Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
160. Terharu


__ADS_3

Dipta terdiam mendengarkan ucapan Bima yang mengatakan bahwa dia lebih rela untuk melepaskan pernikahannya bersama Sheilla daripada harus melepaskan persaudaraan dengan dirinya.


"Kamu jangan gila Bima orang tuamu sudah menyiapkan semuanya jangan buat mereka kecewa dan mempermalukan keluargamu!" ucap Dipta merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh Bima.


"Di dunia ini ada yang disebut dengan mantan istri tetapi tidak ada yang disebut dengan mantan sahabat! Lu bro yang sudah nemenin gue sejak dulu melewati semua suka duka gue dan gue nggak rela kalau harus kehilangan lu!" ucap Bima dengan mata berkaca-kaca.


"Sungguh Bro membayangkan gue bakalan kehilangan lu aja hati gue udah sakit banget apalagi apabila benar-benar Gue kehilangan lu!" ucap Bima kepada Dipta.


"Dengerin gue bro gue bisa ngerti semua situasi yang terjadi saat ini Sheila hanya sedang merasa cemburu sedikit saja kepadaku karena mungkin kau terlalu memberikan dan mencurahkan perhatianmu padaku! Percayalah nanti ketika kalian sudah punya anak Sheilla pasti akan berubah pikiran!" ucap Dipta berusaha untuk menasehati sahabatnya.


"Percayalah! Ketika seseorang berniat untuk menyempurnakan agama Allah. Pasti akan ada banyak rintangan dan halangan serta godaan dan kau tidak boleh kalah atau menyerah. Hanya karena itu semua. Karena iman seseorang lebih sempurna ketika dia sudah menikah!" Dipta berusaha untuk menasehati Bima agar mengurungkan niatnya untuk membatalkan pernikahannya dengan Sheila.


"Percayalah sama gue Bima! Lu pasti akan menyesal kalau sekarang melakukan itu dan gue nggak mau menjadi bagian dari penyesalan itu!" ucap Dipta masih berusaha untuk menasehati Bima.


"Percayalah gue nggak akan kemana-mana dan gue akan selalu ada untuk lo. Apabila lu butuh gue. Akan tetapi yang namanya cinta, dia tidak akan selalu datang dua kali dalam hidup lu! Apa lu masih mengingat tentang Rianti? Bagaimana dulu begitu tersiksa karena mengalah terhadap gue. Tolong jadikan itu sebagai pelajaran dan jangan biarkan lu kehilangan cinta lagi dalam hidup lu hanya gara-gara gue lagi!" ucap Dipta dengan serius.


"Sampai saat ini gue masih menyesal masalah Rianti Bro! Jangan berikan penyesalan yang kedua dalam hidup gue, ketika lo membatalkan pernikahan lo dengan Sheila gara-gara gue juga!"

__ADS_1


Bima tampak terdiam mendengarkan semua yang dikatakan oleh Dipta saat ini karena semuanya memang benar dan fakta.


"Udah sana datangin Sheila dan katakan kalau lo mau melanjutkan hubungan dan rencana pernikahan kalian. Ingat bro! jangan sampai nanti terjadi kesalahpahaman di antara keluarga besar kalian itu yang pastinya akan sangat merugikan banyak pihak! Apalagi kalau sudah ada semacam perjanjian bisnis di dalamnya. Oh Tuhan! Itu akan sangat rumit penyelesaiannya Bro?" ucap Dipta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sangat riskan kalau hal itu benar-benar terjadi.


"Tapi lu harus janji ya Bro! Lu tidak boleh meninggalkan gue di setiap situasi apapun ya? Kalaupun gue cuek ama lu ketika ada Sheilla lo jangan sakit hati ya!" ucap Bima memohon pengertian kepada Dipta apabila nanti mereka bertemu tetapi seperti tidak saling mengenal. Karena itulah yang diinginkan oleh Sheilla saat ini. Dia ingin menjadikan Sheilla sebagai satu-satunya di dalam kehidupan Bima.


