Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
143. Makan Malam


__ADS_3

Setelah Bagas meninggalkan kediaman ayahnya Riyanti. Riyanti kemudian langsung masuk ke dalam rumah dan kembali bergabung dengan kedua orang tuanya dan juga Nadya.


"Suamimu sudah berangkat Riyanti?" tanya Nadia sambil melirik kepada adiknya.


"Sudah Kak barusan saja!" ucap Riyanti tersenyum bahagia kepada Nadya.


"Ayo kita pergi makan malam di luar kapan lagi keluarga kita komplit seperti ini!" ajak ayahnya Rianti sambil menatap kepada kedua putrinya yang sangat dia sayangi.


"Wah ide yang bagus Sudah lama kita tidak pernah berkumpul seperti ini pasti akan sangat menyenangkan!" ucap Riyanti dengan wajah berbinar-binar. Karena dia merasa senang akan kembali merasakan seperti masa lalu berkumpul bersama seluruh anggota keluarga yang lengkap.


"Maafkan aku! Sepertinya aku tidak bisa ikut dengan kalian. Aku tidak mau membuat kalian malu pergi keluar dengan mantan seorang narapidana!" ucap nadia sambil menundukkan mataku kepalanya.


"Apa yang kamu katakan Nadya? Papa sama Mama tidak pernah malu untuk berjalan bersama kamu! Udah cepat siap-siap kita akan pergi keluar dan makan malam di sana. Di sebuah restoran mewah dan mahal untuk merayakan kembalinya kamu ke rumah!" ucap ayahnya Riyanti tidak senang mendengarkan putrinya yang merendahkan dirinya karena dia mantan seorang narapidana.


"Apakah kamu tidak malu jalan bersama kakakmu ini Riyanti?" tanya Nadia sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap Riyanti, adiknya.


"Ya Allah kak! Bagaimana mungkin saya malu untuk berjalan sama kakak? Selama ini kami sangat berharap untuk kakak bisa berkumpul lagi bersama kami!" ucap Rianti sambil menggenggam tangan Nadya.


"Udah cepat! Kalian bersiaplah kita berangkat 10 menit lagi. Kalau terlalu malam kasihan nanti Riyanti dia kan sedang hamil muda saat ini!" ucap ayahnya Rianti tidak mau dibantah oleh Nadya lagi.


Akhirnya mereka pun bersiap untuk berangkat ke restoran yang biasa mereka datangi saat dulu mereka masih berkumpul bersama.


"Rasanya seperti mimpi, kita berempat bisa kembali datang ke restoran ini!" cap Nadia dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Nadia selama ini tidak pernah mengira bahwa dirinya akan secepat itu dibebaskan dari penjara padahal putusan hakim adalah dipenjara sebanyak 15 tahun tetapi Nadia mendapatkan pengampunan. Karena dia bersikap baik di dalam penjara dan juga usaha ayahnya yang pantang menyerah untuk terus mengajukan pengampunan untuk putrinya kepada negara.


Mereka pun akhirnya datang ke restoran dan memilih sebuah tempat yang dulu biasa mereka duduki apabila datang ke restoran itu.


"Setelah bertahun-tahun lamanya tempat ini masih belum berubah!" ucap Nadya sambil mengenang kembali saat-saat bahagia mereka saat dulu mereka sering datang ke restoran itu.


"Pah, Nadia Pergi dulu ke kamar mandi. Nadya kebelet pipi$!" ucap Nadia berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Ya sudah sana hati-hati ya!" ucap ayahnya Kemudian beliau mulai memesan makanan yang akan mereka konsumsi malam ini.


Setelah Nadia selesai dengan hajatnya di kamar mandi Nadia kembali ke meja tempat kedua orang tuanya dan juga Rianti berada.


"Sayang akhirnya aku menemukan kamu!" tiba-tiba saja ada sebuah tangan kekar yang memeluk bahu Nadia sehingga membuat Nadia terkejut dan kemudian Nadya mengerutkan keningnya menatap pria tampan yang ada di hadapannya saat ini.


"Anda siapa? Kenapa Anda lancang sekali dengan merangkul saya sembarangan?" tanya Nadya ketus sambil berusaha menyingkirkan tangan pemuda itu dari bahunya.


