Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
26. KKN Kesehatan


__ADS_3

Aku masih marah sebenarnya kalau ingat kejadian di Owabong. Tapi melihat dia yang mulai menangis, ada rasa tak tega dalam hatiku. Ah.. kelemahanku yang satu ini sudah akut kayanya.


"Aku janji gak akan ganggu kamu sampai hari pernikahan kita. Tapi tolong, jangan keluar dari pondok ya. Orang tua kamu nanti kecewa sama Mas. Mas juga tidak bisa jauh dari kamu." ucapnya mulai pelan dan agak tenang.


"Mas janji kan? Jangan menteror hidupku lagi. Aku gak suka!" ucapku lalu kembali masuk ke kamarku. Malu juga rasanya jadi tontonan satu pondok.


"Ada masalah apa sebenarnya? Aku kok malah bingung iki, Mba!" Bu Nyai yang tiba-tiba muncul di kamarku membuat lamunanku buyar seketika. Bu Nyai masuk lewat pintu samping kayanya.


"Gak apa-apa Bu, Maaf sudah mengganggu kenyamanan di sini." Aku malu sekali rasanya pada beliau. Beliau lalu duduk di dekatku.


"Kang Ali itu lelaki yang baik. Jangan sakiti hati dia ya?" aku hanya bisa mengangguk. Rasanya malu kalau aku menceritakan kejadian di Owabong kepada beliau. Bagaimanapun aku harus menjaga kehormatan calon suamiku.


Aku sendiri merasa malu, berusaha semampunya melupakan hal itu. Kejadian dia yang begitu akrab dengan adiknya Retno, dan saat dia mencuri ciuman pertamaku, yang tadinya ingin aku persembahan hanya untuk suamiku. Semakin kesal hatiku kalau ingat hal itu.


"Ya sudah, Mba Mba, tolong bantu Mba Nur untuk bereskan kembali barangnya. Gak jadi keluar dari pondok, toh?" Aku hanya tersipu mendengar pertanyaan beliau.


"Maaf sekali lagi Bu, sudah bikin keributan." beliau tersenyum dan pergi dari kamarku.


Teman-teman akhirnya membantuku membereskan barang-barang yang tadi aku packing. Malu rasanya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku gak tahan lagi dengan semua teror dia. Aku jadi gak bisa tenang dengan aktifitasku. Apalagi saat ini aku mahasiswa tingkat akhir. Banyak kegiatan dalam mempersiapkan kelulusanku.


"Terima kasih, teman-teman!"


"Sama-sama Mba. Udah, ayo kita mandi saja, lalu siap-siap buat ke Masjid. Sudah mo Maghrib." ucap Aini kepada kami.


Aku malu sekali, Aini walaupun usianya lebih muda dariku, tapi dia bisa bersikap dewasa dan bijaksana. Kadang aku berpikir, kalau Mas Ali itu lebih cocok bersanding dengan Aini. Mereka sepadan dalam ilmu agama dan kedewasaan. Kadang aku tidak habis pikir, bertanya-tanya dalam hatiku, kenapa Pak Lurah Pondokku itu memilihku menjadi calon istrinya.


Kami lalu bubar dan pergi ke Masjid untuk sholat Maghrib berjamaah.


Saat masuk ke Masjid, tanpa sengaja bertemu dengan Mas Ali. Calon suamiku yang tadi siang ribut denganku. Dia diam, hanya menatapku saja. Aku rasanya gak biasa dengan kediaman dia. Sedikit banyak, aku mulai terbiasa dengan dia yang selalu mengganggu hidupku.

__ADS_1


Aneh memang ya? Saat dikejar-kejar rasanya benci sekali, saat melihat dia diam begitu, aku malah rasa rindu. Aku langsung masuk ke masjid saja. Malu kalau nanti jadi tontonan lagi.


Selepas sholat, aku memilih berbaring saja, absen dari mengaji. Endah, Risma dan Aini terlihat mengaji di depan bersama Ibu Nyai. Hari ini ada jadwal mengaji Alquran. Jadwal rutin setiap habis sholat Maghrib.


Kami memang sangat beruntung memiliki Ibu Nyai yang sangat baik hatinya. Beliau tanpa segan datang ke kamar kami dan mengajar kami. Jumlah santri putri memang masih sedikit. Hanya empat orang saja.


Aku memutuskan untuk tidur saja lah, besok aku ada pemberangkatan KKN, jadi harus siapkan energi yang banyak. Aku sudah gak perduli dengan keadaan sekitar.


Keesokan harinya aku jadi menghadap Pak Kiai lagi, sekarang mo ijin pemberangkatannya KKN, kemarin karena kesal ijinnya malah keluar dari pondok. Padahal aslinya mah mau berangkat ke KkN. Aku sekarang sudah tenang, setidaknya Mas Ali sudah janji tidak akan ganggu aku lagi. Jadi aku bisa KKN dengan tenang.


Aku memberikan surat dari kampus, setelah dapat ijin, aku langsung berangkat ke kampus. Dengan membawa kebutuhan yang kira-kira aku butuhkan di tempat KKN nanti.


