
Pov Ali
Hari ini, setelah mandi dan sarapan yang di bawakan oleh pembantu Dipta, aku bergegas ke rumah Dipta, yang jaraknya tidak terlalu jauh. Aku merasa bahagia, karena akhirnya aku bisa menemukan istri dan anakku. Pada saat aku akan mengetuk pintu, dari luar aku mendengar percakapan antara Nur dan Dipta, aku mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu, aku putuskan untuk duduk saja, di bangku teras, sambil mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Nur, kamu gak bisa berbuat begitu! Aku ini juga seorang laki-laki, aku bisa melihat kalau suami kamu tulus, dan tidak berbohong! Cobalah, untuk membuka hati kamu, untuk suamimu. Kasihan Rafi, dia masih kecil, masih butuh ayahnya. Aku mau melamar kamu, tapi kamu selalu menolak, lalu kenapa kamu juga mengusir suami kamu?" ucap Dipta mulai kehilangan kesadaran.
"Suamiku datang ke Jakarta bukan buat aku dan anakku! Kamu kok gak paham-paham, sih?" Nur juga mulai senewen karena sudah mau satu jam Dipta masih juga berusaha membujuk dirinya untuk mau kembali kepada suaminya. "Kamu emang gak kerja? Kasihan sekali perusahaan kamu, punya CEO seenak jidatnya aja?! Pulang pergi ke kantor semaunya!" cibir Nur sambil menatap sinis pada Dipta.
"Serah gue, lah! Udah, balik ke topik kita! Mau loe apa sekarang?" tanya Dipta mulai kesal juga dengan Nur yang sangat sulit diyakinkan hatinya.
"Gue akan pulang ke Cirebon dan mengurus perceraian kami!" ucapan Nur sukses membuat Ali terpukul hatinya. Air mata tanpa terasa lolos dari matanya. Ceruk matanya yang menghitam, menjadi saksi berapa banyak dia sering menangis di tengah malam, merindukan istri dan anaknya.
"Apa kesalahku begitu fatal? Sehingga kamu gak bisa memaafkan aku?" Tiba-tiba tubuh Ali limbung dan jatuh menimpa meja yang ada dihadapannya. Dipta dan Nur yang sedang fokus berdiskusi merasa kaget ketika mendengar suara kedebug yang arahnya dari luar.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Nur terperanjat dari duduknya.
"Kamu disini saja, aku periksa dulu!" ucap Dipta. Lalu keluar dan melihat apa yang terjadi di teras rumahnya. Betapa terkejutnya Dipta ketika mendapatkan suaminya Nur jatuh pingsan dan kepalanya membentur meja. Tampak Darah segar mengalir dari kepalanya. Dipta langsung lari ke dalam rumah dan memanggil Nur dan beberapa pelayannya.
"Nur, cepat lihat ke depan! Suami kamu pingsan! Kepalanya membentur sudut meja dan mengeluarkan darah banyak sekali. Aku mau ambil ponselku dulu di kamar, mau hubungi ambulans!" Dipta langsung berlari ke lantai atas dan mengambil ponselnya. Saat Dipta melihat Merry, Dipta menyuruhnya untuk membantu Nur menolong suaminya yang kini sedang pingsan.
Merry mulai panik saat dilihatnya banyak darah di lantai. dengan cekatan Merry membantu Nur untuk mengangkat tubuh suaminya ke dalam ruang tamu lalu diletakkan di atas sofa. Merry kemudian membersihkan darah yang berceceran di lantai.
"Dipta kenapa ambulance-nya lama sekali aku takut kenapa-napa dengan suamiku!" Nur sudah merasa ketakutan. Sementara Raffi sudah mulai menangis karena terbangun dari tidurnya. Keributan di luar mungkin mengganggu tidur bayi tampan itu. Atau mungkin juga bayi kecil itu bisa merasakan bahwa ayahnya kini dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Tenanglah Nur! Ambulans sudah dalam perjalanan kemari coba kamu longgarkan dulu kerah kemejanya supaya dia bisa bernafas dengan baik!" Sambil menunggu kedatangan Ambulans, Nur menyusui anaknya yang masih menangis dan rewel. Setelah tenang, Nur kemudian ke ruang tamu, melihat keadaan suaminya.
