Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
80. Pernikahan Rianti dan Dr. Bagas


__ADS_3

Akhirnya hari H yang ditunggu-tunggu pun terjadi juga. Pernikahan antara Rianti dan Dokter Bagas dilaksanakan secara meriah. Walaupun ibunya Rianti tidak merestui. Tetapi demi menjaga kehormatan keluarganya, dia tetap hadir dalam pernikahan itu. Hanya saja, wajahnya cemberut dan tampak tidak sedap dipandang.


"Mah! Kalau Mama cuma mau cemberut aja! Lebih baik Mama masuk aja ke kamar sana! Biar nanti Papa bilang sama tamu yang lain, kalau Mama sedang sakit! Daripada Mama merusak suasana dalam acara bahagia ini!" ucap ayahnya Rianti merasa kesal dengan kelakuan istrinya.


"Papa ini kenapa sih, Pah? Papa dipelet ya, sama mereka? Sehingga Papa sebegitunya sama mereka. Bahkan sama Mama sekarang, Papa selalu ketus dan marah-marah terus. Mama lo, yang istrinya Papa! Bukan mereka!" sengit istrinya. Rianti yang mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya, merasa tidak enak juga dengan dokter Bagas yang berdiri di sampingnya.


"Maafkan Mama aku, ya Mas? Kalau sudah menyakiti hati Mas maupun keluarganya Mas! Ya, memang Mama kayak gitu orangnya. Suka ngerendahin orang lain dari harkat dan martabat dan kekayaan keluarganya. Tapi hati Mamaku baik kok! Pelan-pelan, Mama pasti akan nerima Mas dan keluarga Mas!" Ucap Rianti pelan, karena takut ucapannya didengarkan oleh para tamu.


"Iya nggak papa! Selama masih wajar sih, masih bisa diterima. Yang penting kan, aku adalah kamu dan Papamu. Kalau Mamamu, mungkin bisa kita bikin strategi, dengan Kita pindah dari rumah kedua orang tuamu. Jadi kita tidak harus selalu bertemu dengan beliau. Kalau tidak, pasti akan mengganggu rumah tangga kita nantinya! ucap Dokter Bagas bijaksana.


"Terima kasih Banyak, ya Mas! Karena Mas mau ngertiin kondisi ini! Aku akan berusaha untuk menjadi istrimu yang baik, Mas!" janji Rianti dengan senyum mengembang.


"Alhamdulillah! Hanya itu yang Mas mengharapkan dari kamu. Semoga, kamu bisa memegang teguh janji itu!" Dokter Bagas menatap istrinya yang baru tadi siang sah itu. Ya, walaupun dokter Bagas dipandang rendah oleh Mamanya Arini, tetapi Dokter Bagas sanggup memberikan mahar pernikahan yang besar. Itu kalau di pandang oleh keluarga Dokter Bagas, kalau di pandangan Mamanya Rianti yang hatinya sudah tertutup. Jumlah itu terbilang sangatlah kecil di matanya. Karena dia memang sudah terbiasa hidup mewah sejak kecil.

__ADS_1


"Mas sudah membeli sebuah apartemen. Ya, walaupun sederhana, tapi itu cukup untuk kita berdua. Untuk memulai kehidupan kita, tanpa harus menggantungkan diri terhadap kedua orang tuamu." ucap Bagas.


"Kemanapun Mas membawaku pergi. Aku pasti akan mengikutimu. Karena aku percaya denganmu, karena itu aku mau menerima lamaranmu!" ucap Rianti.


"Mas senang, kalau kamu bisa berpikir positif mengenai rumah tangga kita." Bagas meremas tangan Rianti, menyalurkan perasaan cinta di hatinya.


Yah! Sejak kecil memang Bagas sudah menaruh hati terhadap Rianti. Yang walaupun anaknya orang kaya, tetapi tetap hidup sederhana dan tidak sombong. Sejak kecil Riyanti sudah terbiasa dekat dengan keluarga Bagas. Oleh karena itu, Rianti tidak terlalu kaget ketika mendapatkan kenyataan bahwa Bagas adalah anak dari sopir keluarganya. Pria yang sejak kecil selalu menjaga dirinya. bisa dikatakan mereka adalah kekasih masa kecil yang dipertemukan kembali saat dewasa dan akhirnya menemukan cinta sejati mereka.


