Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
115. Bertemu Anjani


__ADS_3

Dipta yang kondisinya sudah dinyatakan sehat dan Fit. Akhirnya diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.


Saat ini Dipta dan ibunya sedang sibuk untuk mengurus kepulangan Dipta dari rumah sakit.


Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil nama Dipta. Sehingga membuat Dipta merasa terkejut karenanya.


"Mas Dipta sedang apa di rumah sakit?" tanya Anjani sambil menatap ke arah Dipta.


"Anjani? Bagaimana kau ada di rumah sakit ini?" Dita malah balik bertanya kepada Anjani.


Anjani terkekeh melihat ekspresi Dipta saat ini. Terasa lucu baginya.


Ibunya Dipta yang melihat interaksi antara putranya dengan perempuan yang baru saja datang itu akhirnya mulai penasaran juga.


"Halo! Perkenalkan nama saya Melinda, saya ibunya Dipta. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?" ucap ibunya Dipta sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk bisa bersalaman dengan Anjani.


"Nama saya Anjani, Tante. Saya adalah temannya Mas Dipta!" Anjani kemudian menyalami tangan ibunya Dipta dan menciumnya.


Ibunya Dipta sangat merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh Anjani saat ini.


"Kamu, kenapa ada di rumah sakit Anjani?" tanya Dipta kembali, karena diriny merasa sangat penasaran dengan Anjani.


"Saya habis cek kesehatan, Mas! Mas Dipta kan tahu, kalau saya ini ada penyakitnya!" ucap Anjani sambil menundukkan kepalanya.


Ibunya Dipta mengurutkan keningnya ketika mendengar pengakuan itu.

__ADS_1


"Penyakit apa? Apakah berbahaya?" tanya ibunya Dipta merasa penasaran.


"Kanker otak, Tante! Dan sudah masuk ke stadium 3!" ucap Anjani sambil menundukkan kepalanya semakin dalam.


"Astaghfirullahaladzim! Maafkan Tante ya, yang sudah membuatmu jadi bersedih!" kemudian ibunya Dipta memeluk tubuh Anjani yang saat ini sepertinya sedang menahan tangis.


"Nggak apa-apa, Tante. Saya sudah ikhlas dengan penyakit ini. Kalau Allah mengambil saya tiba-tiba pun, saya tidak masalah!" ucap Anjani sambil tersenyum kepada ibunya Dipta yang kini menatapnya dengan rasa prihatin dan kasihan.


Dipta sendiri, saat ini merasa terkejut mendengarkan penyakit yang saat ini sedang diderita oleh Anjani. Gadis yang sempat membuat dia merasa penasaran beberapa waktu lalu.


"Kamu yang sabar ya? Asal kamu taat berobat dan terus berusaha dan juga selalu berdoa. Pasti akan ada jalan untukmu menuju kesembuhan!" ucap Dipta memberikan semangat kepada Anjani.


Dari kejauhan, tampak ibunya Anjani yang sedang berlari menuju ke arahnya. Tampak dia sampai ngos-ngosan ketika sampai di sana. "Ya Allah, Anjani! Kenapa kau pergi tidak bilang-bilang sama mama? Mama kira kamu menghilang ke mana!" ucap ibunya Anjani ketika dia bertemu dengan putrinya.


"Maaf, Mah! Tadi Anjani hanya sekedar jalan-jalan di sekitar sini dan tidak sengaja bertemu dengan Mas Dipta dan juga ibunya!" ucap Anjani kepada ibunya.


"Oh, Nak Dipta! Maaf ya! Aduh tante ini, Tante, benar-benar! Saat ini tuh. Sedang pusing sekali dengan keadaan Anjani. Dia ini harusnya sedang dirawat di rumah sakit, untuk menjalani kemoterapinya. Tetapi dia malah kabur begitu saja!" ibunya Anjani berbicara sudah blibetan gak jelas. Mungkin karena sangking cemasnya dengan keadaan putrinya saat ini.


"Anjani! Kenapa kau tidak menyayangi dirimu sendiri? Tolong berusahalah untuk sembuh. Karena kamu masih muda. Pasti masih ada harapan untuk kamu bisa melihat hari esok yang lebih baik!" ucap Dipta mencoba untuk menasehati Anjani saat ini.


