Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
24. Menyebalkan


__ADS_3

Rasanya nyaman balik ke kost lama, bisa kumpul dengan teman-teman lama juga. Untung ibu kostku sangat baik, dia mengijinkan untuk aku menginap di sini, kebetulan kamar lamaku memang belum ada yang isi.


Siang ini ada jadwal pengisian materi untuk persiapan KKN di kampus pusat. Tepatnya di rektorat. Pagi-pagi aku sudah stay disana bersama Nida, sabahatku. Kebetulan kami mendapatkan jadwal KKN bersama-sama, hanya beda lokasi saja, tapi masih di area Purwokerto.


"Nur, kemarin aku lihat calon suami kamu, nyarin kamu loh, kenapa sih? lagi ada masalah ya?" Isna yang kebetulan duduk di sampingku langsung bertanya padaku perihal dia, manusia yang sedang aku hindari.


"Gak kok, ga papa, lagi males aja ketemu dia," aku langsung menatap lagi ke depan, fokus dengan pemateri. Tidak mau mengingat dia lagi. Aku harus segera menelpon orang tuaku, untuk membatalkan pernikahan kami. Entah kenapa, rasa itu semakin hari semakin hilang, setelah melihat dia bersama adiknya Retno, tertawa dan bercanda begitu asyiknya bahkan sampai melupakan kehadiran diriku di sisinya.


Sudah berulang kali aku mencoba melupakan hal itu, tapi sulit sekali rasanya. Dadaku malah semakin sesak. Biarlah, aku akan menyelesaikan KKN dulu, baru nanti membereskan masalahku sama dia.


"Nur, kalau ada masalah itu, baiknya di hadapi, bukannya di hindari. Gak baik loh. Apalagi Kalian sudah bertunangan. Bahkan tanggal pernikahan saja sudah di tetapkan," kali ini Nida yang mulai menasehatiku, aku hanya bisa diam saja dan mendengarkan mereka.


Biarlah luka ini aku pendam sendiri. Aku rasa tidak perlu menceritakan duka hatiku. Aku gak mau, masalah percintaanku menjadi konsumsi publik.


Akhirnya acara pembekalan KKN selesai juga. Aku sangat lelah sebenarnya, niatnya mau ke kost saja. Tidur. Tapi aku ingat kalau aku harus ke kampus lagi, menemui dosen pembimbing. Penelitian sudah di depan mata, KKN juga sudah menunggu. Sibuk sekali rasanya.


Saat aku mau masuk ke gerbang kampus, aku melihat motor calon suamiku yang di parkir di depan kampus, aku langsung putar arah dan kembali ke kostku.


"Biarlah nanti aku ke kampus lewat belakang saja. Kalau bawa motor nanti jadi susah, aku taruh motor di kost saja," setelah motor aku masukan ke dalam, aku bergegas ke kampus lewat pintu belakang. Dengan hati-hati aku lewati pagar kampus, melihat sekitar.


"Semoga dia sudah pergi," saat aku rasa sudah aman, aku langsung masuk ke ruangan Dosen pembimbing skripsi ku. Hampir satu jam berdiskusi, setelah selesai aku bergegas ke luar, niatnya mau ke perpustakaan.


Namun di kejauhan aku melihat dia berjalan ke arahku. Dengan cekatan aku langsung lari, bersembunyi di ruangan BEM. Untung ruangan itu tidak terkunci, aku jadi bisa meloloskan diriku.


Dengan terengah-engah aku duduk di kursi yang kosong di sana. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan ketua BEM kami, pria rupawan itu. Aku jadi malu karena masuk ke sekret tanpa ijin.

__ADS_1


"Maaf Kang. Ijin istirahat sebentar ya," aku melihat ke luar lagi. Dari kejauhan aku melihat dia mencari keberadaan diriku. Aku berharap dia segera pergi dari kampusku. Aku sudah lelah sekali, ingin tidur rasanya. Seharian berlarian ke sana ke mari. Sungguh melelahkan.


"Apa kamu sedang di kejar seseorang?" tanya ketua BEM ku sambil mendekatiku. Aku hanya bisa menjawab sambil berbisik-bisik. Takut kalau dia mendengar percakapan kami.


"Saya hanya tidak mau bertemu dengan dia," ketua BEM ku tampak menjulurkan kepalanya ke luar lalu melihat ke arahku.


