
Alhamdulillah novel ini telah sampai di angka bab 101. Semoga Author diberikan inspirasi dan kesehatan untuk terus bisa update dan mulai mengambil bulan pertama untuk Jumkat 60.000 kata perbulan di novel ini. Mohon dukungan kalian semua ya readerku tersayang, dengan like, favorite, vote, gift semampu kalian dan komen agar menjadi semangat untuk Author update novel ini setiap harinya. Terimakasih semuanya, tanpa kalian semua, Author bukan apa-apa dan tidak akan sampai ke mana-mana.
Yuk kita mulai saja dengan bab hari ini
Happy reading semuanya
"Ya sudah, Pah! Nanti Rianti akan menunggu saja. Kalau mama sudah bangun dia pasti akan menelpon Riyanti kan?" ucap Riyanti sambil berpamitan kepada ayahnya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya tadi.
Rianti terus menunggu suaminya, hingga magrib ternyata suaminya belum juga pulang rasanya sudah mulai tidak karuan.
"Ke mana kamu, Mas? Kenapa sudah magrib begini belum juga pulang? Bukankah kau bilang jam kerjamu cuma sampai ashar?" Rianti terus mondar-mandir di teras rumahnya karena menunggu kepulangan sang suami, yang sudah sangat terlambat dari jam seharusnya dia pulang.
"Daripada aku cemas seperti ini, lebih baik aku menelepon Mas Bagas. Siapa tahu dia memiliki kesulitannya sendiri di sana!" Puja prianti kemudian masuk ke dalam rumahnya dan mencari ponselnya setelah menemukan ponsel Rianti pun langsung menghubungi suaminya.
Tetapi hal yang mengejutkan terjadi, ponsel suaminya ternyata nonaktif. Hati Rianti mulai diliputi oleh kecemasan mengingat ini adalah pertama kalinya dirinya mengikuti sang suami bertugas didaerah. Dan ini pun pertama kalinya Bagas pulang terlambat seperti ini tanpa kabar berita sama sekali.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa kamu seperti ini, Mas? Kamu bikin cemas saja!" ucap Riyanti kepada dirinya sendiri, dan terus saja melihat ke jalanan. Barangkali melihat suaminya yang tiba-tiba datang dari rumah sakit.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ponselnya Rianti berbunyi. Rianti pun segera masuk ke dalam rumah dan mengambilnya dan ternyata itu adalah dari ibu kandungnya sendiri.
"Assalamualaikum, Mah! Mama baru bangun ya?" saparyanti dengan lega setidaknya diantara kecemasan yang masih ada sesuatu yang membuat dia lega.
"Iya sayang, Mama tadi malam tidak bisa tidur gara-gara nunggu kamu menelpon mama. Alhamdulillah kalau kamu sudah sampai di sana, kamu baik-baik saja kan?" tanya ibunya Rianti kepada putrinya.
"Yaa Mah! Rianti baik-baik saja. Hanya saja sekarang Rianti sedang cemas, ini sudah magrib. Tetapi Mas Bagas belum juga pulang, ponselnya dihubungin pun ternyata nonaktif! Rianti yg sangat cemas dengan keadaan Mas Bagas Mah!" ucap Riyanti kepada ibunya.
"Kau hubungilah teman-teman suamimu yang dari Jakarta itu. Coba tanyakan keadaan suamimu. Apa kau tahu alamat Rumah Sakit tempat suamimu bekerja?" tanya ibunya Rianti memberikan solusi kepada putrinya.
"Ya Allah, kenapa Rianti tidak kepikiran seperti itu, mah? Rianti tadi hanya berpikir untuk menghubungi Mas Bagas. Ya sudah Mah, Rianti akan mencoba untuk menghubungi teman-teman Mas Bagas yang lain. Kebetulan ada beberapa orang yang nomor teleponnya Rianti safe di ponsel. Terima kasih ya Mah, atas sarannya!" Rianti pun langsung menutup telepon dari ibunya.
"Halo saya Istrinya dokter Bagas. Apakah saya bicara bisa bicara dengan suami saya?" ucap Riyanti dengan hati dag dig, berdebar tidak karuan.