Anjani menundukkan kepalanya tampak bulir-bulir air mata yang bening mengalir di kelopak matanya.


Dipta merasa tidak enak karena sudah membuat Anjani malah menangis dengan perkataannya.


Ibunya Dita kemudian memeluk tubuh Anjani dengan penuh rasa kasih sayang.

__ADS_1


"Yang sabar Nak! Tolong untuk selalu kau banyak-banyak berdoa! Dan kamu juga jangan lupa untuk berusaha dalam mencari kesembuhan untuk dirimu. Karena dengan itu, maka Allah pasti akan memberikan jalan untukmu!" ucap ibunya Dipta memberikan nasehat kepada Anjani.


"Untuk apa Saya sembuh, Tante? Saya tidak ingin menjadi beban untuk orang tua saya semakin lama. Mungkin kalau saya mati dengan cepat, mereka bisa hidup lebih tenang lagi. Tanpa harus memikirkan kondisi saya setiap saat!" ucao Anjani dengan suara yang tersekat di tenggorokan, tampak begitu kesedihan di dalam perkataannya.


"Astaghfirullahaladzim, Anjani! Bagaimana mungkin kamu punya pemikiran seperti itu? Kami orang tuamu mencintaimu dan menyayangimu dengan tulus iklas! Kami pasti akan memberikan yang terbaik untuk kesembuhanmu!" ucap ibunya Anjani sambil memeluk putrinya yang kini menangis semakin kencang.


Dipta pun saat ini tanpa terasa sudah mulai menitikkan air matanya merasa sedih melihat Anjani yang ternyata sedang berjuang melawan mautnya.


Dipta kemudian kembali mengingat kejadian pertama kali dia bertemu dengan Anjani saat itu yang pingsan di depan toilet.


'Pasti waktu itu Anjani pingsan karena penyakitnya yang kumat. Kasihan sekali dia! Masih muda dan masa depannya masih panjang! Tetapi diberikan penyakit yang begitu parah!' tindipta di dalam hatinya saat ini sambil terus menatap Anjani dan ibunya yang masih saling berpelukan dan menangis bersama.


"Anjani, Tante! Mari kita pergi ke cafe terdekat. Agar kalian tidak lelah berdiri terus sejak tadi!" ucap Dipta menginterupsi ibu dan anak itu yang sedang menangis bersama.


"Maafkan kami ya Bu, Nak Dipta! Kalian jadi harus melihat kejadian seperti ini!" ucap ibunya Anjani meminta maaf kepada Dita dan juga ibunya yang saat ini juga tampak mulai menangis. Ibunya Dygta merasa kasihan kepada Anjani yang masih muda. Tetapi harus berjuang melawan penyakit yang begitu ganas.


"Anjani! Ayo kembali ke kamarmu, sayang! Ayo lakukanlah kemoterapi itu. Kamu harus yakin bahwa pasti ada kesembuhan untuk kamu!" ucap ibunya Anjani berusaha untuk membujuk putrinya agar mau menerima perawatan dari rumah sakit.


"Anjani tidak mau, mah! Anjani tidak mau! Anjani tidak sanggup lagi menahan kesakitan itu. Biarkanlah waktu yang tersisa ini, Anjani habiskan untuk bahagia bersama kalian. Anjani tidak ingin membuat kalian bersedih lebih lama lagi!" kemudian Anjani pun keluar dari rumah sakit tanpa memperdulikan panggilan ibunya maupun Dita yang terus mengejar dirinya.


"Anjani, tunggu sebentar! Saya ingin bicara denganmu Anjani!" Dipta terus berusaha untuk mengejar Anjani yang kini sudah semakin jauh dari pandangannya.


Tiba-tiba saja Dipta melihat Anjani yang jatuh pingsan. Tidak jauh dari tempatnya berada saat ini. Ibunya Anjani yang melihat putrinya jatuh pingsan, seketika langsung berteriak histeris dan mendatangi Anjani.


"Anjani!" teriak ibunya Anjani.

__ADS_1


Dipta kemudian memanggil pihak rumah sakit untuk bisa menolong Anjani yang saat ini sedang pingsan di jalan.


Kemudian beberapa petugas paramedis langsung menggotong Anjani dan dimasukkan ke dalam UGD untuk diberikan penyelamatan dan pengobatan.


__ADS_2