
"Iya Mah! Mama bisa tenang! Bagas pasti akan berusaha untuk membahagiakan Rianti. Mama tidak usah khawatir. Bagaimanapun, sekarang Riyanti adalah tanggung jawab Bagas. Mama bisa mempercayakan Riyanti kepada Bagas dengan sepenuh hati!" ucap Bagas dengan takjim terhadap ibu mertuanya yang kini menatapnya dengan intens. Bagas benar-benar dibuatnya salah tingkah dengan perbuatan Ibu mertuanya tersebut, yang benar-benar telah mengintimidasinya.
"Sudah Mah! Kau hentikan!Jangan melakukan hal seperti itu. Kau tidak lihat itu? Bagas keringatnya sudah bercucuran di dahi. Kau itu sebetulnya lagi memberikan nasehat kepada menantumu atau sedang mengancam Musuhmu, huh?" tegur ayahnya Rianti.
"Yaelah Papa! Menantumu ini udah seperti anak gadis saja, yang harus selalu dilindungi oleh kamu. Mama juga tidak mungkin lah, Pah!Akan mencelakai menantuku sendiri. Mama kan cuma memberikan nasehat dan wejangan untuk menantuku satu-satunya ini untuk menjaga putriku." sengit ibunya Rianti.
"Kasih nasehat kok, nadanya seperti itu. Bikin orang jadi takut saja. Papa aja yang mendengarkannya nggak enak rasanya. Apalagi Nak Bagas?" ucap ayahnya Rianti.
"Tuh Bagas dengerin! Sejak Rianti menikah denganmu Itu ,saya Ini salah terus di mata suami saya ini. Makanya kamu jangan heran kalau saya ini Kesel sama kamu. Itu gara-gara kamu ini, saya sama suami saya selalu saja ribut!" ucapnya lagi misuh misuh.
"Udah Mah! Udah Mah! Ayo kita pulang saja. Daripada di sini bikin kesel orang saja. Cari penyakit saja. Udah! Ayo kita pulang saja ke Jakarta. Percuma juga ngajak Mama ke sini cuma cari ribut saja!" ayahnya Rianti akhirnya menarik istrinya ke mobil.
" Ya sudah! Mang Diman, Bagas, Rianti. Papa sama Mama pulang ya ke Jakarta. Ingat kalian tidak boleh terlalu lama di sini. Nanti Papa sama Mama rindu sama kalian ya. Mang Diman, hati-hati. Kalau nanti kembali ke Jakarta tak usah ngebut-ngebut!" pesan ayahnya Rianti.
" Iya Pah! Papa hati-hati di jalan juga. Kalau capek istirahat saja. Jangan dipaksakan yang penting keselamatan itu yang utama!" ucap Rianti.
Setelah berpamitan, kemudian kedua orang tua Rianti pun kembali ke Jakarta. Ketika mereka sampai di daerah Bandung, Mereka pun memutuskan untuk mampir ke sebuah hotel dulu untuk beristirahat. Karena sangat lelah sekali setelah perjalanan yang begitu panjang.
__ADS_1
"Mama ini benar-benar enggak bisa dibilangin sama Papa. Papa bilang kan, Jangan cari masalah dengan keluarganya Bagas masih saja cari perkara!" tegur suaminya.
"Papa aja yang bawaannya suudzon terus sama Mama. Mama belum selesai berbicara sudah dipotong-potong kayak gitu. Jadinya hasilnya beda kan? Mama kan tadi niatnya mau baik-baik bicara sama mereka. Papa main potong-potong aja. Kayaknya kagak sampai deh apa yang Mama maksud!" ucap ibunya Rianti membela diri.
"Nada bicara Mama seperti itu. Apa yang mau dikatakan dengan baik-baik? Sudahlah pokoknya Papa tidak akan percaya lagi dengan janjinya Mama. Mama udah bikin Papa malu aja!" ayahnya Rianti lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi dan langsung membersihkan dirinya.
Sementara itu ibunya Rianti memilih untuk menonton televisi. Untuk menghilangkan kekesalan hatinya gara-gara diprotes terus oleh suaminya.
