
"Dipta, alo gak kesambet setan di jalan, kan? Dari tadi tingkah loe aneh banget!" tanyaku mulai kesal.
"Kok kamu nanya gitu?" tanya Dipta balik.
"Ya, elo aneh aja dari tadi! Godain aku Mulu! apa ada masalah di kantor? Kelihatannya kamu leleh sekali. Apa mau aku pijitin? Biar otot kamu rileks sedikit?" tawarku pada Dipta.
"Kamu bisa mijit?" tanya Dipta tampak kaget.
__ADS_1
"Bisa, dong! Suamiku paling suka dengan pijitan aku!" ucapku bangga. Dipta tersenyum kecut.
"Kamu masih memikirkan suami kamu?" tanyanya ketus. Aku jadi heran sama Dipta. Akhir-akhir ini sikap dia aneh sekali. Suka uring-uringan sendiri setiap aku membicarakan suamiku.
"Aku cuma bilang, suamiku paling suka dengan pijitan aku! Kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini suka gak jelas begini! Marah-marah gak genah, misuh misuh kayak cewek lagi datang bulan!" ucapku mengutarakan isi hatiku.
"Gak apa-apa! Rafi udah tidur belum? Katanya kamu mau mijitin aku? Ayo ke kamarku!" ucap Dipta. Aku menggeleng kepala. Menolak ajakan Dipta, Dipta auto melotot ke arahku.
"Di ruang tamu saja! Kamu kenapa sih, suka benget mengundang orang julid sama aku? Aku gak ngapa-ngapain sama kamu aja, itu semua pegawai kamu ngomongin aku terus di belakang! Ini lagi, minta di pijit di kamar! Jangan-jangan nanti mereka berpikir aku sedang service kamu lagi! Ih, ogah!" ucapku sambil mencebikkan bibir.
Dipta hanya tersenyum lalu mengacak jilbabku.
"Ih, gemesin!" ucapnya diiringi senyum jahilnya.
"Dasar usil!" Teriakku karena dari tadi dia terus melihat ke arahku, yang sedang fokus memberikan ASI buat Rafi.
"Kamu lihat apa?" tanyaku heran. Aku melihat ke arah mata Dipta yang tampak tidak berkedip. Jakun Dipta naik turun, tampak kesulitan meneguk salivanya. Aku baru sadar, Dipta melihat ke arah dadaku yang saat ini sedikit terbuka karena sedang memberikan ASI.
Aku langsung menutup Dadaku dengan kain gendongan Rafi! Menggeplak kepala Dipta yang pasti sudah berpikiran mesum.
"Pergi sana, ambil minyaknya!" usirku kesal.
Dipta pergi ke dalam dengan tawanya yang renyah. Aku melihat Merry dan Laila matanya sudah memerah melihat Dipta yang tampak begitu akrab denganku dan anakku.
__ADS_1