
"Anda temuilah Dokter Bima yang bertugas dalam penanganan bencana gempa kemarin. Ibu bisa terus berjalan lurus dari sini, lalu belok kanan. Carilah ruangan Tuan Bima." ucap petugas resepsionis itu.
" Terima kasih Kak atas informasinya!" Riyanti pun kemudian langsung meninggalkan resepsionis itu tanpa menunggu jawaban dari wanita itu. karena saat ini perasaan Riyanti sedang tidak karuan.
Rianti mengikuti arahan yang diberikan oleh petugas rasionalis tadi mencari ruangan Tuan Bima. Orang yang bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana gempa.
Rianti sangat senang ketika mendapatkan ruangan Bima yang dia cari. Rianti langsung mengetuk pintu ruangan itu dan akhirnya mendapatkan jawaban dari dalam.
"Masuk saja tidak saya kunci!" ucap suara Bariton yang ada di dalam ruangan itu.
Riyanti langsung mendorong pintu dan kemudian mengucapkan salam kepada orang yang berada di dalam ruangan itu.
Seorang laki-laki berbahu tegap yang sedang membelakangi Rianti dan menatap jendela. laki-laki itu kemudian memalingkan wajahnya dan dia langsung berhadapan dengan wajah Rianti. Betapa terkejutnya keduanya.
"Mas Bima?" ucap Rianti.
"Rianti?" ucap Bima.
Mereka mengucapkan kata yang berbeda dalam satu waktu. menyebutkan nama masing-masing.
"Apa yang kau lakukan di Kalimantan ini Rianti dan kenapa kau mencariku?" tanya Bima yang kemudian mempersilahkan Rianti untuk duduk.
"Aku mengikuti suamiku yang ditugaskan oleh rumah sakit untuk menolong para korban bencana gempa yang kemarin!" ucap Riyanti menjelaskan keberadaan dirinya di Kalimantan.
__ADS_1
"Suamimu? Siapa?" tanya Bima tampak terkejut.
"Dokter Bagaskara yang dikirim oleh rumah sakit di Jakarta!" ucap Riyanti sambil menyebutkan identitas suaminya.
"Oh Tuhanku, jadi dokter Bagas itu adalah suamimu?" ucap Bagas akan tidak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapannya saat ini.
"Betul dia adalah suamiku. Kami baru saja menikah tidak kurang dari 1 bulan ini!" ucap Rianti kepada Bima.
Bima tampak mengangguk-anggukan kepalanya memahami apa yang disampaikan oleh Rianti.
"Lalu apa maksud kedatanganmu ke rumah sakit ini?" tanya Bima kepada Rianti.
"Aku ingin mengetahui keadaan suamiku saat ini. Dia pergi dari kemarin hingga saat ini belum kembali. Aku khawatir dengan kondisinya!" ucap Riyanti menjelaskan kedatangannya ke rumah sakit itu dan mencari Bima.
Tetapi Bima yang harus melanjutkan pendidikan kedokterannya di Inggris. Akhirnya mereka pun berpisah dan tidak pernah berhubungan lagi Sejak saat itu.
"Suamimu baik-baik saja. Dia hanya sedang sibuk mengurus para korban bencana di sana. Banyak sekali orang-orang yang terluka baik secara mental maupun fisik. Betul-betul sangat membutuhkan tenaga medis. Bahkan para dokter di rumah sakit ini hampir 50% sudah saya kerahkan ke sana!" Bima menerangkan situasi terkini yang terjadi di rumah sakit itu.
"Apakah aku boleh menyusul ke tempat Suamiku sedang bertugas?" tanya Rianti dengan wajah penuh permohonan.
"Akses jalan maupun sinyal di sana sangat susah. Dan juga sangat rawan dengan gempa susulan. Aku tidak berani untuk mengirimmu ke sana. Apalagi kau ada orang sipil yang tidak mempunyai kewajiban maupun kepentingan di sana!" ucap Bima dengan suara datarnya.
