
Bagas tampak terkesiap ketika mendengarkan Ayah mertuanya bercerita tentang Nadia dahulu yang pernah menganut ilmu hitam dan bahkan pernah mencari tumbal untuk pesugihannya.
"Tadi malam Riyanti dapat gangguan. Dia bahkan sampai tidak bisa tidur. Anak di dalam perutnya terus bergerak-gerak seperti diganggu. Seperti itu, Pah! Pasti Papa ngerti kan kalau anak di dalam perut mendapatkan usapan atau gangguan dari makhluk halus?" tanya Bagas kepada ayah mertuanya yang tampak mengangguk-ngangguk.
"Papa pun tadi malam tidak bisa tidur. Mungkin karena Nadia sudah kembali ke rumah ini, oleh karena itu para makhluk yang dulu pernah menjadi sekutunya kembali mengganggu Nanti papa akan meminta kepada Pak Kyai untuk meruqyah rumah Papa. Agar steril dari makhluk-makhluk yang tak kasat mata yang dulu mungkin pernah ditanamkan oleh Nadia di rumah ini!" ucap ayahnya Nadya.
"Jadi tadi malam. Kalian berdua juga dapat gangguan? Oleh karena itu kalian tidur di ruang tamu?" tiba-tiba saja Nadia sudah hadir di antara mereka sehingga membuat Bagas merasa tidak enak karena sudah bertanya tentang masa lalu kelam kakak iparnya.
"Maafkan saya ya Kak Nadya, kalau Kak Nadya merasa tersinggung dengan saya bertanya seperti ini kepada papa!" ucap Bagas menundukkan kepalanya bagaimanapun ada perasaan janggal dan canggung ketika dia menetap mata Nadiah yang tampak Sayu dan juga sedih.
"Pah kalau acara lamaran hari ini tidak jadi, semoga papa tidak membenci Mas Dipta, ya? Memang tidak akan mudah untuk menerima masa lalu Nadya yang sangat kelam dan menakutkan." ucap Nadia seperti merasakan beban berat yang ada di dadanya seakan menghimpitnya dengan ribuan ton batu yang membuatnya sesak nafas seketika.
"Pasti Mas Dipta kesulitan untuk meyakinkan ibunya. Untuk mau melamar Nadia. Nadia mohon Papa sama Mama jangan sampai marah kalau acara lamaran Ini dibatalkan begitu saja oleh Mas Dipta.
"Tidak apa-apa Nadia! Lalaupun acara hari ini tidak jadi. Nanti kita akan memanggil anak-anak di pondok pesantren untuk mendoakan rumah kita. Sekalian meruqyah rumah kita agar steril daripada gangguan makhluk-makhluk yang dulu pernah mengganggumu dan pernah kau berjadikan sebagai junjunganmu!" ucap ayahnya Nadia sambil tersenyum kepada putrinya yang saat ini menundukkan kepalanya merasa malu terhadap adik iparnya yang sejak tadi terus menatapnya dengan iba.
"Maafkan Kak Nadya yah Bagas! Semua yang dilakukan oleh saya tidak ada hubungannya dengan Rianti. Tolong jangan sampai apa yang saya lakukan di masa lalu jangan sampai berakibat ke dalam hubunganmu dengan Riyanti!" ucap Nadia dengan nada sungguh-sungguh karena dia merasa tidak enak apabila Rianti pun harus menanggung penderitaan karena ulahnya di masa lalu.
"Jangan khawatir Kak. Saya mencintai Rianti dan saya tahu bahwa Rianti adalah gadis yang baik. Kalau kalian sudah berubah. Saya rasa tidak akan ada yang mempermasalahkan lagi tentang masa lalu Kak Nadya." ucap Bagas memberikan semangat kepada Nadia agar tidak patah orang.
__ADS_1
"Benar Nadia! Papah pun percaya kalau kamu pasti bisa melewati semua ini dengan baik. Percayalah kalau seandainya Dipta, memang bukan Jodohmu. Pasti akan dikirimkan jodoh yang lebih baik daripada Dipta oleh Allah?" ucap ayahnya ingat dia memberikan semangat kepada Nadia.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja di luar rumah kedua orang tuanya Nadya tampak ramai orang berduyun-duyun menggunakan mobil. Sehingga membuat orangnya ada di dalam rumah tampak terkejut.
"Coba kau lihat Bagas. Ada apa begitu ramai di depan. Apakah keluarga calon besan kita sudah datang?" perintah ayahnya Nadia kepada Bagas untuk melihat siapa kira-kira yang datang dengan menggunakan mobil begitu ramai.
