Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
191. Gak Mau


__ADS_3

" Aku hanya ingin kita segera menikah!" ucap Zidane dengan suara serak.


" Tapi katakan dulu padaku. Kenapa kau mengingatkan itu? Bukankah tadi siang kau mengatakan kalau ingin kita untuk membatalkan keinginan kedua orang tua kita untukenjodohkan kita berdua? Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Marcella bingung.


Zidane kemudian memberikan kartu undangan yang diberikan oleh Alexa kepadanya.


" Apa ini?" tanya Marcella bingung.


" Buka saja!" ucap Zidane pelan dan mulai duduk di kursinya.


" Kartu undangan pernikahan?" tanyanya lagi.


" Wanita yang akan menikah itu adalah wanita yang pernah ku cintai. Sewaktu aku kuliah di Amerika. Akan tetapi aku tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku. Akan tetapi selama kami berada di Amerika. Aku selalu menunjukkan rasa cintaku padanya!" ucap Zidane sambil menatap lurus ke depan.


Zidane mengerutkan keningnya. Ketika dia melihat Fikar saat ini sedang menatap mereka berdua dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.


" Apa kau memiliki hubungan dengan laki-laki itu?" tanya Zidane tunjuk ke arah Fikar yang masih memperhatikan mereka berdua di pinggir jalan.


" Dia adalah sahabatku. Sejak SD kami sudah bersama. Memangnya ada masalah apa?" tanya Marcella sambil menatap kepada Fikar yang sini menatapnya dengan serius.


" Apa kau yakin kalau dia hanya menganggapmu sebagai sahabat?" tanya Zidane.


" Tentu saja! Dia tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Apakah aku harus percaya diri bahwa dia mencintaiku?" tanya Marcella sambil menatap kepada Zidane.


" Aku juga tidak pernah mengatakan cinta kepada Alexa. Tetapi aku sangat mencintainya. Selama bertahun-tahun aku hanya ada untuknya. Hanya saja papa dan mamaku yang mengingatkanku bahwa aku sudah memilikimu sebagai calon istriku. Itulah yang membuatku tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan cintaku kepada Alexa! Karena aku tahu bahwa aku tidak bisa memberikan masa depan untuknya!" ucap Zidane.


" Dan sekarang kau mendapatkan kenyataan bahwa ternyata wanita yang kau cintai akan menikah dengan orang lain?" tanya Marcella sambil menatap kepada Zidane dengan perasaan iba.


" Aku bahkan melihat Alexa bersama dengan tunangannya melakukan hubungan yang tidak seharusnya!" ucap Zidane sambil berusaha untuk menundukkan kepalanya.


Sebenarnya ada perasaan malu di dalam hati Zidane ketika dia menceritakan itu kepada Marcella. Akan tetapi saat ini dirinya sedang membutuhkan seseorang untuk dapat menenangkan perasaannya yang sedang patah hati gara-gara Alexa.


" Baiklah karena aku orang yang baik hati. Aku akan menemanimu untuk melewati hari patah hatimu hari ini!" ucap Marcella sambil tersenyum manis kepada Zidane yang menatapnya dengan heran.


" Katakan padaku apa yang bisa kau lakukan untuk bisa menenangkanku?" tanya Zidane sambil menatap serius kepada Marcella.


" Katakan padaku apa yang bisa membuatmu merasa senang?" Tanya Marcella serius.

__ADS_1


" Menikahlah denganku dan buatlah aku bisa mengangkat kepalaku ketika datang di pernikahan Alexa!" ucap Zidane sambil menatap kepada Marcella yang tampak berpikir sangat keras untuk permintaan yang satu itu.


" Maafkan Aku untuk permintaan itu sepertinya aku tidak bisa mengabulkannya!" ucap Marcella merasa bersalah kepada Zidane.


" Bagaimana kalau sebuah ciuman mungkin?" tanya Zidane sambil mengangkat alisnya.


" Hari ini bukankah kita sudah melakukan itu dua kali?" katanya Marcella sambil menundukkan kepalanya.


" Ciuman pertamaku telah kau curi tanpa permisi! Dasar jahat!" ucap Marcella sambil menatap tajam kepada Zidane yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.


" Kalau begitu Kau ambil lagi aja dariku!" ucap Zidane dengan senyum tengilnya.


" Bagaimana cara ngambilnya?" tanya Marcella dengan begitu polosnya.


" Begini caranya!" ucap Zidane kemudian dia langsung mencium bibir Marcella sekali lagi.


" Ih curang kau selalu melakukan seperti itu!" ucap Marcella protes kepada Zidane.


" Gimana dengan lamaranku? Apakah kau mau?" tanya Zidane penasaran.


" Apa karena laki-laki bernama Fikar itu? sehingga kau menolak lamaranku sekarang?" tanya Zidane dengan aroma cemburu yang begitu kental dalam suaranya.


