Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
136. Sahabat Sejati Yang Selalu Saling Memahami


__ADS_3

"Sejak dulu kita mengawali persahabatan kita dengan ketulusan dan juga saling memahami satu sama lain! Jangan pernah merusak persahabatan yang susah payah kita bangun selama puluhan tahun dengan pikiran kotor yang kelak akan kita sesali seumur hidup! Apalagi kita berdua adalah anak satu-satunya dari keluarga kita! Generasi penerus keluarga kita ada di tangan kita berdua saat ini. Kita tidak boleh menghancurkan harapan dan cinta kedua orang tua kita, dengan pikiran kotor yang menyesatkan dan juga menyimpang!" ucap Dipta penuh keyakinan di wajah tampannya.


"Apa yang lu katakan semuanya benar Dipta! Gue yang sesaat tergoda oleh bisikan setan untuk melakukan hal yang menyimpang dari ajaran agama kita!" ucap Bima sambil menundukkan kepalanya tampak menyesali apa yang pernah dia pikirkan tadi.


"Sudahlah kita istirahat saja. Besok kita pasti akan memiliki pikiran yang lebih fresh dan juga lebih tenang. Mungkin karena lelah dan lapar membuat kamu jadi berpikiran yang aneh-aneh dan juga mudah dipengaruhi oleh setan yang terkutuk!" ucap Dipta kemudian dia langsung membaringkan tubuhnya di sofa yang saat ini sedang dia duduki.


"Kita berdua tidur di kamar aja yuk! Badan lu nggak sakit tidur di sofa kayak gitu?" tiba-tiba Bima mengatakan sesuatu yang membuat kita menjadi melotot matanya dengan sempurna, lalu Dipta geleng-geleng.


"Kagak ah, gue geli tidur ama lu! Apalagi pikiran lu udah mulai ngeres sama gue! Gue takut lu nanti ngapa-ngapain gue!" ucap Dipta sambil tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Bima jadi misuh-misuh dan langsung melemparkan bantal yang saat ini ada di tangannya kepada Dipta.


"Sialan lu! Dasar teman durhaka!" sungut Bima sambil meninggalkan Beta di ruang tamu kemudian dia mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang milik Dipta.


Masih terdengar sayup-sayup tawa Dipta di luar sana, yang membuat Bima pun akhirnya tertawa juga. Bima merasa konyol dengan apa yang dia lakukan saat ini.


"Emang di dunia ini, cuma Dipta sahabat sejati gue! Sahabat sejati yang selalu saling memahami satu sama lain." Kemudian Bima pun memejamkan matanya dengan tenang.


Setelah memikirkan segala peristiwa yang terjadi hari ini yang membuat kepalanya tiba-tiba jadi error dan memikirkan aneh-aneh tentang hubungannya bersama dengan Dipta.


Kedua pria tampan itu akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Setelah meluruskan apa yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


Kesokan paginya, ketika Bima membuka matanya. Dia mencium aroma masakan dari dapur yang begitu menggugah seleranya. Dengan penuh semangat, Bima akhirnya keluar dan menemui Dipta yang sudah segar wajahnya dan sedang asyik memasak di dapur. Dipta tersenyum ketika melihat Bima yang keluar dari kamarnya.


"Ayo lo mandi dan sholat Subuh! Setelah itu kita sarapan bersama!" ucap Dipta sambil tersenyum bahagia kepada Bima, yang sekarang sudah mulai fresh wajahnya tidak kusut lagi seperti tadi malam.


"Lho emangnya udah mandi dan salat shunuh? Perasaan, ini baru jam 05.00. Lu udah koprak-kaprek di dapur saja! Lu udah seperti ibu rumah tangga saja! Hahaha!" ucap Bima sambil melarikan diri dari Dipta yang sudah melemparkan sebuah mentimun ke arahnya. tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Dipta yang mendapatkan godaan darinya di pagi hari.


"Sialan lu! Udah numpang di rumah gue, makan di rumah gue, buang kotoran di rumah gue! Masih banyak tingkah lu!" ucap Dipta sambil misuh-misuh karena Bima berani menggodanya sepagi itu.


Sementara itu, Bima yang saat ini sedang fokus untuk mandi dan juga salat subuh. Dia masih tertawa melihat ekspresi Dipta yang sangat menggemaskan baginya.


"Dipta lucu sekali kalau lagi ngamuk seperti itu! Haha!😂 😂!" Bima masih saja tampak terpingkal-pingkal di bilik kamar mandi ketika mengingat reaksi Dipta saat dirinya yang menggodanya tadi.


Setelah selesai mandi dan juga salat. Bima langsung keluar dari kamar Dipta dan Bima mendekati sahabatnya itu yang kini sudah rapi dan juga tampan. Tampak Dipta sudah siap untuk berangkat ke kantor.


