
"Aku bisa sendiri, Dip! Aku sudah banyak menyusahkan kamu. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan Mamah kamu. Jangan berantem sama Mamah kamu gara-gara aku. Aku gak akan bisa menanggung konsekuensi dari itu semua!" ucap Nur sambil menatap mata Dipta.
Nur bisa menangkap kesedihan, kehampaan dan kehilangan di mata Dipta. Sungguh, ini pertama kali sejak Nur mengenal Dipta, bisa membaca Dipta layaknya sebuah novel terbuka. Biasanya Dipta selalu pandai menutup dirinya. Dipta yang ceria, Dipta yang cuek dan introvert, ah, selama ini Nur tidak mengenal Dipta ternyata.
"Banyak penderitaan dan kesengsaraan yang gue jalanin sebelum kamu datang dalam hidupku. Nur, gue bahkan pernah hampir bunuh diri. Hidup gue benar-benar hampa, sejak istri dan anak gue meninggalkan gue. Kamu ingat pertama kita bertemu?" tanya Dipta sambil menatap Nur dengan tatapan nyalang.
"Kenapa, memangnya?" tanya Nur mulai bingung.
"Itu adalah perjalanan gue menuju makam nak dan istri gue, mertua gue sangat marah, ketika tahu bahwa anaknya diusir oleh Mamahku, dan kecelakaan saat menuju ke tempat kedua orangtuanya. Jadi mereka menolak istri dan anak gue buat di makamkan disini. Jadi setiap Gue rindu anak dan istri gue, gue akan datang ke Purwokerto, ziarah ke sana!" ucap Dipta sambil meraup wajahnya yang kusut.
"Hidupmu sungguh lebih tragis dari pada hidupku. Maafkan aku, ya? Gak peka terhadap kamu!" Nur lalu menepuk pundaknya Dipta, mencoba memberikan kekuatan. Dipta menatap mata Nur dengan intens.
"Apakah kamu masih mencintai suami kamu?" tanya Dipta.
"Aku gak tahu!" jawaban Nur membuat Dipta jadi nekat.
"Nur, kalau kamu mau, aku bisa membantu kamu untuk memproses perceraian kamu dan suami kamu. Setelah itu kita menikah!" Dipta menarik Nur dalam pelukannya.
"Dip, please jangan kayak gini. Aku gak nyaman!" pinta Nur sambil mendorong Dipta untuk menjauh.
__ADS_1
"Perasaan gue sama loe, hanya sebatas sahabat, Dip! Gie gak punya perasaan cinta seorang wanita terhadap pria. Maafkan gue, ya?" Nur menatap keputus asaan dan kesedihan di mata Dipta.
"Kalau gue bisa bikin loe jatuh cinta sama gue, apa loe, mau bercerai dengan suami loe?" tanya Dipta lagi.
"Hati gue udah mati Dip! Gue udah gak mau buka hati gue untuk urusan kayak gituan lagi. Gue gak akan sanggup menanggung rasa kehilangan lagi. Sakit, Dip! Ketika gue tahu, nama gue gak ada lagi di hati suamiku." ucap Nur mulai berkaca-kaca. Dipta melihat Nur dengan tatapan memohon, "Please, Nur! Biarkan gue mencintai loe dan Rafi! Gue gak perduli, apakah loe akan jatuh cinta sama gue atau pun kagak. Gue hanya ingin hidup bersama kalian!" pinta Dipta dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Jadilah, dua insan itu menangis bersama. Rafi sudah tidur dari tadi, maka mereka bisa berbincang bebas. Suasana di luar kamar sudah sepi. Entah pada kemana para pembantunya Dipta yang lain.
Dipta ini memang pria yang baik hati. Dia menerima Laila dan Merry untuk bekerja di rumahnya hanya karena merasa kasihan sama mereka. Gadis-gadis Malang, yang di jual ke rumah bordil oleh kekasihnya ketika sudah bosan. Dipta menolong mereka dari kegelapan. Sebab itu, Merry dan Laila sangat berterimakasih kepada Dipta.
Dipta hanya hidup seorang diri, secara logika dia bisa hidup tanpa pembantu. Apalagi waktu Dipta sehari-hari lebih banyak dia habiskan di kantornya.