"Siapa dia?" tanyanya lagi penasaran.


"Mantan calon suamiku," jawabku enteng, tidak disangka malah membuat ketua BEM ku malah tertawa tergelak.


"Apa yang lucu Kang?" tanyaku heran.


"Ternyata bukan cuma ada mantan suami, mantan calon suami juga ada ya?" mendengarkan pertanyaan dia, aku serasa lucu juga. Tanpa sadar aku juga malah tertawa.


"Ohh.. jadi kamu disini? Aku nyariin kamu kemana-mana, malah enak-enakan berduaan sama cowok lain di sini, keterlaluan!" aku terkejut ketika aku melihat ke ambang pintu, Dia sudah ada di sana, menatapku dengan penuh amarah.


"Nur, kalau ada masalah sebaiknya dibicarakan baik-baik, jangan dengan cara seperti ini," Ketua BEMku akhirnya keluar dan memberikan waktu kepada kami berbincang berdua.


"Kamu kenapa sih? Berhari-hari menyiksaku kaya gini." Aku hanya meliriknya sekilas. Malas sekali lihat muka dia.


Aku sudah bersiap pergi, namun dia menarik tanganku dan menyuruh duduk di kursi di depannya.


"Apa sih mau kamu? Ko tingkah kamu aneh begini. Kalau aku punya salah. Kamu harusnya bilang. Bukan menghindari begini." Dia mulai emosi.


"Aku mau kita putus," dia tampak syock mendengarkan keputusanku yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Gak bisa, pernikahan kita tinggal dua bulan lagi, persiapan sudah hampir 50% apa kamu gak kasihan sama orang tua kita?" dia mencoba menggenggam tanganku dan membawa ke dadanya, tapi aku berusaha menarik tanganku dari genggaman dia.


"Lepas gak?" mataku tajam menyorot matanya.


Gak tahu kenapa. Sejak hari itu, hatiku rasanya sangat sakit, rasanya jijik melihat dia.


"Kamu jangan kaya gini dong. Setidaknya jelaskan sama aku, apa kesalahanku, sehingga kamu berbuat begini?" dia berlutut di bawah kakiku dan memohon agar aku menjelaskan semua sikapmu saat ini.


"Aku cuma mau kita batalin pernikahan kita, udah yah. Aku capek, mau istirahat." Aku pergi dari sana. Tapi belum juga tiga langkah dia sudah menarikku ke pelukannya.


"Lepas gak? Kebiasaan banget sih." Aku kesal sekali dengan kelakuan dia yang suka memaksakan kehendak, sesuka hati saja.


"Aku gak akan pernah lepasin kamu, sampai kamu jelasin semuanya dan menarik kata-kata kamu tadi," pelukan dia makin erat, membuat aku kesulitan bernapas.


"Benar-benar menyebabkan!" dengan sekuat tenaga aku menginjak kakinya, saat dia lengah aku langsung lari menjauh darinya.


Injakan kakiku kayanya cukup membuat dia tidak mengejarku lagi. Aku langsung manjat tembok belakang kampusku dan pulang ke kost lama.


Aku tidak memperdulikan tatapan teman-teman yang lain yang menatapku dengan heran. Aku berlari seperti di kejar hantu saja.


Setelah berhasil melewati tembok belakang kampusku. Aku berjalan sekitar 5 menit menuju kost lamaku. Yang memang posisinya ada di belakang kampusku.


"Aku sudah memutuskan akan keluar dari pondok dan kembali ke kostku saja. Tidak mau berlama-lama lagi. Kalau tidak dia akan terus menterorku. Besok aku akan ke sana dan soan ke Pak Kiai sekaligus berpamitan dan mengambil barang-barang, " aku merasa tenang setelah mengambil keputusan.


Dengan kelelahan yang amat sangat. Aku langsung terlelap dalam tidurku. Aku tidak perduli dengan Dia lagi. Rasa kesal dan jengkel dihatiku teramat besar, gak sanggup buat memaafkan dia.

__ADS_1


Keputusanku sudah bulat. Akan membatalkan rencana pernikahan kami. Aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama laki-laki buaya itu yang begitu mudahnya bahagia bersama perempuan lain. Menyebalkan!!!!


__ADS_2