"Gue mandi di kamar mandi luar dan gue ambil baju gue, saat lu masih tidur. Udah puas lu? Ngusir gue dari kamar gue sendiri?" tanya Dipta sambil fokus dengan sarapan yang saat ini ada di hadapannya.


Bima hanya tertawa mendengarkan protes dari sahabatnya itu, yang sejak dulu selalu ketus. Tetapi dia tahu bahwa hati Dipta adalah seorang pria yang sangat baik dan selalu peduli dan perhatian terhadap dirinya.


"Dipta, asik nggak sih? Kalau suatu saat kita jadi besan dan kita mengasuh cucu-cucu kita berdua bersama-sama. Kayaknya asik banget deh?" tiba-tiba saja Bima mengatakan sesuatu yang membuat Dipta melototkan matanya dengan sempurna.

__ADS_1


"Ya Allah! Nikah aja lu masih satu bulan lagi. Tapi disini lu udah ngomongin tentang jadi besan dan cucu segala! lo bener-bener konyol banget Bim! Apa segitu cintanya lu sama gue sampai nggak mau berpisah dari gue?" tanya Dipta sambil menggelengkan wajahnya yang tampak keheranan dengan isi kepala Bima sejak semalam tampaknya error terus.


"Iya Dip! Gue tuh cinta mati sama lu dan gue nggak sanggup kalau hidup berjauhan dengan lu. Makanya lu mau ya? Kalau nanti anak-anak kita, kita jodohin gitu.. Jadi kita bisa jadi besan dan kita tidak akan pernah berpisah selamanya!" ucap Bima dengan mukanya yang berbinar penuh dengan kebahagiaan.


"Ih jijik lu cinta sama gue! Gue masih cinta sama cewek Bro! 😅 😄 😆!" ucap Dipta sambil bergidik ngeri mendengarkan pengakuan Cinta dari Bima yang sangat monumental sekali.


Bima tertawa terbahak-bahak melihat titah yang kini misuh-misuh, "Pokoknya nanti kalau gue punya anak pasti akan Gue jodohin sama anak lu!" ucap Bima tidak memperdulikan pendapat Dita sama sekali.


"Kawin aja dulu bro! Baru lu mikirin tentang ngejodohin anak lo sama anak gue! Gua aja kagak tahu jodoh gue ada di mana. Gimana gue bisa janjiin bakal ngejodohin anak gue sama anak lu? Lu ada-ada aja sih, otaknya masih pagi udah error terus dari tadi!" ucap Dipta sambil melemparkan biji kacang yang ada di sebelahnya kepada Bima.


"Ya kaga apa-apa kan kalau kita ngerencanain masa depan kita berdua? Apa lo kagak lihat, perusahaan-perusahaan saja sudah membuat planning plan project mereka bertahun-tahun sebelum mereka memulai project dalam perusahaan mereka!" ucap Bima dengan penuh kesombongan.


"Yaelah bro! Lu dokter aja ngomongin tentang perusahaan segala! Emang lu ngerti apa tentang sebuah perusahaan huh?" ucap Dipta meledek Bima yang sekarang misuh-misuh kepadanya.


"Ah sialan lu, hobi lu cuman bikin gue jadi kesal aja! Ngilangin mood baik gue aja! Dasar sahabat durhaka lu ah!" ucap Bima dengan kesal akhirnya dia meninggalkan Dipta di meja makan seorang diri yang masih tertawa terbahak-bahak ketika melihat reaksi Bima yang sangat lucu saat ini.


"Sarapan dulu Bim! Jangan sampai nanti lo kelaperan!" ucap Dipta kepada Bima yang tampak sudah bersiap untuk kembali ke apartemennya sendiri.


"Bodo! Emangnya lu peduli ama gue? Dengar ya, pokoknya nanti anak lo sama anak gue harus dijodohin kalau mereka udah pada gede! Kalau lu nolak usul gue, awas saja! Gue kebiri lu nanti! Awas saja! Lu harus ingat kata-kata gue hati ini, Dipta!" ucap Bima sambil meninggalkan apartemen Dipta dengan misuh-misuh dan mulut cemberut.

__ADS_1


Dipta hanya tertawa mendengarkan ancaman Bima yang sepertinya serius dia ucapkan. Mengenai keinginan Bima untuk menjodohkan anak-anak mereka. Nanti kalau sudah pada dewasa.


"Dunia udah modern kayak gini, main mau jodoh-jodohin anak-anak yang bahkan lahir aja belum. Lah, punya calon bini saja gue kagak! Lagian, kalau memang kami menikah dan punya anak. Emangnya mereka bakalan mau kalau dijodohin kayak gitu?" ucap Dipta terus bermonolog dengan dirinya sendiri, merasa bingung dengan apa yang diinginkan oleh Bima sahabat sejatinya sejak dahulu.


__ADS_2