"Itu ambulance nya sudah datang! Kamu di rumah saja dulu, kasihan rafi kalau di bawa ke rumah sakit. Ok?" ucap Dipta sambil mengelus pipi Nur yang saat ini sedang tegang hatinya, melihat keadaan suaminya.
__ADS_1
"Biar Rafi sama saya, gak apa-apa, Tuan! Mba Nur bisa menemani suaminya. Kasihan dia, nanti bangun pasti mencari istrinya!" ucap Merry. Nur menatap Merry keheranan tumben sekali Merry berbaik hati kepadanya biasanya Merry selalu julid dan iri dengki kepada dirinya.
"Baiklah Nur, berikan Raffi kepada Merry biarkan dia yang menjaga Raffi untuk sementara. Ayo kamu ikut dengan saya menjaga suamimu di rumah sakit. Benar apa yang dikatakan oleh Merry nanti ketika suami kamu sadar, pasti orang yang pertama dia cari adalah kamu." ucap Dipta,lalu dirinya mengeluarkan mobil dan mengikuti ambulans yang membawa suaminya Nur ke rumah sakit.
Selama dalam perjalanan tidak ada percakapan di antara keduanya, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Nur saat ini sedang bingung apa yang akan dia lakukan ketika suaminya terbangun.
Sementara Dipta sedang memikirkan Bagaimana caranya agar dia bisa membantu pasangan suami istri itu untuk bisa bersama lagi. Dipta mengakui bahwa dirinya memang menyayangi Raffi dan ada sedikit rasa terhadap Nur yang selama beberapa bulan ini telah mewarnai hidupnya yang sunyi dan kesepian setelah istri dan anaknya meninggal dunia, dirinya tidak ingin menghancurkan rumah tangga orang lain, bisa dilihat bahwa suaminya Nur sangat mencintai istri dan anaknya bahkan sampai rela mencari istri dan anaknya ke Jakarta.
" Nur, cobalah untuk membuka perasaan kamu untuk membuka hati kamu, agar bisa melihat pengorbanan dan cinta suamimu, aku aja yang orang lain bisa melihat ketulusan dan cinta di mata suamimu! Matanya hanya tertuju kepadamu! Aku bisa melihat bahwa suamimu hanya mencintaimu! Kemarin tidak sedikitpun aku melihat suamimu menatap Riyanti. Bahkan aku merasa bahwa dia terkesan cuek dengannya. Nur, bukalah pintu hatimu untuk memaafkan kesalahan suami kamu yang mungkin hanya tergoda sesaat. Pahamilah! Jadikan itu sebagai suatu ujian yang akan menguatkan cinta kalian berdua. Percayalah Nur akan ada kebahagiaan setelah kamu mencoba untuk memaafkan! Tidak semua kesalahan harus dijatuhi hukuman fatal! Kadang kesalahan itu akan membuat kita menjadi lebih dewasa dan bijaksana dalam melihat situasi dan kondisi. Please Nur! Aku kasihan lihat suami kamu, dia sampai sakit loh, demi mencari kamu dan anakmu. Kamu nggak melihat cekung dan garis hitam dari matanya? itu pasti karena dia sering menangis di tengah malam dan mendoakan kamu dan anak kamu. Aku aja sedih lihat muka dia Nur, masa kamu tidak tersentuh hatimu melihat keadaan suamimu?" Dipta melihat Nur kini mulai berderai air matanya.
" Hatiku masih sakit Dip! Ketika mengetahui bahwa suamiku memikirkan dan mencintai perempuan lain! Aku nggak sanggup, Dip! Aku juga mencintai dia, tapi aku nggak mau hidupku harus dihantui dengan perasaan seperti itu! Aku nggak akan sanggup, Dip! Siapa sih perempuan yang mau hidup menjanda? Siapa sih perempuan yang rela memberikan suaminya kepada wanita lain? Aku bukan perempuan suci ataupun malaikat yang bisa sekuat itu Dip! Aku hanya manusia biasa yang tidak akan sanggup berbagi suamiku dengan wanita manapun! Tolong pahami aku juga Dip!" Nur Nur kemudian menangis tersedu-sedu.
Difta menarik napas dalam sangat sedih melihat keadaan suami istri tersebut. Yang saling mencintai tetapi dipisahkan oleh kesalahpahaman dan keadaan. Semesta seperti nya memang sedang menguji kekuatan cinta mereka berdua. Dengan ujian dan penderitaan cinta.
__ADS_1