"Lepaskan tanganmu dari Bahuku nggak?" ucap Nadya dengan nada tinggi sehingga membuat pemuda itu menjadi ciut nyalinya.


"Ayolah tolonglah aku sekali ini saja. Aku akan sangat berterima kasih padamu dengan pertolonganmu!" ucap Pemuda tampan tersebut sambil menatap Nadia dengan penuh permohonan.


"Aku nggak punya waktu untuk melayani orang nggak ada kerjaan seperti kamu. Kau hadapilah masalahmu sendiri. Untuk apa kau menyeret-nyeret aku di dalamnya?" ucap Nadia dengan tatapan sinis dan menyeramkan kepada pemuda tersebut.


"Kak Dipta! Kenapa tidak kembali-kembali ke meja kita? Dari tadi aku menunggumu Kak!" ucap gadis yang tadi ditunjukkan oleh Dipta.

__ADS_1


Ya Tuhan! Ternyata pemuda yang saat ini sedang merangkul bahu Nadya ternyata adalah Dipta sahabatnya Bima!😂


"Aku bertemu dengan kekasihku. Makanya aku mau mengajak dia pulang. Kau pulang saja sendiri. Ayo sayangku, cintaku, my sweetie aku akan mengantarmu pulang!" ucap Dipta sambil tersenyum penuh permohonan kepada Nadya. Yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh keterkejutan. Atas kelancangan Dipta yang memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya terhadap gadis yang ada di hadapan mereka.


"Apa yang kau lakukan? Aku masih ada acara makan malam dengan kedua orang tuaku!" tolak Nadya ketika Dipta mengajaknya untuk keluar dari restoran.


"Kalian pasti bersandiwara kan? Dia bukan benar-benar pacarnya Kak Dipta!" ucap Gadis itu sambil menatap penuh curiga kepada Dipta dan juga Nadya.


"Kau jangan main-main! Dia betul-betul kekasihku dan aku sangat mencintainya. Kau mau bukti?" tanya Dipta menantang gadis itu sehingga gadis itu menganggukkan kepalanya. Tanda dia setuju.


Tanpa aba-aba dan peringatan dulu, tiba-tiba saja Dipta langsung mencium bibir Nadya dengan penuh hasrat menggila. Entahlah! Apakah karena Dipta terlalu menghayati perannya saat ini sebagai kekasih Nadya atau karena memang Dipta yang sejak lama menduda dan sudah tidak pernah menyentuh seorang perempuan. Tapi yang jelas, ciuman tersebut benar-benar dijiwai oleh Dipta. Sehingga membuat Nadya tersentak dan terhanyut sejenak dalam pesona tersebut.


Selama hampir 15 menit mereka berdua berciuman. Sehingga membuat gadis tadi marah dan kemudian meninggalkan mereka berdua yang sedang asyik masyul dengan cumbuan yang Dipta sodorkan kepada Nadya.


Tempat mereka melakukan ciuman adalah di depan toilet perempuan. Jadi suasananya sepi dan sangat mendukung untuk mereka melakukan hal seperti itu. Karena tidak ada yang menyaksikan kejadian tersebut kecuali mereka yang berada di tempat itu.


Saat keduanya kehabisan oksigen. Dipta kemudian melepaskan ciumannya di bibir Nadya dan menatap Nadya yang saat ini sedang menatapnya dengan bingung.


Tampak Nadya yang masih tampak linglung. Pikirannya belum kembali ke alam sadar dan Dipta memanfaatkan hal itu dengan menciumnya sekali lagi. Ciuman sekarang dengan lebih lembut dan lebih meresapi.


Ketika kesadaran merasuk ke kepala Nadya. Seketika Nadya langsung mendorong tubuh Dipta yang begitu lekat dengan dirinya.


"Apa yang kau lakukan padaku? Ya Tuhan! Kenapa aku bisa bodoh semacam ini!" ucap Nadya sambil memukuli kepalanya sendiri seperti orang yang bingung.

__ADS_1


Dipta tersenyum menatap Nadya yang masih bingung. Dipta kemudian memeluk Nadya dalam dekapannya.


"Ayo kita temui kedua orang tuamu! Aku akan memintamu untuk menjadi calon istriku!" ucap Dipta.


__ADS_2