
Dipta merasa bingung karena Bima terus menangis dalam pelukannya tidak bisa dibujuk untuk diam sejak tadi.
"Gue mau berhenti nangis. Asal lu janji bahwa lu bakal jodohin anak lu sama anak gue!" ucap Bima dalam Isak tangisnya. Sehingga membuat Dipta benar-benar kalang kabut.
"Yaelah gue bukan hanya berfungsi sebagai sahabat lu. Tapi gue udah kayak nyokap lu yang diamin anaknya nangis pakai lolipop! Hahaha!" ucap depta Sambil tertawa terbahak-bahak yang membuat Bima menjadi kesal dibuatnya.
"Lu jahat banget sih! Gue lagi sedih kayak gini, lu masih sempet-sempetnya ketawa-ketawa bahagia. Lu sebetulnya sahabat gue atau musuh gue sih?" protes Bima sambil memanyunkan bibirnya sehingga membuat Dipta semakin tertawa terbahak-bahak.
"Lah elu sudah tahu gue jahat. Masih ngebet juga pengen anak lu kawin sama anak gue. Hahaha lu sungguh aneh banget sih Bim!" ucap Dipta masih dengan tertawa sehingga membuat Bima jadi jengkel dan kemudian langsung menggelitik Dipta terus menerus untuk melampiaskan kejengkelan di dalam hatinya.
Dipta sampai tertawa tergelak karena tidak mampu menghadapi keusilan Bima yang luar biasa. Mereka terus tertawa seperti dunia hanya milik mereka berdua. Sehingga tidak menyadari bahwa Sheila sudah ada di antara mereka berdua.
" Ya Allah Kalian sudah pada besar masih bermain seperti itu?" tanya Sheilla sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sontak Bima dan Dipta yang sedang bercanda di sofa itu pun terkejut dan langsung menolehkan kepala mereka ke sumber suara.
" Sheila?" teriak Dipta terkejut.
"Sayang?" teriak Bima tidak kalah terkejutnya.
Sheilla hanya tersenyum melihat kebodohan wajah keduanya. Kemudian dia meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja.
"Maaf kalau aku ganggu acara kalian bercengkrama. Dari tadi aku menghubungimu sayang! Tapi kau tidak mengangkat juga panggilan dariku. Jadi aku khawatir kalau terjadi apa-apa denganmu sayang. Makanya aku tengah malam begini datang ke sini! Tidak tahunya kau sedang bercengkrama bahagia sekali dengan Dipta!" ucap Sheila sambil menatap tajam kepada Bima dan juga Dipta yang saat ini merasa seperti sedang diinterogasi oleh calon istrinya Bima yang tampaknya sedang cemburu kepada Dipta.
Bima langsung bangkit dari atas tubuh kita dan mendekat kepada Sheila yang kini tampak cemberut menatapnya.
__ADS_1
"Maaf sayang! Aku cuma sedang menghibur Dipta yang sedang sedih karena lamaran dia tidak direstui oleh ibunya. Dari tadi dia cemberut terus. Jadi aku mencoba untuk menghibur dia supaya bisa tertawa lagi!" ucap Bima berusaha menjelaskan kepada Sheila Apa yang sedang dia lakukan bersama dengan Dipta.
"Kamu mau melamar seseorang Dip?" tanya Sheila Tanpa tertarik dengan informasi yang diberikan oleh Bima tentang Dipta.
'Tampaknya akan bagus kalau Dipta sudah menikah. Pasti interaksi dia dengan Bima akan berkurang. Karena pastinya dia akan lebih memperhatikan istrinya daripada bima-ku!' batin Sheila merasa senang dengan pernyataan Bima bahwa Dipta akan melamar seorang perempuan.
"Iya rencananya besok saya mau melamar perempuan yang saya mau jadikan istriku. Tetapi nyokap gue nggak merestui pernikahan gue sama calon gue. Makanya gue bingung dan minta solusi sama Bima. Tetapi seperti biasa dari tadi dia bukannya ngasih solusi malah bikin runyam segalanya!" ucap Dipta sambil melemparkan tatapan membunuh kepada Bima yang sudah gentar melihatnya.
"Katakanlah! Aku akan membantumu untuk melamar calon istrimu. Aku akan minta kepada kedua orang tuaku untuk melamar kan calon istrimu. Bagaimana dengan ideku, apakah kau mau?" tanya Sheila sambil tersenyum kepada Dipta.
Seketika wajah Dipta berbinar sangat bahagia mendengarkan tawaran Sheila yang begitu menggiurkan hatinya.
"Ah sayang! Kau ini gimana sih? Aku tuh lagi menggunakan itu untuk bernegosiasi sama Dipta! Supaya dia mau menjodohkan anaknya dengan anak kita. Ah kau ini gimana sih? Kau merusak rencana usaha aja!" protes Bima sambil menatap tajam kepada Sheila yang sekarang malah bingung dengan apa yang dikatakan oleh calon suaminya.
"Ya ampun rupanya kau benar-benar serius ingin menjodohkan anak kita dengan anaknya Dipta?" tanya Sheila sambil dengan tertawa terbahak-bahak mendengarkan perkataan Bima calon suaminya.
