Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
35. Nadya Galau


__ADS_3

Pov Nadya


Aku dengar kalau pernikahan Nur dan Mas Ali hanya tinggal menunggu hari. Nur bahkan sudah pulang ke rumahnya sejak dua hari yang lalu agar lebih fokus mempersiapkan pernikahan mereka.


"Kamu kenapa Nad, ko lesu gitu?" tanya teman sekost Nadya terheran.


"Pria idaman gue, mau nikah sebentar lagi!" ucap Nadya sambil meluk gulingnya.


"Ya elah, Nadya! Calon laki orang loe pikiran! Itu si Jeffry tiap hari jabanin loe, loe cuekin! Dasar aneh!" protes temanku lagi.


"Gua gak cinta ma Jeffry!" ucap Nadya.


"Ya elah, loe lagi belajar mo jadi pelakor apa? Jangan deh, Nad! Nanti loe kuwalat loh! yang jelas-jelas aja jadi orang!" ucapnya nyablak.


"Loe pernah ngerasain jatuh cinta gak sih?"


"Ya pernah lah, dodol! Tapi cinta loe namanya cinta terlarang! Jangan cari penyakit dengan mencintai sesuatu milik orang lain! Dosa! Cari yang halal halal aja, yang bikin loe masuk ke surga!" nasehat temanku lagi.


"Tapi, cinta gak bisa milih, mau berlabuh sama siapa." ucapku lesu.


"Nadya, sayang! Kita harus tahu mana benar, mana salah! Loe masih muda, mo belajar jadi pelakor? mau viral loe?" aku lemparin bantal yang tadi aku peluk sama temanku yang rese itu.


"Sabar, bestie!" Temanku yang bernama Husna itu berkelit dari bantal yang tadi siap nampok kepalanya.


"Habisnya loe Nyebelin!" aku milih pergi mandi aja, daripada tambah badmood.


Setelah mandi aku pergi ke kampus. Banyak tugas yang menunggu. Maklumlah namanya juga mahasiswa level akhir. Sibuk dengan skripsi dan penelitian. Mamah sudah desak terus biar cepat lulus dan menikah.


"Assalamualaikum," ucap seseorang yang familiar buat Nadya.


"Waalaikum salam," jawab Nadya sekedarnya.


"Wah, bidadari surga Bang Jeffry tambah cantik, aja!" Jeffry tersenyum manis.


"Bidadari surga kepala loe!" Nadya nampol kepalanya Jefry yang malah nyengir gitu.


"Jangan galak-galak deh, nanti Abang Jeffry lamar, loh!" ancam Jeffry.

__ADS_1


"Idih, siapa juga mau di lamar ama loe!" Nadya langsung pergi ninggalin Jeffry yang masih bengong di tinggalkan oleh Nadya.


"Tunggu lamaran Abang Jeffry, ya!"


"Bodo!" kesal hatiku rasanya digodain Jeffry pagi-pagi gini. Hati lagi galau gini, gara-gara pernikahan Nur yang sebentar lagi, ada-ada aja cobaan hidupku. Jadi lesu deh.


"Nad, gimana skripsinya?" tanya seseorang dari arah parkiran.


"Ya, gitulah! Bosenin!" keluh Nadya.


" Semangat, bestie!" ucap Harun "Ke kantin yuk! Sarapan dulu!" kami lalu sama-sama ke kantin.


"Skrpisi loe gimana, Harun?" tanya Nadya sambil nunggu pesanan datang.


" Baik, sejauh ini, masih bisa di handle!" setelah makanan datang, kami makan dengan fokus.


"Kok bidadari surgaku makan gak ngajak-ngajak sih!" protes Jeffry tiba-tiba sudah ada di sana.


"Loe, kenapa selalu ada di mana-mana, kayak kuman aja sih loe!" protes Nadya karena kaget.


"Kuman ganteng, kan!" ucap Jeffry narsis.


"Jangan gitu, dong! Hati Abang Jeffry terhiris sembilu rasanya." Jeffry misuh misuh jadinya.


"Loe kanapa mendadak jadi mahluk jadi-jadian!" Nadya jadi kesal dibuatnya.


'Lagi marah aja cantik!' bathin Harun.


"Loe juga kenapa, Harun?" tanya Nadya.


"Gak apa-apa, ayo habisin makanan nya, nanti gue yang traktir!" janji Harun sumringah.


"Jangan, deh! Gue gak tega! Gue bisa bayar makananku! Jangan khawatir, gini-gini bukan orang miskin ko!" protes Nadya.


