Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
148. Diskusi


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Bima. Sheila akhirnya pulang menuju Mansion milik keluarganya.


Tetapi ketika sampai di basement apartemen Bima, Sheilla melihat Dipta yang sedang duduk di dekat mobil mikiknya. Dipta tampak melipat kedua kakinya dan menundukkan kepalanya dengan lekat.


"Dipta? Apa yang kau lakukan di sini? Aku kira kau sudah pulang!" tanya Sheila seakan khawatir dengan sahabat calon suaminya.


"Sheila? Aku kira kau akan menginap di apartemennya Bima!" ucap Dipta sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya ampun Dipta! Emangnya itu yang ada di dalam kepalamu? Bahwa Aku adalah seorang gadis nakal?" tanya Sheila dengan agak tersinggung dengan ucapan Dipta.


"Tidak! Hanya saja seorang gadis datang ke apartemen seorang laki-laki lajang di tengah malam seperti ini. Bagaimana saya tidak akan berpikiran negatif?" ucap Dipta sambil menundukkan kepalanya.


"Saya datang ke apartemennya Bima hanya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja dan sudah makan. Kan Kamu sendiri yang bilang kalau Bima itu memiliki masalah dengan makanan dan juga lambungnya. Oleh karena itu saya jauh-jauh datang ke sini, hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja! Bagaimanapun kan pernikahan kami hanya tinggal menghitung hari. Bagaimana mungkin aku akan membiarkan calon suamiku kenapa-napa." ucap Sheila menjelaskan semuanya kepada Bima agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka berdua.


"Baiklah! Tolong kau maafkan atas pikiran negatifku terhadapmu. Maklumlah saat ini aku sedang pusing sekali karena memikirkan tentang masalahku besok. Ya Tuhan! Kenapa aku sembarangan sekali menjanjikan sesuatu yang aku tidak tahu mampu atau tidak untuk melaksanakannya!" jerit Dipta frustasi.


"Bukankah aku tadi sudah bilang padamu? Kalau aku dan orang tuaku pasti akan membantumu. Kau jangan khawatir. Sekarang kau pulanglah ke apartemenmu dan tidur yang nyenyak. Besok jam 10.00 pagi datanglah ke rumah calon istrimu kami akan datang ke sana dengan membawa semua perlengkapan lamaran. Percayalah padaku Dipta. Aku pasti akan membantumu!" ucap Sheila sambil menepuk bahu Bima sehingga membuat Bima seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sheila.


"Benarkah kau akan membantuku? Apakah orang tuamu mau untuk mewakili keluargaku melamar Nadya?" tanya Dipta berusaha untuk mengkonfirmasi segalanya kepada Sheila.


"Percayalah padaku. Nanti orang tuaku akan berusaha untuk membujuk ibumu. Aku tahu kalau mereka ini adalah rekan bisnis yang lumayan baik hubungannya. Kau doakanlah semoga Ayahku bisa membujuk ibumu agar mau ikut dalam lamaranmu besok!" ucap Sheila sambil tersenyum manis sehingga membuat Dipta merasa sangat senang.


"Terima kasih banyak ya Sheilla. Karena kau mau membantu kesulitanku saat ini. Aku berharap kau dan Bima bisa hidup bahagia!" ucap Desta dengan wajah berbinar penuh dengan kebahagiaan mendapatkan janji dari Sheilla bahwa dia akan dibantu untuk acara lamaran besok.

__ADS_1


"Iya aku senang kok bantu kamu. Man nanti kalau kamu sudah punya istri, kamu tidak akan punya banyak waktu untuk mengganggu Bima. Jadi Bima akan 100% waktunya hanya untukku!" siap salah dengan senyum penuh bahagia sehingga membuat kita menjadi jengkel karenanya.


" Yaelah jadi dibalik bantuanmu ada udang dibalik terigu?" tanya Dipta seakan tidak senang.


"Ya kan, kalau kau sudah punya istri. Kau pasti akan lebih fokus terhadap istri dan juga anakmu. Sehingga waktumu untuk Bima jadi berkurang dan Bima hanya akan selalu mencurahkan waktunya hanya untukku dan anakku. Bukankah win-win Solution?" ucap Sheila sambil tersenyum manis kepada Dipta.


"Ah! Sudahlah apapun tujuanmu yang jelas, terima kasih sekali karena kamu mau membantu menyelesaikan masalahku. Aku pasti akan mengingat kebaikanmu ini dan selalu mendoakan kebahagiaanmu bersama Bima!" ucap Dipta dan akhirnya dia bangun dari duduknya. Dipta mulai melangkahkan kakinya ke mobil miliknya yang ada di belakangnya.


"Aku tidak tahu kenapa kau selalu saja cemburu padaku dan di Bima. Padahal Kami hanyalah dua sahabat yang selalu berusaha untuk mencurahkan perhatian kami untuk kebaikan satu sama lain!" ucap Dipta sebelum meninggalkan Sheilla yang masih Bengong di tempatnya.


