Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
216. Perjuangan Yang Tak Sia-Sia


__ADS_3

Raffi menatap istrinya yang saat ini sedang berendam di bathtub. Sungguh keindahan Tuhan Yang Maha Sempurna yang selama ini dijaga dengan baik oleh Dinda dengan busana muslimah yang tertutup dan jilbab serta niqab yang selalu menyertai setiap aktifitas dalam ke sehariannya selama ini.


" Keluarlah Mas! Aku malu dari tadi kau terus menatapku seperti itu!" ucap Dinda sambil menatap Raffi yang malah mendekat ke arahnya dengan tatapan penuh arti.


" Kita suami istri kan? Kenapa harus malu? Bahkan aku sudah merasakannya." ucap Raffi sambil cengengesan di hadapan Dinda.


" Ih Gus mesum!" protes Dinda memerah wajahnya karena malu.


" Cepatlah berendamnya sebelum kita ketinggalan untuk salat subuh. Mas juga butuh untuk mandi besar sebelum shalat!" ucap Raffi sambil mencubit hidung Dinda dengan gemas.


" Sakit tahu Mas!" ucap Dinda cemberut.


" Kalau aku ikut berendam denganmu. Apakah kau akan keberatan?" tanya Raffi sambil duduk di tepi bathtub.


" Aku masih malu untuk melakukan hal seperti itu Mas!" ucap Dinda menundukkan kepalanya.


" Ya. Sudah cepatlah kau mandinya. Mas akan mandi di kamar mandi santri putra saja!" ucap Raffi seperti kecewa kemudian dia pergi meninggalkan istrinya.


' Apakah Mas Raffi marah kepadaku?' bathin Dinda merasa tidak enak.


Dinda pun kemudian segera menyelesaikan kegiatan mandinya. Walaupun masih terasa sakit di bagian intinya. Tetapi dia berusaha untuk tidak bermanja karena dia takut kalau sampai kehabisan waktu untuk salat subuh berjamaah dengan suaminya.


Setelah selesai mandi Dinda langsung masuk kembali ke kamarnya dan mendapatkan sang suami yang sudah bersiap dan menunggunya untuk salat berjamaah.


Dinda terkejut mendapatkan suaminya yang ternyata sudah ada di dalam kamar mereka. Sementara dirinya sekarang hanya keluar dengan menggunakan handuk pendek saja yang melilit sempurna di tubuhnya yang putih dan mulus.


Raffi tampak terpesona melihat keindahan yang terpampang di hadapannya saat ini.


" Cepatlah gunakan pakaianmu dan kita salat berjamaah bersama waktunya tinggal sebentar lagi!" ucap Rafi berusaha untuk menahan hasrat yang tiba-tiba saja muncul.


" Ya Allah! Kuatkan imanku!" doa Raffi di dalam hati melihat sang istri yang saat ini sedang bersiap untuk menggunakan pakaiannya dan salat bersamanya.

__ADS_1


" Palingkanlah dulu wajahmu Mas! Karena aku malu!" ucap Dinda tersipu.


Raffi yang tersadar dari lamunannya pun kemudian langsung mengalihkan pandangan matanya dari sang istri.


" Aku sudah selesai Mas. Ayo kita salat bersama!" ucap Dinda dengan suara lembut.


Raffi kemudian mendekati istrinya dan berdiri di hadapannya. Raffi bersiap untuk menjadi imam salat mereka berdua.


Dengan khusuk Raffi dan Dinda shalat berjamaah. Setelahnya mereka berdua pun sibuk bermurojaah sampai matahari terbit.


" Ayo kita berkunjung ke kediaman Abi dan Umi. Mas ingin berdiskusi tentang penawaran pekerjaan di KBRI Mesir. Mas ingin sekali mendengarkan pendapat mereka berdua!" ucap Raffi sambil menyimpan sajadah dan juga Alqurannya ke tempatnya semula.


" Mas sudah melakukan istikharah atau belum?" tanya Dinda menatap sang suami.


" Tadinya Mas berniat untuk melakukan istikharah tadi malam. Akan tetapi Mas terlalu sibuk dengan ibadah paling nikmat bersama istriku tercinta sehingga melupakannya!" ucap Raffi sambil meringis sambil menatap Dinda yang langsung memukul bahunya pelan.


" Ih, di tanya serius juga! Malah bercanda!" ucap Dinda rasa kesal kepada suaminya.


" Kan Mas mengatakan hal yang sejujur sayang. Bahwa kita tadi malam sangat sibuk sehingga membuat Mas kelelahan dan akhirnya malah tertidur di pelukanmu!" ucap Raffi sambil menarik Dinda dalam pelukannya.


" Ih, katanya mau ke rumah Aby sama Umy! ini kalau seperti ini alamat akan panjang ceritanya!" ucap Dinda berusaha untuk melepaskan diri dari suaminya.


Raffi hanya tertawa mendengarkan perkataan istrinya yang terdengar sangat manja dan merdu di telinganya.