"Maaf Bu Riyanti, dokter Bagas sedang ditugaskan ke pelosok yang sedang mengalami bencana gempa kemarin itu. Jadi kemungkinan pulangnya agak malam karena akses jalan di sana benar-benar sangat rusak dan sinyal juga tidak berfungsi!" ucap dokter yang dihubungi oleh Rianti.
"Berapa orang yang ditugaskan ke sana dok?" tanya Rianti yang mulai merasakan lega bahwa ada kabar tentang suaminya.
__ADS_1
"Sekitar 7 orang Bu, Kami yang 3 orang lagi bertugas di rumah sakit, untuk menangani beberapa luka serius yang dikirim dari lokasi bencana!" ucap dokter tersebut menjelaskan kepada Rianti.
"Bu, ada kemungkinan juga mungkin dokter Bagas tidak bisa pulang. Ya nanti kan, dilihat dulu situasi dan kondisinya. Mungkin bisa tidak pulang beberapa hari. Ataupun mungkin bisa pulang setiap hari, nanti dilihat saja ya Bu? Ibu yang penting sabar menunggu. Ya namanya dokter yang ditugaskan ke area bencana ya seperti itu Bu!" ucap dokter tersebut menjelaskan semuanya kepada Rianti agar Riyanti tidak cemas lagi memikirkan suaminya.
"Oh ya terima kasih banyak dokter, atas informasinya. Setidaknya saya tahu kondisi suami saya saat ini. Saya yang ada di rumah hanya bisa berdoa, agar mereka tugasnya dilancarkan dan bisa pulang ke rumah dengan selamat!" doa tulus terucap dari bibir Rianti untuk suaminya dan rekan-rekannya.
"Iya Amin, bu! Semoga semuanya sehat-sehat saja di sana. Dan tidak ada gempa susulan juga!" kemudian dokter itu pun mengakhiri panggilan telepon. Karena tiba-tiba saja ada salah seorang pasien yang dikirimkan dari lokasi bencana. Dan itu membutuhkan penanganan yang serius.
"Maafkan saya ya, Bu! Saya harus menutup panggilan ini, karena baru saja ada pasien yang dikirimkan dari lokasi bencana, dan keadaannya sangat kritis. Kami harus segera menanganinya. Oh ya Ibu tenang saja ya, tentang suami ibu. Semoga saja semua tugas yang dilakukan olehnya baik-baik saja!" ucapkan dokter tersebut tampaknya sangat buru-buru untuk mengakhiri panggilan tersebut.
Rianti pun kemudian menutup panggilan tersebut, tubuhnya lemas seketika. Ketika mendapatkan kenyataan bahwa suaminya mungkin bisa saja tidak pulang beberapa hari ke depan.
Dirinya baru saja menginjakan kaki di daerah asing ini. Dia belum terlalu paham dengan lingkungan dan situasi di sana. Oleh karena itu, ketika ditinggalkan oleh suaminya, jelas itu adalah suatu hal yang berat untuk Riyanti.
"Ya Allah berikanlah perlindungan kepada suamiku dan juga rekan-rekannya dan berikanlah kesehatan kepada para korban bencana itu agar suamiku segera pulang ya Allah!" doa Rianti dengan khusyuk.
Karena sudah sangat lelah sekali menunggu suaminya sejak tadi. Rianti pun kemudian memutuskan untuk salat magrib dan kemudian membaca Alquran, memberikan doa terbaik untuk suami dan rekan-rekannya yang kini sedang berjuang di daerah bencana.
__ADS_1
"Ya Allah selalu kau lindungi suamiku dan juga rekan-rekannya, agar mereka bisa melewati semua bencana ini dengan baik!" Rianti sebelum menutup Alqurannya dan kemudian melanjutkan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tadi tertunda karena telepon dari ibunya.
Setelah semua pekerjaan beres, Riyanti pun kemudian memutuskan untuk tidur saja. Karena rasanya percuma untuk menunggu sang suami, karena pasti dia tidak akan pulang malam ini. Mengingat akses jalan yang begitu sangat sulit katanya.