
Elena melirik kepada mereka semua. Para santri putri yang diperintahkan oleh Raffi untuk menemaninya.
" Kalian tidur saja di ruang tamu. Karena aku tidak mau berbagi kamar calon suamiku dengan kalian!" ucap Elena dengan wajah tidak bersahabat kepada semua santri putri dan dia pun langsung masuk ke dalam kamar yang di pintunya tertulis Raffi.
" Nggak bisa dong Gus Raffi kan tadi memerintahkan kami untuk menemani kamu!" ucap Shahara.
" Eh aku tidak sudi ya untuk berbagi kamar calon suamiku dengan kalian! Kalian lebih baik tidur di sini atau keluar dari rumah ini!" ucap Elena sambil bertolak pinggang di hadapan mereka.
" Sudah teman-teman jangan berantem nanti Gus Raffi pasti akan marah dengan kita sudah biarkan saja terserah dia maunya apa!" ucap Riana ketua asrama santri putri.
" Tapi dia aneh banget Kak! Masa tidak mengizinkan kita untuk tidur di kamarnya Gus Raffi sih? Padahal kan Gus Raffi tadi sudah menyuruh kita untuk tidur di sana! Kapan lagi coba kita bisa masuk ke kamarnya Gus Raffi?" tanya yang lainnya.
" Dengar ya! Kalian pupus semua impian kalian untuk bisa masuk ke dalam kamar calon suamiku! Ataupun memikirkan akan memiliki dia karena dia hanya milikku!" ucap Elena dengan jumawa.
" Tampaknya perempuan ini stress apa ya? Dari tadi selalu mengatakan kalau Gus Raffi itu adalah calon suaminya!" ucap Riana.
" Benar sekali! Padahal kan calon istri Gus Raffi itu Dinda. Bahkan kedua orang tua mereka saja sering bertemu dan sudah sepakat untuk pernikahan mereka berdua!" ucap Sahara dengan mata penuh rasa kesal sambil menatap kepada Elena yang saat ini tampak marah.
" Dinda siapa yang kalian maksud? Raffi itu calon suamiku dan dia hanya boleh menikah denganku!" ucap Elena marah.
" Aku tidak tahu kamu siapa. Tapi yang jelas itulah kenyataannya!" ucap Syahara lagi.
" Katakan padaku siapa itu Dinda?" tanya Elena dengan mata menyala penuh dengan kemarahan.
" Dinda itu putrinya dokter Bagas dan mereka Kedua orang tuanya adalah sahabat sejak lama!" ucap Riana.
" Hah, hanya anak seorang dokter saja berani bersaing denganku! Dia tidak akan mungkin bisa mengalahkanku! Anak dari seorang Duta Besar Indonesia untuk Mesir!" ucap Elena dengan pongah.
__ADS_1
" Ya ampun Kenapa rasanya lucu sekali?" tiba-tiba salah satu di antara santri yang berada di situ tertawa terbahak-bahak.
" Apakah kita di sini sedang menonton film Ketika Cinta Bertasbih?" ucapnya Sambil tertawa tidak bisa menahan kelucuan yang ada di hatinya.
" Apa maksudnya?" tanya Elena tampak bingung.
" Iya di film Ketika Cinta Bertasbih kan Elena menyukai Azam. Dia juga seorang anak dari duta besar Indonesia untuk Mesir. Hanya saja bedanya Elena yang itu seorang artis terkenal. Lah kalau ini, Elena apaan ya? Tengah malam datang ke rumah laki-laki dan ngaku-ngaku sebagai calon istrinya. Benar-benar rasanya ingin tertawa! Hahaha!" ucap salah seorang santri putri yang merasa jengkel sejak tadi kepada Elena.
' Lama-lama melihat mereka, benar-benar menyebalkan!' batin Elena.
Elena segera masuk ke dalam kamar Raffi dan kemudian dia mengunci pintunya dari dalam. Elena tidak memperdulikan lagi teriakan-teriakan dari santri putri yang tadi diperintah oleh Raffi untuk menemaninya.
" Udah ayo kita kembali ke asrama putri saja. Biarkanlah Elena tidur di situ. Saya yakin dia tidak akan macam-macam di rumah ini pasti karena dia segan dan takut kepada Gus Raffi!" ucap Riana yang memberikan perintah kepada teman-temannya untuk meninggalkan kediaman Kyai mereka.
" Nggak papa deh kita tidur di sini. Ruang tamu ini juga luas. Kita cari saja karpet untuk menjadi alas kita tidur di sini. Kita tidak boleh melanggar perintah dari Gus Raffi yang meminta kita untuk menemani perempuan itu! Bagaimana kalau ternyata dia benar-benar calon istri dari Gus Raffi nanti kalau ada apa-apa dengan dia kita loh yang akan kena masalah!" ucap Syahara.
