
Pov Ali
Pikiranku sangat kacau dan ruwet. Aku tanpa sadar terus melamun. Tanpa aku sadari kalau istri dan anakku telah pergi meninggalkan tokoku. Saat aku dikagetkan oleh kedatangan pelanggan, aku baru tersadar dalam lamunan.
Aku melihat ke sekeliling, ke kamar kami, namun aku tidak mendapatkan istri dan anakku. Aku lihat koper yang tadi di kemas istriku juga sudah tidak ada. Seketika hatiku panik bukan kepalang.
"Kemana istriku? Waduh, dia bawa anak kami lagi!" seketika aku panik, aku lalu mengambil ponselku, mencoba menelpon istriku. Tapi aku mendengar suara ponselnya di kamar ini.
"Waduh, kenapa dia gak bawa ponsel nya? Kemana aku harus mencari dia?" aku mulai panik dan frustasi. Kenapa aku begitu bodoh sih? Memikirkan perempuan lain yang gak jelas asal usulnya, dia bahkan menipuku dengan pura-pura jadi orang miskin, entah dengan tujuan apa. Dan sekarang karena kebodohanku, istriku sampai salah paham, mengira aku jatuh cinta kepada Rianti. 'Dasar bodoh!' Rutukku dalam hati.
"Kemana aku sekarang harus mencari istri dan Anakku?" tanyaku sambil berpikir, kemana kira-kira istriku akan pergi.
"Apa aku ke pondok pesantren ya? Siapa tahu istriku sedang menenangkan diri di sana!" aku langsung menutup tokoku dan mengambil motorku lalu bergegas ke pondok, "semoga istriku ada di sana!" tidak henti-hentinya aku berdoa.
Sesampainya aku di sana, aku melihat ke sekeliling, tapi tidak aku dapatkan tanda-tanda keberadaan Istri dan anakku. Kalau ada, pasti suasana di pondok tidak sesunyi ini, anakku selalu membawa keramaian dengan kelucuan dia.
"Kang Ali, ko gak bawa Mba Nur sama Rafi?" tanya ibu Nyai kepadaku. Seketika aku jadi gugup, apa yang harus aku jawab? Kalau aku bilang jujur, apa yang akan beliau pikiran tentangku? Kalau aku bohong, aku takut kuwalat juga. Aku dalam dilema saat ini.
"Ada apa, Kang?" tanya Ibu Nyai lagi.
"Itu Bu Nyai, Nur pergi dari toko dan membawa Rafi juga!" ucapku sambil menundukkan kepalaku.
Beliau seketika terkejut. "Kok bisa pergi sih, Kang? Bagaimana caranya? Kasihan Rafi masih bayi, Kang!" beliau sudah panik. Aku jadi merasa tidak enak jadinya. Aku menarik nafas dalam.
"Istriku salah paham, Bu Nyai!" ucapku lirih.
"Salah paham bagaimana?" tanya beliau lalu duduk di depanku.
__ADS_1
"Itu Bu, kan sewaktu satu bulan istriku nifas, saya mencari karyawan untuk membantu di toko, tapi selama itu, saya mungkin terlalu dekat dengan dia. Jadi istriku berpikir bahwa saya telah mendua hati. Dia bahkan sudah menyuruh saya untuk meninggalkan dia dan memperjuangkan cinta saya untuk perempuan itu! Katanya dia rela mengalah, asal saya bahagia!" ucapku lirih.
"Kang, seorang wanita itu sangat peka hati dan perasannya. Kang Ali sebagai seorang suami harus paham. Apalagi Mba Nur baru melahirkan, hatinya sangat sensitif. Ingin di sayang dan di manja. Pasti Mba Nur merasakan sakit sekali, saat dia kesakitan setelah melahirkan anak kalian, Akang malah main gila dengan perempuan lain! Saya saja yang mendengar sakit sekali, kang! Apalagi Mba Nur, yang mengalami sendiri. Hatinya pasti berdarah sekarang!" ucap Bu Nyai dengan geram. Aku bisa melihat kilat kemarahan di mata beliau. Duh, apa aku memang sudah bersalah kepada istriku?
"Sudah, kang! Cepat di cari. Kasihan itu sama Rafi, baru juga berumur 1,5 bulan, kasihan kalau tidur di luar. Duh, kok hati saya jadi ikutan was was begini sih! Lain kali sama istri itu baik-baik Kang! Jangan menyakiti hati istrinya! Apa Akang lupa masalah Nadya dulu? Istri akang berdiri paling depan saat itu. Akang jadi suami tuh harus selalu mawas diri! Jangan selalu silau dengan kecantikan yang bukan milik akang! Istri dan anak akang itu butuh akang sebagai imam dan kepala keluarga. Jangan bersikap egois atuh, kang! Saya jadi gemes ini!" ucap Bu Nyai ikut senewen dengan masalahku.