"Nur, kamu harus janji sama aku, jangan pernah pergi meninggalkan rumah ini. Ok?" mata Dipta menatap lurus ke manik Nur. Nur menarik napasnya dalam. Lalu menghembuskan secara kasar.
"Kita lihat entar, ya? Sejujurnya, gue juga bingung, gue cuma gak mau, kalau loe berantem sama Mamah kamu. Dia Mamah kamu yang sudah memberikan kehidupan sama kamu. Gue ini siapa? Hanya penyelintas yang singgah sebentar dalam kehidupan loe! Please, Dip! Jangan kasih beban sebesar ini di pundak gue! Minta maaf sama Mamah kamu, ya? Hati beliau pasti sangat sedih, setelah loe mengusir beliau kemarin." ucap Nur.
"Biasanya Mamah suka berbuat sesuka hati. Dia udah hancurin kehidupan gue, jujur, sampai hari ini, gue belum bisa maafkan Mamah. Beliau yang udah bunuh anak dan istri gue, secara tidak langsung? Apakah gue bisa memaafkan dia?" tanya Dipta.
"Jodoh, maut, rejeki, itu semua Allah yang berkuasa. Kalau tanpa ijin-Nya, gak akan pernah bisa terjadi suatu Kemalangan maupun kebahagiaan. Yakinlah Dip! Ketika loe bisa ikhlas dengan masa lalu, yang sudah membelenggu hati loe, gue yakin, loe pasti akan menemukan kebahagiaan loe yang sesungguhnya. Berusaha agar hati loe bisa berdamai dengan masa lalu itu! Hmmmmm?" ucap Nur lagi.
__ADS_1
"Akan Gue coba. Ya udah, gue juga mau mandi dan sholat. Loe ingat! Jangan main Kabir, kalau mau pergi dari sini, katakan sama gue! Biar gue antar loe, kemanapun elo mau pergi! Paham? Hmmmm?" pinta Dipta. Setelah Nur mengangguk, Dipta mengelus kepala Nur dengan lembut.
"Ah, elo selalu memperlakukan gue kaya kucing kesayangan loe!" protes Nur, Dipta malah tertawa.
"Kucing kesayangan yang paling cantik, yang pernah gue punya!" ucap Dipta mengulas senyum manisnya.
"Uh, sembarangan! Manusia loe samain dengan kucing! Silalan!" Nur berpura-pura marah dan Dipta tersenyum, merasa sangat bahagia, akhirnya awan mendung di rumahnya akhirnya pergi.
"Setelah kita sholat, gue mau ajak loe sama Rafi buat makan malam di luar. Kasihan sekali kalian, sudah tiga bulan tinggal di Jakarta, tapi hanya tinggal di rumah saja! Maafkan gue, ya? Yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga lupa bahwa kalian juga butuh hiburan!" ucap Dipta. "Udah, mandi Sono!" Nur lempar bantal yang ada di sofa, ke arah Dipta, dan Dipta berhasil menangkap itu.
"Wah, keren! Replek loe bagua juga!" Nur memberikan dua jempolnya untuk Dipta.
"Lihatlah, betapa Gue gak sanggup meninggalkan loe!" ucap Dipta mulai melow lagi, mau masuk lagi, tapi Nur langsung dorong tubuh Dipta supaya keluar dari kamar.
"kite bisa telat Sholat ini, Dipta!" Teriak Nur mulai kesal dengan drama ala ala Dipta.
"Ya Allah, ternyata penderitaanku selama ini, gak ada apa-apanya bila di bandingkan dengan apa yang sudah Dipta alami dalam hidupnya!" monolog Nur ketika di kamar mandi. Setelah selesai mandi, Nur kemudian sholat.
"Ya Allah, dimanapun suamiku berada, selalu lindungi dia ya Allah! Bahagiakan dia, aku rela pergi dari kehidupan dia, agar dia bisa bahagia dan mengejar cintanya. Hamba mohon ya Allah, Berikan keikhlasan dalam diri hamba!" Nur menutup doanya dengan derai air mata.
__ADS_1
Ya, setiap hari, dalam hidupnya, sejak Nur pergi dari suaminya, Nur hanya mampu melafalkan doa untuk kebahagiaan suaminya. Nur sangat mencintai suaminya, jadi tidak ingin menjadi duri dalam kehidupan suaminya.