"Aku heran banget deh sama kalian berdua. Kok kalian kayaknya sentimen banget dengan cita-cita gue itu? Itu tuh cita-cita gue dari dulu! Gue pengen banget buat jodohin anak kita berdua! Biar kita bisa menjadi keluarga selamanya dan tidak terputus silaturahmi!" ucap Bima dengan wajah memelas sehingga membuat Sheila dan Dipta jadi tidak enak hati kepada Bima karena dari tadi terus menertawakannya.
"Baiklah gue mengalah sama lu! Kita buat perjanjian di atas hitam dan putih! Kalau nanti anak-anak kita kalau udah nesar akan dijodohin. Sekarang Lu puas?" ucap Dipta.
Akhirnya Dipta mengalah juga kepada Bima dan karena saking bahagianya Bima langsung memeluk dan mencium Dipta. Sehingga membuat Sheilla menjadi terkejut dengan kelakuan calon suaminya itu yang overdosis.
"Ih najis deh gue dicium dipeluk sama lu! Jauh-jauh lu dari gue! Tuh kalau mau cium-cium dan peluk-peluk, peluk aja tuh calon bini lu! Idih amit-amit!" serudepta sambil berusaha melepaskan cengkraman Bima dari tubuhnya dengan badan terus bergidik sejak tadi sehingga membuat Bima tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi sahabatnya yang sangat lucu.
Sheilla pun tertawa ketika melihat kelakuan Bima yang absurd.
__ADS_1
'Ya Allah persahabatan mereka memang murni dan aku bangga karena Sahabat suamiku adalah Dipta. Dia laki-laki baik yang selalu membuatnya selalu bahagia. Semoga nanti kalau aku sudah menikah dengannya, aku tidak akan pernah memisahkan persahabatan antara mereka berdua?' doa Sheila di dalam hatinya ketika melihat Bima dan Dipta yang begitu bahagia dengan persahabatan mereka yang sejati.
"Udah Bima stop ah! Kau ini bener-bener. Bikin aku kesel aja! Sana kau peluk cium Sheilla aja! Jijik gue di ciumin lu dari tadi! Cepat jauh-jauh dari gue!" Dipta terus saja berusaha mberontakan dari cengkraman Bima yang tidak mau melepaskan pelukannya dan juga ciumannya. Sehingga membuat Dipta akhirnya tanpa sengaja malah menendang tongkat saktinya Bima.
Sontak membuat Bima langsung menjerit kesakitan sehingga membuat Dipta dan Sheila terkejut di buatnya.
"Awwwwww!" teriak Bima mengguncangkan apartemennya di tengah malam buta.
"Lu Kenapa Bim?" tanya Dipta terkejut.
Sheila juga terkejut mendengarkan teriakan Bima yang melengking dan terdengar penuh penderitaan.
"Ya Allah Dipta! Lu jahat banget sama gue! Masa pulak gue lu tendang sih? Aduh Sayang kalau nanti malam pertama kita tongkat saktiku tidak mau bangun, kau salahkan Dipta! ini semua kesalahan dia!" ucap Bima sambil meringis kesakitan dan memegangi selangkangannya yang berdenyut kesakitan.
Mendengarkan perkataan Bima. Sontak Sheila dan Dipta tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu dengan nasib buruk yang dialami oleh Bima saat ini.
"Ya Allah Sayang! Saya kira kenapa kau menjerit di tengah malam seperti ini. Jadi adik kesayangan kamu kena tendang Dipta? Kasihan sekali kamu sayang! Hahaha!" ucap Sheila sambil terus tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Bima jadi malu dibuatnya.
"Pokoknya kalau ada apa-apa dengan malam pertama gue sama Sheila. Lu harus tanggung jawab sepenuhnya sama gue!" ucap Bima sambil mendekat ke arah Dipta dengan tatapan horornya sehingga membuat Dipta menjadi ketakutan dan akhirnya dia melarikan diri dari apartemen Bima.
"Sayang! Cepat kau panggil Dipta. Tadi kita kan belum menyelesaikan perjanjian masalah Perjodohan itu. Dia main kabur aja! Awas tuh Dipta! Sungguh bikin gemes aja!" ucap Bima sambil terus memegangi selangkangannya masih berdenyut dan kesakitan gara-gara ditendang oleh Dipta.
Sheilla bahkan sampai sekarang masih tertawa terbahak-bahak. Ketika melihat ekspresi Bima yang sangat lucu.
"Ya udah Sayang! Aku pulang dulu ya? Kamu istirahatlah! Besok kita akan menolong Dipta untuk lamarannya. Aku nanti pagi-pagi akan berbelanja semua kebutuhannya bersama kedua orang tuaku. Kau tinggal datang bersama dengan Dipta. Kami akan menunggu kalian di kediaman mempelai perempuan jam 10.00 pagi! jangan lupa kau sampaikan kepada Dipta ya?" pesan Sheila sebelum dia meninggalkan apartemen Bima.
__ADS_1