"Ada apa, Bu? Kok marah-marah begitu?" aduh, gawat! Pak Kiai sudah datang juga. Bisa habis kena marah beliau aku ini!
"Ini Mas, Mba Nur sama Rafi katanya pergi dari toko. Saya khawatir sama mereka!" ucap Bu Nyai.
Pak Kiai langsung kaget juga.
"Pergi bagaimana, Kang?" tanya beliau lagi.
"Itu, Pak Kiai.. Anu.. e.. gimana ya?" aku mendesak jadi grogi dan takut dengan kemarahan beliau.
"Itu, Mas! Mba Nur merasa marah karena Kang Ali sudah main perasaan sama pegawai yang kemarin bantu-bantu di toko!" Bu Nyai yang membantu menjawab. Hatiku sudah mencelos tiba-tiba. Takut dengan kemarahan beliau.
"Kang, jadi laki-laki itu harus kuat iman dan taqwa, jangan mudah tergoda dengan sesuatu yang bukan milik kita. Kalau kita serakah, pada akhirnya malah kehilangan apa yang sudah kita miliki. Apa nanti Akang tidak menyesal, kalau istri dan anak Akang tidak mau kembali?" tanya beliau.
"Coba Kang tanya ke Cirebon, siapa tahu Mba Nur pulang ke sana!" ibu Nyai lalu memberikan ide yang bahkan tidak ada dalam pikiran ku.
'Ah, pikiranku terlalu ruwet sampai tidak berpikir ke sana! Betapa bodohnya aku!' Makiku dalam hati.
Aku lalu mengambil ponselku, mencari nomor mertuaku.
"Assalamualaikum, papah, apa kabar?" tanyaku.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Alhamdulillah kabar papah baik-baik saja. Bagaimana kabar Nur dan cucu Papah? Baik-baik saja?" tanya beliau di sebrang sana. Hatiku lemes seketika.
'Ya Allah, apa yang harus hamba jawab sekarang? Mertuaku menanyakan kabar putrinya dan cucu kesayangannya. Apa yang harus hamba lakukan sekarang, ya Allah?' hatiku sudah tidak kuat lagi.
"Hallo, Ali! Kamu masih di sana?" tanya beliau.
"Oh, iya Pah! Ali tutup dulu, Pah! Ada pembeli di toko, assalamualaikum!" tanpa menunggu aku langsung menutup panggilan telpon.
"Sekarang bagaimana?" tanya Bu Nyai sudah gusar. Aku jadi tambah panik.
"Kita kerahkan santri saja untuk mencari! Sebentar, Abah panggil dulu Kang Huda!" Pak Kiai lalu masuk ke area pondok pesantren bagian dalam.
Beliau lalu mengumpulkan beberapa santri lalu mengarahkan untuk membantu mencari istri dan anakku. Aku jadi merasa malu kepada dirimu sendiri dan juga kepada teman-teman. Apa yang mereka pikirkan tentang diriku saat ini?
Aku sungguh lelaki yang bodoh, terpesona dengan fatamorgana sehingga lupa dengan kenyataan. Sehingga melukai hati istriku, yang telah mempertaruhkan nyawa demi melahirkan anakku. Aku mengingat perjuangan dia saat melahirkan anakku, sungguh sakit yang bertambah dan berlipat-lipat. Istriku bahkan berjuang seharian saat melahirkan anakku, seketika air mata lolos dari pelupuk mataku.
"Maafkan, Mas! Kembalilah, sayang! Mas sungguh minta maaf karena sudah lalai menjaga perasaan kamu! Hiks hiks!" air mataku semakin membanjir. Para santri sudah menyebar mencari istriku dan anakku. Pak Kiai dengan berbaik hati memandu para santri untuk mencari keberadaan istriku.
Semua titik kemungkinan istriku pergi di jelajahi oleh para santri yang langsung bergerak cepat. Terminal bus dan station di jelajahi, tapi hasilnya nihil. Beberapa santri dengan berbekal foto bertanya kepada supir angkot yang ngetem di depan tokoku, berharap salah satu dari mereka ada yang pernah melihat anak dan istriku.
Sampai sore kami terus berusaha mencari keberadaan Istri dan anakku.
"Udah, Kang! Pulanglah dulu, siapa tahu Mba Nur tadi lagi pergi ke teman dia. Mungkin sekarang sudah di toko. Akang menunggu di rumah saja. Nanti kalau ada kabar, saya kabari!" ucap Bu Nyai.
Aku hanya bisa mengangguk dan pulang dengan gontai."Terima kasih atas bantuan Pak Kiai dan Bu Nyai, maafkan selalu merepotkan! Saya permisi dulu!" lalu aku mencium tangan mereka dengan takjim dan penuh kehormatan.
Rasa malu dan bersalah terus bersemayam dalam hatiku. Istriku saat ini pasti sangat sakit hatinya gara-gara kebodohan yang telah aku lakukan.
__ADS_1