" Ya ampun Sudah aku katakan hubunganku dengan Fikar hanya sebatas Sahabat tidak kurang dan tidak lebih!" ucap Marcella dengan penuh keyakinan.


" Lalu kenapa kau tidak mau menerima lamaranku?" tanya Zidane dengan penasaran.


Marcella menepuk keningnya karena merasa frustasi dengan pertanyaan yang sama.


" Kan tadi sudah kujawab kodok burik! Aku masih kelas 2 SMA dan aku tidak mempunyai cita-cita untuk menikah muda maupun putus sekolah!" ucap Marcella dengan keras.


" Hai! Bisakah kau bicara pelan-pelan aku bukan orang yang budak sehingga tidak bisa mendengarkan perkataanmu!" ucap Zidane sambil mencubit hidung Marcella.


" Habisnya kamu dari tadi nggak paham-paham juga sih! Aku sudah ngomong ngotot kayak gini masih juga maksa-maksa!" ucap Marcella gemes.


" Jangan gemes-gemes lah nanti kalau sampai kamu jatuh cinta padaku kau akan kesulitan nanti!" ucap Zidane dengan penuh percaya diri.


" Iuh... Jinjay!" ucap Marcella sambil tertawa.

__ADS_1


" Kenapa?" tanya Zidane merasa tersinggung.


" Kalau aku mau jujur ya! Kau itu bukan seleraku dan bukan typeku. Kalau bukan karena Daddy yang terus memaksaku untuk menjadi tunanganmu. Mana mungkin aku sudi menjadi calon istrimu?" ucap Marcella sambil melirik kepada Zidane.


" Aku yakin kalau aku bisa membuatmu untuk jatuh cinta padaku!" ucap Zidane jumawa.


" PD banget jadi orang!" ucap Marcella sambil mencibirkan bibirnya kepada Zidane.


" PD lah! Buktinya selama satu hari ini aku sudah mencicipi bibirmu sebanyak dua kali!" ucap Zidane sambil melirik kepada Marcella yang sekarang memerah wajahnya karena merasa malu.


" Ih kayak gitu aja bangga!" ucap Marcella berusaha menyembunyikan perasaannya saat ini di hadapan Zidane.


" Udah yuk balik! Aku laper banget nih dari tadi cuma di sini aja. Apa kau tidak punya niat untuk memberikanku makan?" katanya Marcella bersungut-sungut kepada Zidane yang hanya bisa tertawa melihatnya yang tampak begitu lucu.


" Kodok burik! Ayo cepat bawa aku untuk makan karena aku lapar banget!" ucap Marcella sambil mengguncangkan lengan Zidane sehingga Zidane tertawa senang dibuatnya.


" Ya ampun! Kau masih sama seperti waktu masih kecil dulu! Kau selalu saja melakukan hal seperti itu kalau menginginkan sesuatu dariku!" ucap Zidane pelan sambil tertawa terpingkal-pingkal. Dia merasa lucu ketika mengingat tentang masa lalunya bersama dengan Marcella di saat mereka masih kecil dahulu.


" Stop tertawa oke? Atau aku akan turun dari mobil ini dan tidak akan pernah mau ikut denganmu lagi!" ancam Marcella kepada Zidane yang hanya bisa menggelangkan kepalanya.


" Aku pergi ya kamu menyebalkan!" ucap Marcella sambil bersiap untuk keluar dari mobil Zidane.


Tetapi tiba-tiba saja Zidane menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukannya.


" Kamu kenapa sih suka sekali melakukan sesuatu yang tiba-tiba dan bikin orang lain jantungan!" protes Marcella sambil cemberut kepada Zidane.


" Lepaskan aku! Cepat kita pergi dari sini. Karena aku ingin makan. Kalau kau tidak ingin memberikan aku makan. Maka aku bisa mencarinya sendiri!" ucap Marcella bersiap meninggalkan mobil Zidane.


" Oke oke oke sekarang kau pasang sabuk pengamanmu dan kita akan langsung mencari restoran!" ucap Zidane.


" Bagaimana kalau kita ke restoran yang tadi enak loh makanannya!" ucap Marcella dengan sepenuh semangat.


" Alah Bilang aja kalau kau ingin bertemu dengan pemilik restoran itu!" ucap Zidane tampak tidak suka.


" Ih kok kamu tahu sih kodok burik! Kalau aku sedang ingin bertemu dengan dia? Dia itu laki-laki yang keren dan juga nyenengin untuk dilihat. Dia itu tipe aku banget deh!" ucap Marcella dengan mata berbinar-binar sehingga membuat Zidane tambah panas hatinya.


" Kau sengaja membuatku cemburu kan?" tanya Zidane kesal.

__ADS_1


__ADS_2