
Pagi-pagi aku bulatkan tekatku untuk menelpon orang tuaku di Cirebon, aku ingin pernikahan kami di batalkan. Aku semakin muak saja dengan kehadiran dia, selama beberapa hari ini dia terus menterorku di kampus, sehingga membuat aku tidak leluasa berangkat kuliah atau sekedar bimbingan skripsi.
"Assalamualaikum Mah,"
"Waalaikum salam sayang, apa kabarmu?"
"Baik Mah, Mah.. Ada hal yang ingin Nur sampaikan. Nur ingin membatalkan rencana pernikahan kami," aku sebenarnya takut dengan reaksi orang tuaku tapi aku harus segera memberi tahu mereka, sebelum persiapan lebih jauh lagi.
"Kenapa memangnya? Apa ada masalah dengan calon suami kamu?" mamahku sudah kwatir di sebrang sana dengan niatku.
"Aku gak mencintai dia lagi Mah, dia buaya," ucapku sambil menahan tangis.
"Gak kok Mah, pernikahan kami tetap lanjut!" aku terkejut saat tiba-tiba saja ponselku sudah berpindah tangan.
Saat aku menoleh, ternyata Mas Ali sudah ada di sampingku, menatapku dengan tajam. Setelah bicara sebentar dengan Mamahku dia lalu menutup ponsel dan memasukan ke kantong celananya. Aku kesal melihat dia. Aku langsung masuk ke kostku dan mengunci kamarku.
tok tok tok
"Mau berapa lama kamu begini? Apa kita tidak bisa bicarakan semuanya baik-baik? Ayolah, jangan menyiksaku seperti ini," dia masih juga belum menyerah, aku menutup kupingku dengan bantal supaya tidak mendengarkan kata-katanya.
"Sayang, kalau aku punya salah, kamu bilang dong sama aku, jangan kaya gini. Aku pasti berusaha memperbaiki diriku agar kamu gak merasa terganggu," dia diam menunggu tanggapan ku.
"Ada apa ini ribut-ribut?" ibu kostku datang.
"Maaf Bu, saya lagi ada masalah dengan calon istri saya, maaf sudah membuat keributan," aku aga deg-degan saat mendengar suara ibu kostku.
"Bicarakan di luar, jangan di sini. Ini kost khusus akhwat, tidak boleh sembarangan laki-laki masuk kesini," ibu kostku lalu mengetuk pintu kamarku.
__ADS_1
"Mba Nur, ini ibu, bisa kita bicara sebentar?" aku mau tidak mau membuka pintu dan meminta ibu kost buat masuk.
"Ada masalah apa? Kenapa sampai ribut-ribut begini?" ibu kost duduk di tepi ranjang ku dan menatapku dengan intens mencoba memahami masalah yang tengah aku hadapi.
"Maaf Bu, saya minta ijin menginap disini tujuannya mau menenangkan diri. Memikirkan keputusan saya untuk menikah dengan Dia. Tapi dia sudah beberapa hari ini terus menterorku, entah dari mana dia tahu kost ini," aku menunduk takut beliau marah.
"Bicarakan baik-baik kalau ada masalah, lari tidak akan menyelesaikan apapun," ibu kost mengusap telapak tanganku dengan lembut.
"Ayo temui dia, jelaskan apa yang kamu mau," aku mengangguk lalu keluar dari kamarku.
"Maafkan aku kalau aku punya salah sama kamu, tapi Please jangan batalin rencana pernikahan kita," dia masih keukeuh juga dengan kemauan dia.
"Gak mau, aku sudah bulat. Aku gak mau menikah dengan kamu, sebaiknya kamu juga hubungi orang tua kamu, batalkan pernikahan kita," aku langsung masuk ke kamarku.
Saat dia hendak menyusul ke kamarku. Ibu kost sudah mencegahnya, Untung saja saat ini Kost sepi, tidak ada teman yang lain. Mereka masih pada di kampus masing-masing. Kalau tidak, aku pasti malu dengan drama yang menyebabkan ini.
"Waktu pernikahan sudah ditetapkan, kalau dibatalkan apa nanti kata keluarga besar kami Bu?" aku dengar suaranya agak parau sekarang.