"Selamat tinggal pondok, setidaknya selama 40 hari kedepan aku akan meninggalkan Pondok dan tinggal di lokasi KKN." Dengan langkah ringan aku pergi, tidak sempat melihat seseorang dari jauh tampak memperhatikan kepergianku dengan tatapan sendu.


Aku mungkin termasuk calon istri yang durhaka ya? Pergi dalam waktu lama, malah ga pamit sama dia. Calon suamiku. Biar ah, siapa suruh dia bikin kesal dengan berbuat aneh-aneh.


Aku ditempatkan di daerah sekitar Karang lewas. Dekat dengan kampus. Hanya sekitar 30 menit saja kalau menggunakan motor.


Tidak banyak sebenarnya yang bisa aku ceritakan tentang KKN ku, Kami tinggal di rumah kepala desa di lokasi KKN. Kegiatan sehari-hari tidak lepas dari penyuluhan kesehatan dan kegiatan KKN lainnya.


Kami berjumlah sekitar 10 orang. Ada dari jurusan kedokteran, pertanian, MIPA, dan Ekonomi. Kami bekerja sama untuk mensukseskan program KKN yang sudah kami susun bersama.


"Nur, hari ini kegiatan kamu apa?" tanya Desi, anak Kedokteran.


"Mau ke kampus sebentar, mo bimbingan skripsi." aku mulai bersiap-siap, karena memang waktu yang mepet dan banyak kegiatan yang menunggu.


Nanti habis dhuhur kami harus menemui ketua RT untuk meminta ijin mau melakukan penyuluhan di daerahnya. Kami di bagi menjadi dua kelompok, yang Putri bagian ibu-ibu dan yang putra bagian bapak-bapak.


Kegiatan ibu-ibu biasanya dilakukan habis dhuhur atau ashar. Kalau kegiatan bapak-bapak biasanya habis isya. Kalau siang kebanyakan pada kerja soalnya. Jadi kami bisa bergiliran istirahat. Tidak terlalu lelah dengan kegiatan KKN yang segudang.

__ADS_1


"Aku pergi dulu ya, sebelum dhuhur aku sudah kembali." pamitku pada ketua rombongan KKNku yang bernama Dimas, anak pertanian. Dia anak yang asyik, mengerti dengan kesibukan kami, anak-anak tingkat akhir. Yang selain sibuk KKN juga sibuk dengan Penelitian dan pengerjaan Skripsi. Sebagai syarat mutlak persiapan kelulusan.


Setelah kegiatan di kampus selesai, aku mampir sebentar ke pondok, mau ambil baju ganti. Kemarin aku memang hanya membawa sedikit pakaian. Saat aku memarkirkan motorku, tanpa sengaja berpapasan dengan Mas Ali. Calon suamiku. Dia tampak murung, aku mau menyapa sebenarnya, tapi gengsi. Jadi aku langsung masuk saja ke kamar.


"Assalamualaikum." salamku.


"Waalaikum salam." Aini yang menjawab salamku. Memang jam segini Endah dan Risma masih di sekolah, mereka anak-anak SMK kelas satu.


"Aini, kenapa aku lihat wajah Mas Ali pucat ya? Apa dia sakit?" tanyaku heran, tentu saja sambil memasukkan pakaian ke tas ransel milikku.


"Iya Mba, sejak Mba pergi KKN, aku dengar dia sakit. Ngajar anak-anak juga jarang sekarang. Lebih banyak diam di kamarnya. Mba tadi ketemu sama Dia?" tanya Aini antusias.


"Tadi papasana bentar doang!" jawabku.


"Nyapa gak?" tanyanya kepo.


"Gak, gengsi lah!" jawabku sekenanya.


"Kasihan calon suami Mba tahu! Aku aja gak tega ma dia. Mba kok tega sih?" ucap Aini.


"Kamu ambil saja, kalau mau. Aku gak apa-apa kok!" sahutku sambil bersiap-siap pergi dari pondok, karena memang waktunya sudah sempit. Aku harus segera kembali ke lokasi KKN ku.


"Jangan kaya gitu dong Mba! Kalian itu sudah bertunangan, tanggal pernikahan juga sudah disiapkan. Jangan mau digoda oleh jin, yang selalu menggoda Umat Muhammad kalau sudah berniat untuk menikah." Aini menasehati diriku.


"Duh, nih anak, masih kecil juga. Pinter banget nasehatin aku. Kadang aku suka heran, kenapa aku seusia ini, masih bersikap kekanak-kanakan.


" Mba, setan dan jin itu gak suka, kalau ada umat Muhammad, yang ingin menyempurnakan agama mereka. Yaitu dengan pernikahan. Mereka gak suka Mba. Makanya mereka menghembuskan perselisihan dan keraguan dalam hati pasangan yang berniat menikah. Kalau tidak menikah, mereka cenderung akan berbuat maksiat, dengan berzina dan berpacaran, yang jelas-jelas dalam Islam diharamkan." ucap Aini bijak. Aku hanya manggut-manggut saja.


Ucapan Aini memang benar. Aku juga pernah membaca di sebuah buku tentang hal itu. Hatiku memang sedang ragu dan bimbang. Semoga nanti dilunakan hati ini, sehingga bisa memaafkan kesalahan calon suamiku. Jadi aku akan menikah dengan dia dengan hati yang lapang dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2