Bagas kemudian bangkit dan melihat ke depan dan ternyata dia mendapatkan Bima dan juga Dipta yang tersenyum kepadanya.
"Itu iring-iringan keluarganya Mas Dipta, Pah!" ucap Bagas dengan senyum bahagianya karena apa yang ditakutkan oleh keluarga ini bahwa lamaran akan dibatalkan oleh keluarga Dipta ternyata gugur.
Ayah Nadia langsung bangkit dan menyambut calon besan mereka untuk datang dan masuk ke dalam rumah mereka.
Ibunya Nadia dan juga Riyanti yang masih sibuk di belakang mempersiapkan segala keperluan acara lamaran pun merasa bahagia karena acara lamaran Nadya dan Dipta. Ternyata jadi dilaksanakan pada hari ini.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh tentu saja Pak Baskoro Silakan masuk kami sudah menunggu dari tadi!" sambut ayahnya Nadia dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk Paman Dipta dengan penuh haru.
"Ya Allah terima kasih dengan kedatangan kalian. Ini sungguh benar-benar mengejutkan bagi saya. Di saat kami sudah merasa putus asa dengan acara lamaran hari ini. Ternyata kalian masih melanjutkan rencana lamaran dadakan yang dibuat oleh Dipta ini!" ucap ayahnya Nadia sambil tersenyum kepada mereka dampak Dia sangat bahagia sekali dan terharu dengan acara besar putrinya.
Tampak ibunya Dipta maju ke depan dan meminta maaf kepada keluarga Nadia.
__ADS_1
"Maafkan kami ya? Kalau kedatangan kami terlambat. Maklumlah ini acara sangat mendadak sekali. Sehingga kami tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya!" ucap ibunya Dipta sambil tersenyum kepada ayahnya Nadia yang tampak terharu dan berlinang air matanya.
"Ayolah Pak! Masa di acara bahagia seperti ini, bapak menangis? Bukankah seharusnya kita tertawa dan tersenyum?" ucap salah seorang anggota keluarga Dipta yang ikut dalam acara lamaran tersebut.
"Ayo semuanya masuk ke dalam. Ayo semuanya! Ayo jangan di luar!" ucap ibunya Rianti Sambil tertawa merasa sangat bahagia karena acara lamaran itu jadi akhirnya.
Setelah sejak semalam mereka tidak bisa tidur karena takut acara lamaran ini tidak jadi. Karena mereka mengingat masa lalu Nadia yang begitu kelam dan buruk sebagai seorang mantan narapidana dan juga mantan penganut pesugihan yang sudah membunuh banyak orang sebagai tumbalnya.
Akhirnya semua keluarga pun duduk di ruang tengah dengan berlesehan yang sudah dipersiapkan oleh Bagas sejak kedatangan mereka tadi secara mendadak.
Maklumlah tadinya mereka merasa pesimis bahwa acara lamaran hari ini akan jadi. Sehingga persiapan tampak begitu tergesa-gesa. Bahkan makanan dan kue pun banyak yang belum jadi sehingga akhirnya mereka hanya menyantap seadanya yang sudah disiapkan oleh ibunya Riyanti.
"Maaf ya, kalau suguhan kami kurang berkenan di hati semuanya. Tolong di maklumi ya? Kami tadinya merasa pesimis sekali bahwa acara hari ini akan jadi!" ucap ibunya Rianti menerangkan apa ucap ibunya Rianti menerangkan semua situasi dan kondisi di dalam rumahnya secara jujur tanpa berbohong ataupun menutupinya.
Tampak Dipta sedang menatap kepada Nadia yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya dan Dipta juga melihat bahwa saat ini Nadia sedang terisak dalam tangisnya.
"Lihatlah calon istrimu terlihat begitu cantik. Walaupun dia sedang menangis!" bisik Bima di telinga diftah yang membuat Dipta tersipu dan melirik sekilas kepada Nadia yang masih terisak dan bergetar tubuhnya.
Tampak keluarga Farel dan Cansu juga menghadiri acara lamaran. Tidak ketinggalan keluarga Bima sebagai suporter terbesar dalam acara hari ini yang mereka persembahkan untuk sahabat putranya.
__ADS_1
Kalau bukan karena bujukan dari keluarganya Bima. Ibunya Dipta mungkin tidak akan mau untuk melaksanakan acara lamaran hari ini.
Setelah semua proses acara lamaran selesai dan ditentukan tanggal pernikahan mereka berdua. Keluarga Dipta pun akhirnya berpamitan dan meninggalkan kediaman keluarga Nadia.