" Ya Allah ternyata mencintai seseorang itu sangat indah ya? Mas akan selalu berusaha untuk menerima pernikahan kita berdua. Dan tolong tegurlah Mas kalau seandainya Mas melupakanmu sebagai istriku!" ucap Raffi sambil menatap istrinya dengan tatapan teduh dan menyejukkan hati Dinda.


" Iya mas. Kita harus saling mengingatkan satu sama lain. Aelama itu adalah demi kebaikan kita. Kita tidak boleh merasa marah ketika ditegur oleh pasangan kita!" ucap Dinda merasa sangat bahagia karena suaminya sekarang sudah mulai membuka hatinya dan mulai mau menerima pernikahan mereka berdua.


" Ayo kita ke kediaman Umi dan Abi sekalian sarapan di sana." ucap Raffi menarik tangan Dinda untuk mengikuti dirinya.


" Aih malunya kita datang ke rumah orang tuanya untuk minta makan!" ucap Dinda menghentikan langkahnya sehingga membuat Rafi menoleh kepadanya.

__ADS_1


" Kenapa?" tanya Raffi heran.


" Sebentar Mas. Aku akan masak untuk kita berdua. Setelah kita sarapan baru kita menemui Abi dan Umi!" ucap Dinda sambil tersenyum kepada suaminya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Apa kau bisa masak?" tanya Raffi ragu.


" Selama 2 bulan kita menikah. Aku setiap hari masak untukmu. Mas saja yang selalu sibuk di luar dan lebih memilih makan di rumah Abi dan Umi!" ucap Dinda dengan perasaan sedih. Ketika dia kembali mengingat kehidupannya sebagai seorang istri seorang Raffi selama 2 bulan sebelumnya.


" Maafkan Aku sayang. Selama dua bulan yang lalu, aku memang belum bisa menerima pernikahan kita dan masih berusaha untuk beradaptasi. Aku takut kalau aku akan merepotkanmu dengan meminta makanan kepadamu." ucap Raffi merasa bersalah kepada istrinya.


" Sudahlah Mas. Gak apa-apa! Untuk masalah yang sudah berlalu tidak masalah. Ayo Mas sekarang menonton televisi aja dulu, sambil menunggu aku selesai memasak untuk kita berdua!" ucap Dinda dengan wajah penuh dengan binar kebahagiaan.


Raffi hanya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan oleh istrinya.


Raffi kemudian menyalakan televisi dan mencari channel tentang ceramah di pagi hari yang cerah dan ceria. Sama seperti hatinya yang saat ini merasakan kebahagiaan. Menerim kehidupan rumah tangganya yang sudah dia putuskan untuk dia jalani dengan lapang dada bersama Dinda.


Sejak dahulu Raffi tahu kalau Dinda memang mencintainya. Hanya saja dia yang lebih mementingkan belajar ilmu agama sama sekali tidak pernah berpikir tentang cinta terhadap seorang wanita.


Dengan setia Dinda menunggu Raffi pulang dari Mesir untuk menyelesaikan studynya dan setelah itu dia memupuk cintanya dengan selalu banyak berdoa untuk menautkan hatinya bersama laki-laki pujaannya.


Kesabaran dan kegigihan Dinda akhirnya berbuah hasil yang manis dan juga indah dengan pernikahannya bersama dengan Raffi. Laki-laki pujaannya yang lebih dari 20 tahun telah mengisi kehidupannya.


Keluarga mereka memang dekat dan selalu melakukan silaturahmi. Hampir setiap bulan orang tua Dinda selalu datang ke pondok pesantren yang dikelola oleh orang tua Raffi untuk mengikuti kajian maupun pengajian yang selalu rutin diadakan oleh pihak pondok untuk para wali santrinya.


" Perjuangan yang tak sia-sia. Akhirnya aku dan Mas Raffi bisa menjalani pernikahan kami secara normal seperti pasangan lainnya. Semoga pernikahan kami berdua di karuniai putra dan putri yang sholeh dan sholehah yang akan melanjutkan tonggak perjuangan kami dalam mensiarkan ayat-ayat suci Alquran di muka bumi ini!" doa Dinda dengan suara lirih dengan penuh kebahagiaan.


" Amien!" ucap Raffi sambil memeluk Dinda dari belakang.


Dinda merasa terkejut ketika mendapatkan suaminya yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.


" Mas?" tanya Dinda heran.

__ADS_1


" Katanya mau masak. Tapi Mas perhatikan dari tadi kau lebih banyak melamun sambil tersenyum-senyum sendirian!" ucap Raffi sambil mengecup kening sang istri dengan lembut.


Dinda tampak memejamkan matanya dan berusaha untuk menyesapi cinta kasih yang sedang ditunjukkan oleh sang suami untuk dirinya. " Terima kasih untuk cinta kasihmu Mas. Semoga aku bisa menjadi istrimu yang bain dan taat. Semoga aku tidak akan pernah mengecewakanmu!" ucap Dinda dengan haru.


__ADS_2