" Benar juga kalau sampai dia berbuat aneh-aneh di rumah ini. Kemudian dia memberikan kerugian kepada pondok pesantren. Pasti kita semua nanti yang kena karena kita kan yang diberikan tugas oleh Gus Raffi untuk menjaga dia!" ucap Riyana.
Akhirnya mereka pun menurut dan mencari sebuah karpet yang mereka gelar di depan ruangan televisi
" Mau nonton televisi nggak?" tanya salah seorang diantara mereka.
" Jangan kita lebih baik menghafal saja yang tadi diajarkan sama Gus Raffi Bukankah besok subuh-subuh kita harus setoran ke dia?" tanya Riana.
" Ya ampun hampir saja aku lupa dengan tugas itu ya sudah Sebentar aku ke asrama dulu untuk mengambil kita biar kita bisa menghafal bersama-sama!" Syahara kemudian langsung meninggalkan kediaman Pak Kyai mereka dan mengambil kitab mereka masing-masing untuk mulai menghafalkan Apa yang diperintahkan Raffi.
Sementara itu Elena yang berada di dalam kamarnya Raffi dia tampak memperhatikan seluruh barang-barang yang berada di dalam kamarnya Raffi. Dia melihat foto-foto yang dipajang di sana sama sekali dia tidak melihat ada foto seorang perempuan yang terpajang hanya foto Raffi dengan Rehan yang banyak mendominasi ruangan itu.
__ADS_1
" Kalau memang benar ada seorang Dinda sebagai calon istrinya. Pasti di sini ada foto pertunangan mereka yang dipajang oleh Raffi kalau memang benar Raffi mencintai perempuan itu mereka pasti hanya sedang memanasiku saja karena mereka iri aku sebagai calon istri dari Raffi!" ucap Elena dengan senyum bahagianya karena dia tidak melihat sama sekali Ada foto seorang perempuan di dalam kamarnya Raffi.
" Wah senangnya! Aku bisa tidur di ranjang ini sebentar lagi aku akan berada di kamar ini bersama dengan Raffi dan menjadi istrinya yang sah dan melahirkan anak-anaknya!" ucap Elena dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Elena terus memperhatikan semua yang ada di dalam kamar Raffi karena perasaan senang dia bisa tidur di kamar laki-laki pujaannya Elena pun dalam sekejap sudah terlelap dalam tidurnya.
" Wah senang sekali aku bisa tidur di ranjang yang sama dengan bantal yang sama miliknya Raffi!" hati Elena benar-benar berbunga-bunga merasa senang dengan keberuntungannya hari ini.
Sementara itu Raffi yang saat ini berada di asrama putra tampak asik mengobrol dengan santri-santri yang lainnya.
" Gus Apakah benar kalau perempuan tadi adalah calon istrimu?" tanya salah seorang santri Putra kepada Raffi.
" Aku tidak tahu apakah dia bisa dikatakan sebagai calon istri atau tidak Tapi yang jelas sejak aku berada di Mesir dia selalu menempel padaku dan selalu berusaha mengejar-ngejar aku. Bahkan orang tuanya mengatakan kalau mereka menunggu lamaranku!" ucap Raffi dengan datar nyaris tanpa ekspresi apapun.
" Wah Gus Raffi benar-benar beruntung ya? Gadis itu benar-benar cantik sekali!" ucap salah seorang santri Putra yang tampak terpesona dan iri dengan Raffi.
" Apanya yang beruntung saya setiap hari selalu dibuat pusing olehnya ketika berada di Mesir karena dia yang selalu hadir di depan saya tanpa pemberitahuan apapun dan dia selalu ada di manapun Ketika saya pergi ke luar asrama!" ucap Raffi merasa tidak suka terhadap Elena yang selalu mengejar dia kemanapun.
" Wah sungguh keren. Dia bahkan datang jauh dari Mesir ke Indonesia hanya untuk demi bertemu dengan Gus Raffi!" ucap yang lainnya dengan wajah sumringah.
" Sudah jangan macam-macam! Ayo istirahat besok kalau sampai kalian tidak bisa menghafalkan yang saya berikan tadi di kelas besok saya pasti akan marah ke kalian!" ucap Raffi kepada teman-teman yang lain.
" Gus jangan terlalu galak lah sama kami kan kita teman kami juga tidak bisa terus-terusan menghafal dari kitab yang Gus ajarkan kepada kami!" ucap Robi sambil menatap kepada Raffi dengan lekat.
" Jangan dipelihara yang namanya kemalasan atau kalian akan merasa kesedihan di masa swpabbnantinya?!" ucapnya memberikan perintah kepada Raffi.
" Kami bukannya males Gus! tapi kami tidak bisa untuk menghafal malam ini bagaimana kalau besok saja Gus?" tanya Romi kepada Raffi yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
" Cepat kalian hafalkan! Besok subuh-subuh saya tidak mau tahu kalian harus bisa menyetorkan hafalan tersebut kepada saya" ucap rapi dengan kesal.
"