Ketika mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba, Dipta, Ali dan Nur datang ke pernikahan mereka. Seketika Riyanti merasa gugup, karena takut Bagas mengetahui masa lalunya dengan Ketiga orang itu. Tetapi melihat raut wajah Bagas yang begitu tenang Rianti pun bisa bernapas lega.


"Selamat ya Rianti! Semoga kamu bisa bahagia bersama suamimu dan bisa melupakan masa lalumu yang kelam!" ucap Nur, yang tampak masih belum bisa memaafkan kelakuan Riyanti sebelumnya. Yang sudah memporak-porandakan rumah tangganya, bersama sang suami. Bahkan telah membuat mereka berdua berpisah selama berbulan-bulan lamanya karena perbuatan Riyanti.


"Sayang! Jangan lakukab itu, Oke? Kita kan udah janji, kalau kita nggak akan bikin keributan di sini. Bisakah? Jangan membuat Papa malu di hadapan banyak orang?" pinta Ali sambil berbisik di telinga Nur yang masih menatap sinis ke arah Rianti.

__ADS_1


"Maafkan ya istri saya! Semoga kalian berdua selalu bahagia dan ya, untuk masa lalu, lupakan semua itu! Jadikan itu sebagai pelajaran yang akan mendewasakan kita!" ucap Ali, lalu menarik istrinya untuk turun dari pelaminan dan menjauh dari kedua mempelai pengantin.


"Mah! Kamu kenapa sih? Kan kita udah berjanji di rumah, bahwa kita tidak akan membahas masalah itu lagi! Itu tuh sudah masa lalu, Mah! Kenapa sih? Cobalah untuk berdamai! Dan kami juga tidak pernah bertemu lagi ataupun melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Tolonglah! Lupakan itu semua! Agar kita bisa hidup bahagia bersama!" Ali memohon kepada istrinya.


Dipta, yang melihat perdebatan kedua suami istri pun, akhirnya tidak tahan juga untuk mendekat dan memberikan nasehat kepada sahabatnya.


"Nur, suami kamu benar! untuk sampai ke tahap ini, Rianti pun mengalami hal yang berat dan tidak mudah. Cobalah! Untuk bisa memaafkannya! Itu ibaratnya adalah perjalanan seseorang, untuk menemukan harkat dan jati diri mereka yang sesungguhnya. Tolong! Untuk lupakan dan cobalah untuk berdamai dengan masa lalu mereka berdua. Yang penting kan, sekarang Rianti sudah menikah dan kita doakan saja, pernikahan itu akan bahagia sehingga Riyanti tidak ingat lagi dengan suami kamu!" nasehat Dipta bisa di terima oleh Nur.


Yah! Untuk saat ini, memang hanya Dipta yang bisa menasehatinya. Yang bisa membuat hatinya tidak panas lagi, tentang hubungan suaminya dengan Rianti.


"Terima kasih ya! Kalian bertiga sudah mau dan sudi untuk menyempatkan diri. Datang di dalam resepsi pernikahan anak kami!" tiba-tiba ayahnya dokter Bagas sudah bergabung bersama mereka. Ya, karena Istri ayahnya Dokter Bagas, selalu membantu Nur untuk menyiapkan makanan para pekerja, yang sedang mempersiapkan pondok pesantren mereka berdua di lingkungan tempat tinggal mereka. Nur dan keluarga Dokter Bagas adalah tetangga. Jadi mereka sering bertemu di lingkungan yang sama. Tidak heran, kalau Ayahnya Dokter Bagas tampak akrab dengan keduanya.


"Ya, Pak! Kami senang akhirnya dokter Bagas menemukan tambatan hatinya. Semoga pernikahan mereka langgeng dan segera dikaruniai momongan. Untuk mewarnai kehidupan rumah tangga mereka!" ucap Ali sangat fasih.

__ADS_1


Nur yang mendengarkan doa itu hanya bisa tersenyum masam entah itu benar-benar tulus atau hanya sekedar basa-basi saja tapi yang jelas Nur masih ragu akan perasaan suaminya tersebut terhadap Riyanti.


Setelah pesta pernikahan itu selesai. Akhirnya Rianti dan Bagas memilih untuk masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Yang sudah dirias begitu cantik oleh Papanya Rianti. Papanya sangat bahagia dengan pernikahannya.


__ADS_2