"Tapi saat ini Nur dalam keadaan kalut, kamu harus pahami dia. Beri dia waktu, ibu janji, nanti bantu bicarakan. Nanti ibu suruh dia kembali ke pondok, biar nanti di diskusikan sekaligus dengan Pak Kiai kalian, Semoga ada jalan keluarnya," aku mendengar suara motornya menjauh dari kostku.
Aku lega karena akhirnya dia pergi. Dia membawa ponselku. Dasar menyebalkan. Belum jadi suami saja sukanya berbuat sesuka hati begitu.
Setelah memberikan beberapa nasehat dan wejangan akhirnya Bu kost pamit dari kamarku. Aku memutuskan besok akan datang ke pondok. Dan keluar dari sana. Keputusanku sudah bulat, aku tidak mau menikah dengan buaya darat itu.
Keesokan harinya, aku pulang ke pondok, langsung soan kepada Pak Kiai, minta ijin untuk keluar dari pondok.
"Apa alasannya? Kenapa mendadak begini?" tanya Pak Kiai padaku.
__ADS_1
"Maafkan saya Pak Kiai, saya mau fokus dengan skripsi dan KKN saya. Di kost lokasinya lebih dekat dengan kampus," aku gak bisa bilang kalau saat ini aku sedang ada masalah dengan Mas Ali, calon suamiku, masih belum siap, berterus terang kepada beliau.
"Ya sudah, kalau sudah keputusannya begitu. Abah hanya berpesan, baik-baik jaga dirimu, belajar yang benar, jangan kecewakan kedua orang tua kamu," aku hanya mengangguk saja lalu mencium tangan beliau dan kembali ke kamarku.
Saat aku masuk ke kamar, aku lihat sudah ada tiga orang perempuan, santri putri baru mungkin saja. Tapi aku gak perduli, walaupun disana ada Endah tetangga desaku, dia pindah ke sini rupanya.
"Loh Mba kok berkemas? Mau kemana Mba?" tanya Endah heran sambil menatap ke arahku.
"Mba mo keluar dari pondok, pengen fokus di kampus," aku melanjutkan kembali berkemas.
Saat aku sibuk berkemas tiba-tiba ada seseorang mengetok pintu kamar kami, "Mba, Pak Lurah mencari Mba," Aini menatapku dengan sendu.
"Bilang saja, Mba sibuk, gak bisa di ganggu. suruh dia pergi dari sini," aku menolak untuk bertemu dengan dia. Sebal saja rasanya.
"Nur sebenarnya apa salahku sampai kamu melakukan hal sejauh ini? Kenapa kamu hukum aku kayak gini? Tidak bisakah kita bicarakan baik-baik?" suaranya sudah serak, dari kemarin dia mencoba membujuk tapi hatiku tidak tersentuh sama sekali. Muak saja rasanya.
"Aku sudah berkali-kali bilang kita batalin rencana pernikahan kita, kenapa gak ngerti juga sih? Ngerti bahasa Indonesia gak sih? Kalau aku disuruh bicara bahasa Arab, aku yang gak bisa," ucapku ketus di ambang pintu.
Rasanya hati ini sudah tertutup saja, gak perduli dia mo bicara apa juga. Melihat mata dia yang memiliki lingkaran hitam, aku sebenarnya agak tersentuh. Dia pasti tidak tidur dengan nyenyak beberapa hari belakangan ini.
"Pernikahan kita tidak akan dibatalkan, aku sudah menghubungi keluarga kita. Rencana akan tetap berjalan," dia menatapku dengan sendu.
"Silahkan dilanjutkan, aku gak akan pulang ke Cirebon, kamu bisa menikah sama adiknya Retno, aku gak perduli," ucapku sambil masuk ke kamarku. Kesal hatiku, menyebutkan nama wanita kegatelan itu, yang seenaknya saja tertawa-tawa dengan dia waktu itu.
"Jadi kemarahan kamu karena kamu cemburu sama Mawar? Dia itu sepupu aku, aku gak ada hubungan apapun sama dia, bisakah kamu jangan kekanak-kanakan kayak gini?" ucapnya mulai pelan.
"Aku itu kekanak-kanakan dan gak masuk akal, jadi kamu menikah saja sama wanita gatal itu, udah sana pergi... muak aku lihat mukamu," usirku dengan kesal. Aku tidak perduli dengan seisi pondok yang melihat keributan kami. Siapa suruh dia mancing emosiku?
__ADS_1