"Perasaan sejak Rianti menikah dengan Bagas. Mama ini selalu salah saja di matanya Papa. Heran sekali, sebetulnya apa sih bagusnya Bagas dan juga keluarganya itu?s
Sehingga membuat Papa jadi begitu sekali sama Mama!" ibunya Rianti terus saja tampak uring-uringan setelah suaminya pergi ke kamar mandi.
"Iya, Pah! Mama mandi!" ucap ibunya Rianti dan langsung masuk ke kamar mandi. Ibunya Rianti berusaha untuk melepaskan semua beban di hatinya saat ini dengan cara berendam di Bathup.
"Mah! Cepatlah, mandinya! Kenapa lama sekali? Ini waktunya sudah mau hampir habis nanti mama nggak kebagian salat magrib!" teriak ayahnya Rianti dari balik pintu.
Akhirnya ibunya Rianti pun bergegas untuk segera mandi dan segera mengambil air wudhu. Karena tidak senang mendengarkan suaminya ngoceh-ngoceh lagi.
__ADS_1
Setelah selesai salat magrib. Mereka pun memesan makan malam mereka dan minta diantarkan ke dalam kamar saja. Karena mereka sudah tidak tahan lagi untuk pergi keluar dari kamar tubuh mereka sangat lelah setelah seharian full berada di mobil.
"Masakannya enak juga ya, Pah! Lain kali Sepertinya kita bisa datang lagi ke sini. Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan sebentar keliling Bandung. Oh ya belanja di Dago kayaknya menyenangkan juga ya?" ucap ibunya Rianti dengan antusias.
"Kalau Mama ya urusan buang uang ya semuanya bahagia. Semuanya tamlak sangat menyenangkan. Kalau masalah cari uang ya baru angkat tangan!" sengit suaminya sambil meneruskan makan malamnya.
"Papa ini, tampaknya tidak ada baik-baiknya Mama ini di matanya Papa. Terus untuk apa sih, Papa sebetulnya menikah sama Mama?kalau di mata Papa Mama ini jelek sekali seperti itu" ucap ibunya Rianti dengan air mata yang mulai berderai. Merasa sakit hati dengan penilaian suaminya yang selalu buruk terhadap dirinya.
"Sudah, Mah! Sebaiknya makanannya segera dihabiskan saja. Terus kita tidur daripada nanti ujung-ujungnya kita berantem. Kita ini sudah tua Mah! Tidak baik berantem terus. Malu sama umur. Kita juga mungkin sebentar lagi akan punya cucu!" ucap suaminya.
"Papa habiskan saja semuanya sendiri! Mama mau pergi. Oh ya Papa nggak usah nunggu Mama kembali ke kamar ini. Karena Mama langsung akan pergi!" setelah itu ibunya Rianti pun keluar dari kamar tersebut tidak memperdulikan panggilan sang suami.
Ibunya Rianti langsung menyetop sebuah taksi dan mencari sebuah hotel untuk tempat tidurnya malam ini.
"Dia pikir dia itu siapa? Bisa-bisanya dia selalu berbicara secara ketus dan kasar terhadapku. Selama puluhan tahun aku mendampinginya tidak pernah sedikitpun dia menghargaiku sebagai istrinya. Benar-benar keterlaluan. Aku tidak akan diam saja mulai sekarang. Akan aku beri pelajaran yang bagus untuk dia. Bagaimana caranya menghargai Seorang Istri." ucapny Kesel.
" Pak tolong carikan saya sebuah hotel yang mewah dan besar di kota ini. Karena saya ingin menghabiskan malam ini dengan bersenang-senang!" ucap ibunya Rianti.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat yang dia maksud, ibunya Riyanti pun langsung turun dan memesan sebuah kamar yang paling mahal di hotel tersebut. Ibunya Rianti tidak merasa khawatir karena dirinya memegang sebuah Black card milik sang suami.
"Biarkan sekali-kali dia mengetahui siapa istrinya saat ini. Selama ini aku selalu diam saja tidak pernah menggunakan kartu ini. Biarkan sekali ini dia tercengang menerima tagihannya rasain!" ucapnya dengan penuh amarah di hatinya tampaknya dia benar-benar merasa tersinggung dengan suaminya yang selalu memperlakukannya tidak baik.