"Siapa bilang kalau traktir orang karena mikin mereka miskin? Gue traktir karena bahagia bisa makan bersama dengan kamu. Itu aja!" jawab Harun mantap.


"Kirain aja!" jawab Nadya santai.

__ADS_1


"Harun! Nadya itu punya aku, gak usah ganggu!" Jeffry malah bikin makin illfell aja.


"Jangan ribut! Masih pagi ini loh!" aku jadi kesal dengan mereka berdua.


Setelah selesai makan, aku pergi meninggalkan mereka. Hatiku lagi galau, mereka malah nambah ruwet pikiran saja.


Aku pergi ke perpustakaan saja, cari buku referensi untuk skripsi yang sedang aku kerjakan. Tapi aku gak bisa fokus sama sekali. Pikiranku masih tertuju pada pernikahan Mas Ali dan Nur. Aku masih belum rela rasanya.


Aku memang sakit hati saat Mas Ali menolak aku mentah-mentah waktu itu. Aku juga tidak pernah menghubungi Nur lagi. Kesal sekali dengan dia. Merasa hebat karena pria pujaanku lebih memilih dia. Padahal siapa dia? Merasa lebih hebat dari aku? Aku ini anak Jakarta dan Orang tuaku orang kaya. Memiliki Bank swasta yang punya banyak cabang di negara ini. Aku gak terima kalau dikalahkan oleh gadis desa seperti Nur.


"Aku pasti suatu saat bisa dapatkan Mas Ali!" geramku. Karena gak bisa fokus, aku putuskan pulang saja ke kostku. Kostan ini milik orang tuaku. Mereka membeli kostan ini dan menyerahkan kepadaku sepenuhnya. Mereka bilang, biar aku belajar mengelola sebuah bisnis.


Aku terima saja, toh namanya pemberian. Dari uang sewa kost itu aku memanjakan diriku sendiri. Aku sering traktir teman-teman ku ke club kalau malam. Kota tempat aku kuliah tidak seperti Jakarta, di mana diskotik menjamur. Disini, mencari diskotik itu susah. Hanya ada beberapa.


Itulah yang membuat teman-teman ku lengket dengan ku. Aku royal sama mereka. Kecuali Nur tentu saja. Wanita kampungan itu selalu menolak kalau aku ajak dugem. Dasar munafik?! Kesal aku jadinya sama dia.


Setelah sampai ke kostku, aku langsung tidur, pusing kepalaku rasanya. Memikirkan pernikahan pria idamanku rasanya nyesek banget.


"Nad, kok tumben jam segini sudah ada di rumah?" tanya temanku kepo.


"Malas ah, di kampus bosan!" ucapku.


"Lupakan calon laki orang! Jangan bercita-cita jadi pelakor! Masih banyak laki-laki ganteng dan Sholeh di luar sana!" pesan temanku lagi.


"Ah, rese loe ah! Gue pulang mau nenangin diri malah loe recokin lagi!" kesalku.


"Maaf bestie! Aku cuma gak mau kamu terperosok dalam kubangan dosa. Bertobatlah bestie sebelum terlanjur!" aku melempar bantalku padanya, kesal sekali.


"Keluar loe dari kamar gue! Bikin kesal aja!" aku sudah hilang sabarku mendengarkan ocehan temanku yang rese dan tidak tahu situasi hati orang yang lagi galau begini.


"Dasar loe, teman durhaka! Bukannya hibur teman yang lagi galau, malah ngomongin yang aneh-aneh!" ucapku kesal sambil mengunci kamarku.


"Maaf bestie! Aku hanya tidak mau kamu jadi pelakor! Bertobat segera bestie!" ucapnya lagi.


"Teman durhaka! Keluar loe dari kontrakan gue! Gak butuh teman macam loe!" ucapku pada Aisyah yang sok suci itu. Kesal pokoknya!


Aku lama menunggu jawaban Aisyah, tapi di luar kamarku sepi sekali. Kemana Aisyah? Aku jadi gak enak sama sohibku itu. Dia memang selalu begitu. Selalu menasehati ku. Hanya saja, dia tidak tahu situasi banget. Aku lagi galau dan sakit hati. Dia malah cari masalah denganku.

__ADS_1


Biarlah, besok aku minta maaf sama dia, kalau perasaanku sudah membaik. Aku sekarang hanya mau tidur saja. Pusing sekali kepalaku.


__ADS_2