"Karena tidak ada seorang wanita yang rela berbagi cinta suaminya dengan siapapun. Walaupun itu dengan seorang sahabat suaminya sekalipun. Itulah keegoisan cinta yang kumiliki untuk Bima!" ucap Sheila bermonolog dengan dirinya sendiri ketika dia melihat Dipta sudah meninggalkannya di basement apartemen Bima.


Setelah Dipta meninggalkannya akhirnya Sheilla pun kembali ke Mansion milik keluarganya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen milik Bima.


Saat Sheilla sampai di mansion kedua orang tuanya masih sibuk menonton televisi, acara film romantis kesukaan kedua orang tuanya. Seperti biasa Cansu dan Farel adalah pasangan romantis yang tiada duanya.


" Ya ampun kalian apa tidak bisa nonton film seperti itu di kamar kalian saja? Kalian sudah menodai mata suciku dengan hal seperti itu!" ucap Sheila langsung mematikan televisi yang sedang ditonton oleh kedua orang.


"Ya ampun sayang! Itu sedang seru-serunya kau main mati-matiin Saja. Kau mengganggu kesenangan Papa aja!" protes Farel sambil misuh-misuh menatap putrinya yang tiba-tiba datang langsung mematikan televisi yang sedang dia tonton bersama istrinya.


"Nanti kalian lanjutkan sendiri di kamar. Tapi yang jelas, sekarang Sheilla sedang mempunyai masalah yang ingin di diskusikan dengan kalian!" ucap Sheilla kemudian memandang kedua orang tuanya dengan wajah serius.


"Ada masalah apa sih? Tengah malam kayak gini. Apa nggak bisa kalau besok saja kita diskusi lagi? Papa capek ah, mau istirahat besok banyak kerjaan!" ucap Farel sambil menarik tangan istrinya untuk mengikutinya ke dalam kamar.

__ADS_1


"Coba saja berani Papah meninggalkan tempat ini sebelum Sheilla selesai berbicara dengan kalian berdua!" ucap Sheila dengan nada serius sehingga membuat Farel menjadi keheranan.


Tidak biasanya Sheilla bersikap seperti itu. Pasti ada sesuatu yang benar-benar penting yang membuat Sheilla memaksa dirinya untuk tetap ada di sana dan berdiskusi sesuatu yang Farel tidak tahu.


"Udah Pah duduk aja dulu. Mungkin Sheilla memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengan kita!" ucap Cansu pelan. Kemudian dia menarik tangan suaminya untuk duduk kembali di sofa yang tadi mereka tempati sebelum kedatangan Sheilla.


"Cepat katakan apa yang mau kau diskusikan ini sudah tengah malam loh, waktunya tidur bukan waktu berdiskusi!" ucap Farel sambil mulai menguap karena sudah mengantuk.


"Begini Pah tadi waktu Sheilla datang ke apartemennya Bima. Sheilla bertemu dengan Dipta. Sahabat Bima. Dia bercerita kalau saat ini dia sedang memiliki masalah besar dan membutuhkan kita untuk membantunya!" ucap Sheila berusaha untuk mulai menceritakan permasalahan tentang Dipta.


"Masalah apa? Dia itu kan seorang CEO perusahaan terkenal. Apa masalah yang tidak bisa dia selesaikan sehingga membutuhkan bantuan kita?" tanya Farel dengan nada Ketus karena dia tidak senang putrinya ikut campur dengan urusan orang lain.


"Dengerin dulu pah! Biarkan Sheilla bercerita dulu. Nanti kalau sudah selesai, baru papa boleh kasih komentar!" ucap Cansu agar membuat suaminya diam jangan berisik terus dari tadi. Sehingga membuat Sheilla tidak bercerita-bercerita sejak tadi.


" Ya udah papa diam! Cepat Sheilla kau ceritakan apa masalahnya. Karena papa sudah sangat mengantuk!" ucap Farel dengan tidak sabar sambil menguap. Karena dia memang benar-benar sudah mengantuk sejak tadi. Tetapi cansu memaksanya untuk tetap melek dan menemani dia untuk menonton televisi kesukaannya.


"Dipta besok mau minta kita untuk membantu dia melamar seorang gadis untuk menjadi istrinya!" ucap Sheilla to the point sehingga membuat Farel sontak terkejut.


"Dipta masih memiliki seorang ibu. Kita tidak perlu untuk ikut campur masalah seperti itu. Ayo sayang kita tidur!" ucap Farel tidak senang kemudian dia langsung menarik tangan istrinya ke dalam kamar.


Sheila terkesiap melihat kemarahan ayahnya ketika dia mengatakan niatnya untuk membantu Dipta dalam hal melamar calon istrinya.


"Ibunya Dipta tidak merestui pernikahan itu Pah! Oleh karena itu, Dipta membutuhkan kita untuk membantu dia untuk melamar perempuan itu!" ucap Sheila menjelaskan semua duduk perkara kepada ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2