Riyanti menatap Bima dengan lekat kemudian mendekat ke arahnya. "Aku adalah seorang istri dari salah satu dokter itu. Dan aku sangat khawatir dengan dia, suamiku! Aku memiliki kewajiban untuk itu. Apakah itu bukan alasan yang tepat untuk kamu mengirimkanku juga ke sana?" ucap Riyanti dengan lantang menantang Bima yang menatapnya dengan takjub dan seakan terpesona.
__ADS_1
Yah sejak dulu Bima memang terpesona dengan pesona seorang Rianti. Hanya saja dia tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya kepada wanita yang ada di hadapannya itu. Dan ternyata kini telah bersuamikan rekan kerjanya sendiri.
"Kebetulan nanti sore aku akan mengunjungi tempat itu. Untuk membawa beberapa peralatan dan juga obat-obatan yang sudah dibutuhkan oleh mereka. Kalau kau mau, kau bisa mengikutiku. Tapi kau harus percaya dan kau juga harus janji kepadaku. Untuk tidak mengeluh dengan kondisi di sana!" ucap Bima pada akhirnya menyerah dengan keinginan Rianti.
Seketika Rianti terbit senyumnya dan mengucapkan terima kasih kepada Bima. Bima hanya tersenyum melihat senyum Riyanti kembali yang selama beberapa tahun ini pernah dia rindukan.
"Kau masih juga tidak berubah. Masih nekat dan masih melakukan segala sesuatu dengan instingmu sendiri!" ucap Bima tersenyum kepada Rianti.
"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Aku tidak bisa duduk tenang di rumah, dan hanya memikirkan dia. Akan lebih baik. Kalau aku bersamanya dan melihat dia dengan mata dan kepalaku sendiri!" ucap Riyanti dengan tegas, sambil menatap mata Bima. Yang kemudian akhirnya memalingkan wajahnya Karena tidak tahan ditatap terlalu lama oleh Rianti.
"Baiklah aku tinggalkan kamu dulu di sini ya? Aku akan mempersiapkan beberapa peralatan dan obat-obatan yang akan aku bawa ke sana. Kau bisa menungguku di sini atau menunggu di lobby rumah sakit. Terserah padamu. Lakukanlah yang menurutmu nyaman karena aku juga harus melanjutkan pekerjaanku!" ucap Bima pada akhirnya lalu meninggalkan Riyanti seorang diri di sana.
"Aku akan menunggumu di lobby rumah sakit. Sangat tidak enak kalau aku menunggumu di sini. Kau lanjutkanlah pekerjaanmu. Jangan pikirkan aku. Aku akan menunggumu sampai kau datang!" ucap tercantik kemudian meninggalkan Bima dalam kesendiriannya.
Bima menatapnya nyalang kepergian Riyanti. tiba-tiba saja Ada kerinduan di hatinya akan perempuan itu, yang selama 8 tahun telah menemani hari-harinya ketika menghadapi masa remajanya.
"Dia sampai sekarang tidak pernah berubah. Masih energik dan juga penuh dengan semangat. Betapa beruntungnya suaminya yang menikah dengan dia! Sayangnya, Aku Bukan laki-laki yang beruntung itu. Aku adalah laki-laki yang malang, yang kehilangan dia tanpa melakukan usaha apapun!" ucap Bima sambil menatap kepergian Rianti.
"Seandainya dulu kau mengatakan bahwa kau akan menungguku kembali. Mungkin saat itu perasaanku akan sangat bahagia sekali Rianti! Hidupku Di Negeri Orang tidaklah mudah karena jauh denganmu!" ucap Bima sambil terus bermonolog dengan dirinya sendiri Sampai akhirnya dia pun tersadar dan akhirnya menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.
Bima langsung datang ke ruangan farmasi, dan menyiapkan beberapa obat dan serta peralatan yang dibutuhkan untuk dibawa ke lokasi bencana, nanti sore.
Setelah semuanya siap. Bima pun langsung mencari Rianti di lobby rumah sakit. Mereka pun bersiap untuk segera berangkat ke lokasi bencana. Agar obat-obatan tersebut bisa langsung digunakan oleh mereka orang-orang yang membutuhkannya. Para korban bencana itu, mereka kehidupannya sangat prihatin dan membutuhkan pertolongan dari tim medis yang handal dan profesional.
__ADS_1