"Santailah bro! Gue juga kan pasti sibuk sama istri dan anak gue. Udahlah urusan yang lain tuh belakangan saja. Yng penting sekarang rencana pernikahan lo harus tetap jadi nggak boleh batal!" ucap Dipta wanti-wanti kepada Bima untuk tetap melanjutkan rencana pernikahannya Bersama Sheila.


"Lagian ya Bro! Kalau lo sampai ngebatalin pernikahan lu, maka gosip-gosip yang ada di antara para karyawan gue, pasti akan semakin santer. Yang mengatakan kalau kita ini pasangan Gay. mereka pasti akan berpikir kalau kita melakukan pernikahan hanya untuk menjadi topeng saja!" ucap Dipta dengan malas.


"Lagian Lu terlalu baik hati Bro! Kenapa sih karyawan model kayak gitu aja masih lu pertahankan? Tinggal pencet aja! Si luar sana masih banyak orang baik-baik yang sedang membutuhkan pekerjaan. Daripada memelihara seorang karyawan yang tidak tahu diri yang dengan lancangnya menggosipkan atasannya sendiri!" ucap Bima merasa kesal perihal gosip yang beredar di kantornya Dipta yang mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan gay.


" Lah emangnya kenapa?" tanya Bima sangat penasaran.


"Gue juga kan harus nyiapin pernikahan gue sama Nadia. Gue nggak punya waktu untuk terus ngasuh lu. Sudah saatnya gue untuk ngelepasin lo sama calon bini lu. Supaya Sheila tidak selalu ngambek dan merasa di nomor duakan sama calon suaminya!" ucap Dipta dengan wajah serius.


Bima melirik jam yang ada di dalam ponselnya kemudian dia langsung berpamitan kepada Dipta ketika mendapatkan ternyata Sekarang sudah jam 12.00 malam.

__ADS_1


" Ya sudah kalau habis hati-hati ya kabarin gue kalau lu sudah sampai di apartemen lu karena gue pasti khawatir dengan keadaan lo secara ini kan sudah tengah malam!" ucap Dipta memberikan nasehat kepada Bima.


"Tapi Bro! Kayaknya lebih baik lo nginep aja di sini deh! Gue kagak tenang hatinya kalau lu pulang malam-malam kayak gini. Lo itu calon pengantin. Jangan sampai ada hal yang buruk menimpa lu. Nanti gue pasti akan disalahin sama orang tua lu!" ucap Dipta pada akhirnya.


"Betul kamu nggak keberatan? Kalau aku nginep di sini!" tanya Bima mengkonfirmasi kebenaran dari Dipta.


" Iya emangnya lu nggak biasa Abang nginep di sini biasanya juga berhari-hari lu nggak pulang ke apartemen lu!" ucap Dipta kemudian meninggalkan Bima sendirian di ruang tamu.


"Lo sebaiknya tidur aja di kamar tamu jangan di sofa terus. Nanti badan lu sakit-sakit lagi pas hari pernikahan lu!" ucap Dipta sambil menatap kepada Bima yang sekarang mulai melangkahkan kakinya ke kamar tamu yang dikatakan oleh Dipta.


"Selamat malam semoga lu bisa tidur dengan nyenyak dan juga pikiranmu jadi lebih tenang sehingga besok bisa memberikan sebuah keputusan yang bijaksana untuk hidup lu!" ucap Dipta berpamitan kepada Bima sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.


" Yah lu juga harus istirahat jangan gunakan waktu seperti ini untuk menghubungi Nadia dia juga pasti sedang tidur!" ucap Bima seakan bisa membaca pikiran Dipta saat ini.


Dipta tertawa terbahak-bahak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bima.


" Ya ampun emang cuma loh yang bisa ngerti gue luar dan dalam. Lihatlah! Gue nggak ngomong apa-apa aja lu udah tahu kalau gue berniat untuk menghubungi Nadia!" ucap Dipta Sambil tertawa kepada Bima.

__ADS_1


"Udah yuk ah kita tidur kalau ngomong terus nggak bakalan selesai-selesai bisa-bisa kita pasti malah bergadang ujung-ujungnya!" ucap Bima kemudian dia langsung membuka pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.


__ADS_2